Di Adu Domba sama Bahasa Indonesia
Detik
ini, saat saya nulis ini, ada kasus yang apabila kita menuai kontra alias
mendukung terdakwa dianggap liberal dan komunis, dan menuai pro alias melawan
dan memperjuangkan bahwa terdakwa benar-benar salah dianggap konservatif dan
tidak toleran. Terlalu banyak skema-skema analisis yang hampir mendekati
ketidak-masuk-akalan menurut saya. Komunis, cinaisasi Indonesia, Kiamat, siap
perang apabila rambut pemimpinnya sampai jatuh walau hanya sehelai pun,
kriminalisasi sana-sini, semuanya saling melapor adanya penghinaan, penistaan
dan semuanya.
Disaat
dunia sedang terfokus kepada Executive Order nya Presiden US yang melarang
muslim datang dari 7 negara yang dicurigai, kita masih berkutik terfokus pada
masalah yang sama namun intra-negara. Artinya sesama dari kita malah melihat
musuh satu sama lain, dan mengganggap bukan bagian dari semua. Saya mencoba
mengerti, yang pro-penista mempunyai alasan sendiri, dengan fondasi yang kokoh.
Begitupun kontra penista, mempunyai alasan tersendiri yang kuat. Dua-duanya
kuat, tapi terasa lemah ketika yang menyampaikan mendahulukan urat daripada
keinginan untuk saling mengerti.
Pernah
baca salah satu status fb dari siapa gitu, yang bilang, semua bisa dibicarakan,
didiskusikan, tapi tidak lewat media sosial. Kita hanya kurang bertatap muka,
melihat satu sama lain dan kopdar gitu. Saya pun pernah berdebat lewat sosial
media, dengan sesama teman, guru dan lainnya. Tak akan ada habisnya karena
sama-sama memegang alasannya sendiri-sendiri. Bahkan ada temen yang debat di
sosmed sama guru yang hasilnya bisa mempengaruhi hubungan mereka. Itu kayaknya
ngetiknya sama urat dan rasa geregetan. Kadang, media sosial membawa perubahan
yang signifikan, dimana orang dewasa dibuat menjadi lupa akan kedewasaanya,
tapi anak kencur malah (terkesan) bijak dengan kekencurannya.
Saling
sindir menyindir, saling gesek menggesek, saling greget menggreget. Ya itulah
yang terjadi saat debat mengenai isu yang benar salahnya belum bisa ditentukan.
Endless debate session, wkwkwk. Neither you can win it nor lose it, cause this
case, only God who can decide. Negara ini kan demokrasi, pers itu diberi
kebebasan berpendapat, mengkritik, bahkan memberikan aspirasi untuk semua. Kadang
saya juga ga ngerti, kasus ini merambat ke semua, saling lapor melaporkan,
saling nyari mencari data yang bisa membuat salah seorang dinobatkan tersangka.
Ini kayaknya semenjak kasus ini, polisi sibuk mengurusi laporan-laporan penistaan,
penghinaan, dan sebagainya. Kalo polisi-polisi itu pernah ikut UN, saya yakin,
mereka lagi bingung melebihi menjawab soal UN. Laporan-laporan dari terjemahan
dan analisa bahasa Indonesia.
Maksudnya
adalah, misalkan laporan penistaan. Kata penistaan adalah kata asumsi dan
konklusi semata dari beberapa kalimat yang dikatakan oleh Ahok dari data yang
sebenarnya. Kalimat yang dikatakan Ahok menggunakan bahasa Indonesia. Mr Aryo
(kepala sekolah SMA) dulu pernah bilang, “Bahasa Indonesia adalah salah satu
bahasa yang susah dipelajari, karena tiap tahun ada kosakata baru”. Pengalaman dulu
pas mau UN SMA Bahasa Indonesia, terlalu banyak kontroversi dan perdebatan yang
dimulai dari definisi satu kata dan maksud satu kalimat. Bahkan memang sampe debat muncrat-muncrat. Ambiguitasnya tinggi.
Definisinya luas. Maka dari itu, mungkin sama yang dirasakan merasa terhina dan
tidak terhina karena definisi dan maksud yang diambil sudah beda dari sananya.
Kepercayaan
dan alasan yang dipegang masing-masing akan terus seperti itu. Takkan ada yang
benar, salah, ataupun sebaliknya. Tapi, membiarkan perdebatan karena dianggap
menista atau tidak ini terus dibicarakan, apalagi lewat sosmed, ini bisa
menjadi ancaman buat kita sendiri. Pernah baca status orang yang siap perang,
siap membela mati-matian mengawal kasus ini, atau hal fanatik lain yang menurut
pribadi sudah lewat batas akal sehat.
Morgan
Freeman (kalo belum tau, goggle it) pernah ditanya “How do we stop racism?”
Dia menjawab
“STOP TALKING ABOUT IT. I’m going to stop calling you a white man, and I’m
going to ask you to stop calling me a black man”.
Thats
it. Berhenti membicarakan masalah ini, karena takkan ada ujungnya. Kita kembali
masing-masing, memegang teguh keyakinan kita, entah pro atau kontra. We dont
need to send it to the floor about our stands. Lets begin to stop talking this
piece of tiit. Karena didalam konstitusi, benar atau salahnya ya dari
pengadilan. Kalo merasa hakimnya gak adil ya biar urusan dia sama yang diatas.
Kalo mau berdebat, mari bertatap muka, berkopdar ria, perbedaan pendapat itu
indah kalo saling menatap, merasakan. Saya percaya bahwa semua berharap yang
terbaik buat negeri ini.
Selamat berjuang :)
Selamat berjuang :)
0 komentar