• I am Proud....212

    by - 01.36

    I am proud...
    As a muslim, I am touched.
    Seeing thousands people that unite each other, praise Allah and ask for His blessing. Together. I am proud as an Indonesian, seeing these people gather and express their democracy right. Many Ustadz, Habaib, and other Muslim figure coming to Jakarta to pray together in a peaceful way ‘ever’.

    People love each other, bless every single person, and takbir in every single of their way to Monas. A lot of videos showing how lovely Islam can be as one of religion in this country. I am touched as Muslim.

    Aksi 2 Desember ini sangat dijunjung tinggi. Dan tentunya membanggakan. Berdoa bersama-sama ditengah lapangan monas, berdiri melapangkan tangan dan berdoa ditengah hujan. Tak ada halangan. Indah. Orasi pun yang ini tidak terlalu menebar kebencian. Tidak seperti aksi 4 November, orasi malah menyebarkan kebencian, sehingga merambat menyentuh seluruh perbedaannya. Geram.

    Saya salut. Kebersamaan yang dijalin antar sesama muslim, pengorbanan yang diberikan antar insan, menggambarkan bagaimana seharusnya intisari agama diterapkan disetiap individu. Saya juga sempat mendengar rombongan Ciamis yang berjalan kaki ke jakarta. Bayangkan, jalan kaki. Mereka mengubah betis mereka seperti batu yang sangat kuat, yang bisa selalu ditapakkan sepanjang jalan menuju Jakarta. 271 KM. Fantastis.

    Setiap pemberhentian, mereka disambut dengan hangat, di iringi rasa haru dan sholawat penduduk setempat, karena pengorbanan para pejalan kaki ini. Bila dipikir-pikir, mereka hanya ingin menunjukan sikap kecintaan mereka terhadap Al-Quran. Mereka berhadapan dengan hukum dan berdoa untuk hukum bisa adil. Kebersamaan, pengorbanan, dan niat mereka tak bisa ditandingkan dengan apa-apa.

    Tapi.....
    What if.....
    What if the law is not accordance with what they have been struggle for?
    What if their wishes are not granted?
    What if Ahok is not being imprison as a civil law stated based on trial court?
    Will it be another “Aksi Damai” coming to town? Aksi Super Damai Jilid Sekian?
    They want Ahok to be in Jail, no matter what. That is the only thing they ask for.

    Apakah kedamaian itu akan bisa dipertahankan? Kebersamaan itu masih bisa dijalin lebih kuat? Apakah nilai-nilai islam yang indah nan damai akan selalu dijunjung tinggi seperti hari kemarin?

    Hukum di Indonesia masih rawan dibumbui. Tergantung siapa yang terikat dan seberapa besar penawaran terjadi. Dulu zaman SMP, saya sering mendengar lagu nasyid yang berjudul ‘Hukum’ dinyanyikan. Bunyinya menyentuh.

    “Maling-maling kecil dihakimi, maling-maling besar dilindungi”.

    Masalah Indonesia bukan hanya tentang penistaan. Hukum yang tidak adil bukan cuman dibidang penistaan. Tapi saya mengerti, pasti ada yang ingin membisik kepada saya, ini masalah Agama, masalah yang tidak kecil dan harus diselesaikan. Masalah Al-quran yang suci, dicintai, ternodai oleh perkataan Ahok yang asal jeplak.

    Tapi, haruskah masalah agama menutup semua jalan untuk memperbaiki masalah lain? Haruskah ada Aksi kembali yang menyebabkan mereka mengorbankan pekerjaan mereka, bepergian jauh meninggalkan rumah dan sanak keluarga, berjalan lebih jauh lagi dari tempat mereka tandang ke Jakarta dan meninggalkan urusan mereka sendiri? Haruskah itu terjadi kembali bila hukum telah di ketok palu yang tidak sejalan dengan permohonan mereka selama ini?

    Ah, saya memang sok tahu, sok banget. Ini kan masalah pegangan, masalah keyakinan, masalah percintaan terhadap al-quran, masalah harga diri sebagai umat muslim yang merasa terhina dengan perkataan seorang Ahok. Sang Gubernur yang membangun mesjid Balai Kota yang mulutnya gak bisa di jaga. Maen ngomong seenaknya. Lagipula, kan rezeki sudah ada yang ngatur, bila kita tawakal dan yakin kepada Allah Swt. Sing penting hukum untuk si penista terus diperjuangkan agar masuk penjara. Iya kan.

    Saya sebagai seorang muslim, seorang warga negara Indonesia, bangga dan mengapresiasi tinggi aksi super damai 2 Desember ini. Saya bangga. Berbagai ormas Islam silih berdatangan, mengepal erat keyakinan mereka, membuka tangan mereka dibawah langit mendung nan hujan, dan berdoa. Menangis berdiri, mendengarkan doa yang haru seraya menyampaikan kata “amin” sebanyak-banyaknya. Tulus, indah, bahkan yang melihat bisa merasakan itu.

    Akankah hal yang sama terjadi ketika ekonomi Indonesia melorot? Ketika para wakil rakyat (yang berKTP muslim) yang terjerat korupsi bermiliaran? Ketika Indonesia masuk final AFF? Berdoa bersama untuk mendorong pengangguran ke angka serendah mungkin?

    Akankah mereka mengecualikan hal duniawi untuk berdoa bersama, menggelar sajadah bersama karena ini bukan masalah menyangkut agama dan keyakinan serta kecintaan terhadap ayat suci Al-Quran?

    Akankah ada promotor sama yang berjuang lahir dan batin untuk mengumpulkan jemaah untuk berdoa demi keselamatan warga Suriah, bahkan Imigran muslim di Amerika yang sekarang nasibnya belum pasti?

    Sugguh indah bila tidak ada pengecualian.


    You May Also Like

    0 komentar