• GALAU TINGKAT RAYAPAN LINTAH

    by - 10.12


    Gue sekarang duduk dikelas 12 semester satu yang akan liburan tanggal 20 ini. Seperti orang lain, masa-masa ini adalah masalah tersulit gue untuk menentukan kelanjutan hidup pendidikan gue. Banyak kata-kata yang terus membayangi pikiran gue. “Jangan sampe salah milih, nanti kedepan nya susah”. Kata itu seakan membuat gue galau seperti lintah yang ingin pintas jalan yang jalan nya super lelet. Artinya gue ga cepat untuk membiarkan kata-kata itu berlalu.

    Pikiran manusia seumuran gue yang ingin membahagiakan orang tua nya pasti ingin mengurangi beban orang tua untuk kuliah. Lo tahu kan biaya kuliah itu mungkin terlalu mahal untuk orang yang upah nya tidak pasti kayak gue. Beasiswa pun menjadi incaran gue untuk bisa melanjutkan pendidikan gue. Niat memutuskan sekolah, gue sama sekali ga ada niat. Memang benar kata orang, selama bermimpi itu gratis, cantumkanlah, siapa tahu mimpi itu telah dibangunkan dan menjadi kenyataan. Buktinya gue, pas SMP gue ga tahu mau melanjutkan kemana, ada pikiran untuk masuk pesantren lagi karena SMP gue pesantren, lalu gue cantumkan mimpi gue di tembok kamar kalo gue akan mendapat kan SMA yang terbaik. Saat itu, gue mengetahui kondisi ekonomi keluarga gue sedang merosot banget sampe anu nya keliatan (?).


    Sebelum UN SMP tahun 2008, gue selalu memikirkan kemana gue selanjutnya. Pagi, siang, malam gue memikirkan itu tapi tak lupa gue makan karena gue lapar. Di mesjid gue berdoa, di kamar gue baca al-quran dan di lapangan futsal ya gue maen bola. Memang benar, cara yang sangat efektif untuk mencari inspirasi adalah di wc saat kita buang air. Kalo ga percaya, silahkan coba tapi jangan lupa pake masker karena gue tahu dan gue ngerti gimana lo. Hari demi hari gue lalui dan gue melihat ada orang-orang pinter yang terlihat sibuk. Oiya, gue adalah salah satu murid biasa yang suka dan hobi maen bola, terobsesi makan mie ayam, dan selalu mudah BAB kalo lagi dingin.  Gue melihat anak-anak pinter yang sibuk mau daftar beasiswa. Gue sempat ngintip-ngintip gak jelas karena mungkin temen-temen deket gue akan ngomong aneh kalo gue mutusin ikut nimbrung.
    “Kamu mau daftar Cep? Oh sukses yah” kata-kata bagus tapi sedikit diiringi nada sindiran dan senyum kecil ke gue. Gue merefleksikan diri gue akan hal itu. Gue sempat mikir kenapa gue harus melihat orang lain yang memandang sebelah gue. Mungkin mereka melihat kemalasan gue, tapi setidaknya gue mendapatkan nilai yang tidak terlalu jelek. Gue memberanikan diri untuk mengisi formulir yang lumayan banyak. Biasa menurut gue karena itu formulir beasiswa jadi harus secara detil. Gue melihat temen-temen gue yang gue sadari lebih pintar sangat sibuk mengurus ini itu untuk beasiswa itu. Gue masih inget omongan temen gue waktu malam-malam.
    “Cep? Kamu udah ngisi formulir kayak mereka?” sambil nunjuk ke orang sibuk. Kebetulan temen gue ga daftar karena dia sadar lebih katanya kalo dia ga bakalan masuk.
    “Lagi dalam proses aku mah” jawab gue.
    “Aku mah aneh sama kamu teh, katanya mau dapet beasiswa tapi kamu ga sesibuk mereka. Yang ada kamu hanya tiduran, maen bola. Liat tuh kayak nya mereka udah pada selesai orang tanggal pengumpulan nya dua hari lagi”. Kata-kata itu telah membuat gue sadar kalo gue harus merubah kebiasaan hidup gue dulu. Selama dua hari itu, gue hampir begadang terus dan kadang tidur sejam untuk mengisi formulir itu. Hal yang paling berat saat itu adalah ketika harus ada tanda tangan orang tua, komentar orang tua, yang dimana gue sedang berada jauh dari orang tua. Gue hanya bisa melakukan satu hal yaitu kabur satu hari ga pake bermalam hanya untuk melengkapi formulir itu. Jaraknya pun tidak dekat dan membutuhkan waktu tiga jam untuk sampai rumah.  Gue mengisi formulir itu dengan seluruh anggota tubuh gue sampai gue merasa udah dimimpi pas ngerjain esay nya.

    Formulir sudah lengkap gue isi dengan sekuat tenaga gue, dengan seluruh keringat dan begadang gue. Gue ingat selalu bagian pengasuhan Ust.M.Al-fatih yang mengantarkan surat itu langsung ke jakarta. Formulir itu ga menerima cap pos dan harus langsung. Gue tidak akan pernah lupa untuk beliau. Setelah UN selesai, pengumuman kelulusan formulir udah di post di laman resminya. Bersyukur nama gue terpampang di deretan nama yang lulus formulir. Ada dua orang temen gue yang harus tereliminasi dari kompetisi beasiswa itu. Gue heran kenapa mereka ga masuk, padahal mereka itu lebih pintar daripada gue. Mungkin itulah yang terbaik buat mereka.

    UN pun telah gue lewati dengan hasil yang cukup memuaskan, kecuali nilai bahasa Indonesia. Gue sempat berpikir dan bertanya-tanya “Gue itu sebenernya orang Indonesia apa orang Inggris sih?” nilai inggris gue lumayan bagus, ekh pas nilai Indonesia gue dipampang di SKHUN itu layaknya troublemaker dan perusak suasana bagi kelangsungan hidup SKHUN dan keindahan nya. Ya itulah gue dan mungkin itu juga yang terbaik buat gue. Setelah UN, gue melanjutkan kegiatan gue untuk mengikuti tes seleksi beasiswa itu. Gue pergi saat itu ke Pondok Gede tepatnya di Asrama Haji. Gue juga masih ingat kalo itu adalah kali pertama gue pergi ke ibukota. Debut perjalanan gue ke daerah metropolitan itu. Meskipun itu pertama, tapi gue menjaga image gue untuk beradaptasi dilingkungan. Kalo dikota ya gue jadi orang kota, dikampung ya gue jadi orang kampung, diwese ya gue jadi orang yang berekspresi ke-wese-an. Tes itu gue jalani tiga hari dua malam. Disana banyak anak-anak sebaya yang berasal dari daerah lain. Sangat senang bagi gue, juga sangat takut karena dari muka-muka nya udah lebih kotakan daripada gue. Hal itu tidak membuat semangat gue bludar, gue tetap fokus dengan apa yang menjadi tujuan gue. Tes itu telah gue lewati dengan perasaan lega karena gue merasa udah melakukan dengan semua kemampuan gue. Tinggal tunggu hasilnya.
    Sekitar dua bulan (kalo gak salah) gue menunggu, tapi belum ada kabar. Beberapa temen gue udah mendapat informasi dari pihak sekolah kalo si doi masuk. Yah gue masih inget kalo si doi ngasih tahu gue pas gue mau pulang kampung dari sekolah. Keesokan harinya, temen baru gue yg ketemu ditempat tes juga mengabarkan gue kalo si doi masuk. Satu persatu temen gue telah diinformasikan lewat telpon kalo mereka telah diterima dan mendapatkan beasiswa itu. “Mungkin itu sudah menjadi jalan yang terbaik buat mereka” kata-kata itu hendak mewarnai hati dan pikiran gue. “Mungkin gue belom saatnya mendapatkan beasiswa itu”.
    Kesadaran itu menyadarkan gue untuk tidak terlalu terfokus kepada hal yang belum pasti. Gue harus mempunyai backup buat sekolah SMA selain mengandalkan beasiswa itu. Orang tua gue pun seakan hunting sekolah yang terbaik buat gue. Waktu itu ada dua sekolah yang akan gue pilih satu. Ada SMK dan juga SMA. Gue pun memilih untuk mengisi formulir pendaftaran dari keduanya. Kadang hati kecil merasa ketidakserasian untuk mengisi formulir itu, tapi gue harus memaksakan diri gue itu. Formulir pun sudah siap dan rencananya besok akan gue kasih kesekolah yang bersangkutan. Ada hati gelisah dan mungkin menunjukan gue untuk terus berjuang mencari sekolah yang terbaik buat gue.
    Malam pun tiba dan saat itu gue tengah asyiknya menonton TV padahal saat itu gue sedang ngantuk. Tiba-tiba ada nomor tak dikenal telah menderingkan hape gue.
    “Halo? Ini benar dengan Acep Kholid Kusaeni?”
    “Iyah benar, maaf ini dengan siapa yah?”
    “Ohh, gimana ujian nasional nya kemarin?”
    “Ya seperti itulah, semuanya bagus kecuali bahasa indonesia yang mungkin harus lebih bersemangat lagi. Mohon maaf ini siapa yah?”. Konversasi itu seakan menginterogasi gue tentang kemana gue akan melanjutkan sekolah, gimana kabar keluarga, kondisi keluarga, semuanya tentang kehidupan gue yang akan datang. Kecuali pertanyaan alay seperti ‘udah mam loems’ ‘udah mandi loems’ dan sebagainya. Gak nyangka banget telpon itu adalah telpon pemberitahuan kalo gue dapet beasiswa itu. Gue loncat-loncat, gue joget-joget, tapi sambil bergelinang air mata. Seneng banget malam itu sampai kedua orang tua gue nangis bersama. Yang paling gak bisa dilupakan adalah besoknya gue akan daftar sekolah negri tapi malam nya ada pemberitahuan. Karena merasa belum percaya, mamah gue langsung menelpon balik ke kantor pusat nya, dan nama gue memang sudah tercatat sebagai penerima beasiswa. Bersyukur banget dan gue sujud syukur waktu itu.
    Sampai akhirnya gue ditanya untuk pergi kewarnet malam-malam itu tapi gue bertanya balik buat apa, karena jarak rumah sama warnet itu ga deket.
    “Kamu ke warnet, kamu cek email kamu, terus print out kertas nya jangan lupa isi dulu dan kasih tandatangan diatas materai 6000. Setelah itu kamu kirimkan kertas aslinya lewat pos, terus sebelum itu kamu scan lagi dan kirim balik ke email saya”
    “Iyah, maaf di scan itu digimanain yah?” tanya gue polos. Pertanyaan itu seakan menakutkan banget buat gue karena gue takut ketidaktahuan gue akan membuat beasiswa itu hilang.
    “Oh Acep ga tahu yah, yasudah nanti Acep tanya saja ke tukang warnet nya suruh scan dan kirim balik ke email pengirim nya yah” jawab mas Aji waktu itu. Namanya bakal menjadi fenomenal buat hidup gue. Beasiswa itu mengantarkan gue kesekolah bertaraf internasional yang menyediakan kurikulum luar dan dalam negeri. Sekolah itu membuat gue mengerti dan belajar untuk menguasai bahasa Internasional yaitu English. Ini didukung dengan buku paket yang hampir semua berbahasa inggris. Lingkungan nya pun seperti guru-guru memakai bahasa inggris untuk menyampaikan materi nya. Hasilnya gue pun bisa mengenal dunia global, berpikir kritis, dan mencoba untuk mengubah hidup gue kearah yang lebih baik. Sekolah itu sekarang bernama Akademi Siswa Bangsa Internasional (ASBI) yang bertempat di Bogor.
    Saat ini gue udah menginjak semester terakhir dan kembali ke permasalahan gue yang galau untuk menentukan kemana gue akan melanjutkan pendidikan gue. Biaya yang terkenal tidak sedikit membuat sebagian orang menghentikan niat nya untuk kuliah dan langsung bekerja. Gue pun bingung tapi gue akan berusaha untuk mencari kuliah tanpa harus membebani orang tua gue. Gue juga yakin pendidikan yang tinggi membuat orang bisa berkontribusi kepada negara nya sendiri dan tahu mana yang baik dan yang lebih baik buat dirinya, bangsanya, dan hidupnya.

    NB: bagi yang punya info beasiswa kuliah S-1, bisa dishare dibawah yahhh...  Berbagi itu indah banget yahhh....


    You May Also Like

    2 komentar

    1. Hari gini masih galau? Nggak jaman lagi
      Memilih itu gampang koq, tinggal ambil yg kamu suka dan nikmati. Dan apabila pilihan itu terasa tidak cocok tinggal kamu yg menyesuikan diri. Hidup itu tidak melulu apa maunya kita tapi ada tangan tangan lain yg terlibat, apa yg kamu rasa tidak suka bisa jadi itulah masa depanmu yg indah.
      Soal biaya, banyak koq kerja sampingan agar tetap bisa sekolah. Bisa les privat, cuci mobil, kerja toko, jualan asongan dll.
      Saya dulu melakukan seperti itu akhirnya selesai juga kuliah, dan itu akan mematangkan pola pikir realistis kita.

      BalasHapus
    2. Selalu ada jalan buat orang sepinter Acep mah.

      BalasHapus