• Di Adu Domba sama Bahasa Indonesia

    by - 12.25

    Detik ini, saat saya nulis ini, ada kasus yang apabila kita menuai kontra alias mendukung terdakwa dianggap liberal dan komunis, dan menuai pro alias melawan dan memperjuangkan bahwa terdakwa benar-benar salah dianggap konservatif dan tidak toleran. Terlalu banyak skema-skema analisis yang hampir mendekati ketidak-masuk-akalan menurut saya. Komunis, cinaisasi Indonesia, Kiamat, siap perang apabila rambut pemimpinnya sampai jatuh walau hanya sehelai pun, kriminalisasi sana-sini, semuanya saling melapor adanya penghinaan, penistaan dan semuanya.

    Disaat dunia sedang terfokus kepada Executive Order nya Presiden US yang melarang muslim datang dari 7 negara yang dicurigai, kita masih berkutik terfokus pada masalah yang sama namun intra-negara. Artinya sesama dari kita malah melihat musuh satu sama lain, dan mengganggap bukan bagian dari semua. Saya mencoba mengerti, yang pro-penista mempunyai alasan sendiri, dengan fondasi yang kokoh. Begitupun kontra penista, mempunyai alasan tersendiri yang kuat. Dua-duanya kuat, tapi terasa lemah ketika yang menyampaikan mendahulukan urat daripada keinginan untuk saling mengerti.

    Pernah baca salah satu status fb dari siapa gitu, yang bilang, semua bisa dibicarakan, didiskusikan, tapi tidak lewat media sosial. Kita hanya kurang bertatap muka, melihat satu sama lain dan kopdar gitu. Saya pun pernah berdebat lewat sosial media, dengan sesama teman, guru dan lainnya. Tak akan ada habisnya karena sama-sama memegang alasannya sendiri-sendiri. Bahkan ada temen yang debat di sosmed sama guru yang hasilnya bisa mempengaruhi hubungan mereka. Itu kayaknya ngetiknya sama urat dan rasa geregetan. Kadang, media sosial membawa perubahan yang signifikan, dimana orang dewasa dibuat menjadi lupa akan kedewasaanya, tapi anak kencur malah (terkesan) bijak dengan kekencurannya.

    Saling sindir menyindir, saling gesek menggesek, saling greget menggreget. Ya itulah yang terjadi saat debat mengenai isu yang benar salahnya belum bisa ditentukan. Endless debate session, wkwkwk. Neither you can win it nor lose it, cause this case, only God who can decide. Negara ini kan demokrasi, pers itu diberi kebebasan berpendapat, mengkritik, bahkan memberikan aspirasi untuk semua. Kadang saya juga ga ngerti, kasus ini merambat ke semua, saling lapor melaporkan, saling nyari mencari data yang bisa membuat salah seorang dinobatkan tersangka. Ini kayaknya semenjak kasus ini, polisi sibuk mengurusi laporan-laporan penistaan, penghinaan, dan sebagainya. Kalo polisi-polisi itu pernah ikut UN, saya yakin, mereka lagi bingung melebihi menjawab soal UN. Laporan-laporan dari terjemahan dan analisa bahasa Indonesia.

    Maksudnya adalah, misalkan laporan penistaan. Kata penistaan adalah kata asumsi dan konklusi semata dari beberapa kalimat yang dikatakan oleh Ahok dari data yang sebenarnya. Kalimat yang dikatakan Ahok menggunakan bahasa Indonesia. Mr Aryo (kepala sekolah SMA) dulu pernah bilang, “Bahasa Indonesia adalah salah satu bahasa yang susah dipelajari, karena tiap tahun ada kosakata baru”. Pengalaman dulu pas mau UN SMA Bahasa Indonesia, terlalu banyak kontroversi dan perdebatan yang dimulai dari definisi satu kata dan maksud satu kalimat. Bahkan memang sampe debat muncrat-muncrat. Ambiguitasnya tinggi. Definisinya luas. Maka dari itu, mungkin sama yang dirasakan merasa terhina dan tidak terhina karena definisi dan maksud yang diambil sudah beda dari sananya.

    Kepercayaan dan alasan yang dipegang masing-masing akan terus seperti itu. Takkan ada yang benar, salah, ataupun sebaliknya. Tapi, membiarkan perdebatan karena dianggap menista atau tidak ini terus dibicarakan, apalagi lewat sosmed, ini bisa menjadi ancaman buat kita sendiri. Pernah baca status orang yang siap perang, siap membela mati-matian mengawal kasus ini, atau hal fanatik lain yang menurut pribadi sudah lewat batas akal sehat.

    Morgan Freeman (kalo belum tau, goggle it) pernah ditanya “How do we stop racism?”
    Dia menjawab “STOP TALKING ABOUT IT. I’m going to stop calling you a white man, and I’m going to ask you to stop calling me a black man”.

    Thats it. Berhenti membicarakan masalah ini, karena takkan ada ujungnya. Kita kembali masing-masing, memegang teguh keyakinan kita, entah pro atau kontra. We dont need to send it to the floor about our stands. Lets begin to stop talking this piece of tiit. Karena didalam konstitusi, benar atau salahnya ya dari pengadilan. Kalo merasa hakimnya gak adil ya biar urusan dia sama yang diatas. Kalo mau berdebat, mari bertatap muka, berkopdar ria, perbedaan pendapat itu indah kalo saling menatap, merasakan. Saya percaya bahwa semua berharap yang terbaik buat negeri ini.

    Selamat berjuang :)





    You May Also Like

    0 komentar