Antara Singapura dan Monas
“Hallo Yang?” suara indah gue di telpon.
“Iyah apa Yang? Kamu udah sampai dimana? Macet ga Yang?”
jawab dia. Saat ini gue berada didalam bus yang lumayan sumpek karena terisi
oleh para penumpang. Ya penumpang. Kebanyakan sih para pekerja/buruh yang
hendak pulang kerumah. Kebetulan jam menunjukan jam 16.25 WIB. Tak terasa
hampir 4 jam gue berada didalam bus itu. Haru pilu, sedih senang, kangen galau
gue rasakan dibus itu selama beberapa jam. Tahu lah kalo para pekerja yang udah
selesai bekerja mustahil kalo ga keringetan. Sejenak menghentikan derita gue,
Ibu-ibu yang kira-kira berumur 17+35-1+3 ke atas yang duduk dikursi yang
sejajar sama gue namun beda baris telah menambah rasa haru pilu gue.
“Worolokkk,ohok,ohok, *semburrrr” kira-kira suara saat
muntahnya begitu. Gue mikir, kenapa ibu-ibu itu langsung muntah yah, gue lihat
beliau duduk bersama dengan dua orang laki-laki yang baru naik. “hmmmm, apa
mungkin yah ibu itu diapa-apain sama penumpang disebelahnya dan beliau
langsung hamil?” sahut perasaan gue. Setelah gue lihat dan perhatikan dengan
lebih detil, ternyata oh ternyata si penumpang sebelahnya memakai baju yang
ehmm buasahhh banget. Dia kayaknya abis renang dikolam keringat sampai bajunya
itu diperas akan dapet satu sumur minyak tanah (lho?). Ya gue juga kayaknya
terdorong untuk merasakan hal-hal aneh dipikiran gue dan juga perut gue yang
terbilang cukup mual. Namun gue tidak mau kalah dengan itu, gue harus bisa
melewati semuanya.
Bus yang melaju dari Garut menuju Jakarta ini telah
melakukan tugas nya dengan baik. Gue juga ga nyangka bisa melewati
derita-derita disana. Gue tiba jam 17.32 WIB disebuah terminal yang cukup
membuat gue heran dengan namanya. Terminal Kampung Rambutan. Gimana yah kalo
kata ‘Rambutan’ ga ada rambut nya. Bisa dapet grammy awards nih kayaknya tuh
terminal. Gue menjejakan kaki gue ke masjid yang berada ditengah-tengah
terminal itu. Gue sembahyang, gue cuci muka dan tak lupa memakan rujak karena
untuk mengurangi rasa mual gue. Setelah pada akhirnya gue duduk diteras masjid
itu sambil melihat lalu lalang bus dan kendaraan lain nya. Sejenak gue mengecek
hape dan mendapatkan sebuah pesan dari temen gue.
“Adrika, lo dimana?
Udah nyampe? Kalo udah ntar kabarin gw yah”. Sms itu ternyata berasal dari
temen gue yang menyediakan tempat buat gue tidur malam itu dan malam
selanjutnya selama gue berada di Jakarta.
“Andi, gue
udah nyampe. Sekarang gue lagi didepan masjid yang didalem terminal itu. Lo
kesini yah”.Jawab
sms gue. Tidak lama menunggu akhirnya teman gue yang rada tinggi memakai kacamata dan sedikit keren kata cowok setempat tiba tepat didepan gue.
“Halo bro, udah lama nunggu?” tanya dia sambil bersalaman
ala gengster gitu.
“Enggak kok, soalnya tadi gue sembahyang dulu, makan dulu
dan sebagainya”
“Yaudah ayo, kita ke rumah gue dulu”. Kami pun langsung menaiki
motor Bebek yang agak mirip dengan Angsa sebenernya yang kalo dimasak enak
banget pake saus tiram #tiiitttt. Ternyata jarak mesjid dengan rumah Andi tidak terlalu
jauh. Meskipun dekat, tapi gue bisa merasakan rame nya malam ditempat itu dan
sekitarnya. Ini adalah kali pertama kaki gue menginjak tanah metropolitan itu.
Pas dimotor gue merasa sejuk banget, tapi pas udah nyampe uh puji Tuhan
gerahnya. Tak mengapa lah buat gue karena ini adalah ibukota. Banyak mobil
motor dan kendaraan lain yang mengeluarkan gas CO2 nya, ya dan masih banyak
lagi. Termasuk banyak artis cantik disana #plak.
......
Nayla Sechan. Cewek cantik nan berparas indah kelahiran
Solo itu ditakdirkan menjadi pacar gue. Dia pindah dan tinggal di Jakarta. Selama 2 tahun gue telah terjalin cinta
dengan dia. Cinta gue tergolong cinta LDR kata orang. Pertama gue ketemu adalah di perlombaan debat. Tukeran nomer hape, dan lama-kelamaan jadian. Terhitung cukup lama menurut gue dan diiringi dengan kerja keras,
komitmen, dan segala jurus jitu untuk menaklukan kebeteannya, gue masih bersama
dengan dia. Namun, selama itu, gue dan dia belum pernah jalan bareng, belum
pernah makan bareng, yang ada sering telponan bareng. Ya itu dikarenakan jarak
kita yang terbilang (ga terlalu) jauh. Ditambah dengan dia yang bersekolah
diasrama yang membuat susah untuk pergi kemana-mana. Kadang gue
bertanya-tanya kenapa gue bisa sama dia gitu yah. Kami hanya bisa berkomunikasi
satu jam sekali melalui sms, facebook, telpon, kadang panci, dan juga mie baso.
Karena gue udah ga tahan pengen ketemu, akhirnya diliburan akhir tahun ini gue
putuskan untuk menjenguk dan menyusul dia ke Jakarta. Sebelumnya gue udah
memberi tahu dia, dan dia merespon dengan baik. Mungkin karena dia lebih kangen
dan lebih ga tahan lagi untuk menemui gue.
.....
Gue tiba dirumah Andi yang terbilang cukup besar.
Berlokasi dipinggir jalan yang mudah akses kemana-mana. Banyak pedagang kaki
lima, tidak seperti dikampung gue yang harus menempuh jarak 2 km untuk
menemukan pedagang kaki lima.
“Di, rame juga yah Jakarta? Tapi panas banget yah Di”
tanya gue. Andi hanya tertawa kecil dan segera mengambil remot kontrol untuk AC
nya. Ini juga kali pertama gue merasakan AC dengan enak dan sejuk. Tak perlu
gue bandingkan dengan kampung gue karena udara nya udah melebihi dari AC.
“tenengneng
tenengneng tenengneng” suara nada dering hape gue. Gue lihat si Nayla
nelpon.
“Halo Yang? Kamu dimana? Kok dari tadi aku sms ga
dibales-bales?” suara dia yang langsung nyerobot. Sebelum ngomong gue langsung
ngecek hape dan ternyata sudah sebelas sms yang masuk, dan gue ga sadar itu.
“Maaf yah yang, tadi aku ga sadar kalo ada sms dari kamu.
Mungkin tadi aku lagi dimotor jadi ketiduran, ekh salah jadi ga sadar. Aku udah
nyampe dirumah Andi Yang, dan sekarang aku lagi menikmati udara AC. Panas banget disini Yang.” jawab gue
panjang lebar kali tinggi.
“Iyah. Yang aku mau ngomong boleh?”
“Boleh. Ngomong apa yang?” jawab gue dengan penasaran.
“Tapi aku takut kamu kecewa Yang?” lanjut dia.
“Engga kok, aku kan baik dan rajin menabung”
“Aku kayaknya ga bisa buat jalan besok, Aku diajak mamah
papah buat pergi ke Singapura. Katanya biar aku liburan nya seru, terus bisa
merasakan pesta tahun baru ala orang sana Yang. Aku akan berangkat besok jam 8
pagi”. Gue langsung bengong dan (agak sedikit) sedih. Untung gue lagi tiduran,
coba kalo lagi megang gelas, pasti gelasnya pecah kayak di pelem-pelem thriler
gitu. Gue saat itu tidak bisa berkata apa-apa selama beberapa menit. Sampai gue
merasa engap dalam hati gue karena itu.
“Halo Yang? Halo?” Nayla mengagetkan kekecewaan gue.
“Iya-iya Yang. Gapapa kok. Aku gapapa, aku bisa diajak
jalan sama Andi mungkin” perkataan yang sedikit mengandung unsur kebohongan
perasaan semata. Gue tidak mungkin melarang Nayla pergi sama kedua orang
tuanya, yang ada gue malah ngelamar diri buat jadi bahan amarah orang tua nya.
Hati gue sedih sesedih-sedihnya, sakit sesakit-sakitnya, lapar selapar-laparnya
(yang terakhir jangan dihiraukan). Baru saat ini gue merasakan sakit hati yang
mengandung unsur kecewa. Huahahhh sedihh..
“Yaudah yah Yang, kayaknya Andi mau ngajak aku makan.
Kamu hati-hati yah nanti pas di Singapura. Mungkin bukan saatnya Yang kita bertemu.
Yaudah *tuttutututututut” Begitulah saat gue mengucapkan kata terakhir untuk
sesi telponan itu. Gue kembali merenung dan kembali menyesalkan kepergian Nayla
ke luar negeri itu, meskipun tidak selamanya. Kembali dari niat awal gue datang
ke kota ini adalah untuk bertemu dengan Nayla. Gue ingin menghabiskan dan
melewati malam pergantian tahun berdua bersama dia. Ya apalah daya, sekarang
mungkin gue akan mencoba untuk melupakan sejenak hal ini.
“Woy Drika?” brigidig gue kaget karena si Andi tiba-tiba
nepuk pundak gue disaat gue sedang meratapi kesedihan.
“Kenapa lo? Kok murung banget mukanya? Jangan gitu dong,
nikmatin aja kalo disini. Apalagi ntar kan mau terompet-terompetan sama Nadya.
Ecieeciecieciecie” tanya dia sambil meledek asyik gitu.
“Iya Di, gue ga kenapa-napa kok, cuman agak sedih aja”
jawab gue.
“Kenapa Drik, orang tua lo kangen? Masa sih, lo kan udah
gede udah kelas tiga SMA mau kuliah. Masa masih anak mumi si lo”
“Anak MAMI Di!!”
“Oh iya salah, sorry masbro. Ya terus lo kenapa Drik?”
tanya nya. Gue menceritakan semua nya tentang kejadian Nayla mau pergi ke
Singapura di malam tahun baru nya. Gue curhat semua nya tentang kesedihan gue,
perjuangan gue di bus yang bervariasi penumpang nya sampai sekarang merenung
gara-gara merasa kecewa. Perlu digaris bawahi, gue curhat ala cowok, jadi ga
ada tisu, ga ada air mata tapi yang ada hanyalah lap kotor sama air minum. Gue
sempat ngomong sama Andi kalo gue besok akan pulang lagi ke Garut.
“Yaudahlah Drik, gausah sedih kayak gitu. Udah lo disini
aja dulu beberapa hari. Gue ajak jalan deh lu ntar keliling jakarta dan gue
buat lo ngerasain bagaimana tahun baruan disini. Lagian tahun baru kan malam
besok Drik. Jadi percuma aja lo balik lagi, kan niat lo mau tahun baruan
disini”. Nasihat Andi benar juga menurut gue. Gue harus memanfaatkan waktu dan
kesempatan gue kali ini. Lagipula, capek juga gue bulak balik Garut-Jakarta.
“Yaudah yuk Di makan. Gue laper nih” sahut gue sambil megang kepala.
Andi pun nampaknya menyadari dan langsung membawa gue ketempat nasi goreng
pedas kesukaan nya. Memang benar setelah memakan nasi goreng ala klinik
fangtop, hidung saya jadi berair dan berlendir, terimakasih klinik goreng (çkurang kerjaan).
Di Jakarta memang beda dengan kampung gue. Emang beda sih.
Didaerah gue jam delapan malem udah sunyi sepi ga ada aktivitas manusia lagi.
Dijakarta gue melihat jam menunjukan pukul satu pagi tapi belum ngantuk dan
masih sangat rame. Tiba akhirnya pukul dua pagi, gue memutuskan untuk tidur.
Keesokan harinya gue bangun telak kesiangan yaitu jam
enam pagi. Belum terlalu siang sih karena gue biasa bangun jam delapan siang
(ini yang bego siapa hayoo?). Gue mandi ditoilet kamar Andi yang cukup luas,
sekitar 2x3 meter. Gue mandi disana, gosok gigi, dan semua kegiatan kebersihan
tubuh gue dari ujung rambut sampai ujung kepala. Keluar dari toilet, gue masih
melihat Andi tidur pulas tanpa memakai baju. Tak bisa dipungkiri memang kalo
disini udara nya bener-bener panas. Baik siang maupun malam. Gue cek hape dan
heran sekaligus tumben kalo Nayla belum memberi kabar ke gue. Lantas tidak memikir
panjang, gue memulai dengan mengirimkan pesan singkat atau sms ke dia. Diawali
dengan kata-kata “Pagi Yang” yang diketik melalui pesan singkat. Biasanya,
tidak memerlukan waktu lama untuk menerima balasan dari dia. Saat ini lebih dari
setengah jam gue menunggu balasan tapi tak kunjung ada juga. Kemudian gue
kirim ulang beberapa kali lagi tapi tetap hasilnya sama.
“Di bangun-bangun Di, udah siang nih” teriak gue sambil
memojok-mojokan badan nya yang penuh dengan pasir keringat. Kembali lagi gue
menatap hape dan berharap ada balasan dari Nayla.
“Ternyata salah yah pikiran gue kemaren-kemaren, dikira
bakalan menjadi hari yang menyenangkan eh nyatanya sekarang diawali dengan
ketidakpastian” sahut hati gue. Disamping itu, Andi bergegas bangun ketika gue
membangunkan dia beberapa menit yang lalu. Dia pun hendak mengambil kain handuk
dan menerobos ke toiletnya. Beberapa menit kemudian, Andi keluar dari kamar
mandi dengan wajah yang sangat fresh sambil mengibaskan rambut yang pirang itu
layaknya iklan sampo (p)entin. Dia berdandan, bermekap, membersihkan kacamata
dengan karbondioksida yang berasal dari mulutnya.
Setelah semuanya selesai...
“Lah Drik, lo mau kayak gitu aja penampilan lo?”. Dia
melihat ke arah gue yang tengah memakai baju kemeja panjang dengan celana katun
yang terlihat kebesaran.
“Lho emang kenapa Di? Emang salah yah?” tanya gue.
“Engga sih, tapi baju lo kayaknya yang salah buat hari ini. Terlalu
sopan buat jalan-jalan”
“Emang iya ya Di? Gue kalo kemana-mana di Garut suka pake
gaya kayak gini”
“Oh oke gue ngerti, tapi mending lo pake baju kaos sama
celana jins aja deh. Kalo ga bawa, pake aja punya gue tuh dilemari”. Gue pun
hendak mendekati lemari Andi yang berpintu dua itu. Pintu kanan isinya baju
formal yang digantungkan sedangkan yang kiri itu terdapat lipatan baju dan
celana si Andi. Setelah lumayan bentar memilih, akhirnya gue pake baju merah
yang bergambar emotikon senyum dan celana jins yang agak ngetat. Gue pun ngaca
dan setelah semua nya cocok gue ambil dan melihat hape gue dengan harapan Nayla
menjawab sms gue. Hasilnya 1+1-2 alias ga ada. Gue coba miskol dia tapi gak
diangkat. Tanpa disadari gue merenung karena alasan tak ada kabar dari Nayla
semenjak telpon malam itu.
“Lo udah siap belum Drik?” teriak Andi di meja makan yang
berada diruang tengahnya.
“Udah udah Di, gue nyusul bentar lagi”. Gue dengan
cepatnya meletakan hape gue disaku kiri celana gue. Ditempat makan telah nampak
keluarga Andi yang telah berkumpul. Orang tua nya, dua adiknya dan satu kakak
cowoknya. Gue malu banget karena gue numpang disini. Terlebih lagi gue minjem
baju dan celana nya. Dengan sigap gue memberanikan diri untuk ikut bergabung
sama mereka.
Sarapan pagi menjelang siang itu gue ditanya-tanya sama
keluarganya. Darimana asalnya, mau kemana, dan semalam berbuat apa (yg terakhir
lagu kangen band). Ya gue jawab dengan bahasa mayu khas orang kampung. Setelah
makan, gue diajak Andi untuk mengintip jalan raya. Tepatnya dijalan tol dekat
terminal Rambutan. Yah gue juga bingung apa manfaatnya ngeliatin jalan, karena
gue ga minat untuk menghitung mobil yang lewat. Dia memandangi jalan sementara
gue keluh kesah dan gelisah tentang Nayla. Melihat jam menunjukan pukul 11.00
WIB, gue semakin sadar kalo Nayla udah ada di Singapura. Gue tiba-tiba
berkhayal kalau Nayla tiba-tiba loncat dari pesawat memakai parasut dan
langsung hinggap dipinggir jalan yang tengah dipandang oleh Andi. Tapi gue
disadarkan oleh alam sadar gue kalo itu ga bakal terjadi. Ya karena yang ngajak
adalah kedua orang tua nya. Gue melihat Andi terlihat melamun memandangi jalan
raya itu.
“Di, lo ngapain? Dari tadi memandangi jalan terus. Lagi
ngitung mobil lo Di?” tanya gue.
“Kagak, gue ngeliatin jalan itu supaya waktu nya berputar
dengan cepet. Ntar kita mulai pergi nya abis dzuhur”
“Lo kagak bosen Di? Mendingan kita jajan aja ke terminal
kan banyak pedagang kaki lima Di” sahut gue menyarankan dia. Tak dapat lagi gue
pungkiri tentang ga ada gunanya melamun ngeliatin jalan. Andi pun setuju dengan
saran gue dan kami berdua pergi ke Masjid yang kemarin malam gue kunjungi.
Disana banyak pedagang kaki lima dari tukang siomay sampai tukang pisau. Gue
memilih untuk memilih siomay karena terlihat menggairahkan. Kami layaknya
nongkrong disana sambil makan-makan sampai adzan dimasjid itu dikumandangkan.
Setelah shalat dzuhur, gue diajak Andi untuk naik Busway.
Iyah busway. Gue sering melihat di tipi-tipi tentang kendaraan ini. Lebih
uniknya lagi, kendaraan ini hanya beroperasi diJakarta saja, lebih jauh di
JaBoDeTaBek. Dua karcis telah dipesan oleh Andi untuk kami berdua. Ternyata,
gue langsung naek ke busway itu dan mendapatkan kursi duduk dengan nyaman
dibelakang. Penumpang nya pun sedikit, padahal gue sering melihat dari tipi
kalo busway itu selalu penuh dan terlihat sumpek.
“Ini kita mau kemana Di?” tanya gue penasaran.
“Kita akan berkeliling jakarta dengan busway ini Drika”
“Emang bisa gitu Di?”
“Ya bisa lah, orang busway ini kan keliling Jakarta. Tapi
ntar kita bakal pindah-pindah bus atau namanya Transit Drik” jawab dia. Ya gue ga tahu apa-apa dan hanya bisa
mengikuti dia. Gue diliatin dan ditunjukin tempat-tempat bersejarah yang berada
di Kota Tua di Jakarta. Ternyata memang tua sekali yah karena ditempat itu
banyak sekali museum-museum jaman dahulu kala. Suasana dan tipe bangunan nya
pun mendukung banget kalo kota itu kota tua. Pas gue kesana, gue melihat ada
pertunjukan gitu. Pertunjukan dimana ada anak kecil yang dipecut dengan tambang
gede tapi tidak merasakan apa-apa. Ngeri juga gue melihat pertunjukan itu
karena suara pecutan nya bener-bener bergema. Gue menyewa sepeda untuk
berkeliling kota tua. Sejenak gue beristirahat didepan salah satu gedung tua.
Ternyata gue tidak sebahagia wajah gue. Hati gue seakan tetap menyesali dengan
ketidakhadiran Nayla. Pasalnya, gue telah memikirkan bahwa saat ini gue tengah
asyik jalan-jalan dengan dia, Nayla. Gue lantas mengambil hape gue dari saku dan
melihat hape itu seperti mati dari dunia. Tak ada satu orang pun yang mengirim
pesan bahkan menelpon. Biasanya, hape itu selalu sibuk dengan tangan gue
mengetik kata-kata untuk Nayla.
“Nay kamu
kemana sih Nay, ternyata aku ga bisa yah melupakan sejenak kalo kamu lagi jauh
sekarang. Ya pikirku saat ini adalah kita lagi berdua jalan-jalan” celetuk gue dalam hati dengan
raut wajah yang lesu dan cemberut.
“Udah yuk balik Drik, kita maen ke stadion Bung Karno aja
yuk” ajak Andi ke gue. Tanpa basa-basi gue langsung mengiyakan dengan cara
langsung berdiri dan mengikuti dia. Dari sana gue kembali menaiki busway khas
Jakarta lagi. Tidak seperti di bus sebelumnya dimana Andi mengenalkan gue
tempat-tempat yang dilalui bus itu, sekarang dia malah terlelap dikursi
belakang. Gue ingin sekali tidur seperti dia, tapi terganggu terus dengan
pikiran perasaan gue yang terus memikirkan Nayla. Gue terus melihat hape dan
sesekali menelpon Nayla untuk mengetahui kabarnya. Namun sepertinya usaha gue
itu belum mendapat hasilnya.
Ditengah-tengah perjalanan, hape gue berdering. Gue kaget
sekaligus senang karena dalam pikiran gue itu adalah jawaban pesan gue dari
Tari. Sial bukan main, ternyata oh ternyata gue masih belum beruntung. Deringan
hape itu adalah notifikasi sms dari operator yang lagi promosi tahun baru. Sumpah
gue kesel banget, dan rasanya ingin membantingkan hape gue. Tapi gue mikir kalo
ga ada hape gue komunikasi dengan orang tua gue gimana. Alhasil gue simpan hape
itu dan bernapas panjang demi mendapatkan kesabaran yang berlebih. Saat itu
juga Andi terbangun dari tidur setengah lelap nya. Dia melihat-lihat kearah
jalan raya.
“Kenapa Di? Kok kayaknya lo bingung gitu?” tanya gue.
“Gapapa, ini udah sampe mana?”
“Ya ga tahu lah Di, gue kan bukan orang sini”. Jawab gue.
Tiba-tiba Andi bergegas berdiri dari tempat duduknya dan mendekati kondektur
Busway yang berjaga dilawang pintu. Gue melihat mereka berdua sedang ngobrol.
Tiba-tiba Andi mengisyaratkan gue untuk bersiap-siap turun dari busway itu. Tak
lebih dari lima menit setelah itu, dia ngajak gue untuk turun dan keluar dari
busway itu. Gue baca di plang yang tertera didepan bertuliskan “Senayan”. Andi
ngajak gue untuk keluar dari terminal busway itu dan mengajak gue untuk ke
stadion. Jam menunjukan pukul 17.43 WIB.
“Di, kita nyari mushola dulu yuk. Kita kan belum shalat
Ashar” jelas gue. Andi pun mengantarkan gue ke masjid dekat dengan stadion.
Dimasjid itu gue sambil menunggu sekalian adzan maghrib. Waktu menunggu, gue
masih terpikirkan akan sosok Nayla. Hasil yang sama gue dapat ketika mengecek
hape itu. Setelah shalat, kami berjalan menuju stadion.
“Gila Di, gede banget yah nih stadion. Ngomong-ngomong
kita mau ngapain Di kesini?” tanya gue.
“Ya lihat stadion Drik”
“Oh, tapi kok kayaknya rame banget yah, emang ada
pertandingan bola. Bukan nya pada tahun baruan yah pemain bola nya juga”
“Iyah gue juga gatau, perasaan ga ada deh Drik. Yaudah
tanya yok”. Kami bertanya dan jawaban nya adalah bahwa disana lagi ada konser
malam tahun baru. Tiba-tiba “Jeledarrrrrrrrr” suara kembang api. Indah banget
buat gue dan menakjubkan banget. Ada kembang api yang sekali bunyi terus
hilang, ada yang pas bunyi langsung membentuk sesuatu, tapi sayangnya gue gak
melihat setelah bunyi ada tulisan Nayla. Kembali manyun gue. Kami pun tadinya mau melihat konser
itu tapi terhambat oleh harga tiket yang superzuper pembunuh dompet.
“Yaudah Di, gue pengen ke Monas aja lah Di. 17 tahun gue
hidup gue belum pernah kesana”
“Emang 17 tahun lo hidup pernah ke stadion GBK belum?”
“Belum sih Di. Hehehehe. Yaudah yok ke Monas aja. Udah
jam delapan lebih nih Di”. Kembali lagi gue ke terminal busway untuk melaju ke
arah Monas. Sampai diterminal ternyata orang nya buanyak minta ampun ngantre panjang. Ini ternyata yang sering gue lihat di tipi-tipi setempat. Terpaksa
kami mengantre dibelakang. Saat itu gue tidak lagi memikirkan Nayla karena
menurut gue dia lagi seneng-seneng di Singapura sana. Gue bete banget nunggu
busway nya yang ga dateng-dateng dan antrian nya yang panjang. “Jeledarrrrr,
tuit tuit tuit tuit tuit tuit” kira-kira seperti itu suara kembang api yang
menghiasi langit Jakarta selama gue ngantre.. Lambat laun antrean berkurang dan berkurang karena
busway nya berdatangan dan berdatangan. Gue lihat kembali jam tangan gue menunjukan pukul 22.43
WIB.
“Di, udah jam segini (gue kasih liat jam tangan gue).
Sementara kita masih ngantre nih. Jauh ga dari sini Di?” tanya gue.
“Kayaknya enggak deh Drik. Ayo masuk Drik tuh bus nya udah
dateng”. Bus itu dateng dengan membawa penumpang yang sangat sumpek alias penuh
banget. Dengan terpaksa gue berdiri sampai Monas. Cukup sedih ditambah dengan
ketiadaan Nayla yang memberikan ketidakpastian.
Pukul 23.27 WIB gue tiba di Monas itu. Ternyata disana
sudah banyak orang yang merayakan malam tahun baru. Dari mulai anak kecil
sampai yang terlihat keriput. Dari individu sampai sekelompok orang yang minum
air keras. Tak lupa para pasangan yang memakan jagung bakar bareng. Gue dan
Andi pun berjalan menelusuri jalan yang ada. Tiba-tiba gebyar kembang api
menghiasi awan-awan ditempat itu. Indah banget dan semua orang menatap kembang
api itu. Tak heran jika banyak pedagang kembang api yang berjajaran kayak buat
geng jualan gitu. Tak jarang juga para pengunjung yang datang terus membeli
kembang api itu.
Gue meraba-raba dompet dan masih ada. Gue langsung
mendekati salah satu pedagang kembang api yang berada tak jauh dari tempat kami
berdiri.
“Bang satu yah”
“Ukuran gede, kecil, atau sedang?”
“Yang biasa aja deh bang”. Pedagang itu memberikan gue
satu kembang api yang ukuran nya ga kecil ga gede tapi pertengahan.
“Pasti seru
deh kalo kembang api ini aku nyalain berdua sama kamu Yang” ucap gue dalam hati sambil
memandang benda itu. Kira-kira 15 menit menuju jam dua belas gue mulai membakar
kembang api itu.
“Jelegurrrr......Jelegerrrrr.... juraggaarrrr.....,, Toet
toettt toettttt” suara kembang api yang bercampur dengan trompet pengunjung
yang lain. Ledakan terakhir gue tiba-tiba secara ga sadar berteriak
sekeras-kerasnya sampai otot dileher gue tegang “NAYLA AKU SAYANG SAMA
KAMU, AKU PENGEN BERDUAAN SAMA KAMU. MUNGKINKAH?!!!!!!!!” “Jelegaarrrrrrrrrr, turutturtuttttt”. Suara gue menjadi
serak-serak basah tapi seksi gara-gara teriakan itu. Semua orang tampak tidak
menghiraukan tentang teriakan gue. Sang kembang api yang gue punya udah abis.
Gue duduk dipinggir jalan dengan memperhatikan patung Monas itu. Tak jarang gue
memperhatikan para pasangan yang bercanda ria dengan makan jagung bakar
ditengah malam itu.
Jam menunjukan pukul 23.51 dari jam tangan gue.
“Aku juga sayang kamu kok, Adrika!” suara yang datang
tiba-tiba seperti hantu yang berasal dari belakang. Gue mengabaikan kata-kata
itu karena gue sadar itu adalah halusinasi gue yang berlebihan.
“Adrika, aku sayang banget sama kamu!!!!!!!”. Gue nengok
kebelakang dan ga bisa gue percaya tapi ini memang terjadi dan nyata, bukan
sulap bukan sihir, bukan setan bukan iblis, bukan juga Dewa Dewi tapi ini
beneran nyata kalo yang manggil gue adalah Nayla.
“Nayla?!!!! Kok?” teriak gue ga percaya. Dia hanya
menebarkan senyum indah nya ke gue. Sangat indah dan manis banget.
“Iyah aku Yang”
“Kok kamu disini? Bukan nya kamu di Singapura Nay?” tanya
gue heran sambil detak jantung gue berdebar seperti beruang mau perang.
“Iyah, aku balik lagi dari sana, karena aku ga bisa
berhenti mikirin kamu yang rela datang kesini hanya untuk menghabiskan waktu
malam tahun baru bareng dan tak lupa dari notifikasi hape aku yang penuh sms
dari kamu. Aku juga mikir, ngapain ke Singapura tapi gak puas, mendingan disini di Monas puas dengan orang yang aku sayang” jawab dia dengan lembut.
“Terus kamu kok tahu aku disini Yang?”
“Aku dikasih tahu sama Andi”. Gue langsung melihat Andi
dan dia mengedipkan mata kanan nya sambil tersenyum.
“Sumpah Nay, aku ga percaya banget kamu disini. Kamu baru
dateng?”
“Enggak udah dari tadi kok, cuman aku duduk disana sambil
ngeliatin kamu yang bahagia agak cemberut”.
“Berarti kamu denger aku teriak tadi dong?”.
“Bisa jadi” jawabnya.
“Oh my God, aduh jadi malu aku Yang. Tapi sumpah aku
seneng banget Yang. Akhirnya malam ini terjadi juga Yang”. Lantas gue mengajak
dia untuk membeli kembang api untuk merayakan tahun baru ini. Gue dan Nayla
memegang kembang api berdua.
“3, 2, 1, jledarrrrr, jeleduurrr, jelegerrrrrr,
buarrrrrrrrr. Tet toet toet tet toet toet toet tet” gue melihat raut wajah
cantik Nayla yang sangat indah dan membuat hati gue bahagia. Tahun 2013 telah
menjadi kenangan sedetik yang lalu dan tahun 2014 telah kita mulai sedetik yang
lalu. Terakhir gue menggenggam tangan Nayla dan mencurahkan apa yang gue
rasakan.
“Nay, aku sayang banget sama kamu, aku sudah memimpikan
malam ini dari dulu dan terima kasih telah menjadi perantara mimpi aku menjadi
kenyataan. Satu kali lagi aku benar-benar sayang banget sama kamu Nay”. Nayla
hanya menatap gue dan tiba-tiba mencium pipi kanan gue dan berlari.
END


0 komentar