Kenapa harus "Aing"
Terlahir dari keluarga besar (10 bersaudara) dengan
lingkungan yang berbicara Sunda halus, membuat keluarga kami sangat tidak suka
jika salah satu anggota keluarga berbicara bahasa Sunda yang kasar atau
terdengar kotor.
Contohnya, bahasa Sunda nya “Saya” yang halus adalah
“Abdi/abi (simplest form)” dan orang diluar rumah atau tetangga biasanya
“urang” atau yg lebih ekstrim dikalangan milenial adalah “aing”. Nyebut diri
sendiri “urang” dikalangan internal keluarga, ngerasa bersalahnya udah besar
banget plus dijutekin atau ditegur kok
ngomongnya kasar. Gitu.
“Mau” kalo di bahasa Sunda yang baik adalah “Hoyong”,
tapi tetangga dan khalayak diluar lingkungan rumah bilang “Hayang”. Dan sama,
ketika kami, anggota keluarga bilang “Hayang” ngerasa bersalahnya udah besar
banget, plus dijutekin juga, dan ditegur juga. Gitu lagi.
Nah kalo ngomong disatuin dari “Abdi hoyong..” menjadi
“Urang hayang”, udah dicap kasar banget lah kami didalam keluarga. Jadi itu
karakter kami sebagai keluarga besar, berbicara Sunda halus. Sangat seperti itu.
Namun, seiring bertambahnya kedewasaan, lama kelamaan
saya sebagai salah satu anggota keluarga bisa menyesuaikan, jika didalam rumah
berbicara halus, jika diluar rumah sabodoteuing
(terserah). Iya gitu.
Selepas lulus SD, saya keluar dari lingkungan rumah dan
dikirim ke sebuah pesantren diluar kota. Iya dikirim, karena waktu itu ngerasa
bangga jika ditanya kepesantren atas kemauan sendiri apa orang tua, kalo
kemauan sendiri terlalu biasa, kalo bilang kemauan orang tua bangga karena
ngerasa wah saya patuh. Lama
kelamaan, mikir, siapa juga yang mau liat, orang gak ada esensinya.
Di SMP, udah mulai bergaul dengan temen-temen
seperjuangan, ya biasa karena perokok, pasti gaulnya sesama perokok. Jadi udah
kebayang bahasanya kaya gimana, kalo orang tua bilang, kami ngobrol berasa di
kebun binatang, ngabsenin hewan terus
menerus. Makanya di kalangan konversasi kami, Anjing, babi dan monyet selalu
hadir.
Dari “Abdi” (di keluarga) ke “urang” (diluar rumah) dan
ke “Aing”(di pesantren) adalah satu metamorfosa yang sangat cantik bagi hidup
saya. Entah apa maksudnya, tapi yang jelas ini adalah mode penyesuaian
sebagaimana Charles Darwin hasilkan dalam teorinya “Survival of the fittest” yaitu, kalo gak bisa menyatu, gak bisa
bertahan hidup.
Di Pesantren layaknya berbicara ke sesama hewan, mau
sedih mau ekspresif mau marah, mau ngobrol biasa pun kami tak lepas dengan
berkata kasar atau diam. Ada beberapa yang berusaha berkata baik, tapi di ceng
in. Bukan salah kami, tapi salah dia yang tak bisa nyesuain.
(Ya gak bisa gitu
dong,yg ada yg kasar harus nyesuain yang baik).
Ya bisa gitu lah, sekarang bayangin ada sekumpulan orang
yang ngerokok terus dateng satu yang tiba-tiba bawa poster bahaya rokok, bakal
gimana kira-kira kondisi setelahnya?
(iyain aja deh)
Ya harus. Orang ini tulisan saya, kalo mau nulis ya nulis
aja sendiri, yeee.
Banyak yang bilang, persahabatan yang sudah kuat akan
berubah dari “aku kamu” menjadi “bangsat babi”. And I personally will say it so damn true.
Ketika seseorang sudah biasa berkata semaunya dia ke
orang lain dan mendapatkan respon yang sama, maka secara bersamaan, ada ikatan
emosi yang juga tersampaikan ke orang lain tersebut. Pada akhirnya, saling
merasa bahwa satu dan yang lain mempunyai kesamaan dan duarrrr bersahabat dan
terikat luar biasa. . (Acep, 2018).
Lulus SMP, berangkat ke kota lain, lebih jauh dari
lingkungan rumah. SMA menjadi rumah dengan semuanya berbahasa Indonesia
setidaknya. Jarang banget yang berbahasa daerah. Meskipun ada sesama orang
Sunda tapi tetep karena lingkungan, tetep ngobrol pake bahasa Indonesia.
Menariknya, banyak lagi versi bagaimana mengatakan “Abdi”
atau “urang” atau “aing”. Karena bahasa Indonesia juga ada “Aku” ada “saya” ada
juga “gw”.
Terbawa arus, kesana kesini, yang kadang bilang “aku”,
“saya” ataupun “gw” dalam obrolan. Ngobrol ke temen misalnya, rame-rame, yang
orang kota biasanya selalu mengawali dengan “gw”, yang gak terbiasa ngomong yang berasal dari
daerah-daerah yang unik. Kadang dalem hati mikir buat nyesuain pake “gw” tapi selama ngobrol berubah-berubah.
“Kalo gw mah ini gak bisa………. Nah kemarin aku juga gitu”.
Lihat betapa tidak konsistennya, udah “gw” tapi ada “mah”.
Butuh beberapa momen untuk menyesuaikan, enaknya menggunakan panggilan orang
pertama dengan apa. SMA berlokasi di Bogor, masih dengan lingkungan masyarakat
yang mayoritas Bahasa Sunda, tapi karena berasrama, didalam tetap saja nyampur
dan banyak murid yang berasal dari daerah lain. Maka, Bahasa yang kami gunakan
adalah Bahasa Indonesia sebagai Bahasa umum.
Apalagi pas udah
punya pacar. Udah maen “yang” panggilannya.
Sudah cukup, tidak untuk mengumbar kemesraan kepada
khalayak yang random.
3 tahun berada di sekolah yang multicultural membuat Bahasa
percakapan menjadi tidak konsisten. Melanjutkan kuliah di Ibukota membuat bahasa Sunda saya tergerus. Bahkan
ketika lebaranan, kembali lagi ke rumah, berasa susah untuk menjelaskan
bagaimana meminta tolong untuk belikan kuota dalam bahasa Sunda yang halus.
Bawaanya pengen bilang “Beliin kuota dong Mah buat gw”
gitu dia.
Lingkungan yang jauh dari bahasa Ibu membuat saya
berpikir ulang kembali dalam memakai kosa kata orang pertama pada tulisan yang
menceritakan tentang pandangan. Dalam dunia kepenulisan, saya sering mudah
terpengaruhi oleh tulisan orang lain atau idola, bagaimana dia menyebut dirinya
sendiri, ada yang “saya”, ada yang “gw” ada pula yang “aku”.
Hal itu membuat tulisan di blog menjadi tidak konsisten
dan sangat tidak menunjukan sebuah tulisan yang berkarakter. Untuk itu, mulai
saat ini saya akan memanggil diri saya “aing” dalam tulisan apapun di blog ini.
Kenapa “aing”, gak “abdi” atau “aku” atau lebih cocok
“gw” atau malah “saya”?
Saya tak akan lupa darimana saya berasal, bahasa ibu
saya, Sunda, dan saya bangga menjadi orang Sunda, menjadi orang Garut.
Dimanapun saya, saya tetap orang Sunda. Makanya saya pilih menggunakan Sunda.
Oke, “aing” kan kasar, kenapa gak “Abdi” atau “Urang”
aja?
“Abdi” hanya dipakai didalam rumah, dari kecil,,
dilingkungan yang memang sudah ada sedari lahir. Kesannya mengikuti keluarga
dari lahir. “Urang” dipake saat bercengkrama di luar rumah, masih di lingkungan
deket rumah, dengan temen-temen rumah, dan saya hanya lama tinggal dirumah saat
SD, setelah lulus sampai sekarang merantau.
Dan “Aing” adalah dimana saya menentukan siapa saya, apa
yang ingin saya lakukan, saya lakukan, meskipun terkesan kurang baik dimata
masyarakat. Contoh, ngerokok, kabur, selama SMP. Tapi konversasi menggunakan
“aing” saat itu terkesa intim, karena dengan orang-orang yang sepemikiran sama.
Tulus.
Saat SMA dan kuliah pun sama, bercakap dengan teman yang
nyaman selalu menggunakan “aing”.
Oleh karena itu, menjadi “aing” adalah benar-benar
mewakilkan diri saya untuk apa yang saya tulis dan ekspresikan kedalam semua
tulisan saya, khususnya di blog ini. dan akan selalu saya pertanggungjawabkan.
:-) Cheers :-)
0 komentar