Dimulai jadi Santri- #Ep01
“Sok Acep teh sing betah didiena, sing rajin belajarna, ibadahna, doain
mamah bapak sing panjang umur, sing seer rezekina, cing karunya ka nu
nyakolaken Acep, janten kedah leres-leres didiena muhun” wejangan mamah
sebelum pulang meninggalkan aing di pesantren ini. Jangan harap ada terjemahan, karena sunda kelak akan menjadi bahasa manusia, seutuhnya.
Pinggir jalan, mesjid,
warung, kamar gede berisi 30 an santri, wc, dapur, tempat makan, ternyata
tempat ini akan menjadi sejarah untuk menghabiskan waktu di umur 12 tahun kedepan.
Sebuah tempat yang disebut pesantren diwilayah kota santri, Tasikmalaya.
“Dadah Mamah, Bapak”.
Dan akhirnya, lambaian terakhir orang tua sudah dilakukan dan mereka
meninggalkan aing dengan mobil Suzuki Carry yang di sewanya.
Akhirnya semua dimulai
dari sekarang.
Waktu itu, hari masih
terbilang sore, setelah lambaian dadah dengan mamah, aing memutuskan untuk ke
kamar. Pemalu, bahkan sangat pemalu waktu itu, untungnya ada teman satu kampung
yang memutuskan untuk mempunyai takdir yang sama di masa SMP nya. Bukan takdir,
tapi jalan hidup.
Fikri namanya. Berporos
ganteng, lebih tinggi dari aing, dan anaknya hyperaktif. Tinggal di kampung
yang jaraknya sekitar sekiloan dari rumah. Awal-awal itu, aing selalu bersama dia, karena belum banyak yang bisa kami ajak kenalan. Maklum, anak baru.
“Darimana?” tanya anak
baru.
“Bayongbong, Garut”
tegas aing.
“Lutfi, Rajapolah”
“Acep”. Tangan kami
berjabat dan yes aing kenal teman baru. Namanya lutfi, orang Rajapolah. Tempat
yang baru denger kalo dinamain raja tapi dipolah. Sepantaran kita, dan
sepertinya mempunyai kadar malu yang sama dengan gw, tapi entahlah.
Jam sudah mau maghrib,
jadi tak banyak orang yang bisa diajak kenalan. Pertama karena malu-malu untuk
mulai, kedua karena memang sudah waktunya untuk bersiap-siap ke masjid.
“Yuk Fik, mandi”. Kami
turun kebawah karena letak asrama yang berada dilantai dua. Tepatnya diatas
salah satu ruangan kelas.
Gebrass, gebruss,
siukan air dengan gayung dari bak yang terbuat dari gentongan gede. Biasanya
dibuat untuk nyimpen pupuk. Kondisi awal wc terlihat bersih, walaupun bau khas
dari pesingnya masih bisa tercium. Air dari keran cukup keras mengalir dan
jreng, sudah siap dengan baju koko putih yang masih baru dan sarung hitam cap
gajah duduk untuk berangkat ke masjid.
Di pesantren itu, ada
kegiatan sebelum shalat maghrib. Jadi ketika adzan maghrib jam 6 sore, setengah
jam sebelum sudah diwajibkan hadir di masjid untuk membacakan doa sore yang
disebut Al-Matsurat. Satu orang
memimpin didepan, biasanya senior atau osisnya pesantren. Kadang ada juga yang
tingkat-tingkat bawah yang ikhlas untuk memimpin. Atau memang sudah hukumannya harus memimpin.
Hmmmm, lumayan banyak juga. Pikir aing dalam hati melihat sekeliling. Masih awal, aing mencoba untuk duduk di shaf paling
depan. Lihat kebelakang sudah banyak yang duduk dan membacakan doa yang sama
sambil memegang buku kecil berisi doa sore itu. Kadang diluar ada yang berisik,
biasanya senior yang ingin cari perhatian anak baru. Menunjukan eksistensinya untuk
sekedar menyapa “halo nyet, gw senior lu, gw udah tahu daerah sini, lu belum,
jadi hormati gw”. gitu.
Sudah sangat normal
disebuah pesantren, cowok dan cewek, ikhwan dan akhwat itu dipisah. Jadi,
selama dipesantren, merupakan satu larangan tegas untuk bertemu, dan bercampur
aduk dengan lawan jenis. Jadi ya setiap hari, yang dilihat ya kumis lagi, kumis
lagi. Bukan bedak putih.
Adzan berkumandang,
santri-santri mengantri untuk menunggu giliran berwudhu. Ada yang bercanda ria,
ada yang mengobrol, ada juga yang gak ada kerjaannya menyemprot-nyemprotkan air
dan membuat antrian semakin lama.
Aing ya cuman bisa
berdiri dan melihat saja. Tak bisa menegur atau melarangnya. Pertama karena gak
tau itu siapa, kedua karena ya itu, malu-malu kecoa.
Setelah maghrib katanya
selalu ada pengajian bareng atau per kelas. Karena masih awal-awal, digunakan
untuk sharing dari senior ke murid
baru. Ya semacam pre-orientasi saja. Aing sempetin untuk berkenalan dengan sesama
anak baru. Satu persatu kenal, ada Taufik, Angga, Dawi, Dindin, Firmansyah,
Rahman, dan masih banyak lagi.
Akhirnya tibalah waktu
makan setelah shalat Isya bareng dimesjid. Sempat ada bisikan bahwa makannya
harus satu piring berempat. Dalam hati wah
mana cukup berempat satu piring. Ruang dapur yang lumayan luas, ada
kursi-kursi kecil yang disusun dan dibalik karena disiang hari, ruang dapur ini
dipakai untuk sekolah TK dan Paud untuk warga sekitar.
“Silahkan cari teman
makan berempat. Satu talam berisi 4
orang” teriak salah satu pengurus OSIS yang mengurus urusan makanan dan dapur.
Lumayan besar talamnya.
Dan cukup untuk kami berempat. Teman pertama makan adalah Fikri tentunya, dan
dua lagi adalah anak baru juga yang baru kenalan. Angga dan Dawi, dua orang
santri baru asal Singaparna.
“Bismillahirahmanirrahim”
teriak satu orang dari sudut sana. Ini adalah pembacaan doa sebelum makan. Akan
selalu ada satu orang yang memimpin untuk berdoa dan diikuti oleh yang lainnya.
Sebelum itu, kita dilarang memakan bahkan menyentuh makanan sekalipun. Ada satu
atau dua pengurus yang matanya tajem banget. Liat sini liat sana. Kalo ketahuan
makan duluan, ditegur, bahkan bisa diteriakin atau disuruh push up.
Dipesantren, kita
dianjurkan untuk makan dengan tiga jari saja. Karena ada hadist bahwa Nabi
Muhammad dulunya selalu makan pakai 3 jari. Awalnya belum terbiasa, ada nasi
yang jatuh, dan akhirnya kebeberan. Malu juga diketawain gara-gara belum bisa
makan pake tiga jari. Mekanisme yang benar adalah, jangan pake jari manis dan
kelingking. Dua jari itu ditekuk dan diharamkan menyentuh makanan.
Pada akhirnya, sambil
melirik satu sama lain, ketawa-ketiwi kecil, habislah makanan itu. Tak ada satu
sisa nasi sebutir pun. Biasanya, dijendela antara ruang makan dan dapur
disediakan nasi tambahan bila memang kurang. Bahkan bisa dengan lauknya. Tapi
aing rasa harus dicukupkan karena kalo lapar, ada makanan bawaan dari kampung
untuk disantap bila memang harus makan lagi tengah malam.
“Ahhhhhhh” tenang sudah
setelah semuanya akan kembali tidur. Ada perasaan berbeda. Biasanya sebelum
tidur nonton sinetron, biasanya sebelum tidur bisa melihat mamah masih di
mushola, biasanya sebelum tidur ditanya udah makan belum sama mamah, biasanya
sebelum tidur ada bapak yang duduk melamun di ruang tamu sembari merokok,
biasanya sebelum tidur ada adik yang rewel, biasanya sebelum tidur ada kasur
dan dua bantal, biasanya sebelum tidur ada filem bioskop trans tv, biasanya ada
kebiasaan sebelum tidur, dan sekarang tak ada.
Sekarang, lihat kanan
ada yang sedang mengurai karpet baru untuk tidur, ada yang sedang memasukan
bantal ke sarungnya, ada yang masih membereskan lemari, ada yang nyempetin
kenalan. Liat kiri udah ada yang tidur dibalut selimut, udah ada yang tiduran
tapi masih ngobrol, lihat sekeliling orang baru. Orang baru yang kedepannya
akan jadi teman seperjuangan. Orang baru yang nantinya akan bahu membahu
menjalani hari demi hari di pesantren ini.
Ya meskipun ada yang
postur kecil, masih kekanak-kananakan, masih ada yang nangis, macam-macam.
Hari pertama itu
menjadi satu hari bersejarah, memulai kehidupan baru, 20 kilo perjalanan dari
tempat orang tua, uang jajan bulanan yang harus dicukup-cukupkan, dan semua
orang baru ini. Ahhhhhhhhh.
0 komentar