• Andai Semua Ngerti

    by - 18.15

    Tanya Dulu, Posisikan Dulu, Baru Bersikap


    Selalu menarik membaca reaksi laman facebook ketika isu besar diperbincangkan. Isu Ahok yang diduga menista agama salah satunya. Bahkan ada beberapa tulisan saya sebelumnya yang ikut turut meramaikan pendapat. Namun selalu ada salah kaprah akan sebuah asumsi pada satu pendapat atau pemberitaan tertentu.

    Satu contoh nyata adalah, saya menulis ketika itu “Doa 4 November” di facebook saya. Beragam respon apresiasi maupun kritik saya terima dengan lapang dada. Bahkan ada juga yang ingin berdiskusi lebih jauh untuk membahas tulisan saya itu sendiri. Puas sekali rasanya tentang apa yang telah saya tuliskan. Saya pun memaklumi berbagai reaksi yang diterima dari tulisan saya. Namun yang paling disayangkan adalah,

    "ketika saya dinilai tidak sejalan dengan kebanyakan, saya dicap pengikut dan pro yang sedikitan".

    Itulah yang saya maksud dengan salah kaprah.

    Saya menulis di 4 November itu bagaimana saya berdoa terhadap teman-teman semua agar bisa merasakan pengalaman yang sama yang pernah saya alami. Lantas saya jelaskan pengalaman seperti apa. Tapi ikhtisar diambil oleh kebanyakan malah terdengar jauh dari apa yang ingin saya utarakan. Ada yang bilang saya mendukung Ahok si penista agama, ada yang menyindir pengalaman saya yang terlihat mengalahkan ribuan orang dijalan yang ikut aksi, ada juga yang mengira saya tidak tergerak hatinya untuk ikut membela islam. Dan masih banyak lagi.

    Saya menyadari tulisan saya memang akan mengundang reaksi berbagai macam orang. Mengingat, 4 november ada aksi besar-besaran dan laman facebook saya juga diisi dengan orang yang beragam. Ada yang selalu bersemangat bahwa Ahok itu bersalah dan dipenjara, dari yang ngotot sekali sampai yang ikut-ikutan. Ada juga yang mendukung Ahok dan mempertanyakan balik Buni Yani dan Habieb Rizieq, ada juga yang kerap membagikan laman penghibur seperti mirip artis siapa wajah kita. Banyak sekali, variatif, menarik.

    Tapi apakah membuat tulisan yang terlihat mengkritik satu aksi diartikan mendukung oposisi?

    Kan enggak juga. Contohnya gini, pilpres kemarin diikuti oleh dua pasang calon. Prabowo-Hatta sama Jokowi-JK. Kalo saya membuat tulisan tentang hal negatif dari Jokowi-JK, apakah sama diartikan saya berada di kubu Prabowo-Hatta? Kan enggak juga. Nah sama halnya, bila saya mengkritik aksi kemarin bukan berarti saya mendukung Ahok, begitupun sebaliknya. Saya mengapresiasi aksi kemarin bukan berarti saya setuju ingin memenjarakan Ahok.

    Itulah yang terjadi dengan respon tulisan saya yang Doa di 4 November. Saya yakin banyak juga yang berniat ingin memberikan pendapatnya, baik buruknya kasus Ahok, baik buruknya Demo, atau tanggapan lain. Bukan maksud ingin menjelek-jelekan satu sisi, tapi mencoba untuk memberi solusi yang terbaik. Kita tidak bisa terlalu konservatif satu isu, berpegang teguh pada satu sisi tanpa melihat sisi yang lain. Keputusan yang baik untuk bersikap diambil adalah mempertimbangkan semua sisi. Tidak bisa berpegang kepada satu pendapat pakar ahli tanpa mempertimbangkan pendapat ahli yang lain. Kan subjektivitas nya besar, sehingga bisa terjadi conflict of Interest. Artinya kalo si ahli lagi ga mood terus bikin pernyataan kan bisa jadi ngaco. Bahkan sekarang, banyak bermata hijau ketika amplop coklat ditangan tamunya. 

    Tapi seketika teringat celotehan Pandji Pragiwaksono. Dia menganalogikan seperti ini.
    Ketika kamu lempar bola basket ke temen kamu, yang di dapat ya bola itu. Beda dengan ilmu komunikasi. Kita lempar bola, belum tentu orang lain menangkap bola yang sama. Analogi ini langsung terserap dibenak saya. Ketika saya melempar tulisan, tak banyak yang menerima tulisan, bahkan hanya menerima hinaan lalu merasa tersinggung.

    Terakhir satu quote yang saya pikir lebih ngena.

    "I am responsible for what I say, not for what you understand" anonymous.

    Selamat sore.




    You May Also Like

    1 komentar