I am Proud....212
I am proud...
As a muslim, I am touched.
Seeing thousands people that unite each other,
praise Allah and ask for His blessing. Together. I am proud as an Indonesian,
seeing these people gather and express their democracy right. Many Ustadz,
Habaib, and other Muslim figure coming to Jakarta to pray together in a
peaceful way ‘ever’.
People love each other, bless every single person,
and takbir in every single of their way to Monas. A lot of videos showing how
lovely Islam can be as one of religion in this country. I am touched as Muslim.
Aksi 2 Desember ini
sangat dijunjung tinggi. Dan tentunya membanggakan. Berdoa bersama-sama
ditengah lapangan monas, berdiri melapangkan tangan dan berdoa ditengah hujan.
Tak ada halangan. Indah. Orasi pun yang ini tidak terlalu menebar kebencian.
Tidak seperti aksi 4 November, orasi malah menyebarkan kebencian, sehingga
merambat menyentuh seluruh perbedaannya. Geram.
Saya salut.
Kebersamaan yang dijalin antar sesama muslim, pengorbanan yang diberikan antar
insan, menggambarkan bagaimana seharusnya intisari agama diterapkan disetiap
individu. Saya juga sempat mendengar rombongan Ciamis yang berjalan kaki ke
jakarta. Bayangkan, jalan kaki. Mereka mengubah betis mereka seperti batu yang
sangat kuat, yang bisa selalu ditapakkan sepanjang jalan menuju Jakarta. 271
KM. Fantastis.
Setiap
pemberhentian, mereka disambut dengan hangat, di iringi rasa haru dan sholawat
penduduk setempat, karena pengorbanan para pejalan kaki ini. Bila
dipikir-pikir, mereka hanya ingin menunjukan sikap kecintaan mereka terhadap Al-Quran. Mereka berhadapan dengan hukum dan berdoa untuk hukum bisa adil.
Kebersamaan, pengorbanan, dan niat mereka tak bisa ditandingkan dengan apa-apa.
Tapi.....
What if.....
What if the law is not accordance with what they
have been struggle for?
What if their wishes are not granted?
What if Ahok is not being imprison as a civil law
stated based on trial court?
Will it be another “Aksi Damai” coming to town? Aksi Super Damai Jilid Sekian?
They want Ahok to be in Jail, no matter what. That
is the only thing they ask for.
Apakah kedamaian
itu akan bisa dipertahankan? Kebersamaan itu masih bisa dijalin lebih kuat? Apakah
nilai-nilai islam yang indah nan damai akan selalu dijunjung tinggi seperti
hari kemarin?
Hukum di Indonesia
masih rawan dibumbui. Tergantung siapa yang terikat dan seberapa besar
penawaran terjadi. Dulu zaman SMP, saya sering mendengar lagu nasyid yang
berjudul ‘Hukum’ dinyanyikan. Bunyinya menyentuh.
“Maling-maling
kecil dihakimi, maling-maling besar dilindungi”.
Masalah Indonesia
bukan hanya tentang penistaan. Hukum yang tidak adil bukan cuman dibidang
penistaan. Tapi saya mengerti, pasti ada yang ingin membisik kepada saya, ini
masalah Agama, masalah yang tidak kecil dan harus diselesaikan. Masalah Al-quran yang suci, dicintai, ternodai oleh perkataan Ahok yang asal jeplak.
Tapi, haruskah
masalah agama menutup semua jalan untuk memperbaiki masalah lain? Haruskah ada
Aksi kembali yang menyebabkan mereka mengorbankan pekerjaan mereka, bepergian
jauh meninggalkan rumah dan sanak keluarga, berjalan lebih jauh lagi dari
tempat mereka tandang ke Jakarta dan meninggalkan urusan mereka sendiri?
Haruskah itu terjadi kembali bila hukum telah di ketok palu yang tidak sejalan dengan
permohonan mereka selama ini?
Ah, saya memang sok
tahu, sok banget. Ini kan masalah pegangan, masalah keyakinan, masalah percintaan terhadap al-quran, masalah harga
diri sebagai umat muslim yang merasa terhina dengan perkataan seorang Ahok.
Sang Gubernur yang membangun mesjid Balai Kota yang mulutnya gak bisa di jaga. Maen
ngomong seenaknya. Lagipula, kan rezeki sudah ada yang ngatur, bila kita
tawakal dan yakin kepada Allah Swt. Sing penting hukum untuk si penista terus
diperjuangkan agar masuk penjara. Iya kan.
Saya sebagai
seorang muslim, seorang warga negara Indonesia, bangga dan mengapresiasi tinggi
aksi super damai 2 Desember ini. Saya bangga. Berbagai ormas Islam silih berdatangan,
mengepal erat keyakinan mereka, membuka tangan mereka dibawah langit mendung
nan hujan, dan berdoa. Menangis berdiri, mendengarkan doa yang haru seraya
menyampaikan kata “amin” sebanyak-banyaknya. Tulus, indah, bahkan yang melihat
bisa merasakan itu.
Akankah hal yang
sama terjadi ketika ekonomi Indonesia melorot? Ketika para wakil rakyat (yang berKTP muslim) yang
terjerat korupsi bermiliaran? Ketika Indonesia masuk final AFF? Berdoa bersama
untuk mendorong pengangguran ke angka serendah mungkin?
Akankah mereka
mengecualikan hal duniawi untuk berdoa bersama, menggelar sajadah bersama
karena ini bukan masalah menyangkut agama dan keyakinan serta kecintaan terhadap ayat suci Al-Quran?
Akankah ada
promotor sama yang berjuang lahir dan batin untuk mengumpulkan jemaah untuk berdoa
demi keselamatan warga Suriah, bahkan Imigran muslim di Amerika yang sekarang
nasibnya belum pasti?
Sugguh indah bila tidak ada pengecualian.
0 komentar