• Kenapa harus "Aing"

    by - 00.30


    Terlahir dari keluarga besar (10 bersaudara) dengan lingkungan yang berbicara Sunda halus, membuat keluarga kami sangat tidak suka jika salah satu anggota keluarga berbicara bahasa Sunda yang kasar atau terdengar kotor.

    Contohnya, bahasa Sunda nya “Saya” yang halus adalah “Abdi/abi (simplest form)” dan orang diluar rumah atau tetangga biasanya “urang” atau yg lebih ekstrim dikalangan milenial adalah “aing”. Nyebut diri sendiri “urang” dikalangan internal keluarga, ngerasa bersalahnya udah besar banget plus dijutekin atau ditegur kok ngomongnya kasar. Gitu.

    “Mau” kalo di bahasa Sunda yang baik adalah “Hoyong”, tapi tetangga dan khalayak diluar lingkungan rumah bilang “Hayang”. Dan sama, ketika kami, anggota keluarga bilang “Hayang” ngerasa bersalahnya udah besar banget, plus dijutekin juga, dan ditegur juga. Gitu lagi.

    Nah kalo ngomong disatuin dari “Abdi hoyong..” menjadi “Urang hayang”, udah dicap kasar banget lah kami didalam keluarga. Jadi itu karakter kami sebagai keluarga besar, berbicara Sunda halus. Sangat seperti itu.

    Namun, seiring bertambahnya kedewasaan, lama kelamaan saya sebagai salah satu anggota keluarga bisa menyesuaikan, jika didalam rumah berbicara halus, jika diluar rumah sabodoteuing (terserah). Iya gitu.

    Selepas lulus SD, saya keluar dari lingkungan rumah dan dikirim ke sebuah pesantren diluar kota. Iya dikirim, karena waktu itu ngerasa bangga jika ditanya kepesantren atas kemauan sendiri apa orang tua, kalo kemauan sendiri terlalu biasa, kalo bilang kemauan orang tua bangga karena ngerasa wah saya patuh. Lama kelamaan, mikir, siapa juga yang mau liat, orang gak ada esensinya.

    Di SMP, udah mulai bergaul dengan temen-temen seperjuangan, ya biasa karena perokok, pasti gaulnya sesama perokok. Jadi udah kebayang bahasanya kaya gimana, kalo orang tua bilang, kami ngobrol berasa di kebun binatang, ngabsenin hewan terus menerus. Makanya di kalangan konversasi kami, Anjing, babi dan monyet selalu hadir.

    Dari “Abdi” (di keluarga) ke “urang” (diluar rumah) dan ke “Aing”(di pesantren) adalah satu metamorfosa yang sangat cantik bagi hidup saya. Entah apa maksudnya, tapi yang jelas ini adalah mode penyesuaian sebagaimana Charles Darwin hasilkan dalam teorinya “Survival of the fittest” yaitu, kalo gak bisa menyatu, gak bisa bertahan hidup.

    Di Pesantren layaknya berbicara ke sesama hewan, mau sedih mau ekspresif mau marah, mau ngobrol biasa pun kami tak lepas dengan berkata kasar atau diam. Ada beberapa yang berusaha berkata baik, tapi di ceng in. Bukan salah kami, tapi salah dia yang tak bisa nyesuain.

    (Ya gak bisa gitu dong,yg ada yg kasar harus nyesuain yang baik).

    Ya bisa gitu lah, sekarang bayangin ada sekumpulan orang yang ngerokok terus dateng satu yang tiba-tiba bawa poster bahaya rokok, bakal gimana kira-kira kondisi setelahnya?

    (iyain aja deh)

    Ya harus. Orang ini tulisan saya, kalo mau nulis ya nulis aja sendiri, yeee.

    Banyak yang bilang, persahabatan yang sudah kuat akan berubah dari “aku kamu” menjadi “bangsat babi”. And I personally will say it so damn true.

    Ketika seseorang sudah biasa berkata semaunya dia ke orang lain dan mendapatkan respon yang sama, maka secara bersamaan, ada ikatan emosi yang juga tersampaikan ke orang lain tersebut. Pada akhirnya, saling merasa bahwa satu dan yang lain mempunyai kesamaan dan duarrrr bersahabat dan terikat luar biasa. . (Acep, 2018).

    Lulus SMP, berangkat ke kota lain, lebih jauh dari lingkungan rumah. SMA menjadi rumah dengan semuanya berbahasa Indonesia setidaknya. Jarang banget yang berbahasa daerah. Meskipun ada sesama orang Sunda tapi tetep karena lingkungan, tetep ngobrol pake bahasa Indonesia.

    Menariknya, banyak lagi versi bagaimana mengatakan “Abdi” atau “urang” atau “aing”. Karena bahasa Indonesia juga ada “Aku” ada “saya” ada juga “gw”.

    Terbawa arus, kesana kesini, yang kadang bilang “aku”, “saya” ataupun “gw” dalam obrolan. Ngobrol ke temen misalnya, rame-rame, yang orang kota biasanya selalu mengawali dengan gw, yang gak terbiasa ngomong yang berasal dari daerah-daerah yang unik. Kadang dalem hati mikir buat nyesuain pake “gw” tapi selama ngobrol berubah-berubah.

    “Kalo gw mah ini gak bisa………. Nah kemarin aku juga gitu”.

    Lihat betapa tidak konsistennya, udah “gw” tapi ada “mah”. Butuh beberapa momen untuk menyesuaikan, enaknya menggunakan panggilan orang pertama dengan apa. SMA berlokasi di Bogor, masih dengan lingkungan masyarakat yang mayoritas Bahasa Sunda, tapi karena berasrama, didalam tetap saja nyampur dan banyak murid yang berasal dari daerah lain. Maka, Bahasa yang kami gunakan adalah Bahasa Indonesia sebagai Bahasa umum.

     Apalagi pas udah punya pacar. Udah maen “yang” panggilannya.
    Sudah cukup, tidak untuk mengumbar kemesraan kepada khalayak yang random.

    3 tahun berada di sekolah yang multicultural membuat Bahasa percakapan menjadi tidak konsisten. Melanjutkan kuliah di Ibukota membuat bahasa Sunda saya tergerus. Bahkan ketika lebaranan, kembali lagi ke rumah, berasa susah untuk menjelaskan bagaimana meminta tolong untuk belikan kuota dalam bahasa Sunda yang halus.

    Bawaanya pengen bilang “Beliin kuota dong Mah buat gw” gitu dia.

    Lingkungan yang jauh dari bahasa Ibu membuat saya berpikir ulang kembali dalam memakai kosa kata orang pertama pada tulisan yang menceritakan tentang pandangan. Dalam dunia kepenulisan, saya sering mudah terpengaruhi oleh tulisan orang lain atau idola, bagaimana dia menyebut dirinya sendiri, ada yang “saya”, ada yang “gw” ada pula yang “aku”.

    Hal itu membuat tulisan di blog menjadi tidak konsisten dan sangat tidak menunjukan sebuah tulisan yang berkarakter. Untuk itu, mulai saat ini saya akan memanggil diri saya “aing” dalam tulisan apapun di blog ini.

    Kenapa “aing”, gak “abdi” atau “aku” atau lebih cocok “gw” atau malah “saya”?

    Saya tak akan lupa darimana saya berasal, bahasa ibu saya, Sunda, dan saya bangga menjadi orang Sunda, menjadi orang Garut. Dimanapun saya, saya tetap orang Sunda. Makanya saya pilih menggunakan Sunda.

    Oke, “aing” kan kasar, kenapa gak “Abdi” atau “Urang” aja?

    “Abdi” hanya dipakai didalam rumah, dari kecil,, dilingkungan yang memang sudah ada sedari lahir. Kesannya mengikuti keluarga dari lahir. “Urang” dipake saat bercengkrama di luar rumah, masih di lingkungan deket rumah, dengan temen-temen rumah, dan saya hanya lama tinggal dirumah saat SD, setelah lulus sampai sekarang merantau.

    Dan “Aing” adalah dimana saya menentukan siapa saya, apa yang ingin saya lakukan, saya lakukan, meskipun terkesan kurang baik dimata masyarakat. Contoh, ngerokok, kabur, selama SMP. Tapi konversasi menggunakan “aing” saat itu terkesa intim, karena dengan orang-orang yang sepemikiran sama. Tulus.

    Saat SMA dan kuliah pun sama, bercakap dengan teman yang nyaman selalu menggunakan “aing”.

    Oleh karena itu, menjadi “aing” adalah benar-benar mewakilkan diri saya untuk apa yang saya tulis dan ekspresikan kedalam semua tulisan saya, khususnya di blog ini. dan akan selalu saya pertanggungjawabkan. 

    :-) Cheers :-)






    You May Also Like

    0 komentar