• Kekerasan Tetap Bukan yang Tepat.

    by - 01.22


    Baru-baru ini, ada satu kejadian dalam pemberitaan nasional yang sejatinya membuat saya tertegun dalam waktu yang lama. Meninggalnya satu siswa STIP karena dianiaya oleh 4 atau 5 seniornya. ‘dianiaya’. I know how that’s feel.

    Mari saya ceritakan latar belakang mengapa merasa tertegun. Waktu SMP, saya sekolah di Boarding School yang menyediakan pendidikan dimulai dari SMP sampai SMA nya ada. Hari demi hari berlalu, waktu demi waktu terlewatkan. Jadi di sekolah itu, kaya ada semacam ideologi yang memang saya rasa ada iya nya. Begini bunyinya. Tahun pertama patuh, rajin, baik, pokoknya semuanya serba mengikuti aturan. Tahun kedua mulai melirik-lirik, mencoba melanggar dari hal kecil kayak bolos kelas, atau tidak shalat berjamaah (namanya juga pesantren, berjamaah hukumnya wajib), atau mulai melirik kaum lawan jenis secara diam-diam. Nah tahun ketiga, sudah terjadi yang namanya budaya melanggar, kaya semacam punya jiwa pemberontak. Tahun ketiga itu, ketika dihukum mulai ngelawan, acuh tak acuh, dan ya mulai membangkang.

    Nah pemikiran seperti ini seperti merambat luas ke kebanyakan santrinya. Meskipun harus diakui, bahwa ada santri yang memang konsisten, menerapkan pemikiran tahun pertama untuk tahun-tahun selanjutnya. Ya patuh terus lah. Tapi harus diinformasikan bahwa saya santri yang ternyata menerapkan ideologi itu. Oleh karena itu, jangan tanyakan berapa kali melanggar dalam kurun waktu tiga tahun, karena unlimited pasti jawabannya. Saya harus ulangi, bahwa saya memilih menjadi sangat bandel waktu itu. Jadi jangan salahkan sekolahnya, salahkan lah sayanya. Wkwkk.

    Nah, sekarang intinya. Melanggar peraturan identik dengan sanksi dan konsekuensi. Fyi, hanya ada satu organisasi siswa atau osis di pesantren dan berlaku untuk semua, dari SMP dan SMA. Dan osis ini hanya bisa diisi oleh santri SMA kelas 11. Tak bisa selain dari tingkat itu. Jadi kalo udah kelas 11, kayaknya udah betah banget di pesantren. Bisa bebas, melayangkan sayap.

    Perlu di akui, bahwa sanksi atau konsekuensi dari sebuah pelanggaran yang dilakukan santri sering dihakimi oleh osis itu sendiri. Jadi osis ini dibagi kedalam beberapa divisi. Ada divisi Keamanan, Bahasa, Penerangan, Dapur, maintenance, hmm apalagi ya. Lupa yang lainnya, maklum belom pernah menjadi osis disana. Ya kalo ngelanggar yang umum-umum paling dihukum sama bagian keamanan, kalo ketahuan ngomong Sunda dihukum sama bagian Bahasa karena bahasa yang seharusnya adalah inggris atau arab. Yang sekarang baru saya sadari (alias setelah keluar dari sana), adalah seringkali bentuk hukuman yang dianggap tepat adalah dengan kekerasan.

    Pada waktu saya masih duduk di SMP, tamparan pipi, pukulan paha pake gagang sapu atau kadang penggaris, ke telapak tangan atau kaki, bahkan pernah sampai gampar yang uh terasa banget sakitnya sampe sekarang. Dan semua itu saya anggap adalah hal normal. Karena “katanya”, angkatan-angkatan sebelumnya lebih parah dan lebih wow. Intinya kalo melanggar dan ketauan, harus siap mau ga mau antara kena gamparan atau pukulan gagang sapu atau penggaris itu plus wc yang ‘bersih’nya juara. That was very normal back then, but didn’t really solve the core problem. Malah, kekerasan yang berubah menjadi budaya. Lebih malah lagi, ini realita, saya sendiri merasa tidak pernah ada rasa untuk kapok melanggar, yang ada malah terus-terusan melakukan itu.

    Kenapa saya bilang itu semacam budaya? Karena kejadiannya akan terjadi terus menerus jika tidak ada yang menghentikan. Hanya rasa dendam dan sakit yang tak bisa dilupakan. Ini terbukti, ketika saya masih kelas satu atau dua gitu, ada kakak kelas yang baru keluar dari jenjang SMP, tidak berniat untuk meneruskan SMA disekolah yang sama, datang ke pesantren. Waktu itu, ceritanya si A yg baru kelar UN SMP dan dalam masa bebasnya dateng ke pesantren. Disana karena sedang hari libur, ngajak si B yang duduk di SMA dan sudah menjabat jadi OSIS untuk ngopi disebuah warung.

    Tak disangka, si A membantingkan gelas ke kepala si B dan bikin pendarahan yang lumayan ngeri. Darahnya banyak banget, sampai menjadi bahan obrolan yang terkenal dikalangan pesantren. Alih-alih mengapa si A melakukan itu karena dulu dia tidak terima di gampar oleh si B yang sedang menjabat osis. See, its a sort of revenge, a grudge. Dan saya juga merasakan hal yang sama, tapi untungnya tidak senekat itu.  Cukup hanya mengingat siapa yang menghukum saya dengan kekerasan yang diikuti oleh ketidaksukaan seorang individu terhadap adik kelasnya. Dan akan selalu saya ingat. Wkwkwk.

    Kejadian yang menimpa Amirullah, siswa SITP itu adalah dampak dari sebuah budaya yang dianggap normal padahal tidak. Saya percaya, senior-senior itu melakukan hal itu karena dulu juga mereka diperlakukan begitu. Gak adil rasanya bila ternyata penerusnya tidak diperlakukan sama. Makanya mereka melakukan itu. Sama halnya dengan kejadian di jaman saya SMP itu. Orang yang sering menampar ketika saya melanggar adalah karena dia juga pernah merasakan itu. Bahkan ada temen seangkatan saya yang waktu masih SMP sama bercerita, kelak ketika dia duduk diposisi osis, dia tidak akan sekeras angkatan dahulu. Tidak akan menampilkan kekerasan. Saat dia ternyata diposisi itu, memegang kekuasaan itu, dia tak bisa menahan untuk menampar yang melanggar. And that’s really happening.


    Tidak akan pernah berhenti rantai budaya kekerasan itu bila tidak ada yang sadar dan mengerti bahwa hukuman dalam bentuk kekerasan akan membuat semuanya lebih keruh. Bahkan, bisa saja merenggut korban yang lebih banyak. Ini bukan menciptakan budaya yang edukatif, tapi budaya menindas. Pada akhirnya ya senioritas dan itu membudidaya. Terus-menerus akan ‘terwariskan’.  Yang merasa punya kuasa melakukan apa yang dikehendakinya, yang merasa kecil dan tak berdaya tetap menjadikan diri mereka ciut seciutnya karena tak ada yang bisa diperbuat.

    Mudah-mudahan kejadian ini bisa sampai ditelinga para pemegang tahta, supaya pendidikan memang menjalankan tugasnya. Pendidikan adalah sarana untuk memperkaya diri dengan ilmu, bukan dendam, ketidak-sukaan, ketidak-betahan, dan sebagainya. Tugas ini bukan semata-mata menggantungkan kepada penguasa, tapi bagaimana kita menyadari sesuatu yang salah dan mulai menindak dengan cara yang kita bisa. Harus ada evaluasi dari semua jenis konsekuensi dan hukuman agar dalam waktu yang sama, si pelanggar bisa belajar dan mulai berubah.

    PS: Melanggar masih mempunyai kenangan indah dan tetap seru bila diceritakan. lol. terima kasih telah sudi membaca tulisan abal-abal ini. )


    You May Also Like

    0 komentar