• SAYA BUKANLAH SAYA

    by - 18.46

    Saya sempat agak iri dengan teman-teman sebaya karena mereka mengetahui lebih banyak video game, lebih banyak menonton anime favourit yang ternyata sedang trendi ataupun yang sudah bermain ke tempat yang populer yang mostly anak seumuran udah maen kesana.

    Waktu SMP saya suka iri dengan anak sebaya yang mengenakan celana seragam biru pendek, jalan-jalan sepulang sekolah. Di masa yang sama pun pernah iri dengan temen-temen yang udah tumbuh bulu betisnya, urat-urat tangan dan kaki yang menandakan mereka bertumbuh. Sekarang sih udah enggak, udah jijik ngeliatin bulu orang. Bulu sendiri aja males ngeliatin. Udah ini bukan post tentang bulu.

    Waktu SMA saya iri dengan teman-teman seperjuangan yang sudah melampaui batas yang mereka mampu, melompati rintangan-demi rintangan yang bertubi-tubi sampai mengirim mereka menjadi juara, diterima di univ-univ yang mereka mau.

    Waktu kecil, dulu sebelum disunat, iri banget sama orang yang punya tamiya. Saat itu, kelas dua SD, setelah di sunat barulah kebeli tamiya dari depan tempat sunat. Karena emang baru pada ngasih uang banyak kalo udah di sunat. Mungkin pas lagi bayi, ngiri juga ke sesama bayi yang punya roda yang bunyi itu, karena di rumah gak ada roda bayi-bayi yang bunyi.

    Iri ini iri itu, tapi tak pernah berusaha mengikuti jejak yang di-iri-kan tersebut. Saya iri dengan mereka yang sudah mengunjungi negara-negara luar, bahkan saya iri dengan orang yang seharusnya saya lebih pintar tapi orang ini udah kemana-mana.

    Sekarangpun saya iri dengan mereka yang sudah mencapai hal yang jauh, tapi saya masih mendekam di tempat, and spend all the time playing Dota 2. Saya tahu memang bahwa ini merupakan hal yang bodoh, karena ngapain ngiriin orang kalo sendirinya cuman tidur makan ngegame kerjaannya. Buang-buang waktu sendiri.

    Saat ini saya sadar, saya selalu liat mereka yang lebih dari saya, tapi tak peka dengan mereka yang kurang dari saya. Terbukti, waktu kecil, rumah saya posisinya strategik. Diseberang jalan ada rumah yang jauh lebih wah, terlihat mewah, ada mobil, dan anak yang seumuran mainannya udah motor.

    Dulu inget banget, saat itu, saya merengek, minta standar jajan dinaikan. Dari tadinya jajan ciki abal-abal yang 200 sampe 500 perak, saya minta merengek untuk beli wafer yang harganya 2000an. Mamah saya tak punya uang, tapi tetap, sekali wafer tetep wafer. Saya menangis merengek agar dapet wafer, dan akhirnya, kasbon ke tetangga yang baik.

    Dapatlah wafer itu, harga dua ribu yang isinya ada 3. Saat itu saya langsung maen ke tempat di belakang rumah yang notabene rumahnya lebih kecil, lebih biasa, dan bahkan lebih berantakan.

    Jadi rumah diseberang rumah saya adalah rumah bagus nan indah, bahkan ada saungnya, dan rumah dibelakang masih bilik/bambu, belum tembok. Saya bawa wafer itu untuk maen ke tempat belakang. Banyak anak-anak seumuran saya, bahkan sekelas di sekolah. Jadinya ya gitu, enak buat maen.

    Saya bawa wafer yang 2ribu seakan bawa emas dan menjadi orang terkaya disana. Mereka jajan ciki yg 200 pun sudah kelabakan saking senengnya. Nah ini saya bawa wafer loh, saya merasa seperti orang pertama yang bawa wafer menjelajahi samudera. Padahal, itu wafer masih ngutang, masih kasbon, karena mamah saya malu jika saya merengek menangis mengingkan wafer.

    Bahkan saya langsung melihat ketika mereka, temen-temen yang tinggal dibelakang makan sama garam dan ikan asing yang sisa. Tau gak ikan asin yang sisa itu kaya apa? Jadi di satu piring, ada serpihan-serpihan kecil tulang dan daging ikan asin yang kecil, berwarna hitam. Ga bisa bedain mana daging atau tulangnya dengan kasat mata, harus dirasa. Kalo asin-asin terus kering gitu, berarti itu daging, kalo asin-asin ternyata nanceb di gusi atau di tengah-tengah gigi berarti itu tulang. Mereka bahkan canggung untuk menawari saya makan, karena dianggap gak level. Level saya sudah jauh, mereka mikirnya seperti itu.

    Jadi saya sadar, sedari kecil, saya selalu membandingkan diri dengan orang yang sudah melampaui saya, orang yang sudah satu langkah lebih maju daripada saya, saya lupa untuk bersyukur dengan apa yang sudah saya punya.

    Saya iri dengan gaji yang sedikit tapi tidak pernah memikirkan orang yang dateng ke satu tempat ke yang lainnya membawa dokumen-dokumen lengkap mencari pekerjaan kesana kesini. Saya lupa untuk bersyukur.

    Saya pun tak punya arah dan tujuan yang jelas karena keinginan untuk mencapai semuanya. Tak konsisten apa yang saya mau. Ingin menjadi ini kaya si A, ingin bisa melakukan ini kaya si B, ah cobain ini biar kayak si C bisa kemana-kemana. Tanpa tahu kalo area ini adalah area yang saya senangi, yang saya minati. Saya bukanlah saya dengan semua ini, dengan semua ke-iri-an ini, dengan semua yang saya kerjakan dimulai dari keinginan untuk menjadi orang lain.

    Karenanya saya cuman disini, bermain dota2 dengan anteng dengan mmr yang naik turun naik turun balik modal. Tak sadar ratusan jam saya habiskan hanya untuk bermain game, dan sebelum tidur saya kembali iri melihat instagram stories dan facebook orang-orang yang check in di tempat wisata karena beasiswa, orang-orang yg apdet kerjaan di tempat kerja yang elit, orang-orang yang menunjukan antusiasmenya terhadap apa yang sedang mereka kerjakan.

    Saya pun hanya bisa menuliskannya, saya hanya bisa menyadari tapi raga tetap pada Mode: Males untuk merubah kebiasaan ini. Inilah saya, si tukang iri, yang hanya bisa iri, tanpa mau berubah, dan selalu tidak bersyukur dengan apa yang sudah dipunya. Saya pun iri dengan orang yang sudah berjalan ke masjid sebelum adzan maghrib menunggu berjamaah, tapi saya masih disini, dengan kaki yang dilipat, laptop diatas cooler yang saya taro tepat di atas paha, menuliskan ke-iri-an ini bersantai menuju shalat maghrib yang 15 menit lagi waktunya mau abis.

    Terima kasih, iri.



    You May Also Like

    0 komentar