Kekerasan Tetap Bukan yang Tepat.
Baru-baru ini, ada satu kejadian dalam pemberitaan nasional
yang sejatinya membuat saya tertegun dalam waktu yang lama. Meninggalnya satu
siswa STIP karena dianiaya oleh 4 atau 5 seniornya. ‘dianiaya’. I know how
that’s feel.
Mari saya ceritakan latar belakang mengapa merasa tertegun.
Waktu SMP, saya sekolah di Boarding School yang menyediakan pendidikan dimulai
dari SMP sampai SMA nya ada. Hari demi hari berlalu, waktu demi waktu
terlewatkan. Jadi di sekolah itu, kaya ada semacam ideologi yang memang saya
rasa ada iya nya. Begini bunyinya. Tahun pertama patuh, rajin, baik, pokoknya
semuanya serba mengikuti aturan. Tahun kedua mulai melirik-lirik, mencoba
melanggar dari hal kecil kayak bolos kelas, atau tidak shalat berjamaah
(namanya juga pesantren, berjamaah hukumnya wajib), atau mulai melirik kaum
lawan jenis secara diam-diam. Nah tahun ketiga, sudah terjadi yang namanya
budaya melanggar, kaya semacam punya jiwa pemberontak. Tahun ketiga itu, ketika
dihukum mulai ngelawan, acuh tak acuh, dan ya mulai membangkang.
Nah pemikiran seperti ini seperti merambat luas ke
kebanyakan santrinya. Meskipun harus diakui, bahwa ada santri yang memang
konsisten, menerapkan pemikiran tahun pertama untuk tahun-tahun selanjutnya. Ya
patuh terus lah. Tapi harus diinformasikan bahwa saya santri yang ternyata
menerapkan ideologi itu. Oleh karena itu, jangan tanyakan berapa kali melanggar
dalam kurun waktu tiga tahun, karena unlimited pasti jawabannya. Saya harus
ulangi, bahwa saya memilih menjadi sangat bandel waktu itu. Jadi jangan
salahkan sekolahnya, salahkan lah sayanya. Wkwkk.
Nah, sekarang intinya. Melanggar peraturan identik dengan
sanksi dan konsekuensi. Fyi, hanya ada satu organisasi siswa atau osis di
pesantren dan berlaku untuk semua, dari SMP dan SMA. Dan osis ini hanya bisa
diisi oleh santri SMA kelas 11. Tak bisa selain dari tingkat itu. Jadi kalo
udah kelas 11, kayaknya udah betah banget di pesantren. Bisa bebas, melayangkan
sayap.
Perlu di akui, bahwa sanksi atau konsekuensi dari sebuah
pelanggaran yang dilakukan santri sering dihakimi oleh osis itu sendiri. Jadi
osis ini dibagi kedalam beberapa divisi. Ada divisi Keamanan, Bahasa,
Penerangan, Dapur, maintenance, hmm apalagi ya. Lupa yang lainnya, maklum belom
pernah menjadi osis disana. Ya kalo ngelanggar yang umum-umum paling dihukum
sama bagian keamanan, kalo ketahuan ngomong Sunda dihukum sama bagian Bahasa
karena bahasa yang seharusnya adalah inggris atau arab. Yang sekarang baru saya
sadari (alias setelah keluar dari sana), adalah seringkali bentuk hukuman yang
dianggap tepat adalah dengan kekerasan.
Pada waktu saya masih duduk di SMP, tamparan pipi, pukulan
paha pake gagang sapu atau kadang penggaris, ke telapak tangan atau kaki,
bahkan pernah sampai gampar yang uh terasa banget sakitnya sampe sekarang. Dan
semua itu saya anggap adalah hal normal. Karena “katanya”, angkatan-angkatan
sebelumnya lebih parah dan lebih wow. Intinya kalo melanggar dan ketauan, harus
siap mau ga mau antara kena gamparan atau pukulan gagang sapu atau penggaris itu
plus wc yang ‘bersih’nya juara. That was
very normal back then, but didn’t really solve the core problem. Malah,
kekerasan yang berubah menjadi budaya. Lebih malah lagi, ini realita, saya
sendiri merasa tidak pernah ada rasa untuk kapok melanggar, yang ada malah
terus-terusan melakukan itu.
Kenapa saya bilang itu semacam budaya? Karena kejadiannya
akan terjadi terus menerus jika tidak ada yang menghentikan. Hanya rasa dendam dan sakit yang tak bisa dilupakan. Ini terbukti, ketika saya
masih kelas satu atau dua gitu, ada kakak kelas yang baru keluar dari jenjang
SMP, tidak berniat untuk meneruskan SMA disekolah yang sama, datang ke
pesantren. Waktu itu, ceritanya si A yg baru kelar UN SMP dan dalam masa
bebasnya dateng ke pesantren. Disana karena sedang hari libur, ngajak si B yang
duduk di SMA dan sudah menjabat jadi OSIS untuk ngopi disebuah warung.
Tak disangka, si A membantingkan gelas ke kepala si B dan
bikin pendarahan yang lumayan ngeri. Darahnya banyak banget, sampai menjadi
bahan obrolan yang terkenal dikalangan pesantren. Alih-alih mengapa si A
melakukan itu karena dulu dia tidak terima di gampar oleh si B yang sedang
menjabat osis. See, its a sort of
revenge, a grudge. Dan saya juga merasakan hal yang sama, tapi untungnya
tidak senekat itu. Cukup hanya mengingat siapa yang menghukum saya dengan kekerasan yang diikuti oleh
ketidaksukaan seorang individu terhadap adik kelasnya. Dan akan selalu saya
ingat. Wkwkwk.
Kejadian yang menimpa Amirullah, siswa SITP itu adalah
dampak dari sebuah budaya yang dianggap normal padahal tidak. Saya percaya,
senior-senior itu melakukan hal itu karena dulu juga mereka diperlakukan begitu.
Gak adil rasanya bila ternyata penerusnya tidak diperlakukan sama. Makanya
mereka melakukan itu. Sama halnya dengan kejadian di jaman saya SMP itu. Orang
yang sering menampar ketika saya melanggar adalah karena dia juga pernah
merasakan itu. Bahkan ada temen seangkatan saya yang waktu masih SMP sama bercerita, kelak ketika dia duduk diposisi osis, dia tidak akan sekeras
angkatan dahulu. Tidak akan menampilkan kekerasan. Saat dia ternyata diposisi
itu, memegang kekuasaan itu, dia tak bisa menahan untuk menampar yang
melanggar. And that’s really happening.
Tidak akan pernah berhenti rantai budaya kekerasan itu bila
tidak ada yang sadar dan mengerti bahwa hukuman dalam bentuk kekerasan akan
membuat semuanya lebih keruh. Bahkan, bisa saja merenggut korban yang lebih banyak. Ini bukan menciptakan budaya yang
edukatif, tapi budaya menindas. Pada akhirnya ya senioritas dan itu membudidaya. Terus-menerus
akan ‘terwariskan’. Yang merasa punya kuasa melakukan apa yang dikehendakinya, yang merasa kecil dan tak berdaya tetap menjadikan diri mereka ciut seciutnya karena tak ada yang bisa diperbuat.
Mudah-mudahan kejadian ini bisa sampai ditelinga para pemegang tahta, supaya pendidikan memang menjalankan tugasnya. Pendidikan adalah sarana untuk memperkaya diri dengan ilmu, bukan dendam, ketidak-sukaan, ketidak-betahan, dan sebagainya. Tugas ini bukan semata-mata menggantungkan kepada penguasa, tapi bagaimana kita menyadari sesuatu yang salah dan mulai menindak dengan cara yang kita bisa. Harus ada evaluasi dari semua jenis konsekuensi dan hukuman agar dalam waktu yang sama, si pelanggar bisa belajar dan mulai berubah.
PS: Melanggar masih mempunyai kenangan indah dan tetap seru bila diceritakan. lol. terima kasih telah sudi membaca tulisan abal-abal ini. )
Mudah-mudahan kejadian ini bisa sampai ditelinga para pemegang tahta, supaya pendidikan memang menjalankan tugasnya. Pendidikan adalah sarana untuk memperkaya diri dengan ilmu, bukan dendam, ketidak-sukaan, ketidak-betahan, dan sebagainya. Tugas ini bukan semata-mata menggantungkan kepada penguasa, tapi bagaimana kita menyadari sesuatu yang salah dan mulai menindak dengan cara yang kita bisa. Harus ada evaluasi dari semua jenis konsekuensi dan hukuman agar dalam waktu yang sama, si pelanggar bisa belajar dan mulai berubah.
PS: Melanggar masih mempunyai kenangan indah dan tetap seru bila diceritakan. lol. terima kasih telah sudi membaca tulisan abal-abal ini. )
0 komentar