• Antara Singapura dan Monas

    by - 20.23


    “Hallo Yang?” suara indah gue di telpon.
    “Iyah apa Yang? Kamu udah sampai dimana? Macet ga Yang?” jawab dia. Saat ini gue berada didalam bus yang lumayan sumpek karena terisi oleh para penumpang. Ya penumpang. Kebanyakan sih para pekerja/buruh yang hendak pulang kerumah. Kebetulan jam menunjukan jam 16.25 WIB. Tak terasa hampir 4 jam gue berada didalam bus itu. Haru pilu, sedih senang, kangen galau gue rasakan dibus itu selama beberapa jam. Tahu lah kalo para pekerja yang udah selesai bekerja mustahil kalo ga keringetan. Sejenak menghentikan derita gue, Ibu-ibu yang kira-kira berumur 17+35-1+3 ke atas yang duduk dikursi yang sejajar sama gue namun beda baris telah menambah rasa haru pilu gue.
    “Worolokkk,ohok,ohok, *semburrrr” kira-kira suara saat muntahnya begitu. Gue mikir, kenapa ibu-ibu itu langsung muntah yah, gue lihat beliau duduk bersama dengan dua orang laki-laki yang baru naik. “hmmmm, apa mungkin yah ibu itu diapa-apain sama penumpang disebelahnya dan beliau langsung hamil?” sahut perasaan gue. Setelah gue lihat dan perhatikan dengan lebih detil, ternyata oh ternyata si penumpang sebelahnya memakai baju yang ehmm buasahhh banget. Dia kayaknya abis renang dikolam keringat sampai bajunya itu diperas akan dapet satu sumur minyak tanah (lho?). Ya gue juga kayaknya terdorong untuk merasakan hal-hal aneh dipikiran gue dan juga perut gue yang terbilang cukup mual. Namun gue tidak mau kalah dengan itu, gue harus bisa melewati semuanya.


    Bus yang melaju dari Garut menuju Jakarta ini telah melakukan tugas nya dengan baik. Gue juga ga nyangka bisa melewati derita-derita disana. Gue tiba jam 17.32 WIB disebuah terminal yang cukup membuat gue heran dengan namanya. Terminal Kampung Rambutan. Gimana yah kalo kata ‘Rambutan’ ga ada rambut nya. Bisa dapet grammy awards nih kayaknya tuh terminal. Gue menjejakan kaki gue ke masjid yang berada ditengah-tengah terminal itu. Gue sembahyang, gue cuci muka dan tak lupa memakan rujak karena untuk mengurangi rasa mual gue. Setelah pada akhirnya gue duduk diteras masjid itu sambil melihat lalu lalang bus dan kendaraan lain nya. Sejenak gue mengecek hape dan mendapatkan sebuah pesan dari temen gue.
    Adrika, lo dimana? Udah nyampe? Kalo udah ntar kabarin gw yah”. Sms itu ternyata berasal dari temen gue yang menyediakan tempat buat gue tidur malam itu dan malam selanjutnya selama gue berada di Jakarta.
    “Andi, gue udah nyampe. Sekarang gue lagi didepan masjid yang didalem terminal itu. Lo kesini yah”.Jawab sms gue. Tidak lama menunggu akhirnya teman gue yang rada tinggi memakai kacamata dan sedikit keren kata cowok setempat tiba tepat didepan gue.
    “Halo bro, udah lama nunggu?” tanya dia sambil bersalaman ala gengster gitu.
    “Enggak kok, soalnya tadi gue sembahyang dulu, makan dulu dan sebagainya”
    “Yaudah ayo, kita ke rumah gue dulu”. Kami pun langsung menaiki motor Bebek yang agak mirip dengan Angsa sebenernya yang kalo dimasak enak banget pake saus tiram #tiiitttt. Ternyata jarak mesjid dengan rumah Andi tidak terlalu jauh. Meskipun dekat, tapi gue bisa merasakan rame nya malam ditempat itu dan sekitarnya. Ini adalah kali pertama kaki gue menginjak tanah metropolitan itu. Pas dimotor gue merasa sejuk banget, tapi pas udah nyampe uh puji Tuhan gerahnya. Tak mengapa lah buat gue karena ini adalah ibukota. Banyak mobil motor dan kendaraan lain yang mengeluarkan gas CO2 nya, ya dan masih banyak lagi. Termasuk banyak artis cantik disana #plak.

    ......

    Nayla Sechan. Cewek cantik nan berparas indah kelahiran Solo itu ditakdirkan menjadi pacar gue.  Dia pindah dan tinggal di Jakarta. Selama 2 tahun gue telah terjalin cinta dengan dia. Cinta gue tergolong cinta LDR kata orang. Pertama gue ketemu adalah di perlombaan debat. Tukeran nomer hape, dan lama-kelamaan jadian. Terhitung cukup lama menurut gue dan diiringi dengan kerja keras, komitmen, dan segala jurus jitu untuk menaklukan kebeteannya, gue masih bersama dengan dia. Namun, selama itu, gue dan dia belum pernah jalan bareng, belum pernah makan bareng, yang ada sering telponan bareng. Ya itu dikarenakan jarak kita yang terbilang (ga terlalu) jauh. Ditambah dengan dia yang bersekolah diasrama yang membuat susah untuk pergi kemana-mana. Kadang gue bertanya-tanya kenapa gue bisa sama dia gitu yah. Kami hanya bisa berkomunikasi satu jam sekali melalui sms, facebook, telpon, kadang panci, dan juga mie baso. Karena gue udah ga tahan pengen ketemu, akhirnya diliburan akhir tahun ini gue putuskan untuk menjenguk dan menyusul dia ke Jakarta. Sebelumnya gue udah memberi tahu dia, dan dia merespon dengan baik. Mungkin karena dia lebih kangen dan lebih ga tahan lagi untuk menemui gue.

    .....

    Gue tiba dirumah Andi yang terbilang cukup besar. Berlokasi dipinggir jalan yang mudah akses kemana-mana. Banyak pedagang kaki lima, tidak seperti dikampung gue yang harus menempuh jarak 2 km untuk menemukan pedagang kaki lima.
    “Di, rame juga yah Jakarta? Tapi panas banget yah Di” tanya gue. Andi hanya tertawa kecil dan segera mengambil remot kontrol untuk AC nya. Ini juga kali pertama gue merasakan AC dengan enak dan sejuk. Tak perlu gue bandingkan dengan kampung gue karena udara nya udah melebihi dari AC.
    tenengneng tenengneng tenengneng” suara nada dering hape gue. Gue lihat si Nayla nelpon.
    “Halo Yang? Kamu dimana? Kok dari tadi aku sms ga dibales-bales?” suara dia yang langsung nyerobot. Sebelum ngomong gue langsung ngecek hape dan ternyata sudah sebelas sms yang masuk, dan gue ga sadar itu.
    “Maaf yah yang, tadi aku ga sadar kalo ada sms dari kamu. Mungkin tadi aku lagi dimotor jadi ketiduran, ekh salah jadi ga sadar. Aku udah nyampe dirumah Andi Yang, dan sekarang aku lagi menikmati udara AC. Panas banget disini Yang.” jawab gue panjang lebar kali tinggi.
    “Iyah. Yang aku mau ngomong boleh?”
    “Boleh. Ngomong apa yang?” jawab gue dengan penasaran.
    “Tapi aku takut kamu kecewa Yang?” lanjut dia.
    “Engga kok, aku kan baik dan rajin menabung”
    “Aku kayaknya ga bisa buat jalan besok, Aku diajak mamah papah buat pergi ke Singapura. Katanya biar aku liburan nya seru, terus bisa merasakan pesta tahun baru ala orang sana Yang. Aku akan berangkat besok jam 8 pagi”. Gue langsung bengong dan (agak sedikit) sedih. Untung gue lagi tiduran, coba kalo lagi megang gelas, pasti gelasnya pecah kayak di pelem-pelem thriler gitu. Gue saat itu tidak bisa berkata apa-apa selama beberapa menit. Sampai gue merasa engap dalam hati gue karena itu.
    “Halo Yang? Halo?” Nayla mengagetkan kekecewaan gue.
    “Iya-iya Yang. Gapapa kok. Aku gapapa, aku bisa diajak jalan sama Andi mungkin” perkataan yang sedikit mengandung unsur kebohongan perasaan semata. Gue tidak mungkin melarang Nayla pergi sama kedua orang tuanya, yang ada gue malah ngelamar diri buat jadi bahan amarah orang tua nya. Hati gue sedih sesedih-sedihnya, sakit sesakit-sakitnya, lapar selapar-laparnya (yang terakhir jangan dihiraukan). Baru saat ini gue merasakan sakit hati yang mengandung unsur kecewa. Huahahhh sedihh..
    “Yaudah yah Yang, kayaknya Andi mau ngajak aku makan. Kamu hati-hati yah nanti pas di Singapura. Mungkin bukan saatnya Yang kita bertemu. Yaudah *tuttutututututut” Begitulah saat gue mengucapkan kata terakhir untuk sesi telponan itu. Gue kembali merenung dan kembali menyesalkan kepergian Nayla ke luar negeri itu, meskipun tidak selamanya. Kembali dari niat awal gue datang ke kota ini adalah untuk bertemu dengan Nayla. Gue ingin menghabiskan dan melewati malam pergantian tahun berdua bersama dia. Ya apalah daya, sekarang mungkin gue akan mencoba untuk melupakan sejenak hal ini.
    “Woy Drika?” brigidig gue kaget karena si Andi tiba-tiba nepuk pundak gue disaat gue sedang meratapi kesedihan.
    “Kenapa lo? Kok murung banget mukanya? Jangan gitu dong, nikmatin aja kalo disini. Apalagi ntar kan mau terompet-terompetan sama Nadya. Ecieeciecieciecie” tanya dia sambil meledek asyik gitu.
    “Iya Di, gue ga kenapa-napa kok, cuman agak sedih aja” jawab gue.
    “Kenapa Drik, orang tua lo kangen? Masa sih, lo kan udah gede udah kelas tiga SMA mau kuliah. Masa masih anak mumi si lo”
    “Anak MAMI Di!!”
    “Oh iya salah, sorry masbro. Ya terus lo kenapa Drik?” tanya nya. Gue menceritakan semua nya tentang kejadian Nayla mau pergi ke Singapura di malam tahun baru nya. Gue curhat semua nya tentang kesedihan gue, perjuangan gue di bus yang bervariasi penumpang nya sampai sekarang merenung gara-gara merasa kecewa. Perlu digaris bawahi, gue curhat ala cowok, jadi ga ada tisu, ga ada air mata tapi yang ada hanyalah lap kotor sama air minum. Gue sempat ngomong sama Andi kalo gue besok akan pulang lagi ke Garut.
    “Yaudahlah Drik, gausah sedih kayak gitu. Udah lo disini aja dulu beberapa hari. Gue ajak jalan deh lu ntar keliling jakarta dan gue buat lo ngerasain bagaimana tahun baruan disini. Lagian tahun baru kan malam besok Drik. Jadi percuma aja lo balik lagi, kan niat lo mau tahun baruan disini”. Nasihat Andi benar juga menurut gue. Gue harus memanfaatkan waktu dan kesempatan gue kali ini. Lagipula, capek juga gue bulak balik Garut-Jakarta.
    “Yaudah yuk Di makan. Gue laper nih” sahut gue sambil megang kepala. Andi pun nampaknya menyadari dan langsung membawa gue ketempat nasi goreng pedas kesukaan nya. Memang benar setelah memakan nasi goreng ala klinik fangtop, hidung saya jadi berair dan berlendir, terimakasih klinik goreng (çkurang kerjaan).

    Di Jakarta memang beda dengan kampung gue. Emang beda sih. Didaerah gue jam delapan malem udah sunyi sepi ga ada aktivitas manusia lagi. Dijakarta gue melihat jam menunjukan pukul satu pagi tapi belum ngantuk dan masih sangat rame. Tiba akhirnya pukul dua pagi, gue memutuskan untuk tidur.

    Keesokan harinya gue bangun telak kesiangan yaitu jam enam pagi. Belum terlalu siang sih karena gue biasa bangun jam delapan siang (ini yang bego siapa hayoo?). Gue mandi ditoilet kamar Andi yang cukup luas, sekitar 2x3 meter. Gue mandi disana, gosok gigi, dan semua kegiatan kebersihan tubuh gue dari ujung rambut sampai ujung kepala. Keluar dari toilet, gue masih melihat Andi tidur pulas tanpa memakai baju. Tak bisa dipungkiri memang kalo disini udara nya bener-bener panas. Baik siang maupun malam. Gue cek hape dan heran sekaligus tumben kalo Nayla belum memberi kabar ke gue. Lantas tidak memikir panjang, gue memulai dengan mengirimkan pesan singkat atau sms ke dia. Diawali dengan kata-kata “Pagi Yang” yang diketik melalui pesan singkat. Biasanya, tidak memerlukan waktu lama untuk menerima balasan dari dia. Saat ini lebih dari setengah jam gue menunggu balasan tapi tak kunjung ada juga. Kemudian gue kirim ulang beberapa kali lagi tapi tetap hasilnya sama.
    “Di bangun-bangun Di, udah siang nih” teriak gue sambil memojok-mojokan badan nya yang penuh dengan pasir keringat. Kembali lagi gue menatap hape dan berharap ada balasan dari Nayla.
    “Ternyata salah yah pikiran gue kemaren-kemaren, dikira bakalan menjadi hari yang menyenangkan eh nyatanya sekarang diawali dengan ketidakpastian” sahut hati gue. Disamping itu, Andi bergegas bangun ketika gue membangunkan dia beberapa menit yang lalu. Dia pun hendak mengambil kain handuk dan menerobos ke toiletnya. Beberapa menit kemudian, Andi keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sangat fresh sambil mengibaskan rambut yang pirang itu layaknya iklan sampo (p)entin. Dia berdandan, bermekap, membersihkan kacamata dengan karbondioksida yang berasal dari mulutnya. 
    Setelah semuanya selesai...
    “Lah Drik, lo mau kayak gitu aja penampilan lo?”. Dia melihat ke arah gue yang tengah memakai baju kemeja panjang dengan celana katun yang terlihat kebesaran.
    “Lho emang kenapa Di? Emang salah yah?” tanya gue.
    “Engga sih, tapi baju lo kayaknya yang salah buat hari ini. Terlalu sopan buat jalan-jalan”
    “Emang iya ya Di? Gue kalo kemana-mana di Garut suka pake gaya kayak gini”
    “Oh oke gue ngerti, tapi mending lo pake baju kaos sama celana jins aja deh. Kalo ga bawa, pake aja punya gue tuh dilemari”. Gue pun hendak mendekati lemari Andi yang berpintu dua itu. Pintu kanan isinya baju formal yang digantungkan sedangkan yang kiri itu terdapat lipatan baju dan celana si Andi. Setelah lumayan bentar memilih, akhirnya gue pake baju merah yang bergambar emotikon senyum dan celana jins yang agak ngetat. Gue pun ngaca dan setelah semua nya cocok gue ambil dan melihat hape gue dengan harapan Nayla menjawab sms gue. Hasilnya 1+1-2 alias ga ada. Gue coba miskol dia tapi gak diangkat. Tanpa disadari gue merenung karena alasan tak ada kabar dari Nayla semenjak telpon malam itu.
    “Lo udah siap belum Drik?” teriak Andi di meja makan yang berada diruang tengahnya.
    “Udah udah Di, gue nyusul bentar lagi”. Gue dengan cepatnya meletakan hape gue disaku kiri celana gue. Ditempat makan telah nampak keluarga Andi yang telah berkumpul. Orang tua nya, dua adiknya dan satu kakak cowoknya. Gue malu banget karena gue numpang disini. Terlebih lagi gue minjem baju dan celana nya. Dengan sigap gue memberanikan diri untuk ikut bergabung sama mereka.

    Sarapan pagi menjelang siang itu gue ditanya-tanya sama keluarganya. Darimana asalnya, mau kemana, dan semalam berbuat apa (yg terakhir lagu kangen band). Ya gue jawab dengan bahasa mayu khas orang kampung. Setelah makan, gue diajak Andi untuk mengintip jalan raya. Tepatnya dijalan tol dekat terminal Rambutan. Yah gue juga bingung apa manfaatnya ngeliatin jalan, karena gue ga minat untuk menghitung mobil yang lewat. Dia memandangi jalan sementara gue keluh kesah dan gelisah tentang Nayla. Melihat jam menunjukan pukul 11.00 WIB, gue semakin sadar kalo Nayla udah ada di Singapura. Gue tiba-tiba berkhayal kalau Nayla tiba-tiba loncat dari pesawat memakai parasut dan langsung hinggap dipinggir jalan yang tengah dipandang oleh Andi. Tapi gue disadarkan oleh alam sadar gue kalo itu ga bakal terjadi. Ya karena yang ngajak adalah kedua orang tua nya. Gue melihat Andi terlihat melamun memandangi jalan raya itu.
    “Di, lo ngapain? Dari tadi memandangi jalan terus. Lagi ngitung mobil lo Di?” tanya gue.
    “Kagak, gue ngeliatin jalan itu supaya waktu nya berputar dengan cepet. Ntar kita mulai pergi nya abis dzuhur”
    “Lo kagak bosen Di? Mendingan kita jajan aja ke terminal kan banyak pedagang kaki lima Di” sahut gue menyarankan dia. Tak dapat lagi gue pungkiri tentang ga ada gunanya melamun ngeliatin jalan. Andi pun setuju dengan saran gue dan kami berdua pergi ke Masjid yang kemarin malam gue kunjungi. Disana banyak pedagang kaki lima dari tukang siomay sampai tukang pisau. Gue memilih untuk memilih siomay karena terlihat menggairahkan. Kami layaknya nongkrong disana sambil makan-makan sampai adzan dimasjid itu dikumandangkan.

    Setelah shalat dzuhur, gue diajak Andi untuk naik Busway. Iyah busway. Gue sering melihat di tipi-tipi tentang kendaraan ini. Lebih uniknya lagi, kendaraan ini hanya beroperasi diJakarta saja, lebih jauh di JaBoDeTaBek. Dua karcis telah dipesan oleh Andi untuk kami berdua. Ternyata, gue langsung naek ke busway itu dan mendapatkan kursi duduk dengan nyaman dibelakang. Penumpang nya pun sedikit, padahal gue sering melihat dari tipi kalo busway itu selalu penuh dan terlihat sumpek.
    “Ini kita mau kemana Di?” tanya gue penasaran.
    “Kita akan berkeliling jakarta dengan busway ini Drika”
    “Emang bisa gitu Di?”
    “Ya bisa lah, orang busway ini kan keliling Jakarta. Tapi ntar kita bakal pindah-pindah bus atau namanya Transit Drik” jawab dia. Ya gue ga tahu apa-apa dan hanya bisa mengikuti dia. Gue diliatin dan ditunjukin tempat-tempat bersejarah yang berada di Kota Tua di Jakarta. Ternyata memang tua sekali yah karena ditempat itu banyak sekali museum-museum jaman dahulu kala. Suasana dan tipe bangunan nya pun mendukung banget kalo kota itu kota tua. Pas gue kesana, gue melihat ada pertunjukan gitu. Pertunjukan dimana ada anak kecil yang dipecut dengan tambang gede tapi tidak merasakan apa-apa. Ngeri juga gue melihat pertunjukan itu karena suara pecutan nya bener-bener bergema. Gue menyewa sepeda untuk berkeliling kota tua. Sejenak gue beristirahat didepan salah satu gedung tua. Ternyata gue tidak sebahagia wajah gue. Hati gue seakan tetap menyesali dengan ketidakhadiran Nayla. Pasalnya, gue telah memikirkan bahwa saat ini gue tengah asyik jalan-jalan dengan dia, Nayla. Gue lantas mengambil hape gue dari saku dan melihat hape itu seperti mati dari dunia. Tak ada satu orang pun yang mengirim pesan bahkan menelpon. Biasanya, hape itu selalu sibuk dengan tangan gue mengetik kata-kata untuk Nayla.
    “Nay kamu kemana sih Nay, ternyata aku ga bisa yah melupakan sejenak kalo kamu lagi jauh sekarang. Ya pikirku saat ini adalah kita lagi berdua jalan-jalan” celetuk gue dalam hati dengan raut wajah yang lesu dan cemberut.
    “Udah yuk balik Drik, kita maen ke stadion Bung Karno aja yuk” ajak Andi ke gue. Tanpa basa-basi gue langsung mengiyakan dengan cara langsung berdiri dan mengikuti dia. Dari sana gue kembali menaiki busway khas Jakarta lagi. Tidak seperti di bus sebelumnya dimana Andi mengenalkan gue tempat-tempat yang dilalui bus itu, sekarang dia malah terlelap dikursi belakang. Gue ingin sekali tidur seperti dia, tapi terganggu terus dengan pikiran perasaan gue yang terus memikirkan Nayla. Gue terus melihat hape dan sesekali menelpon Nayla untuk mengetahui kabarnya. Namun sepertinya usaha gue itu belum mendapat hasilnya.

    Ditengah-tengah perjalanan, hape gue berdering. Gue kaget sekaligus senang karena dalam pikiran gue itu adalah jawaban pesan gue dari Tari. Sial bukan main, ternyata oh ternyata gue masih belum beruntung. Deringan hape itu adalah notifikasi sms dari operator yang lagi promosi tahun baru. Sumpah gue kesel banget, dan rasanya ingin membantingkan hape gue. Tapi gue mikir kalo ga ada hape gue komunikasi dengan orang tua gue gimana. Alhasil gue simpan hape itu dan bernapas panjang demi mendapatkan kesabaran yang berlebih. Saat itu juga Andi terbangun dari tidur setengah lelap nya. Dia melihat-lihat kearah jalan raya.
    “Kenapa Di? Kok kayaknya lo bingung gitu?” tanya gue.
    “Gapapa, ini udah sampe mana?”
    “Ya ga tahu lah Di, gue kan bukan orang sini”. Jawab gue. Tiba-tiba Andi bergegas berdiri dari tempat duduknya dan mendekati kondektur Busway yang berjaga dilawang pintu. Gue melihat mereka berdua sedang ngobrol. Tiba-tiba Andi mengisyaratkan gue untuk bersiap-siap turun dari busway itu. Tak lebih dari lima menit setelah itu, dia ngajak gue untuk turun dan keluar dari busway itu. Gue baca di plang yang tertera didepan bertuliskan “Senayan”. Andi ngajak gue untuk keluar dari terminal busway itu dan mengajak gue untuk ke stadion. Jam menunjukan pukul 17.43 WIB.
    “Di, kita nyari mushola dulu yuk. Kita kan belum shalat Ashar” jelas gue. Andi pun mengantarkan gue ke masjid dekat dengan stadion. Dimasjid itu gue sambil menunggu sekalian adzan maghrib. Waktu menunggu, gue masih terpikirkan akan sosok Nayla. Hasil yang sama gue dapat ketika mengecek hape itu. Setelah shalat, kami berjalan menuju stadion.
    “Gila Di, gede banget yah nih stadion. Ngomong-ngomong kita mau ngapain Di kesini?” tanya gue.
    “Ya lihat stadion Drik”
    “Oh, tapi kok kayaknya rame banget yah, emang ada pertandingan bola. Bukan nya pada tahun baruan yah pemain bola nya juga”
    “Iyah gue juga gatau, perasaan ga ada deh Drik. Yaudah tanya yok”. Kami bertanya dan jawaban nya adalah bahwa disana lagi ada konser malam tahun baru. Tiba-tiba “Jeledarrrrrrrrr” suara kembang api. Indah banget buat gue dan menakjubkan banget. Ada kembang api yang sekali bunyi terus hilang, ada yang pas bunyi langsung membentuk sesuatu, tapi sayangnya gue gak melihat setelah bunyi ada tulisan Nayla. Kembali manyun gue. Kami pun tadinya mau melihat konser itu tapi terhambat oleh harga tiket yang superzuper pembunuh dompet.
    “Yaudah Di, gue pengen ke Monas aja lah Di. 17 tahun gue hidup gue belum pernah kesana”
    “Emang 17 tahun lo hidup pernah ke stadion GBK belum?”
    “Belum sih Di. Hehehehe. Yaudah yok ke Monas aja. Udah jam delapan lebih nih Di”. Kembali lagi gue ke terminal busway untuk melaju ke arah Monas. Sampai diterminal ternyata orang nya buanyak minta ampun ngantre panjang. Ini ternyata yang sering gue lihat di tipi-tipi setempat. Terpaksa kami mengantre dibelakang. Saat itu gue tidak lagi memikirkan Nayla karena menurut gue dia lagi seneng-seneng di Singapura sana. Gue bete banget nunggu busway nya yang ga dateng-dateng dan antrian nya yang panjang. “Jeledarrrrr, tuit tuit tuit tuit tuit tuit” kira-kira seperti itu suara kembang api yang menghiasi langit Jakarta selama gue ngantre.. Lambat laun antrean berkurang dan berkurang karena busway nya berdatangan dan berdatangan. Gue lihat kembali jam tangan gue menunjukan pukul 22.43 WIB.
    “Di, udah jam segini (gue kasih liat jam tangan gue). Sementara kita masih ngantre nih. Jauh ga dari sini Di?” tanya gue.
    “Kayaknya enggak deh Drik. Ayo masuk Drik tuh bus nya udah dateng”. Bus itu dateng dengan membawa penumpang yang sangat sumpek alias penuh banget. Dengan terpaksa gue berdiri sampai Monas. Cukup sedih ditambah dengan ketiadaan Nayla yang memberikan ketidakpastian.
    Pukul 23.27 WIB gue tiba di Monas itu. Ternyata disana sudah banyak orang yang merayakan malam tahun baru. Dari mulai anak kecil sampai yang terlihat keriput. Dari individu sampai sekelompok orang yang minum air keras. Tak lupa para pasangan yang memakan jagung bakar bareng. Gue dan Andi pun berjalan menelusuri jalan yang ada. Tiba-tiba gebyar kembang api menghiasi awan-awan ditempat itu. Indah banget dan semua orang menatap kembang api itu. Tak heran jika banyak pedagang kembang api yang berjajaran kayak buat geng jualan gitu. Tak jarang juga para pengunjung yang datang terus membeli kembang api itu.

    Gue meraba-raba dompet dan masih ada. Gue langsung mendekati salah satu pedagang kembang api yang berada tak jauh dari tempat kami berdiri.
    “Bang satu yah”
    “Ukuran gede, kecil, atau sedang?”
    “Yang biasa aja deh bang”. Pedagang itu memberikan gue satu kembang api yang ukuran nya ga kecil ga gede tapi pertengahan.
    “Pasti seru deh kalo kembang api ini aku nyalain berdua sama kamu Yang” ucap gue dalam hati sambil memandang benda itu. Kira-kira 15 menit menuju jam dua belas gue mulai membakar kembang api itu.
    “Jelegurrrr......Jelegerrrrr.... juraggaarrrr.....,, Toet toettt toettttt” suara kembang api yang bercampur dengan trompet pengunjung yang lain. Ledakan terakhir gue tiba-tiba secara ga sadar berteriak sekeras-kerasnya sampai otot dileher gue tegang “NAYLA AKU SAYANG SAMA KAMU, AKU PENGEN BERDUAAN SAMA KAMU. MUNGKINKAH?!!!!!!!!” “Jelegaarrrrrrrrrr, turutturtuttttt”. Suara gue menjadi serak-serak basah tapi seksi gara-gara teriakan itu. Semua orang tampak tidak menghiraukan tentang teriakan gue. Sang kembang api yang gue punya udah abis. Gue duduk dipinggir jalan dengan memperhatikan patung Monas itu. Tak jarang gue memperhatikan para pasangan yang bercanda ria dengan makan jagung bakar ditengah malam itu.
    Jam menunjukan pukul 23.51 dari jam tangan gue.
    “Aku juga sayang kamu kok, Adrika!” suara yang datang tiba-tiba seperti hantu yang berasal dari belakang. Gue mengabaikan kata-kata itu karena gue sadar itu adalah halusinasi gue yang berlebihan.
    “Adrika, aku sayang banget sama kamu!!!!!!!”. Gue nengok kebelakang dan ga bisa gue percaya tapi ini memang terjadi dan nyata, bukan sulap bukan sihir, bukan setan bukan iblis, bukan juga Dewa Dewi tapi ini beneran nyata kalo yang manggil gue adalah Nayla.
    “Nayla?!!!! Kok?” teriak gue ga percaya. Dia hanya menebarkan senyum indah nya ke gue. Sangat indah dan manis banget.
    “Iyah aku Yang”
    “Kok kamu disini? Bukan nya kamu di Singapura Nay?” tanya gue heran sambil detak jantung gue berdebar seperti beruang mau perang.
    “Iyah, aku balik lagi dari sana, karena aku ga bisa berhenti mikirin kamu yang rela datang kesini hanya untuk menghabiskan waktu malam tahun baru bareng dan tak lupa dari notifikasi hape aku yang penuh sms dari kamu. Aku juga mikir, ngapain ke Singapura tapi gak puas, mendingan disini di Monas puas dengan orang yang aku sayang” jawab dia dengan lembut.
    “Terus kamu kok tahu aku disini Yang?”
    “Aku dikasih tahu sama Andi”. Gue langsung melihat Andi dan dia mengedipkan mata kanan nya sambil tersenyum.
    “Sumpah Nay, aku ga percaya banget kamu disini. Kamu baru dateng?”
    “Enggak udah dari tadi kok, cuman aku duduk disana sambil ngeliatin kamu yang bahagia agak cemberut”.
    “Berarti kamu denger aku teriak tadi dong?”.
    “Bisa jadi” jawabnya.
    “Oh my God, aduh jadi malu aku Yang. Tapi sumpah aku seneng banget Yang. Akhirnya malam ini terjadi juga Yang”. Lantas gue mengajak dia untuk membeli kembang api untuk merayakan tahun baru ini. Gue dan Nayla memegang kembang api berdua.
    “3, 2, 1, jledarrrrr, jeleduurrr, jelegerrrrrr, buarrrrrrrrr. Tet toet toet tet toet toet toet tet” gue melihat raut wajah cantik Nayla yang sangat indah dan membuat hati gue bahagia. Tahun 2013 telah menjadi kenangan sedetik yang lalu dan tahun 2014 telah kita mulai sedetik yang lalu. Terakhir gue menggenggam tangan Nayla dan mencurahkan apa yang gue rasakan.
    “Nay, aku sayang banget sama kamu, aku sudah memimpikan malam ini dari dulu dan terima kasih telah menjadi perantara mimpi aku menjadi kenyataan. Satu kali lagi aku benar-benar sayang banget sama kamu Nay”. Nayla hanya menatap gue dan tiba-tiba mencium pipi kanan gue dan berlari.
    I love you Nayla. 
    END

    You May Also Like

    0 komentar