SAYA BUKANLAH SAYA
Saya sempat
agak iri dengan teman-teman sebaya karena mereka mengetahui lebih banyak video
game, lebih banyak menonton anime favourit yang ternyata sedang trendi ataupun
yang sudah bermain ke tempat yang populer yang mostly anak seumuran udah maen
kesana.
Waktu SMP saya
suka iri dengan anak sebaya yang mengenakan celana seragam biru pendek,
jalan-jalan sepulang sekolah. Di masa yang sama pun pernah iri dengan
temen-temen yang udah tumbuh bulu betisnya, urat-urat tangan dan kaki yang
menandakan mereka bertumbuh. Sekarang sih udah enggak, udah jijik ngeliatin
bulu orang. Bulu sendiri aja males ngeliatin. Udah ini bukan post tentang bulu.
Waktu SMA saya
iri dengan teman-teman seperjuangan yang sudah melampaui batas yang mereka
mampu, melompati rintangan-demi rintangan yang bertubi-tubi sampai mengirim
mereka menjadi juara, diterima di univ-univ yang mereka mau.
Waktu kecil,
dulu sebelum disunat, iri banget sama orang yang punya tamiya. Saat itu, kelas
dua SD, setelah di sunat barulah kebeli tamiya dari depan tempat sunat. Karena
emang baru pada ngasih uang banyak kalo udah di sunat. Mungkin pas lagi bayi,
ngiri juga ke sesama bayi yang punya roda yang bunyi itu, karena di rumah gak
ada roda bayi-bayi yang bunyi.
Iri ini iri
itu, tapi tak pernah berusaha mengikuti jejak yang di-iri-kan tersebut. Saya
iri dengan mereka yang sudah mengunjungi negara-negara luar, bahkan saya iri
dengan orang yang seharusnya saya lebih pintar tapi orang ini udah kemana-mana.
Sekarangpun
saya iri dengan mereka yang sudah mencapai hal yang jauh, tapi saya masih
mendekam di tempat, and spend all the
time playing Dota 2. Saya tahu memang bahwa ini merupakan hal yang bodoh,
karena ngapain ngiriin orang kalo sendirinya cuman tidur makan ngegame
kerjaannya. Buang-buang waktu sendiri.
Saat ini saya
sadar, saya selalu liat mereka yang lebih dari saya, tapi tak peka dengan
mereka yang kurang dari saya.
Terbukti, waktu kecil, rumah saya posisinya strategik. Diseberang jalan ada
rumah yang jauh lebih wah, terlihat mewah, ada mobil, dan anak yang seumuran
mainannya udah motor.
Dulu inget
banget, saat itu, saya merengek, minta standar jajan dinaikan. Dari tadinya
jajan ciki abal-abal yang 200 sampe 500 perak, saya minta merengek untuk beli
wafer yang harganya 2000an. Mamah saya tak punya uang, tapi tetap, sekali wafer
tetep wafer. Saya menangis merengek agar dapet wafer, dan akhirnya, kasbon ke
tetangga yang baik.
Dapatlah wafer
itu, harga dua ribu yang isinya ada 3. Saat itu saya langsung maen ke tempat di
belakang rumah yang notabene rumahnya lebih kecil, lebih biasa, dan bahkan
lebih berantakan.
Jadi rumah
diseberang rumah saya adalah rumah bagus nan indah, bahkan ada saungnya, dan
rumah dibelakang masih bilik/bambu,
belum tembok. Saya bawa wafer itu untuk maen ke tempat belakang. Banyak
anak-anak seumuran saya, bahkan sekelas di sekolah. Jadinya ya gitu, enak buat
maen.
Saya bawa wafer
yang 2ribu seakan bawa emas dan menjadi orang terkaya disana. Mereka jajan ciki
yg 200 pun sudah kelabakan saking senengnya. Nah ini saya bawa wafer loh, saya
merasa seperti orang pertama yang bawa wafer menjelajahi samudera. Padahal, itu
wafer masih ngutang, masih kasbon, karena mamah saya malu jika saya merengek
menangis mengingkan wafer.
Bahkan saya
langsung melihat ketika mereka, temen-temen yang tinggal dibelakang makan sama
garam dan ikan asing yang sisa. Tau gak ikan asin yang sisa itu kaya apa? Jadi
di satu piring, ada serpihan-serpihan kecil tulang dan daging ikan asin yang
kecil, berwarna hitam. Ga bisa bedain mana daging atau tulangnya dengan kasat
mata, harus dirasa. Kalo asin-asin terus kering gitu, berarti itu daging, kalo
asin-asin ternyata nanceb di gusi atau di tengah-tengah gigi berarti itu
tulang. Mereka bahkan canggung untuk menawari saya makan, karena dianggap gak
level. Level saya sudah jauh, mereka mikirnya seperti itu.
Jadi saya
sadar, sedari kecil, saya selalu membandingkan diri dengan orang yang sudah
melampaui saya, orang yang sudah satu langkah lebih maju daripada saya, saya
lupa untuk bersyukur dengan apa yang sudah saya punya.
Saya iri dengan
gaji yang sedikit tapi tidak pernah memikirkan orang yang dateng ke satu tempat
ke yang lainnya membawa dokumen-dokumen lengkap mencari pekerjaan kesana
kesini. Saya lupa untuk bersyukur.
Saya pun tak
punya arah dan tujuan yang jelas karena keinginan untuk mencapai semuanya. Tak konsisten
apa yang saya mau. Ingin menjadi ini kaya si A, ingin bisa melakukan ini kaya
si B, ah cobain ini biar kayak si C bisa kemana-kemana. Tanpa tahu kalo area
ini adalah area yang saya senangi, yang saya minati. Saya bukanlah saya dengan
semua ini, dengan semua ke-iri-an ini, dengan semua yang saya kerjakan dimulai
dari keinginan untuk menjadi orang lain.
Karenanya saya
cuman disini, bermain dota2 dengan anteng dengan mmr yang naik turun naik turun
balik modal. Tak sadar ratusan jam saya habiskan hanya untuk bermain game, dan
sebelum tidur saya kembali iri melihat instagram stories dan facebook
orang-orang yang check in di tempat wisata karena beasiswa, orang-orang yg
apdet kerjaan di tempat kerja yang elit, orang-orang yang menunjukan
antusiasmenya terhadap apa yang sedang mereka kerjakan.
Saya pun hanya
bisa menuliskannya, saya hanya bisa menyadari tapi raga tetap pada Mode: Males untuk merubah kebiasaan ini.
Inilah saya, si tukang iri, yang hanya bisa iri, tanpa mau berubah, dan selalu
tidak bersyukur dengan apa yang sudah dipunya. Saya pun iri dengan orang yang
sudah berjalan ke masjid sebelum adzan maghrib menunggu berjamaah, tapi saya
masih disini, dengan kaki yang dilipat, laptop diatas cooler yang saya taro
tepat di atas paha, menuliskan ke-iri-an ini bersantai menuju shalat maghrib
yang 15 menit lagi waktunya mau abis.
Terima kasih,
iri.

0 komentar