Been a long time, huh.
| 2 years ago |
Ah, been a long time though.
Udah setahun gak ngeblog, rasanya kayak bisul yang mau pecah. Gak nahan.
Berbeda. Iyah, tahun 2017 akan
menjadi tahun awal lagi bagi hidup saya. Dari tahun 2011 pertengahan sampai
2016 akhir, hidup sudah ada yang jamin. Meskipun harus balikin lagi ntar.
Wkwkwk. Sekarang harus mulai ngerangkai
sendiri. 2016 menjadi tahun yang sangat bermakna menurut saya. Kejadian hidup
yang beragam, pola pikir yang berkembang (menurut penilaian saya sendiri),
ataupun proses pendewasaan diri. Maka dari itu, ikhtisar dari 2016 akan membuat
2017 menjadi berbeda. Sensasinya.
Awal-awal tahun memang belum
bisa menentukan akan seperti apa kedepannya. Tapi, sudah mulai terasa akan
bagaimana. Satu hal yang ingin saya evaluasi dari bulan desember sampai
sekarang adalah, ternyata nyari kerja itu susah ya bre. Dari akhir desember
sampai hari ini, lumayan banyak saya ngemail orang HRD untuk ngelamar magang
atau entry-level. Beberapa memang ada yang nyantol sampai interview, tapi
ekspektasi mereka tidak jatuh ke takdir saya. Ya begitulah. Ternyata begini
rasanya, tiap 5 menit sekali ngecekin hape berharap ada email balasan yang
membahagiakan. Sejauh ini lumayan sih ada. Tapi selalu diawali dengan kata
“Thank you” terus kalimat setelahnya diawali dengan “We regret to inform you”
bla bla bla. Nyesek sih, tapi ya mau gimana lagi. Pelajaran untuk saya supaya
lebih bersabar dan tak putus asa. FYI sampai sekarang saya masih ngecekin
email. Wakwau.
Semenjak saya mengambil
keputusan untuk resign dari kampus, banyak pelajaran hidup yang saya ambil.
Pertama, baru ngerasain bagaimana membuat keputusan dari pilihan yang berat.
Artinya, resikonya sama-sama tinggi. But I was very satisfied I chose to make
that particular decision by myself regardless to the risk I will face. Intinya saya
sudah mulai percaya akan diri sendiri. Udah gak semena-mena ngikut orang, atau
gampang terhasut. Kedua adalah, ternyata didunia ini masih banyak banget orang
baik. Kadang kala, kita lupa membantu mereka yang kesusahan, tapi menjadi
kaku-kaku ketika mereka adalah orang yang pertama menawarkan bantuan disaat
kita yang susah. Saya rasakan itu.
Saya orangnya pemalu. Gak
enakan. Ya layaknya kebanyakan orang indonesia. Apalagi harus membebani orang
terus-menerus. Kecuali ke pacar sih, bebas. Makanya, disaat susah pun kadang
selalu menahan untuk menunjukannya. Tapi rasa haru melanda ketika banyak yang
menawarkan bantuan. Tapi ya gitu, karena pemalu, suka malu untuk menerimanya.
Alhasil, ya tetep susah. Bego. Bahkan saya ga berani minjem uang sama sahabat
deket saya sendiri. Memang, mungkin idealisme yang saya pegang adalah
menyelesaikan semua dengan kemampuan diri sendiri. Saya yakin saya bisa, sampai
terkadang saya tak menyadari bahwa saya membutuhkan mereka dalam proses itu.
Ketiga adalah, saya mulai
merasakan hidup sesungguhnya. Bukan berarti selama ini gak hidup, tapi sensasinya
aja yang mulai terasa riil. Seringkali dulu saya sudah diberikan tujuan dari
sananya. Contohnya, saya kuliah, tujuan yang diberikan adalah lulus
matakuliahnya. Jadi ada tujuan jangka panjangnya. Sekarang, saya harus set apa
yang sebenernya saya harus lakukan secepatnya dan hal yang tak perlu saya
lakukan. Prosesnya lebih terasa. Bahkan, tak jarang saya tiba-tiba ngelamun,
merubah arah tujuan saya tanpa alasan yang jelas, lalu kayak ada perang batin
gitu.
Belum lagi mikirin hal yang
enggak-enggak. Dulu saya sering punya pikiran yang kalo ngerencanain sesuatu
yang udah menjorok berhasil, mikirin resikonya minim. Sekarang, seberhasil
apapun yang saya pikirin terhadap rencana, mikirin resikonya semakin berat.
Contohnya, kalo gue begini lebih meyakinkan, tapi gimana kalo ini, itu, dan
sebagainya. Benar-benar ujian sesungguhnya untuk meningkatkan optimisme dan
keyakinan akan diri sendiri.
Yah mau gimanapun juga, kita
hidup dari apa yang sudah kita putuskan sendiri. Sampai lebaran kuda pun, tak
ada yang bisa memutar waktu. Yang ada hanyalah bagaimana mencari colokan agar
batre keyakinan dan disiplin. Ekspektasi memang tinggi, harapan menjulang ke
awan, tapi yang membuat semua itu menjadi realita tergantung bagaimana kita
siap akan proses yang tak bisa diprediksi sekecil apapun.
Sampai April ini, tahun ini,
saya sudah merasakan itu. Mendapat uluran tangan sahabat, mendapat apresiasi
dari apa yang sudah saya tunggu berjam-jam mantengin email, dan mendapat
pengalaman dan proses pendewasaan diri yang lebih. Saya belajar, saya
menyadari, bahwa hidup memang sebuah pilihan. Sampai ketemu lagi di lain
cerita.
0 komentar