• by - 17.57


    "Before The Flood", Dimulai dari Atas.



    Film dokumentasi yang memperlihatkan efek dari perubahan cuaca yang sangat membuka wawasan semua orang. Diperankan oleh Leonardo Di Caprio, selebriti terkenal yang menjadi Duta Perdamaian PBB.

    Kenapa saya meluangkan waktu untuk film dokumenter ini? bukan semata-mata karena saya mengidolakan sosok Leonardo Dicaprio dengan film-film nya yang menakjubkan, bukan juga karena semata-mata saya menyukai sains, bukan juga karena saya tahu betul dengan perubahan iklim, tapi karena ada satu contoh yang sangat jelas terjadi di negara saya yang tak semua warga negaranya sendiri mengetahuinya.

    Di Review ini, saya tidak akan menceritakan secara rinci dari menit awal film sampai akhir, karena membuang waktu saja. Semua orang bisa melihat itu secara langsung karena film nya sendiri tersedia secara gratis di Youtube. Tapi intisari apa yang saya dapat ketika menonton film ini sangat membuat saya tersentuh dan lebih peduli.

    Leonardo Di Caprio, berkeliling ke beberapa lokasi di dunia untuk melihat bagaimana dampak dan penyebab dari perubahan iklim. Film itu semakin kuat karena didukung oleh hal nyata dan pendapat para ahli dalam bidang itu. Bahkan film itu secara gamblang menunjukan logo perusahaan yang secara jelas merusak lingkungan dan berkontribusi kepada perubahan iklim. Ditambah lagi ada unsur politik yang bergelut dibidang itu.

    Menariknya, film ini berargumen dari sisi politik. Di Amerika, ada tokoh penting yang mendeklarasikan tidak ada yang namanya perubahan iklim. Bahkan ada ilmuwan yang diadili secara hukum karena membuat statistik perubahan iklim yang dianggap membohongi. Sampai si Ilmuwan itu beralih profesi.

    https://www.youtube.com/watch?v=SU2rN2QYAK0

    Banyak pula tokoh politis lain yang beranggapan sama atau mengetahui kebenaran akan perubahan cuaca. Leo mewawancara dari politisi yang berpangkat mayor, governor, sekertaris negara sampai presiden Obama dan Ban-Ki Moon. Di gamblangkan juga bagaimana para politisi yang mengantongi keuntungan dari perusahaan yang jelas-jelas berkontribusi kepada perubahan iklim itu sendiri.

    Sekarang apa sebenarnya yang terjadi menurut film itu? Tak jauh beda dengan apa yang saya pelajari di Geografi waktu SMA dulu. Pemanasan global, menyebabkan bumi menjadi hangat, level laut yang naik, dan es mencair di Kutub. Sangat simpel, tapi efek dan penyebabnya meluas sekali. yang paling sering kerasa adalah banjir, hujan mulu, panas, dan masih banyak lagi deh.

    Biang keladi yang terbesar adalah pembakaran fosil yang terjadi dimana-mana. Jelas sekali, banyak perusahaan-perusahaan minyak merusak lingkungan hanya untuk kepentingan kantong pribadi. Film itu memperlihatkan beberapa lokasi yang aduhai jeleknya untuk pandangan dari udara. Berwarna hitam kecoklatan yang menunjukan tanah tercampur oli mentah, dan sejenisnya.

    Secara teori, pembakaran fosil berkontribusi memperbanyak gas Karbon Dioksida ke atmosfir. Gas itu yang jelek dan beracun juga mempercepat pemanasan global. Tak bisa dipungkiri, bencana-bencana yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, terjadi tanpa aba-aba dan prediksi dalam beberapa dekade terakhir.

    Sepertinya hampir semua mengetahui apa dampak kedepan dari pembakaran fosil ini. Tapi tidak semua menyadari kenapa pembakaran itu masih terjadi. Di abad 21 ini, semua orang bermobilisasi. Transportasi menjadi satu jalan membantu mobilisasi itu. Mobil, motor, pesawat, kereta, hampir semua menggunakan bahan bakar yang dihasilkan dari pembakaran fosil itu. Walaupun, kita mulai mendengar mobil listrik, motor listrik telah direncanakan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar yang membahayakan bumi.

    Beberapa perusahaan tidak memikirkan dampak lingkungan karena tahu konsumer belum berani untuk mengubah kebiasaannya. Sehingga perputaran uang masih berlimpah dan menguntungkan. Sekalipun pemerintah berupaya mengurangi, tapi tak menemukan jalan keluar yang bagus karena termakan rupiah yang berlimpah.

    Itu yang terjadi di Indonesia. Di satu sisi, scene yang menunjukan Indonesia bahwa masih mempunyai hutan yang terkonservasi dan masih memiliki Gajah, Badak, Orang Utan, Harimau dalam habitat yang aslinya. Namun, kebakaran hutan di Pulau Sumatra yang kerap terjadi membuat habitat hewan-hewan itu menjadi terancam. Saya ingat betul, narasumber perempuan yang mendampingi Leo mengemukakan, bahwa pembakaran itu "Intentionally set-up". Itu di sengaja. Semua hutan yang dibakar di alih fungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit dan disengaja.

    Pemerintah setempat mengelurakan regulasi, memberikan peringatan, tapi ya tak bisa dipungkiri, kebenerannya masih bisa dihargai dengan nominal. Banyak yang korup, sehingga memperluas kemampuan perusahaan-perusahaan itu. Manusiawi ga sih itu?

    Ketergantungan konsumen terhadap produk sehari-hari yg menggunakan kelapa sawit masih tinggi. Sehingga mungkin itu satu cara menghasilkan supply yang sebanyak permintaan. Seharusnya, apabila pembakaran itu diniatkan untuk mendorong ekonomi maju, rakyat sekitarnya sudah sejahtera. Faktanya, pembakaran itu malah menyengsarakan. Lingkungan rusak, asap kemana-mana bahkan sampe mengganggu negara tetangga, dan ekonomi memblem disana-sana aja.

    Beberapa perusahaan besar ditunjukan difilm itu. Perusahan yang memproduksi produk dari kelapa sawit itu. Saya tidak mau menyebutkan karena takut dengan hukum pencemaran nama baik. Tapi yg terpenting untuk diketahui, produk merekalah yang masih membuat para penguasa harus membakar keindahan hutan di pulau Sumatera.

    Film ini tidak meninggalkan kita dengan peristiwa dan penyebab itu. Tapi juga memberi tahu bahwa masih ada solusi yang bisa diambil guna mencegah dan mengurangi dampak negatif dari perubahan iklim itu.

    Dari sekian banyak solusi dari perubahan iklim ini, satu solusi yang bisa mewakilkan segalanya. Semua berawal dari pemimpin. Orang yang punya kuasa bisa melangkah lebih depan dari orang biasa. Kita sebagai orang biasa tidak bisa menghentikan pembakaran itu tetap terjadi, karena wewenang kita hanya sebatas warga biasa. Tapi apabila pemimpin kita mewakili keyakinan kita, pembakaran itu bisa dicegah. Pemimpin yang tidak korup ya.

    Lihat bagaimana Swedia dalam film itu mengubah kebiasaan konsumen terhadap konsumsi bahan bakar dari pembakaran fosil. Negara itu sendiri yang menginisiasi untuk tidak mengkonsumi bahan bakar dari fosil, tapi menciptakan bahan bakar sendiri dari tenaga angin, dan sebagainya. Lihat bagaimana pemimpin bisa mengubah satu kebiasaan.

    Ini pula yang bisa diterapkan di Indonesia. Berawal dari kepercayaan warga kepada pemimpin. Masalahnya, kita sebagai warga suka terlalu terlena dengan iming-iming yang gak jelas, tanpa mengerti akan apa yang akan mereka kerjakan ketika memilih pemimpin itu. Perilaku warga mayoritas lebih terpengaruh dengan kebijakan yang berlaku didaerah itu.

    You May Also Like

    0 komentar