• "Yang Penting Selesai", itu judulnya.

    by - 10.16


    Saking suka bobonya, Della itu difoto sambil mimpi.

    Jangan baca tulisan ini, soalnya panjang banget dan egois banget. Tulisan ini cuman buat sejarah pribadi aja, untuk nanti diceritakan buat Samantha, anak saya kelak nanti (optimis aja dulu yak) biar gak lupa detil dan perasaannya. Tapi kalo kalian tetep keukeuh untuk pengen baca ya silahkan. Membaca itu menyenangkan, dan masih gratis, dansiapa tau nanti kalian beli buku saya. Amiin.

    ...........

    "Dell, kita lomba lagi. cek email deh" terang saya waktu itu ke Della. Saking seringnya lomba, saya dan Della seperti mulai membiasakan ada nama kami di email yang dikirim oleh bagian Kemahasiswaan kampus. 

    "Yaudahlah kak, santai aja, yang penting selesai". Della ini orangnya pinter banget Akuntansinya, makanya sering dipilih lomba. Nah saya ini, cuman pinter banget bacot gak jelasnya, makanya sering disudutkan untuk ikut lomba. Kita berdua sudah bersama-sama melalui lomba demi lomba, dan memenangkan banyak sekali kekalahan dalam lomba tersebut. Iya kami menang untuk kalah, gimana coba. Seinget saya, kami dulu paling bagus sampe Semifinal kompetisi Akuntansi. Dan frankly speaking, saya percaya kenapa masuk semifinal waktu itu karena di babak penyisihannya adalah babak benar atau salah. Dan itu poinnya gede. jadi itu pure mengandalkan insting daripada usaha menghitung dan menjawab soal. Jadi Semifinal karena bejo. That's it, nothing more or less.

    Lomba kali ini adalah lomba tingkat nasional, yang diadakan oleh Ristekdikti dan Sekolah Bisnis Manajemen ITB. Jadi ya tingkat nasional. Kami menerima email itu sekitar awal Mei, dan deadline pengumpulan karya tulis dan video itu tanggal 21 Juni. Masih lama, iya masih lama, masih banyak waktu, dan yaudahlah sans aja. Saya dan Della mempunyai kesibukan masing-masing. Saya punya tanggung jawab terhadap pekerjaan saya diluar kuliah, dan Della mempunyai tanggung jawab juga untuk memastikan dia mendapat jatah istirahat tidur yang cukup dan berbahagia.

    Dua hari sebelum benar-benar deadline, kami masih santai. Disisi lain, bagian kemahasiswaan sepertinya worry ditunjukan dengan adanya email follow-up menanyakan progressnya. Kami diberikan dosen pembimbing, tapi saya dan Della selalu punya alasan klise untuk menunda-nunda bimbingan. Jadi H-2 itu ya seperti tidak ada apa-apa, semuanya seperti normal dan sediakala.

    Hari itu, 21 Juni. Iyah 21 Juni, hari jumat, hari terakhir pengumpulan semua persyaratan termasuk video dan makalahnya. Saat itu, kebetulan kami gak ada kuliah akhirnya kami sepakat untuk mengerjakannya. Semalam sebelumnya, kami sudah coba mengerjakan apa yang bisa kami kerjakan. Jadi harapannya pas hari Jumat ketemu tinggal bikin video. Pas ketemu, ya masih abstrak banget, berantakan banget dan wow, kami seakan mulai menyadari bahwa memang hari ini deadlinenya. Tapi kami berusaha tenang, berusaha untuk memegang prinsip "yang penting selesai" dan "yaudah yang penting selesai aja". Dua kalimat yang sebenarnya tidak ada beda, tapi ya kami teguhkan pendirian untuk prinsip itu sebagai bentuk penekanan kalimat. 

    Makalah atau Paper itu gak sedikit dan harus sistematis penulisannya. Bahkan harus memenuhi kriteria image tulisannya banyak. Jadi apapun itu, yang penting tulisannya banyak dan ada judul serta daftar isi. Kami berdua, mencoba membagi tugas bagian-bagian itu, supaya efektif dan efisien. Padahal ditengah-tengah penulisan, saya worry untuk pengerjaan video. Saya inget sekali, Della itu sudah membuat acara sendiri untuk family dinner keluarganya dihari itu, jadi gak bisa ngerjain sampai malem. Barangkali waktu itu, dia lebih worry karena harus dateng makan malem yang dia inisiasi sendiri dan dia rencanain acara dinnernya. Kami berdua mencoba tenang dan "yaudah kerjain aja sebisanya".

    Ditengah dunia ketik-mengetik, tercetuslah "Dell ayo kita bikin video dulu, kayaknya bikin video yang lebih ribet, jadi abis video baru lanjutin nulisnya. Udah lumayankan yak penulisannya".
    "yaudah kak".
    Salah satu pengumpulan berkas adalah makalah dan video penjelasan. Kami berdua memikirkan konsep, syuting, dan akhirnya sampai pada konsep mirip news anchor supaya tak banyak tingkah, tapi lebih simpel, editnya juga simpel dan tak mengurangi esensi penjelasannya. Dan video akhirnya jadi. Dan saya menggelengkan kepala pas nontonnya, tapi sekali lagi, prinsip "yaudahlah yang penting selesai".


    Kami menyadari, sesimpel-simpelnya konsep video, syutingnya tetep aja repot. Apalagi karena syuting dikampus, pake hape, noise nya kerasa banget dan kalo ada orang lewat atau ngobrol, itu kita harus berhenti dulu. Belum lagi yang balelol atau terbata-bata ngomongnya, harus retake ulang, di rekam, dilihat, di raba, diterawang. Iya, konsep video sama kaya konsep Uang Palsu. Pembuatan video itu menyita waktu banyak sekali sampai akhirnya waktu tak terasa sudah sore.

    Saya melihat Della yang khawatir dan mulai ditelpon keluarganya. Dari mulai hape dibalik, di mute, sampe akhirnya dimatiin dong paket datanya.

    "Tinggal Konklusi sama rekomendasi nih kak. Siapa yang mau ngerjain?" Della mengkode-kode gak jelas.
    Entah kenapa setiap kali procrastinate, otak saya itu hybrid banget mikirnya. Berasa punya 4WD untuk kecepatan tingkat tinggi. Jadi, merangkai bacotan melalui kata-kata di akhir itu sangat mudah untuk saya lakukan. Dan tak lama dari itu, akhirnya kami selesai. Video tinggal upload youtube, dan karya tulis di upload diportal lombanya.

    Hari berlalu, minggu berlalu, bulan-bulan berlalu, liburan juga sudah berlalu. Biar kaya tulisan novel-novel romantika gitu.  Akhirnya ada email konfirmasi bahwa kami lolos ke tahap final dan harus menyelesaikan soal kasus baru untuk dikompetisikan di babak ini. Reaksi pertama, sumpah masuk ini ke final, anjeer hahahaha bego ke bandung hahaha.
    Bedanya dari babak penyisihan, ini hanya ringkasan powerpoint, jadi gak perlu video penjelasan apalagi karya tulis. Makin males dong jadinya, karena tugasnya lebih simpel. Jadinya, semakin ditunda-tunda. Uh senangnya.

    "Dell, kita lolos yang ke Bandung itu. Daftar ulang ya jangan lupa". Saya chat Della dan dia cuman bales "...". Iya itu titik tiga, menunjukan bahwa ini diluar dugaan sekali karena waktu pengumpulan, asas yang kami pegang adalah asas "yang penting selesai", kami memandang persyaratan yang kami kumpulkan biasa saja.

    Kami waktu itu punya waktu kurang lebih 2 minggu untuk pengerjaan kasus dan pembuatan materi powerpointnya. Dan seperti biasa, menunda. Karena balik lagi, saya punya tanggung jawab pekerjaan diluar kuliah, dan Della masih banyak tanggungan tugas kuliah dan istirahat tidurnya. Hal yang membedakan adalah kali ini saya berinisiatif untuk mengontak dosen pembimbing untuk bimbingan. Bimbingannya H-3 sebelum deadline. warbiayasah kan.  Meskipun pada akhirnya, bimbingannya pas jam ngajarnya beliau. Barangkali beliau juga gak sabar untuk membimbing jadinya geregetan.

    Bimbingannya mencerahkan, dan banyak memberikan arahan untuk mau ngerjain apa nantinya. Sampai kami dibekali buku tebel banget tentang materi yang mau dikerjakan.
    "Dell, ini bukunya kamu aja yang bawa, kamu baca dulu, besok kan kita gak ada kelas, tapi aku ada kerjaan jadi kita ketemuannya jam setengah 7 malem gimana?"
    "Oke". simpel.

    Besoknya, tepat jam 5 sore yang seharusnya sudah otewe ke kampus, tiba-tiba gak ada hasrat di saya untuk mengerjakannya malam ini. Lebih tepatnya mager parah untuk berangkat. Lebih tepatnya lagi, males gila parah. Akhirnya saya chat Della.
    "Dell, kalo remote aja ngerjainnya bisa gak? Besok kan kita kelas pagi, terus lanjut lagi malem, jadi bisa dikampus bareng2"
    "Oke ka"
    "Tapi gue kerjain malem ini Dell"
    "Woke ka, sya juga kerjainnya malam ini"
    "okeee"
    Pas malemnya, saya bilang mau kerjain tapi berakhir menghabiskan waktu untuk begadang bermain Dota 2. Iya saya main game online akhirnya, terus kecanduan, terus berakhir tidak menghasilkan progress apa-apa. Yang ada hanya menyisakan ngantuk luar biasa besoknya.

    Sampai hari deadline tiba, kami masih masuk kuliah pagi dan sambung lagi malem. Jadi tetap, pada akhirnya kami mengerjakan kasusnya pada hari deadline. Tak ada hal yang aneh, namun asas "yang penting selesai" kembali memanaskan suasana di hari itu. Belum lagi ada godaan temen sekelas yang mau nonton bioskop karena jarak waktu dari satu matkul ke matkul selanjutnya emang lama banget. mulai pagi banget, terus lanjut magrib. Berasa kuliah di sahur sama buka puasa.

    "Gimana kak Acep, mending nonton aja dulu, baru nanti kerjain" goda dia.
    "Yaudah kamu mau nonton dulu, yaudah gapapa nonton dulu". Jawab saya. Dan akhirnya pada nonton, dan kami tidak. Padahal Della sebenernya gak bisa nahan godaan untuk menolak ajakan temen deketnya untuk nonton, tapi karena gak enak, dia beralasan "enggak kok kak, saya mau ngerjain aja". Akhirnya kami coba untuk lebih serius untuk babak finalnya nanti.

    "Jadi gimana nih kita ngerjainnya?"
    "Yaudah kita coba baca-baca dulu, nanti setelah 15 menit, kita diskusikan gimana". Soal kasus sosial itu terkenal tidak ada jawaban yang mutlak. Jadinya diskusinya alot banget, tapi gak menghasilkan apa-apa. Udah debat panjang, tapi pas mau dimasukin ke PPT nya gak tau apa. Sering terjadi pada kami berdua. Bahkan, apa yang kita mau dan setujui di diskusi, bisa beda banget pas dimasukin ke PPT. Itulah kami, sang air yang selalu mengalir menyesuaikan kondisi.
    "Dell, gue bobo dulu yak, gak bisa mikir nih. Keseringan gak pake otak, jadi pas dipake pusing gitu". saya, saat ditengah-tengah ngerjain dan belum ada poin pun yang dimasukan ke PPT. Padahal bukan gak bisa mikir, tapi karena emang ngantuk aja. Saya bobo, merangkai kursi-kursi untuk disejajarkan menjadi sebuah barisan lurus, lalu saya bisa berbaring disana. Bobo sebentar ketika ngantuk itu, refreshing banget. Meskipun bentar, efeknya kerasa. Cobain deh.

    Akhirnya, jam 11 malem lebih, semuanya selesai. Asas yang sama tetap dipake untuk menyelesaikan kasus kedua ini "Udah lah Dell, yang penting selesai". Kendala terjadi, portalnya eror, mungkin semua tim yang ikut final itu orangnya procrastinator juga.

    "Coba lagi kak"
    "Okee.." selang beberapa detik setelah mencoba "masih eror Dell". Hampir 10 kali lebih kami coba upload, gonta-ganti laptop, koneksi, bahkan gonta-ganti format file. Semuanya tetep eror dan gak bisa ke Upload.

    "Yaudah kita email aja langsung deh Dell, bilang aja eror". Akhirnya saya email langsung ke panitia, saat itu deadline jam 23.59, saya ngemail 23.38. Daripada telat, ya mending diemail dan biar buru-buru selesai dan pulang, dan akhirnya bobo. Memang dasar kami, pemalas.

    .......
    Hari final tiba. Kami berangkat siang dari kampus Jakarta, dan sampai Bandung sore hari. Saat konfirmasi cek in, kami dihadapkan dengan potensi masalah baru.
    "Kalian dari PPM ONE ya?" tanya panitia.
    "Iyah kak" sontak kami jawab.
    "Jadi kami belum menerima PPT kalian, tapi kalian kirim lewat email ya? Jadi harusnya gak bisa kalo bukan melalui portal".
    "Waduh, terus gimana kak? Soalnya waktu itu, portalnya eror, kami coba lebih dari 10 kali dan erornya itu gak konsisten. Upload pertama erornya katanya file PPT, eror kedua itu ringkasan solusinya. Jadinya gak bisa tentuin erornya gimana, gak konsisten gitu".
    "Hmm, kalian ada foto atau skrinsyutnya gak, biar aku serahin ke juri".
    Saya lihat dan tanya Della, kami saling menatap dan Della bilang "kayaknya ada deh Kak". dia coba cari dan hasilnya nihil.

    "Terus gimana dong kak jadinya?" tanya saya untuk memastikan.
    "Nanti pas Technical Meeting (TM) dikasih tau keputusannya ya. Soalnya juri yang menilai gimana. Berdoa aja yang terbaik yaa".
    "Yaudah kak, terima kasih ya".
    Dalam hati anjeer baru dateng udah dihadapkan kemungkinan bakal dianulir. Tapi ya tunggu keputusan nanti. Kalo dianulir yasudah, tapi ya janganlah, masa dianulir. wkwk.
    Kami akhirnya ke kamar hotel masing-masing, dan jelang waktu untuk makan malam kami kembali tatap muka, ya untuk mencari makan malam karena memang sudah waktunya makan malam. 
    "Kalo di anulir gimana Dell? gapapa yaa?" tanya saya .
    "Ya gapapa lah Kak, udah di Bandung ini. Saya udah lama gak ke Bandung, jadi ya main aja. Saya mau beli seblak disini".
    "Iyah kita maen aja yak di Bandung, banyak tempat-tempat bagus. Bilang ke kampusnya bilang aja gak lolos yak. Kan udah biasa. haha".
    Seterusnya kami makan malam sambil mempercantik rencana jika beneran kami akan di anulir, dan mencoba me-list wisata kemana aja untuk mengisi waktu di Bandung ini. Total kita akan stay  di Bandung 3 Hari dan harusnya asik buat menelusuri Bandung.

    Kami datang ke Bandung dengan mental yang biasa aja. Jauh dari harapan menang, karena saking terbiasanya kami kalah dalam perlombaan. Apalagi pas ada indikasi mau dianulir, ya kami mencoba mengambil hikmahnya, yang penting udah ke Bandung.

    Pas TM saya memberanikan nanya langsung ke ketua panitianya, menerangkan kendala pada saat submisi PPT, dan akhirnya beliau memberikan jawaban "Semua tim akan tetap mempresentasikan kasusnya, namun Juri mempunyai penilaian tersendiri". Yes, akhirnya gak harus di anulir. Akhirnya gak rendah-rendah amat kalo nanti kalah. Di TM itu, ada pengocokan urutan presentasi, dan kami mendapatkan giliran ke 11, giliran terakhir dan itu sore. Jadi acara dari jam 7 sampai sore, kami akan ditemani dengan pikiran ketidakpastian dan kegerogian sepanjang hari. Malam setelah TM itu selesai, kami berlatih untuk memantapkan persiapan presentasi, dan mencoba membayangkan kondisi semua aspek saat kami presentasi. Dari kemungkinan juri yang udah capek, atau kami lupa bagian masing-masing. Sampai jam 12 malem, kami siapkan senjata, satukan visi, nyalakan tekad, dan lontarkan yel-yel gak jelas untuk mempercair suasana pada saat nanti presentasi.
    "Night Dell"
    "G night ka acep". Kami beristirahat dan berharap besok diberikan yang terbaik.
    ....
    Hari berganti, bulan perlahan-lahan melambai menyadari, bahwa sudah saatnya terganti oleh matahari, untuk menemani umat manusia dalam aktivitas sehari-hari, terutama pada mereka yang hatinya masih sepi dan sendiri ditemani secangkir gelas kopi. Intro yang lumayan lah ya dalam memulai hari lomba ini.

    Saya bangun biasa, sarapan, dan merasakan dinginnya Bandung dipagi hari. Seperti biasa. Namun yang paling gak biasa adalah, saya Magh seharian. Perut gak enak, ke wc pun gak enak. Pusing, padahal biasanya gak seperti itu.
    "Dell, gue magh nih. Ga enak banget badan"
    "Yah gimana dong kak, aduhh. Saya ada promagh nih, mau?"
    "Yaudah sini Dell". Dari kecil saya bukan penggemar obat, kayaknya semua orang gitu. maksud saya, saya gak bisa nyium obat, dan akan selalu muntah kalo minum obat. Kecuali vitamin C doang. Makanya saya selalu gak betah pergi ke RS, klinik, atau rumah kesehatan lainnya yang bau obatnya nyenget banget. cuih.
    Della saking perhatiannya waktu itu "ini makan siangnya kak, sayurnya, ikannya jangan dimakan. makannya ayam nya aja, biar perutnya enakan. Cepet sembuh ka Acep". Saya terkesan, karena hmm sudah lama sekali tidak ada yang memperhatikan. lol.

    Saya kurang fit, ditambah ruangan yang dingin. Sembari menunggu, kami menonton dulu acara rutin kewirausahaan yang diadakan oleh pihak penyelenggara. Ada sindrom gak jelas yang tiba-tiba menyerang hari itu, dan saya terus menunjukan saya gak fit ke Della dan dia juga bingung kudu gimana. Sampai akhirnya, giliran kami akan dimulai.
    "Dell kita doa dulu yuk"
    "ayo ka"
    Kami berdoa, dengan pasrah dengan harapan dilancarkan segalanya dan yang penting bisa melaluinya dengan baik. Kalah mah kami gak peduli, asal gak malu-maluin banget aja.
    anndddddddddd yeahh, we did it the way it was supposed to be. Kami gemetar, tangan dingin, dan salah tingkah sesaat setelah kami nutup presentasi. Juri melihat itu dengan jelas, kami grogi tapi kami berjuang untuk melawan dan mencoba untuk memaparkannya dengan baik. Setelah selesai, kami salaman. "Wah ini tangannya dingin sekali" kata juri. Bahkan Della sempat mentok meja juri saking dia sipitnya, eh maksudnya groginya. Kami grogi tapi lega. Kami gak berharap masuk grand final, tapi kami sudah merasa gak malu-maluin banget. Mission partly accomplished.

    Karena giliran terakhir, hari sudah menjelang sore, tapi seminar masih belum selesai. Pengumuman untuk grand-finalist masih kurang lebih sejam lagi, jadi kami, khususnya saya bisa istirahat dikursi, bobo dulu supaya maghnya tetap stabil.
    "Dell, malam ini jadi ya kita main. Kita makan seblak, jalan ke ciwalk dan sebagainya". Kami berpikiran bahwa malam ini akan punya banyak waktu karena tak ada sedikitpun dibenak saya untuk masuk Grand-final. Jadi pada hari penutupan, kita cuman jadi penonton seperti biasa. Saya gak tahu perasaan Della gimana, mungkin dia ngarep masuk, tapi karena udah sering kalah dan udah saya obrolin untuk membayangkan main setelah ini.
    "Tapi kan ka Acep sakit, udah kaka istirahat aja, tidur kak. Biar aku sendiri aja gapapa". Ini della mulai meningkat perhatiannya.
    "Enggaklah, kapan lagi kan bisa maen di Bandung berdua, santai aja Dell, paling ntar juga sembuh" jawab saya.
    "Yaudah oke deh kak".

    Waktu pengumuman pun dimulai.... satu persatu peserta yang lolos udah disebutin. 
    "Grand-Finalist selanjutnya, grand finalist keberapa sekarang? Empat ya. Oke Grand-Finalist keempat adalah (slides monitor berganti).... PPM ONE dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM. Silahkan berdiri dari PPM ONE" teriak MC waktu itu.

    Saat nama grup kami disebut, kami saling pandang satu sama lain dan "wow". Kami berdiri, dadah-dadah ke sekeliling, dan duduk kembali. Sontak saya langsung chat dosen pembimbing dan Della chat kemahasiswaan. "KITA MASUK GRAND FINAL, BU". Saat tahu masuk, itu penyakit magh melipir dulu ke tubuh orang lain, karena euforianya unbelievable banget nget nget. Pas saat diumumkan kasus untuk grand-final, itu magh balik lagi. Tapi saya senang, Della pun senang. Sekalipun kalah, udah jadi 5 besar grand-finalist. Waktu menunjukan pukul 19.00 lebih, dan kita diberi waktu untuk menyelesaikan kasus sampai jam 5 pagi.
    "Yah Dell, kita gak jadi jalan-jalan nih. sedih yaa". ledek saya.
    Namun kami sempatkan makan malam dulu sebelum mulai untuk membahas kasus grand final untuk dipecahkan. Kami sempatkan juga mandi, bebenah diri, menghadap ilahi, untuk diridoi diri ini menjadi juara sejati, untuk hidup dan mati. Semakin gak jelas saya.

    Akhirnya kami mulai mengerjakan kasus jam 9 malam. Kami mengerjakan dikamar Della, karena kamar hotelnya lebih luas. 

    Kami mencobaa baca-baca, nulis-nulis konsep presentasi, sambil bimbingan sebisa mungkin sama dosen pembimbing yang berada di beda kota. Kita diskusi, debat, bahkan untuk menafsirkan soalnya aja lama banget.
    "Eh Dell, coba liat paper kita yang waktu babak kualifikasi. Siapa tahu ada hal yang relevan disana". Tanya saya.
    "Ada kok Ka, di laptop. Di folder yang itu". Saya pun langsung membuka filenya dan terkesima sejenak seraya bergumam "Ini paper yang kita kerjain sehari itu Dell?"
    "Iya ka"
    "Gilaks, pantes kita masuk final, orang bagus gini papernya. Strukturnya jelas, solusinya jelas, detil juga. Coba liat deh. Kenapa kita baru nyadar sekarang". Della langsung mendekati saya, dan mengecek sendiri hasil kerjaan kami berdua yang waktu itu diburu-buru oleh acara dinner keluarga dia.
    "Eh iya kak, kok bisa bagus gini yak. Perasaan waktu itu kita gak ngelihat kaya gini. Bagus ternyata ya ka" jawab Della.
    "Iya kan, kenapa kita baru nyadar kita sebagus ini yak". Perasaan dan motivasi kami seperti meningkat dengan menyadari itu. Tapi ya jam masih berjalan sehingga kami harus melanjutkan untuk memecahkan kasus grand final ini.

    Soal IPS itu kaya bagian karya tulis, abstrak. Bahkan, sampai di jam menunjukan pukul 3 pagi, saya masih ragu untuk mengumpulkan jawaban kasusnya. Ide itu selalu muncul dan teorinya banyak. Jadi ditengah jalan, banyak banget godaan untuk mengganti solusi.
    "Dell gue ragu deh" tegas saya.
    "ka Acep ragunya yang bagian mana?"
    "gatau Dell, tapi ragu aja"
    "hmmm"
    "Yaudah kita latihan presentasinya aja dulu".
    Kami putarkan slide presentasi kami, lalu mencoba untuk melakukan rehearsal dengan durasi waktu 10 menit presentasi sesuai peraturan lombanya. Kita sama-sama capek waktu itu, dan godaan kasur ke Della itu tinggi banget. Rehearsal sebatas untuk baca slides buat dia, otaknya beneran udah tidur.
    "Ayo Dell latihan di ulang lagi" ajak saya.
    "Aduh, aku ngantuk ka acep" pas dia liat muka saya "Yaudah ayo" Della udah mulai uring-uringan. seringkali saya tabok lengannya, saya tonjok pelan supaya dia bangun dan semangat.
    "Ayo Dell, semangat. Kita harus berjuang sampai darah penghabisan". lalu saya tonjok tangan dia.
    "Aduh, ka acep sakit -_-, ngantuk :(". terus dia bilang "saya tuh gak bisa mikir kalo ngantuk, takut besok pas presentasi ngantuk banget, ka". 
    "Ih Della, bener-bener ga rela banget sumpah waktu tidurnya diambil. Bener-bener".
    Itu Della latihan presentasi sambil duduk dengan mata yang merem melek. Mata kita sama-sama sipit, pinter banget dia nyembunyiin mata tertutupnya. Dia serasa ngomong sambil merem, mungkin dia ngomong sambil mimpi, semacam multi-tasking seperti kebanyakan perempuan Indonesia lakukan dalam bekerja. Liat aja lagi ke foto paling atas, dia difoto aja gak keliatan dia sadar atau tidur. hahaha

    Tiga kali putaran latihan presentasi, sambil merevisi apa yang kurang, menambah apa yang kurang selama proses latihan dan akhirnya kami sepakat, mendekati jam 4 pagi, kami akan kirim presentasi solusi di kasus grand final ini.
    "Dell tapi gue masih ragu".
    "Aduuhh ka acep, udahlah, biar kita bisa tidur. Coba sekarang ragunya di bagian mana?"
    "gatau Dell. yaudah deh kita kirim ajah".
    "Oke". Della bener-bener udah males banget dan pengen buru-buru tidur. 
    Dan kendala yang sama tentang portal kembali muncul. Portalnya eror lagi. Susah submit, tapi setiap eror kami skrinsyut agar ada buktinya. Akhirnya kami telpon panitia, dan akhirnya submit melalui email.
    "Oke Dell, apapun yang terjadi, yaudahlah ya". Saya kirim email sambil menjabat tangan dia, sebuah bentuk untuk melahirkan optimisme dan rasa saling percaya. Dan email itu kami kirim, kami lepaskan pegangan tangan kami. 
    "Yaudah kak, sono pulang, tidur."
    Dan hari itu kami hanya tidur cuman dua jam. Masih mending sih tidur, kayaknya tim lain ada yang gak tidur, karena excitements nya luar biasa. atau groginya juga lebih luar biasa.

    Dan acara grand final mulai jam 8, dan tanpa basa basi langsung pengocokan giliran. Saya sama Della adalah urutan pertama. Antara Yeay atau Nay. Susah ngedeskripsiinnya, pikiran masih belum terlalu fresh tapi harus dilalui. Waktu dapat urutan pertama, kami saling pandang
    "Dell?" ...
    "Kak"...
    Akhirnya saat panitia nyiapin teknisnya, saya ngajak Della untuk keluar ruangan, untuk pemanasan sekaligus berdoa. Kami berpegang tangan lalu berdoa.
    "Apapun yang terjadi, mudah-mudahan diberikan yang terbaik, berdoa dimulai". Lalu kita stretching, senam mulut dan wajah, selain itu juga kami mencoba melonggarkan badan kita selayaknya atlet sepakbola sebelum peluit ditiup untuk memulai pertandingan. Kami kembali masuk ruangan dan here we go.

    .......sedang presentasi dan sesi tanya jawab.....

    "Akhirnya selesai" gumam saya.
    "Eh kak Acep tadi salah tau, masa KAP (Kantor Akuntan Publik) gak bisa ngaudit. Kan bukan gitu. Tadi juga harusnya gak gitu tau kak. aarrrhhhhh ka Acep :(((" Jelas Della dengan muka keselnya karena apa yang saya sampaikan di sesi tanya jawab, itu sedikit ngaco. Kami mulai saling menyalahkan dan mengkoreksi "seharusnya itu tadi itu gini...." "tadi tuh harusnya gini tau kak"..
    Modal saya memang ngebacot, jadi ketika juri nanya, saya gak pernah keabisan kata-kata untuk dirangkai, namun seringkali itu kejauhan. Pas lagi ngebacot, si Della gak tahu cara memberhentikan bacotan saya gimana.
    "Oh gitu Dell, yaudah lahh" tapi dalam hati anjirrr anjirrr iyaa salah banget gilaks. Setelah itu memang ada rasa bersalah juga karena itu sangat fatal menurut saya. Saya jawab "mengecewakan" ke dosen pembimbing saat itu, karena memang seperti itu. Baru ini saya merasa nyesel.
    "Udah lah Dell, gausah diobrolin lagi. Jadi kesel sendiri" saya bilang Della. Karena dia seperti gak bisa nerima dan gak bisa ngelupain. Saya pun sebenarnya gak bisa lupain, dan mencoba menahan diri untuk berhenti menyalahkan diri sendiri. Ketakutan saya waktu itu adalah juara 5, karena juara 5 gak dipanggil ke panggung.
    Kami pun gak berani nonton finalis yang lain karena Della bilang "gak mau akh takut sakit hati", akhirnya kami nunggu diluar dan ngobrol-ngobrol santai sama panitianya.
    "Tapi dell, kita harus masuk, harus belajar dari tim lain. Gue pengen liat yang UI, siapa tau bisa belajar".
    "Yaudah ayo Kak". Kami nonton giliran ke empat dan kelima. Waktu itu dari IPB dan terakhir UI. Kami mempelajari sesuatu dari presentasi mereka yang bisa kami terapkan nantinya. Ada ketenangan dari presentasi IPB dan ada struktur jelas dari presentasi UI. Kerasa pelajarannya dan saya tulis sekali di note saya. Presentasi grandfinal selesai dan tinggal masuk ke aula dan nunggu dan udah abis itu beli oleh-oleh abis itu yaudah, udahan.
    "Yaudah ya Dell, kita udah fix juara 5, kita udah keren sampe tahap ini, 5 besar nasional cuy".
    "Iya kak"
    "Btw, perut gue masih kompilasi nih del,ya gitu lah masih sakit. Padahal tadi udah di pup in kan tapi yaudahlah"
    Kami pun bergegas ke auditorium, untuk menunggu upacara penutupan. Waktu itu nunggunya lama banget, karena agak ngaret dari jadwal yang ditetapkan. Kami juga sempat makan siang dulu, ngobrol-ngobrol dulu, dan kebanyakan melipat tangan diatas meja dan menyandarkan kepala ditangan itu, lalu bobo.

    Setelah menunggu sekitar 2 jam an, akhirnya acara penutupan hendak dimulai. Ada kejadian unik nan mencengangkan sesaat sebelum acara penutupan dimulai. Ketika panitia mengecek semua aspek teknis, salah satunya adalah display slide PPT mereka di komputer dan layar di proyektornya. Waktu itu, panitia tidak menyadari kalo komputernya masih nyambung ke proyektor. Kebetulan, si panitia lagi ngetes urutan pemenang melalui slide ppt nya. Dia cek satu persatu slide dengan ritme yang cukup cepat.

    Penonton alias peserta yang menunggu sontak kaget melihat layar monitor dipanggung. Dari setiap kategori lomba, ketahuan siapa juaranya. Sampe akhirnya beberapa peserta teriak ke panitianya "Kakkk.. kakk... kakk....itu masih nyambung ke proyektornya". Ada beberapa yang udah teriak karena liat fotonya di slide itu, ada juga yang bergumam "astaga".

    Di slide itu, saya lihat foto kami berdua terpajang sebagai Terbaik 1 Nasional. "Dell, itu ada foto kita tau. Terbaik 1 yak. Alhamdulilah ya juara 4, jadi gak juara 5 banget". Saat itu, saya lupa-lupa ingat ketika TM, panitia menyebutkan bahwa urutan juara adalah Juara 1, 2, 3 dan terbaik 1 atau juara 4. Saya langsung bilang dosen bahwa kami terbaik satu alias juara 4. Padahal waktu itu belum diumumin resmi, hanya tahu dari kesalahan panitia yang lagi ngecek aspek teknis.

    Dosen waktu itu udah bilang wejangan, "terima kasih karena telah berjuang untuk kampus dan bla..bla...bla".
    Karena masih belum resmi, tapi dosen udah tahu, ada keraguan yang muncul tiba-tiba  disana. "Eh Dell, kalo gak jadi juara gimana anjir, ini dosen udah tau. Tadi gue liat ada foto kita, tapi gue jadi gak yakin itu kita".
    "hayoloh kak, lagian langsung ngomong-ngomong gitu sih ke dosennya. udah tau, belum resmi"
    "Aduh anjirr, malu banget kalo gak jadi juara, tapi lu liat kan dell tadi?"
    "Saya gak yakin tau kak, makanya apa-apa jangan langsung dikabarin tau. Kan tau dosen kita gimana. Jadinya kalo gini repot". Della itu ngeledek, tapi gak ngasih solusi gimana. Kan sebel. Layaknya netizen pada umumnya ketika ngomong politik. Saya waktu itu bener-bener kepikiran karena kalo gak jadi juara kan malu banget itu. Udah mah semua angkatan sama dosen udah tau lagi. Muka harus dilipet dulu kalo ngampus kala itu benar terjadi.
    "Bu, ada kesalahan nih kayaknya, panitianya lagi ngitung ulang" chat saya waktu itu setelah lumayan pusing mikirin gimana kalo gak juara. Oke masalah terselesaikan. Jika gak jadi juara, bilang aja ada koreksi panitia, jadi dosennya bisa nyalahin panitia instead of nyalahin saya. Muka masih bisa disajikan dengan wajar.

    Dan akhirnya, acara penutupan udah hampir selesai, saatnya pengumuman juara yang resminya. Pengumuman juara yang pertama adalah di bidang kompetisi yang lain. Jadi kompetisinya punya 4 bidang. Di slidenya itu tulisanya hanya ada Terbaik Nasional 1,2,3,dan 4. Jadi bukan juara 1,2,3, dan terbaik 1. Artinya Terbaik 1 adalah juara satu. Agak geer waktu itu, apa bener ini anjir juara satu, ah masa sih gak mungkin banget.

    Tibalah di bidang kompetisi saya, mulai dari terbaik 4, diselang musik dan gemuruh riuh penonton, terbaik 3, kembali musik dan gemuruh, terbaik 2 makin rame ini penonton. "Dan tibalah kita di pengumuman terbaik satu nasional, eh coba musiknya yang rame ya. Mari kita hitung sama-sama.. sa-tu.. du-a...ti-ga... inilah dia PPM ONE dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM".

    WUANJEEERRRR BENERAN JUARA ANJEER. Sontak berdiri, terus lompat kecil, sambil tangan kanan dikepal, di hentakan ke atas sambil teriak "YESSS!!!". Layaknya atlet sepakbola yang merayakan selebrasi goal. Saya langsung chat dosen "JUARA SATU". Dan beneran, kami juara. "Ka Acep makasih yaa, makasih banget". si Della gitu aja terus sampe pulang ke jakarta lagi.
    "Akhirnya ya Dell, kompetisi terakhir setelah melalui semua kompetisi dengan kalah, kita juara juga. Momennya pas banget lagi, ya Dell".
     Kami jalanin itu, dan mensyukuri itu pada akhirnya. Kami benar-benar juara satu nasional. Sebuah gelar yang membanggakan namun memikul suatu previlige yang mungkin membebani kami sendiri. Kami pemenang sekarang. Kami mencapai titik yang belum di jurusan kami capai sebelumnya.

    Satu hal, kami senang sekali dipandang saat itu sebagai seseorang yang juara. Melihat teman-teman peserta lainnya, mendoakan, berjabat tangan, itu perasaannya luar biasa sekali. Dan saya mensyukuri sekali, saya dikenal sebagai juara dikompetisi itu. Bayangin, kebiasaan kalah, tiba-tiba langsung juara satu. Kayak ikut acara bedah rumah dan saya sang pemilik rumahnya gitu. atau berasa uang kaget. you name it.

    Kami sampai diposisi itu tak bisa dipungkiri bahwa banyak sekali yang mendoakan, membimbing dan memberi pelajaran. Selain berterimakasih pada diri kami sendiri, kami berterima kasih kepada semua orang yang turut terlibat dalam prosesnya. Dosen, teman sejawat dan yang lainnya yang tak bisa disebutkan satu persatu. Berasa menang oscar anjir kata-katanya. 

    Setelah itu, Della bersenang-senang membeli oleh-oleh di Bandung, dan saya pun menyempatkan reunian dengan teman SMA dulu. Kami berdua sama-sama bersyukur dan benar-benar diberi pelajaran yang berharga, bahwa kuncinya adalah sabar. Saya ingat waktu lomba-lomba sebelumnya saya kalah terus, dan bahkan merasa "mempermalukan" diri sendiri. Tapi ternyata dibalik itu ketika kita masih terus mencoba dan berusaha, hasilnya ada. Meskipun diprosesnya itu banyak sekali keraguan, pengucilan diri , dan ketidakpercayaan diri.


    Disclaimer: ini cerita murni adalah versi saya, yang ingin mendokumentasikan setiap momen, perasaan, dan euforia event ini. Della harusnya menuliskan perasaan dia juga gimana, karena akan lebih menarik dan seru. Minimal buat kami berdua sebagai kenangan yang akan terus kami ingat dimasa depan nanti :)). 

    Itu ya Dede Sam, jika kamu baca tulisan ini, ya harus sabar dan ikuti "yang penting selesai".

    Kalo kalian baca sampai sini, kirimin kata "anjeer" ke saya, baik melalui media sosial atau komunikasi lainnya. Karena saya ingin mengatakan terima kasih langsung telah membaca sampai akhir. Soalnya ini panjang banget, blog paling panjang gitu. Oke. 

     Sekilas foto-foto waktu itu biar gak hoax gitu. 










    You May Also Like

    0 komentar