"Yang Penting Selesai", itu judulnya.
![]() |
| Saking suka bobonya, Della itu difoto sambil mimpi. |
Jangan baca tulisan ini, soalnya panjang banget dan
egois banget. Tulisan ini cuman buat sejarah pribadi aja, untuk nanti diceritakan
buat Samantha, anak saya kelak nanti (optimis
aja dulu yak) biar gak lupa detil dan perasaannya. Tapi kalo kalian tetep
keukeuh untuk pengen baca ya silahkan. Membaca itu menyenangkan, dan masih
gratis, dansiapa tau nanti kalian beli buku saya. Amiin.
...........
"Dell, kita lomba lagi. cek email deh"
terang saya waktu itu ke Della. Saking seringnya lomba, saya dan Della seperti
mulai membiasakan ada nama kami di email yang dikirim oleh bagian Kemahasiswaan
kampus.
"Yaudahlah kak, santai aja, yang penting selesai".
Della ini orangnya pinter banget Akuntansinya, makanya sering dipilih lomba.
Nah saya ini, cuman pinter banget bacot gak jelasnya, makanya sering disudutkan
untuk ikut lomba. Kita berdua sudah bersama-sama melalui lomba demi lomba, dan
memenangkan banyak sekali kekalahan dalam lomba tersebut. Iya kami menang untuk
kalah, gimana coba. Seinget saya, kami dulu paling bagus sampe Semifinal
kompetisi Akuntansi. Dan frankly speaking,
saya percaya kenapa masuk semifinal waktu itu karena di babak penyisihannya
adalah babak benar atau salah. Dan itu poinnya gede. jadi itu pure mengandalkan insting daripada usaha
menghitung dan menjawab soal. Jadi Semifinal karena bejo. That's it, nothing more or less.
Lomba kali ini adalah lomba tingkat nasional, yang
diadakan oleh Ristekdikti dan Sekolah Bisnis Manajemen ITB. Jadi ya tingkat
nasional. Kami menerima email itu sekitar awal Mei, dan deadline pengumpulan
karya tulis dan video itu tanggal 21 Juni. Masih lama, iya masih lama, masih
banyak waktu, dan yaudahlah sans aja.
Saya dan Della mempunyai kesibukan masing-masing. Saya punya tanggung jawab
terhadap pekerjaan saya diluar kuliah, dan Della mempunyai tanggung jawab juga
untuk memastikan dia mendapat jatah istirahat tidur yang cukup dan berbahagia.
Dua hari sebelum benar-benar deadline, kami masih
santai. Disisi lain, bagian kemahasiswaan sepertinya worry ditunjukan dengan adanya email follow-up menanyakan progressnya. Kami diberikan dosen pembimbing,
tapi saya dan Della selalu punya alasan klise untuk menunda-nunda bimbingan. Jadi
H-2 itu ya seperti tidak ada apa-apa, semuanya seperti normal dan sediakala.
Hari itu, 21 Juni. Iyah 21 Juni, hari jumat, hari
terakhir pengumpulan semua persyaratan termasuk video dan makalahnya. Saat itu,
kebetulan kami gak ada kuliah akhirnya kami sepakat untuk mengerjakannya.
Semalam sebelumnya, kami sudah coba mengerjakan apa yang bisa kami kerjakan.
Jadi harapannya pas hari Jumat ketemu tinggal bikin video. Pas ketemu, ya masih
abstrak banget, berantakan banget dan wow, kami seakan mulai menyadari bahwa
memang hari ini deadlinenya. Tapi kami berusaha tenang, berusaha untuk memegang
prinsip "yang penting selesai" dan "yaudah yang penting selesai
aja". Dua kalimat yang sebenarnya tidak ada beda, tapi ya kami teguhkan
pendirian untuk prinsip itu sebagai bentuk penekanan kalimat.
Makalah atau Paper
itu gak sedikit dan harus sistematis penulisannya. Bahkan harus memenuhi
kriteria image tulisannya banyak.
Jadi apapun itu, yang penting tulisannya banyak dan ada judul serta daftar isi.
Kami berdua, mencoba membagi tugas bagian-bagian itu, supaya efektif dan
efisien. Padahal ditengah-tengah penulisan, saya worry untuk pengerjaan video. Saya inget sekali, Della itu sudah
membuat acara sendiri untuk family dinner
keluarganya dihari itu, jadi gak bisa ngerjain sampai malem. Barangkali waktu
itu, dia lebih worry karena harus
dateng makan malem yang dia inisiasi sendiri dan dia rencanain acara dinnernya. Kami berdua mencoba tenang
dan "yaudah kerjain aja sebisanya".
Ditengah dunia ketik-mengetik, tercetuslah "Dell
ayo kita bikin video dulu, kayaknya bikin video yang lebih ribet, jadi abis
video baru lanjutin nulisnya. Udah lumayankan yak penulisannya".
"yaudah kak".
Salah satu pengumpulan berkas adalah makalah dan video
penjelasan. Kami berdua memikirkan konsep, syuting, dan akhirnya sampai pada
konsep mirip news anchor supaya tak
banyak tingkah, tapi lebih simpel, editnya juga simpel dan tak mengurangi
esensi penjelasannya. Dan video akhirnya jadi. Dan saya menggelengkan kepala
pas nontonnya, tapi sekali lagi, prinsip "yaudahlah yang penting
selesai".
Kami menyadari, sesimpel-simpelnya konsep video,
syutingnya tetep aja repot. Apalagi karena syuting dikampus, pake hape, noise nya kerasa banget dan kalo ada
orang lewat atau ngobrol, itu kita harus berhenti dulu. Belum lagi yang balelol atau terbata-bata ngomongnya,
harus retake ulang, di rekam,
dilihat, di raba, diterawang. Iya, konsep video sama kaya konsep Uang Palsu.
Pembuatan video itu menyita waktu banyak sekali sampai akhirnya waktu tak terasa
sudah sore.
Saya melihat Della yang khawatir dan mulai ditelpon
keluarganya. Dari mulai hape dibalik, di mute, sampe akhirnya dimatiin dong
paket datanya.
"Tinggal Konklusi sama rekomendasi nih kak. Siapa
yang mau ngerjain?" Della mengkode-kode gak jelas.
Entah kenapa setiap kali procrastinate, otak saya itu hybrid banget mikirnya. Berasa punya
4WD untuk kecepatan tingkat tinggi. Jadi, merangkai bacotan melalui kata-kata
di akhir itu sangat mudah untuk saya lakukan. Dan tak lama dari itu, akhirnya
kami selesai. Video tinggal upload
youtube, dan karya tulis di upload
diportal lombanya.
Hari berlalu, minggu berlalu, bulan-bulan berlalu,
liburan juga sudah berlalu. Biar kaya tulisan novel-novel romantika gitu. Akhirnya ada email konfirmasi bahwa kami lolos
ke tahap final dan harus menyelesaikan soal kasus baru untuk dikompetisikan
di babak ini. Reaksi pertama, sumpah masuk ini ke final, anjeer hahahaha bego ke bandung hahaha.
Bedanya dari babak penyisihan, ini hanya ringkasan powerpoint, jadi gak perlu video
penjelasan apalagi karya tulis. Makin males dong jadinya, karena tugasnya lebih
simpel. Jadinya, semakin ditunda-tunda. Uh senangnya.
"Dell, kita
lolos yang ke Bandung itu. Daftar ulang ya jangan lupa". Saya chat Della dan dia cuman bales "...".
Iya itu titik tiga, menunjukan bahwa ini diluar dugaan sekali karena waktu
pengumpulan, asas yang kami pegang adalah asas "yang penting
selesai", kami memandang persyaratan yang kami kumpulkan biasa saja.
Kami waktu itu punya waktu kurang lebih 2 minggu untuk
pengerjaan kasus dan pembuatan materi powerpointnya. Dan seperti biasa,
menunda. Karena balik lagi, saya punya tanggung jawab pekerjaan diluar kuliah,
dan Della masih banyak tanggungan tugas kuliah dan istirahat tidurnya. Hal yang
membedakan adalah kali ini saya berinisiatif untuk mengontak dosen pembimbing
untuk bimbingan. Bimbingannya H-3 sebelum deadline. warbiayasah kan. Meskipun pada akhirnya, bimbingannya pas jam
ngajarnya beliau. Barangkali beliau juga gak sabar untuk membimbing jadinya
geregetan.
Bimbingannya mencerahkan, dan banyak memberikan arahan
untuk mau ngerjain apa nantinya. Sampai kami dibekali buku tebel banget tentang
materi yang mau dikerjakan.
"Dell, ini bukunya kamu aja yang bawa, kamu baca
dulu, besok kan kita gak ada kelas, tapi aku ada kerjaan jadi kita ketemuannya
jam setengah 7 malem gimana?"
"Oke". simpel.
Besoknya, tepat jam 5 sore yang seharusnya sudah otewe
ke kampus, tiba-tiba gak ada hasrat di saya untuk mengerjakannya malam ini.
Lebih tepatnya mager parah untuk berangkat. Lebih tepatnya lagi, males gila parah. Akhirnya saya chat
Della.
"Dell, kalo
remote aja ngerjainnya bisa gak? Besok kan kita kelas pagi, terus lanjut lagi
malem, jadi bisa dikampus bareng2"
"Oke
ka"
"Tapi
gue kerjain malem ini Dell"
"Woke
ka, sya juga kerjainnya malam ini"
"okeee"
Pas malemnya, saya bilang mau kerjain tapi berakhir
menghabiskan waktu untuk begadang bermain Dota 2. Iya saya main game online akhirnya,
terus kecanduan, terus berakhir tidak menghasilkan progress apa-apa. Yang ada
hanya menyisakan ngantuk luar biasa besoknya.
Sampai hari deadline tiba, kami masih masuk kuliah
pagi dan sambung lagi malem. Jadi tetap, pada akhirnya kami mengerjakan
kasusnya pada hari deadline. Tak ada hal yang aneh, namun asas "yang
penting selesai" kembali memanaskan suasana di hari itu. Belum lagi ada
godaan temen sekelas yang mau nonton bioskop karena jarak waktu dari satu
matkul ke matkul selanjutnya emang lama banget. mulai pagi banget, terus lanjut
magrib. Berasa kuliah di sahur sama buka puasa.
"Gimana kak Acep, mending nonton aja dulu, baru
nanti kerjain" goda dia.
"Yaudah kamu mau nonton dulu, yaudah gapapa
nonton dulu". Jawab saya. Dan akhirnya pada nonton, dan kami tidak. Padahal
Della sebenernya gak bisa nahan godaan untuk menolak ajakan temen deketnya
untuk nonton, tapi karena gak enak, dia beralasan "enggak kok kak, saya
mau ngerjain aja". Akhirnya kami coba untuk lebih serius untuk babak
finalnya nanti.
"Jadi gimana nih kita ngerjainnya?"
"Yaudah kita coba baca-baca dulu, nanti setelah
15 menit, kita diskusikan gimana". Soal kasus sosial itu terkenal tidak
ada jawaban yang mutlak. Jadinya diskusinya alot banget, tapi gak menghasilkan
apa-apa. Udah debat panjang, tapi pas mau dimasukin ke PPT nya gak tau apa.
Sering terjadi pada kami berdua. Bahkan, apa yang kita mau dan setujui di
diskusi, bisa beda banget pas dimasukin ke PPT. Itulah kami, sang air yang
selalu mengalir menyesuaikan kondisi.
"Dell, gue bobo dulu yak, gak bisa mikir nih.
Keseringan gak pake otak, jadi pas dipake pusing gitu". saya, saat
ditengah-tengah ngerjain dan belum ada poin pun yang dimasukan ke PPT. Padahal
bukan gak bisa mikir, tapi karena emang ngantuk aja. Saya bobo, merangkai kursi-kursi
untuk disejajarkan menjadi sebuah barisan lurus, lalu saya bisa berbaring disana.
Bobo sebentar ketika ngantuk itu, refreshing
banget. Meskipun bentar, efeknya kerasa. Cobain deh.
Akhirnya, jam 11 malem lebih, semuanya selesai. Asas
yang sama tetap dipake untuk menyelesaikan kasus kedua ini "Udah lah Dell,
yang penting selesai". Kendala terjadi, portalnya eror, mungkin semua tim
yang ikut final itu orangnya procrastinator
juga.
"Coba lagi kak"
"Okee.." selang beberapa detik setelah
mencoba "masih eror Dell". Hampir 10 kali lebih kami coba upload,
gonta-ganti laptop, koneksi, bahkan gonta-ganti format file. Semuanya tetep
eror dan gak bisa ke Upload.
"Yaudah kita email aja langsung deh Dell, bilang
aja eror". Akhirnya saya email langsung ke panitia, saat itu deadline jam
23.59, saya ngemail 23.38. Daripada telat, ya mending diemail dan biar
buru-buru selesai dan pulang, dan akhirnya bobo. Memang dasar kami, pemalas.
.......
Hari final tiba. Kami berangkat siang dari kampus
Jakarta, dan sampai Bandung sore hari. Saat konfirmasi cek in, kami dihadapkan
dengan potensi masalah baru.
"Kalian dari PPM ONE ya?" tanya panitia.
"Iyah kak" sontak kami jawab.
"Jadi kami belum menerima PPT kalian, tapi kalian
kirim lewat email ya? Jadi harusnya gak bisa kalo bukan melalui portal".
"Waduh, terus gimana kak? Soalnya waktu itu,
portalnya eror, kami coba lebih dari 10 kali dan erornya itu gak konsisten.
Upload pertama erornya katanya file PPT, eror kedua itu ringkasan solusinya.
Jadinya gak bisa tentuin erornya gimana, gak konsisten gitu".
"Hmm, kalian ada foto atau skrinsyutnya gak, biar
aku serahin ke juri".
Saya lihat dan tanya Della, kami saling menatap dan
Della bilang "kayaknya ada deh Kak". dia coba cari dan hasilnya
nihil.
"Terus gimana dong kak jadinya?" tanya saya
untuk memastikan.
"Nanti pas Technical
Meeting (TM) dikasih tau keputusannya ya. Soalnya juri yang menilai gimana.
Berdoa aja yang terbaik yaa".
"Yaudah kak, terima kasih ya".
Dalam hati anjeer
baru dateng udah dihadapkan kemungkinan bakal dianulir. Tapi ya tunggu
keputusan nanti. Kalo dianulir yasudah, tapi ya janganlah, masa dianulir. wkwk.
Kami akhirnya ke kamar hotel masing-masing, dan jelang
waktu untuk makan malam kami kembali tatap muka, ya untuk mencari makan malam karena memang sudah waktunya makan malam.
"Kalo di anulir gimana Dell? gapapa yaa?"
tanya saya .
"Ya gapapa lah Kak, udah di Bandung ini. Saya
udah lama gak ke Bandung, jadi ya main aja. Saya mau beli seblak disini".
"Iyah kita maen aja yak di Bandung, banyak
tempat-tempat bagus. Bilang ke kampusnya bilang aja gak lolos yak. Kan udah
biasa. haha".
Seterusnya kami makan malam sambil mempercantik
rencana jika beneran kami akan di anulir, dan mencoba me-list wisata kemana aja untuk mengisi waktu di Bandung ini. Total
kita akan stay di Bandung 3 Hari dan harusnya asik buat
menelusuri Bandung.
Kami datang ke Bandung dengan mental yang biasa aja.
Jauh dari harapan menang, karena saking terbiasanya kami kalah dalam
perlombaan. Apalagi pas ada indikasi mau dianulir, ya kami mencoba mengambil
hikmahnya, yang penting udah ke Bandung.
Pas TM saya memberanikan nanya langsung ke ketua
panitianya, menerangkan kendala pada saat submisi PPT, dan akhirnya beliau
memberikan jawaban "Semua tim akan tetap mempresentasikan kasusnya, namun
Juri mempunyai penilaian tersendiri". Yes,
akhirnya gak harus di anulir. Akhirnya gak rendah-rendah amat kalo nanti kalah.
Di TM itu, ada pengocokan urutan presentasi, dan kami mendapatkan giliran ke
11, giliran terakhir dan itu sore. Jadi acara dari jam 7 sampai sore, kami akan
ditemani dengan pikiran ketidakpastian dan kegerogian sepanjang hari. Malam
setelah TM itu selesai, kami berlatih untuk memantapkan persiapan presentasi,
dan mencoba membayangkan kondisi semua aspek saat kami presentasi. Dari
kemungkinan juri yang udah capek, atau kami lupa bagian masing-masing. Sampai
jam 12 malem, kami siapkan senjata, satukan visi, nyalakan tekad, dan lontarkan
yel-yel gak jelas untuk mempercair suasana pada saat nanti presentasi.
"Night Dell"
"G night ka acep". Kami beristirahat dan
berharap besok diberikan yang terbaik.
....
Hari berganti, bulan perlahan-lahan melambai
menyadari, bahwa sudah saatnya terganti oleh matahari, untuk menemani umat
manusia dalam aktivitas sehari-hari, terutama pada mereka yang hatinya masih
sepi dan sendiri ditemani secangkir gelas kopi. Intro yang lumayan lah ya dalam
memulai hari lomba ini.
Saya bangun biasa, sarapan, dan merasakan dinginnya
Bandung dipagi hari. Seperti biasa. Namun yang paling gak biasa adalah, saya
Magh seharian. Perut gak enak, ke wc pun gak enak. Pusing, padahal biasanya gak
seperti itu.
"Dell, gue magh nih. Ga enak banget badan"
"Yah gimana dong kak, aduhh. Saya ada promagh
nih, mau?"
"Yaudah sini Dell". Dari kecil saya bukan
penggemar obat, kayaknya semua orang gitu. maksud saya, saya gak bisa nyium
obat, dan akan selalu muntah kalo minum obat. Kecuali vitamin C doang. Makanya
saya selalu gak betah pergi ke RS, klinik, atau rumah kesehatan lainnya yang
bau obatnya nyenget banget. cuih.
Della saking perhatiannya waktu itu "ini makan
siangnya kak, sayurnya, ikannya jangan dimakan. makannya ayam nya aja, biar
perutnya enakan. Cepet sembuh ka Acep". Saya terkesan, karena hmm sudah
lama sekali tidak ada yang memperhatikan. lol.
Saya kurang fit, ditambah ruangan yang dingin. Sembari
menunggu, kami menonton dulu acara rutin kewirausahaan yang diadakan oleh pihak penyelenggara. Ada sindrom gak jelas yang tiba-tiba menyerang hari itu, dan saya terus
menunjukan saya gak fit ke Della dan dia juga bingung kudu gimana. Sampai
akhirnya, giliran kami akan dimulai.
"Dell kita doa dulu yuk"
"ayo ka"
Kami berdoa, dengan pasrah dengan harapan dilancarkan
segalanya dan yang penting bisa melaluinya dengan baik. Kalah mah kami gak
peduli, asal gak malu-maluin banget aja.
anndddddddddd
yeahh, we did it the way it was supposed to be. Kami
gemetar, tangan dingin, dan salah tingkah sesaat setelah kami nutup presentasi.
Juri melihat itu dengan jelas, kami grogi tapi kami berjuang untuk melawan dan
mencoba untuk memaparkannya dengan baik. Setelah selesai, kami salaman.
"Wah ini tangannya dingin sekali" kata juri. Bahkan Della sempat
mentok meja juri saking dia sipitnya, eh maksudnya groginya. Kami grogi tapi
lega. Kami gak berharap masuk grand final, tapi kami sudah merasa gak
malu-maluin banget. Mission partly
accomplished.
Karena giliran terakhir, hari sudah menjelang sore,
tapi seminar masih belum selesai. Pengumuman untuk grand-finalist masih kurang
lebih sejam lagi, jadi kami, khususnya saya bisa istirahat dikursi, bobo dulu
supaya maghnya tetap stabil.
"Dell, malam ini jadi ya kita main. Kita makan
seblak, jalan ke ciwalk dan sebagainya". Kami berpikiran bahwa malam ini
akan punya banyak waktu karena tak ada sedikitpun dibenak saya untuk masuk
Grand-final. Jadi pada hari penutupan, kita cuman jadi penonton seperti biasa.
Saya gak tahu perasaan Della gimana, mungkin dia ngarep masuk, tapi karena udah
sering kalah dan udah saya obrolin untuk membayangkan main setelah ini.
"Tapi kan ka Acep sakit, udah kaka istirahat aja,
tidur kak. Biar aku sendiri aja gapapa". Ini della mulai meningkat
perhatiannya.
"Enggaklah, kapan lagi kan bisa maen di Bandung
berdua, santai aja Dell, paling ntar juga sembuh" jawab saya.
"Yaudah oke deh kak".
Waktu pengumuman pun dimulai.... satu persatu peserta yang lolos udah disebutin.
"Grand-Finalist selanjutnya, grand finalist
keberapa sekarang? Empat ya. Oke Grand-Finalist keempat adalah (slides monitor berganti).... PPM ONE
dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM. Silahkan berdiri dari PPM ONE" teriak
MC waktu itu.
Saat nama grup kami disebut, kami saling pandang satu
sama lain dan "wow". Kami berdiri, dadah-dadah ke sekeliling, dan
duduk kembali. Sontak saya langsung chat dosen pembimbing dan Della chat
kemahasiswaan. "KITA MASUK GRAND
FINAL, BU". Saat tahu masuk, itu penyakit magh melipir dulu ke tubuh
orang lain, karena euforianya unbelievable
banget nget nget. Pas saat diumumkan kasus untuk grand-final, itu magh balik
lagi. Tapi saya senang, Della pun senang. Sekalipun kalah, udah jadi 5 besar
grand-finalist. Waktu menunjukan pukul 19.00 lebih, dan kita diberi waktu untuk
menyelesaikan kasus sampai jam 5 pagi.
"Yah Dell, kita gak jadi jalan-jalan nih. sedih
yaa". ledek saya.
Namun kami sempatkan makan malam dulu sebelum mulai
untuk membahas kasus grand final untuk dipecahkan. Kami sempatkan juga mandi,
bebenah diri, menghadap ilahi, untuk diridoi diri ini menjadi juara sejati,
untuk hidup dan mati. Semakin gak jelas saya.
Akhirnya kami mulai mengerjakan kasus jam 9 malam.
Kami mengerjakan dikamar Della, karena kamar hotelnya lebih luas.
Kami mencobaa baca-baca, nulis-nulis konsep
presentasi, sambil bimbingan sebisa mungkin sama dosen pembimbing yang berada
di beda kota. Kita diskusi, debat, bahkan untuk menafsirkan soalnya aja lama
banget.
"Eh Dell, coba liat paper kita yang waktu babak kualifikasi. Siapa tahu ada hal yang
relevan disana". Tanya saya.
"Ada kok Ka, di laptop. Di folder yang itu".
Saya pun langsung membuka filenya dan terkesima sejenak seraya bergumam
"Ini paper yang kita kerjain
sehari itu Dell?"
"Iya ka"
"Gilaks, pantes kita masuk final, orang bagus
gini papernya. Strukturnya jelas, solusinya jelas, detil juga. Coba liat deh.
Kenapa kita baru nyadar sekarang". Della langsung mendekati saya, dan
mengecek sendiri hasil kerjaan kami berdua yang waktu itu diburu-buru oleh acara
dinner keluarga dia.
"Eh iya kak, kok bisa bagus gini yak. Perasaan
waktu itu kita gak ngelihat kaya gini. Bagus ternyata ya ka" jawab Della.
"Iya kan, kenapa kita baru nyadar kita sebagus
ini yak". Perasaan dan motivasi kami seperti meningkat dengan menyadari
itu. Tapi ya jam masih berjalan sehingga kami harus melanjutkan untuk
memecahkan kasus grand final ini.
Soal IPS itu kaya bagian karya tulis, abstrak. Bahkan,
sampai di jam menunjukan pukul 3 pagi, saya masih ragu untuk mengumpulkan
jawaban kasusnya. Ide itu selalu muncul dan teorinya banyak. Jadi ditengah
jalan, banyak banget godaan untuk mengganti solusi.
"Dell gue ragu deh" tegas saya.
"ka Acep ragunya yang bagian mana?"
"gatau Dell, tapi ragu aja"
"hmmm"
"Yaudah kita latihan presentasinya aja
dulu".
Kami putarkan slide presentasi kami, lalu mencoba
untuk melakukan rehearsal dengan
durasi waktu 10 menit presentasi sesuai peraturan lombanya. Kita sama-sama capek waktu itu, dan godaan
kasur ke Della itu tinggi banget. Rehearsal
sebatas untuk baca slides buat dia, otaknya beneran udah tidur.
"Ayo Dell latihan di ulang lagi" ajak saya.
"Aduh, aku ngantuk ka acep" pas dia liat
muka saya "Yaudah ayo" Della udah mulai uring-uringan. seringkali
saya tabok lengannya, saya tonjok pelan supaya dia bangun dan semangat.
"Ayo Dell, semangat. Kita harus berjuang sampai
darah penghabisan". lalu saya tonjok tangan dia.
"Aduh, ka acep sakit -_-, ngantuk :(". terus
dia bilang "saya tuh gak bisa mikir kalo ngantuk, takut besok pas
presentasi ngantuk banget, ka".
"Ih Della, bener-bener ga rela banget sumpah
waktu tidurnya diambil. Bener-bener".
Itu Della latihan presentasi sambil duduk dengan mata
yang merem melek. Mata kita sama-sama sipit, pinter banget dia nyembunyiin mata
tertutupnya. Dia serasa ngomong sambil merem, mungkin dia ngomong sambil mimpi,
semacam multi-tasking seperti kebanyakan perempuan Indonesia lakukan dalam
bekerja. Liat aja lagi ke foto paling atas, dia difoto aja gak keliatan dia sadar atau tidur. hahaha
Tiga kali putaran latihan presentasi, sambil merevisi
apa yang kurang, menambah apa yang kurang selama proses latihan dan akhirnya
kami sepakat, mendekati jam 4 pagi, kami akan kirim presentasi solusi di kasus
grand final ini.
"Dell tapi gue masih ragu".
"Aduuhh ka acep, udahlah, biar kita bisa tidur.
Coba sekarang ragunya di bagian mana?"
"gatau Dell. yaudah deh kita kirim ajah".
"Oke". Della bener-bener udah males banget dan pengen buru-buru tidur.
Dan kendala yang sama tentang portal kembali muncul.
Portalnya eror lagi. Susah submit, tapi setiap eror kami skrinsyut agar ada
buktinya. Akhirnya kami telpon panitia, dan akhirnya submit melalui email.
"Oke Dell, apapun yang terjadi, yaudahlah
ya". Saya kirim email sambil menjabat tangan dia, sebuah bentuk untuk melahirkan optimisme dan rasa saling percaya. Dan email itu kami kirim, kami lepaskan pegangan tangan kami.
"Yaudah kak, sono pulang, tidur."
Dan hari itu kami hanya tidur cuman dua jam. Masih
mending sih tidur, kayaknya tim lain ada yang gak tidur, karena excitements nya luar biasa. atau
groginya juga lebih luar biasa.
Dan acara grand final mulai jam 8, dan tanpa basa basi
langsung pengocokan giliran. Saya sama Della adalah urutan pertama. Antara Yeay
atau Nay. Susah ngedeskripsiinnya, pikiran masih belum terlalu fresh tapi harus
dilalui. Waktu dapat urutan pertama, kami saling pandang
"Dell?" ...
"Kak"...
Akhirnya saat panitia nyiapin teknisnya, saya ngajak
Della untuk keluar ruangan, untuk pemanasan sekaligus berdoa. Kami berpegang
tangan lalu berdoa.
"Apapun yang terjadi, mudah-mudahan diberikan
yang terbaik, berdoa dimulai". Lalu kita stretching, senam mulut dan wajah, selain itu juga kami mencoba
melonggarkan badan kita selayaknya atlet sepakbola sebelum peluit ditiup untuk
memulai pertandingan. Kami kembali masuk ruangan dan here we go.
.......sedang
presentasi dan sesi tanya jawab.....
"Akhirnya selesai" gumam saya.
"Eh kak Acep tadi salah tau, masa KAP (Kantor Akuntan Publik) gak bisa
ngaudit. Kan bukan gitu. Tadi juga harusnya gak gitu tau kak. aarrrhhhhh ka
Acep :(((" Jelas Della dengan muka keselnya karena apa yang saya sampaikan
di sesi tanya jawab, itu sedikit ngaco. Kami mulai saling menyalahkan dan
mengkoreksi "seharusnya itu tadi itu gini...." "tadi tuh
harusnya gini tau kak"..
Modal saya memang ngebacot, jadi ketika juri nanya,
saya gak pernah keabisan kata-kata untuk dirangkai, namun seringkali itu
kejauhan. Pas lagi ngebacot, si Della gak tahu cara memberhentikan bacotan saya
gimana.
"Oh gitu Dell, yaudah lahh" tapi dalam hati anjirrr anjirrr iyaa salah banget gilaks.
Setelah itu memang ada rasa bersalah juga karena itu sangat fatal menurut saya.
Saya jawab "mengecewakan"
ke dosen pembimbing saat itu, karena memang seperti itu. Baru ini saya merasa
nyesel.
"Udah lah Dell, gausah diobrolin lagi. Jadi kesel
sendiri" saya bilang Della. Karena dia seperti gak bisa nerima dan gak
bisa ngelupain. Saya pun sebenarnya gak bisa lupain, dan mencoba menahan diri
untuk berhenti menyalahkan diri sendiri. Ketakutan saya waktu itu adalah juara
5, karena juara 5 gak dipanggil ke panggung.
Kami pun gak berani nonton finalis yang lain karena Della
bilang "gak mau akh takut sakit hati", akhirnya kami nunggu diluar
dan ngobrol-ngobrol santai sama panitianya.
"Tapi dell, kita harus masuk, harus belajar dari
tim lain. Gue pengen liat yang UI, siapa tau bisa belajar".
"Yaudah ayo Kak". Kami nonton giliran ke
empat dan kelima. Waktu itu dari IPB dan terakhir UI. Kami mempelajari sesuatu
dari presentasi mereka yang bisa kami terapkan nantinya. Ada ketenangan dari
presentasi IPB dan ada struktur jelas dari presentasi UI. Kerasa pelajarannya
dan saya tulis sekali di note saya. Presentasi grandfinal selesai dan tinggal
masuk ke aula dan nunggu dan udah abis itu beli oleh-oleh abis itu yaudah,
udahan.
"Yaudah ya Dell, kita udah fix juara 5, kita udah
keren sampe tahap ini, 5 besar nasional cuy".
"Iya kak"
"Btw, perut gue masih kompilasi nih del,ya gitu
lah masih sakit. Padahal tadi udah di pup in kan tapi yaudahlah"
Kami pun bergegas ke auditorium, untuk menunggu
upacara penutupan. Waktu itu nunggunya lama banget, karena agak ngaret dari
jadwal yang ditetapkan. Kami juga sempat makan siang dulu, ngobrol-ngobrol
dulu, dan kebanyakan melipat tangan diatas meja dan menyandarkan kepala
ditangan itu, lalu bobo.
Setelah menunggu sekitar 2 jam an, akhirnya acara
penutupan hendak dimulai. Ada kejadian unik nan mencengangkan sesaat sebelum
acara penutupan dimulai. Ketika panitia mengecek semua aspek teknis, salah
satunya adalah display slide PPT mereka di komputer dan layar di proyektornya.
Waktu itu, panitia tidak menyadari kalo komputernya masih nyambung ke
proyektor. Kebetulan, si panitia lagi ngetes urutan pemenang melalui slide ppt
nya. Dia cek satu persatu slide dengan ritme yang cukup cepat.
Penonton alias peserta yang menunggu sontak kaget
melihat layar monitor dipanggung. Dari setiap kategori lomba, ketahuan siapa
juaranya. Sampe akhirnya beberapa peserta teriak ke panitianya "Kakkk..
kakk... kakk....itu masih nyambung ke proyektornya". Ada beberapa yang
udah teriak karena liat fotonya di slide itu, ada juga yang bergumam
"astaga".
Di slide itu, saya lihat foto kami berdua terpajang
sebagai Terbaik 1 Nasional. "Dell, itu ada foto kita tau. Terbaik 1 yak.
Alhamdulilah ya juara 4, jadi gak juara 5 banget". Saat itu, saya
lupa-lupa ingat ketika TM, panitia menyebutkan bahwa urutan juara adalah Juara
1, 2, 3 dan terbaik 1 atau juara 4. Saya langsung bilang dosen bahwa kami
terbaik satu alias juara 4. Padahal waktu itu belum diumumin resmi, hanya tahu
dari kesalahan panitia yang lagi ngecek aspek teknis.
Dosen waktu itu udah bilang wejangan, "terima
kasih karena telah berjuang untuk kampus dan bla..bla...bla".
Karena masih belum resmi, tapi dosen udah tahu, ada keraguan yang
muncul tiba-tiba disana. "Eh Dell, kalo gak jadi juara gimana anjir, ini dosen udah tau. Tadi gue liat ada foto kita, tapi gue jadi gak yakin itu
kita".
"hayoloh kak, lagian langsung ngomong-ngomong
gitu sih ke dosennya. udah tau, belum resmi"
"Aduh anjirr, malu banget kalo gak jadi juara,
tapi lu liat kan dell tadi?"
"Saya gak yakin tau kak, makanya apa-apa jangan
langsung dikabarin tau. Kan tau dosen kita gimana. Jadinya kalo gini repot". Della itu ngeledek, tapi
gak ngasih solusi gimana. Kan sebel. Layaknya netizen pada umumnya ketika
ngomong politik. Saya waktu itu bener-bener kepikiran karena kalo gak jadi
juara kan malu banget itu. Udah mah semua angkatan sama dosen udah tau lagi.
Muka harus dilipet dulu kalo ngampus kala itu benar terjadi.
"Bu,
ada kesalahan nih kayaknya, panitianya lagi ngitung ulang" chat saya
waktu itu setelah lumayan pusing mikirin gimana kalo gak juara. Oke masalah
terselesaikan. Jika gak jadi juara, bilang aja ada koreksi panitia, jadi
dosennya bisa nyalahin panitia instead
of nyalahin saya. Muka masih bisa
disajikan dengan wajar.
Dan akhirnya, acara penutupan udah hampir selesai,
saatnya pengumuman juara yang resminya. Pengumuman juara yang pertama adalah di
bidang kompetisi yang lain. Jadi kompetisinya punya 4 bidang. Di slidenya itu
tulisanya hanya ada Terbaik Nasional 1,2,3,dan 4. Jadi bukan juara 1,2,3, dan
terbaik 1. Artinya Terbaik 1 adalah juara satu. Agak geer waktu itu, apa bener ini anjir juara satu, ah masa sih
gak mungkin banget.
Tibalah di bidang kompetisi saya, mulai dari terbaik
4, diselang musik dan gemuruh riuh penonton, terbaik 3, kembali musik dan
gemuruh, terbaik 2 makin rame ini penonton. "Dan tibalah kita di
pengumuman terbaik satu nasional, eh coba musiknya yang rame ya. Mari kita
hitung sama-sama.. sa-tu.. du-a...ti-ga... inilah dia PPM ONE dari Sekolah
Tinggi Manajemen PPM".
WUANJEEERRRR BENERAN JUARA ANJEER. Sontak berdiri,
terus lompat kecil, sambil tangan kanan dikepal, di hentakan ke atas sambil
teriak "YESSS!!!". Layaknya atlet sepakbola yang merayakan selebrasi
goal. Saya langsung chat dosen "JUARA
SATU". Dan beneran, kami juara. "Ka Acep makasih yaa, makasih
banget". si Della gitu aja terus sampe pulang ke jakarta lagi.
"Akhirnya ya Dell, kompetisi terakhir setelah
melalui semua kompetisi dengan kalah, kita juara juga. Momennya pas banget lagi,
ya Dell".
Kami jalanin itu, dan
mensyukuri itu pada akhirnya. Kami benar-benar juara satu nasional. Sebuah
gelar yang membanggakan namun memikul suatu previlige
yang mungkin membebani kami sendiri. Kami pemenang sekarang. Kami mencapai
titik yang belum di jurusan kami capai sebelumnya.
Satu hal, kami senang sekali dipandang saat itu
sebagai seseorang yang juara. Melihat teman-teman peserta lainnya, mendoakan,
berjabat tangan, itu perasaannya luar biasa sekali. Dan saya mensyukuri sekali,
saya dikenal sebagai juara dikompetisi itu. Bayangin,
kebiasaan kalah, tiba-tiba langsung juara satu. Kayak ikut acara bedah rumah
dan saya sang pemilik rumahnya gitu. atau berasa uang kaget. you name it.
Kami sampai diposisi itu tak bisa dipungkiri bahwa
banyak sekali yang mendoakan, membimbing dan memberi pelajaran. Selain
berterimakasih pada diri kami sendiri, kami berterima kasih kepada semua orang
yang turut terlibat dalam prosesnya. Dosen, teman sejawat dan yang lainnya yang tak bisa disebutkan satu persatu. Berasa menang oscar anjir kata-katanya.
Setelah itu, Della bersenang-senang membeli oleh-oleh
di Bandung, dan saya pun menyempatkan reunian dengan teman SMA dulu. Kami
berdua sama-sama bersyukur dan benar-benar diberi pelajaran yang berharga,
bahwa kuncinya adalah sabar. Saya ingat waktu lomba-lomba sebelumnya saya kalah
terus, dan bahkan merasa "mempermalukan" diri sendiri. Tapi ternyata
dibalik itu ketika kita masih terus mencoba dan berusaha, hasilnya ada.
Meskipun diprosesnya itu banyak sekali keraguan, pengucilan diri , dan ketidakpercayaan
diri.
Disclaimer: ini cerita murni adalah versi saya, yang ingin
mendokumentasikan setiap momen, perasaan, dan euforia event ini. Della harusnya
menuliskan perasaan dia juga gimana, karena akan lebih menarik dan seru.
Minimal buat kami berdua sebagai kenangan yang akan terus kami ingat dimasa
depan nanti :)).
Itu ya Dede Sam, jika kamu baca tulisan ini, ya harus
sabar dan ikuti "yang penting selesai".
Kalo kalian baca sampai sini, kirimin kata "anjeer" ke saya, baik melalui media sosial atau komunikasi lainnya. Karena saya ingin mengatakan terima kasih langsung telah membaca sampai akhir. Soalnya ini panjang banget, blog paling panjang gitu. Oke.









0 komentar