Pak Ranieri- Sosok Pemimpin Beda
If you want to see fairy tale in real life, try to look at
the statistic of Leicester City in the last two years competing in Premier
League. The remarkable history, against all odds, 5000-1, they became champion
in the greatest league in the world.
You have no idea of how it feels to shout in the middle of
crowd watching a football games that we are a big fan of.
LEICESTER CITY AND ITS LESSON.
Saya penggemar bola. Sejak kecil, bahkan masih ada passion saya menjadi pemaik sepak bola.
Saya sudah mencintai olahraga ini. Tapi dari kecil, saya tak menggemari satu
klub dan mengataskan dari klub yang lain. Dulu kakak saya pasang bendera Lazio
di kamarnya, tatkala masih seger-seger nya liga Italia. Saya tak mengikuti dia
untuk ngefans berat dengan Lazio. Saya main ke tempat sepupu, dia fans berat
Manchester United. Tapi lingkungan saya mengajarkan bagaimana cintanya saya ke
Persib Bandung sejak kecil, sejak kelas 4 SD.
Istilah fans berat ini menurut definisi saya adalah orang
yang tak pernah lupa kapan klubnya main, tau nama-nama pemainnya, posisinya,
legendanya, dan yang identik dengan fans berat di Indonesia adalah
“mendewakan”nya dan mengganggap klub lain itu dibawah klub yang dicintainya.
Itu fans berat. Ya mungkin agak terdengar fans fanatik, you name it.
Angga, salah satu teman SMP seringkali menunjukan antusiasme
kecintaan terhadap Liverpool waktu itu. Sampai ketika guru tak datang waktu
itu, dia menulis di papan semua Line Up Liverpool
dan cadangannya. Saking hafalnya. Tercengang tak berdaya ketika itu. Dia sejak
umur 12 tahun sudah sangat mencintai Liverpool.
Sampai saat kemarin masuk kuliah, saya suka beberapa klub
eropa. Anehnya, saya tak mengikuti kiprahnya, tak peduli amat dengan
pertandingannya, ataupun seberapa besar klub itu, kecuali Persib Bandung. Saya
suka nonton ketika Real Madrid lawan Barcelona, MU versus City, dan klub-klub
eropa lainnya. Saya ingat betul ketika saya pertama mulai menyukai Manchester
city, bukan karena pemilik klubnya yang super kaya, bukan karena pemainnya yang
berkelas, tapi karena Jaket pre-match dan
training kit nya yang melekat
dipikiran saya. Konyol gak tuh.
Tapi semua beda, ketika Leicester mencetak sejarah. Awalnya
saya tak pernah menonton pertandingan Leicester, sama sekali tidak pernah. Ya
mau nonton gimana, orang TV Indonesia gak nyiarin “championship” atau kasta kedua nya Premier League. Ya masuk akal
kalo pertandingannya tidak disorot orang asia.
Musim 2014-2015, Leicester masuk kedalam liga klub-klub
kasta pertama, Premier League. Tapi sampai paruh ke dua musim itu, posisinya
mengkhawatirkan. Sangat khawatir berada di puncak klasemen dari bawah. Posisi
itu diibaratkan seperti klub yang sedang berada diujung jurang. Tapi
detik-detik terakhir, mereka come back
dan berhasil lolos dari neraka degradasi. Dan musim setelahnya, konsisten
sampai menuju mahkota Premier League Champion untuk pertama kali dalam sejarah
klub mereka sejak berdiri. Pokoknya klub itu berdiri ketika masa pemuda-pemudi
merumuskan kemerdekaan untuk negeri ini.
Secara statistik dari semua sektor, kaya keuangan,
permainan, gaji pemain, atau pun harga jualnya kalah dari semua klub premier
league. Ah, bukan ngomongin statistik, biarkanlah tulisan ini bisa menjelaskan
statistik itu.
Ini ngomongin tentang pelajaran yang bisa dipetik. Tak ada
yang pernah membesitkan pemikiran, atau taruhan kalo Leicester akan menjadi
pemenang liga musim itu. Bisa dihitung sepertinya. Malah, saya bisa
mengasumsikan bahwa di awal musim 2015-2016, fans Indonesia tak ada yang
memprediksikan Leicester akan konsisten sampai juara. Malah diluar sana,
mungkin banyak sekali yang rugi karena kalah judi, kan sponsor bola banyak dari
perusahaan perjudian. Jangan suudzon melanggar aturan, disana perjudian legal.
Di Indonesia ya di demo lah. hehe
Di sejarahnya jarang ada klub seperti ini. Paling dulu
Nottingham Forrest. Musim sebelumnya berjuang dari degradasi, belum ada yang
berpeluang juara untuk musim selanjutnya. Sehingga para gambler disana mungkin berpikiran sama.
Sosok Claudio Ranieri, seseorang yang dijuluki “thinkerman” menjadi fenomenal. Seperti
kata saya, saya tak terlalu memikirkan legenda, atau fans berat klub-klub eropa.
Sehingga saya tak kenal siapa sebenarnya seorang thinkerman itu. Tapi dari dia, saya bisa melihat satu perubahan
yang konkrit dari sebuah klub medioker Leicester City.
Sejak SMA sampai sekarang, saya dikelilingi dengan esensi
kata “pemimpin”. Banyak yang mendefinisikan pemimpin tergantung dari prinsip
hidup dan mungkin kata hatinya. Dari Leicester, dari sosok pak Ranieri saya
mempunyai contoh yang bisa mengencangkan sabuk pengaman saya untuk terbang
cepat. Mari kita panggil “Pak Ranieri” biar nilai Indonesia tetap ada meskipun
yang dibahas orang bule.
Sejak Pak Ranieri itu menangani Leicester, semua berubah. Dan
yang paling saya inget adalah seruan dia ke media untuk para pemainnya. “I want my players are happy”. Bahagia. Lihat
nama-nama seperti James Vardy, Mahrez, Kante, Gray, mereka bisa menyaingi
nama-nama kaya Rooney, dan bintang lainnya. Heran juga, apa sebenernya bensin
yang dipake pak Ranieri itu.
“Kan yang main bukan
pelatihnya, yang berjuang bukan pelatih dan staff nya”. Iya memang, tapi
perbedaan kondisi mencolok dari pelatih sebelumnya sama pak Ranieri sedikit
membuat kita terfokus pada pelatihnya. Dia menggerakan roda permainan hebat
para pemainnya. Bisa dibedakan sendiri era James Pearson dan Pak Ranieri.
What is more inspiring
leader than to see a man boost their players full potential. Its him. Ranieri
did it. And Leicester is not the only club that boosted by him. He did it to
Chelsea in the 2000-2004, Atletico Madrid 1999-2000 and many other club he’s
been handling.
Dia mencontohkan bagaimana menjadi pemimpin, bagaimana
mendorong pemainnya untuk tampil sempurna dari apa yang mereka bisa, dia yang
menggerakan kaki-kaki pemainnya untuk berlari dan membuat kemenangan. Dia yang
menumbuhkan semangat perjuangan. Dan itulah contoh memimpin yang saya kagumi.
Tak lupa, ada kepercayaan yang tulus dari pemainnya kepada pak Ranieri. Sejak
mempelajari klub ini, saya mulai mencintai klub ini sama perlakuannya seperti
saya kepada Persib Bandung, dan Timnas Indonesia. Mereka mengalahkan semua
kemungkinan jelek dan tetap teguh pada pendirian dalam mencapai impian mereka.
image from: skysports.com
0 komentar