• Been a long time, huh.

    by - 14.32

    2 years ago
    Ah, been a long time though. Udah setahun gak ngeblog, rasanya kayak bisul yang mau pecah. Gak nahan.

    Berbeda. Iyah, tahun 2017 akan menjadi tahun awal lagi bagi hidup saya. Dari tahun 2011 pertengahan sampai 2016 akhir, hidup sudah ada yang jamin. Meskipun harus balikin lagi ntar. Wkwkwk.  Sekarang harus mulai ngerangkai sendiri. 2016 menjadi tahun yang sangat bermakna menurut saya. Kejadian hidup yang beragam, pola pikir yang berkembang (menurut penilaian saya sendiri), ataupun proses pendewasaan diri. Maka dari itu, ikhtisar dari 2016 akan membuat 2017 menjadi berbeda. Sensasinya.

    Awal-awal tahun memang belum bisa menentukan akan seperti apa kedepannya. Tapi, sudah mulai terasa akan bagaimana. Satu hal yang ingin saya evaluasi dari bulan desember sampai sekarang adalah, ternyata nyari kerja itu susah ya bre. Dari akhir desember sampai hari ini, lumayan banyak saya ngemail orang HRD untuk ngelamar magang atau entry-level. Beberapa memang ada yang nyantol sampai interview, tapi ekspektasi mereka tidak jatuh ke takdir saya. Ya begitulah. Ternyata begini rasanya, tiap 5 menit sekali ngecekin hape berharap ada email balasan yang membahagiakan. Sejauh ini lumayan sih ada. Tapi selalu diawali dengan kata “Thank you” terus kalimat setelahnya diawali dengan “We regret to inform you” bla bla bla. Nyesek sih, tapi ya mau gimana lagi. Pelajaran untuk saya supaya lebih bersabar dan tak putus asa. FYI sampai sekarang saya masih ngecekin email. Wakwau.

    Semenjak saya mengambil keputusan untuk resign dari kampus, banyak pelajaran hidup yang saya ambil. Pertama, baru ngerasain bagaimana membuat keputusan dari pilihan yang berat. Artinya, resikonya sama-sama tinggi. But I was very satisfied I chose to make that particular decision by myself regardless to the risk I will face. Intinya saya sudah mulai percaya akan diri sendiri. Udah gak semena-mena ngikut orang, atau gampang terhasut. Kedua adalah, ternyata didunia ini masih banyak banget orang baik. Kadang kala, kita lupa membantu mereka yang kesusahan, tapi menjadi kaku-kaku ketika mereka adalah orang yang pertama menawarkan bantuan disaat kita yang susah. Saya rasakan itu.

    Saya orangnya pemalu. Gak enakan. Ya layaknya kebanyakan orang indonesia. Apalagi harus membebani orang terus-menerus. Kecuali ke pacar sih, bebas. Makanya, disaat susah pun kadang selalu menahan untuk menunjukannya. Tapi rasa haru melanda ketika banyak yang menawarkan bantuan. Tapi ya gitu, karena pemalu, suka malu untuk menerimanya. Alhasil, ya tetep susah. Bego. Bahkan saya ga berani minjem uang sama sahabat deket saya sendiri. Memang, mungkin idealisme yang saya pegang adalah menyelesaikan semua dengan kemampuan diri sendiri. Saya yakin saya bisa, sampai terkadang saya tak menyadari bahwa saya membutuhkan mereka dalam proses itu.

    Ketiga adalah, saya mulai merasakan hidup sesungguhnya. Bukan berarti selama ini gak hidup, tapi sensasinya aja yang mulai terasa riil. Seringkali dulu saya sudah diberikan tujuan dari sananya. Contohnya, saya kuliah, tujuan yang diberikan adalah lulus matakuliahnya. Jadi ada tujuan jangka panjangnya. Sekarang, saya harus set apa yang sebenernya saya harus lakukan secepatnya dan hal yang tak perlu saya lakukan. Prosesnya lebih terasa. Bahkan, tak jarang saya tiba-tiba ngelamun, merubah arah tujuan saya tanpa alasan yang jelas, lalu kayak ada perang batin gitu.

    Belum lagi mikirin hal yang enggak-enggak. Dulu saya sering punya pikiran yang kalo ngerencanain sesuatu yang udah menjorok berhasil, mikirin resikonya minim. Sekarang, seberhasil apapun yang saya pikirin terhadap rencana, mikirin resikonya semakin berat. Contohnya, kalo gue begini lebih meyakinkan, tapi gimana kalo ini, itu, dan sebagainya. Benar-benar ujian sesungguhnya untuk meningkatkan optimisme dan keyakinan akan diri sendiri.

    Yah mau gimanapun juga, kita hidup dari apa yang sudah kita putuskan sendiri. Sampai lebaran kuda pun, tak ada yang bisa memutar waktu. Yang ada hanyalah bagaimana mencari colokan agar batre keyakinan dan disiplin. Ekspektasi memang tinggi, harapan menjulang ke awan, tapi yang membuat semua itu menjadi realita tergantung bagaimana kita siap akan proses yang tak bisa diprediksi sekecil apapun.


    Sampai April ini, tahun ini, saya sudah merasakan itu. Mendapat uluran tangan sahabat, mendapat apresiasi dari apa yang sudah saya tunggu berjam-jam mantengin email, dan mendapat pengalaman dan proses pendewasaan diri yang lebih. Saya belajar, saya menyadari, bahwa hidup memang sebuah pilihan. Sampai ketemu lagi di lain cerita. 

    You May Also Like

    0 komentar