• Dimulai jadi Santri- #Ep01

    by - 11.21


    Sok Acep teh sing betah didiena, sing rajin belajarna, ibadahna, doain mamah bapak sing panjang umur, sing seer rezekina, cing karunya ka nu nyakolaken Acep, janten kedah leres-leres didiena muhun” wejangan mamah sebelum pulang meninggalkan aing di pesantren ini. Jangan harap ada terjemahan, karena sunda kelak akan menjadi bahasa manusia, seutuhnya.

    Pinggir jalan, mesjid, warung, kamar gede berisi 30 an santri, wc, dapur, tempat makan, ternyata tempat ini akan menjadi sejarah untuk menghabiskan waktu di umur 12 tahun kedepan. Sebuah tempat yang disebut pesantren diwilayah kota santri, Tasikmalaya.

    “Dadah Mamah, Bapak”. Dan akhirnya, lambaian terakhir orang tua sudah dilakukan dan mereka meninggalkan aing dengan mobil Suzuki Carry yang di sewanya.

    Akhirnya semua dimulai dari sekarang.

    Waktu itu, hari masih terbilang sore, setelah lambaian dadah dengan mamah, aing memutuskan untuk ke kamar. Pemalu, bahkan sangat pemalu waktu itu, untungnya ada teman satu kampung yang memutuskan untuk mempunyai takdir yang sama di masa SMP nya. Bukan takdir, tapi jalan hidup.

    Fikri namanya. Berporos ganteng, lebih tinggi dari aing, dan anaknya hyperaktif. Tinggal di kampung yang jaraknya sekitar sekiloan dari rumah. Awal-awal itu, aing selalu bersama dia, karena belum banyak yang bisa kami ajak kenalan. Maklum, anak baru.

    “Darimana?” tanya anak baru.
    “Bayongbong, Garut” tegas aing.
    “Lutfi, Rajapolah”
    “Acep”. Tangan kami berjabat dan yes aing kenal teman baru. Namanya lutfi, orang Rajapolah. Tempat yang baru denger kalo dinamain raja tapi dipolah. Sepantaran kita, dan sepertinya mempunyai kadar malu yang sama dengan gw, tapi entahlah.

    Jam sudah mau maghrib, jadi tak banyak orang yang bisa diajak kenalan. Pertama karena malu-malu untuk mulai, kedua karena memang sudah waktunya untuk bersiap-siap ke masjid. 

    “Yuk Fik, mandi”. Kami turun kebawah karena letak asrama yang berada dilantai dua. Tepatnya diatas salah satu ruangan kelas.

    Gebrass, gebruss, siukan air dengan gayung dari bak yang terbuat dari gentongan gede. Biasanya dibuat untuk nyimpen pupuk. Kondisi awal wc terlihat bersih, walaupun bau khas dari pesingnya masih bisa tercium. Air dari keran cukup keras mengalir dan jreng, sudah siap dengan baju koko putih yang masih baru dan sarung hitam cap gajah duduk untuk berangkat ke masjid.

    Di pesantren itu, ada kegiatan sebelum shalat maghrib. Jadi ketika adzan maghrib jam 6 sore, setengah jam sebelum sudah diwajibkan hadir di masjid untuk membacakan doa sore yang disebut Al-Matsurat. Satu orang memimpin didepan, biasanya senior atau osisnya pesantren. Kadang ada juga yang tingkat-tingkat bawah yang ikhlas untuk memimpin. Atau memang sudah hukumannya harus memimpin.

    Hmmmm, lumayan banyak juga. Pikir aing dalam hati melihat sekeliling. Masih awal, aing mencoba untuk duduk di shaf paling depan. Lihat kebelakang sudah banyak yang duduk dan membacakan doa yang sama sambil memegang buku kecil berisi doa sore itu. Kadang diluar ada yang berisik, biasanya senior yang ingin cari perhatian anak baru. Menunjukan eksistensinya untuk sekedar menyapa “halo nyet, gw senior lu, gw udah tahu daerah sini, lu belum, jadi hormati gw”. gitu.

    Sudah sangat normal disebuah pesantren, cowok dan cewek, ikhwan dan akhwat itu dipisah. Jadi, selama dipesantren, merupakan satu larangan tegas untuk bertemu, dan bercampur aduk dengan lawan jenis. Jadi ya setiap hari, yang dilihat ya kumis lagi, kumis lagi. Bukan bedak putih.

    Adzan berkumandang, santri-santri mengantri untuk menunggu giliran berwudhu. Ada yang bercanda ria, ada yang mengobrol, ada juga yang gak ada kerjaannya menyemprot-nyemprotkan air dan membuat antrian semakin lama.

    Aing ya cuman bisa berdiri dan melihat saja. Tak bisa menegur atau melarangnya. Pertama karena gak tau itu siapa, kedua karena ya itu, malu-malu kecoa.

    Setelah maghrib katanya selalu ada pengajian bareng atau per kelas. Karena masih awal-awal, digunakan untuk sharing dari senior ke murid baru. Ya semacam pre-orientasi saja. Aing sempetin untuk berkenalan dengan sesama anak baru. Satu persatu kenal, ada Taufik, Angga, Dawi, Dindin, Firmansyah, Rahman, dan masih banyak lagi.

    Akhirnya tibalah waktu makan setelah shalat Isya bareng dimesjid. Sempat ada bisikan bahwa makannya harus satu piring berempat. Dalam hati wah mana cukup berempat satu piring. Ruang dapur yang lumayan luas, ada kursi-kursi kecil yang disusun dan dibalik karena disiang hari, ruang dapur ini dipakai untuk sekolah TK dan Paud untuk warga sekitar.

    “Silahkan cari teman makan berempat. Satu talam berisi 4 orang” teriak salah satu pengurus OSIS yang mengurus urusan makanan dan dapur.

    Lumayan besar talamnya. Dan cukup untuk kami berempat. Teman pertama makan adalah Fikri tentunya, dan dua lagi adalah anak baru juga yang baru kenalan. Angga dan Dawi, dua orang santri baru asal Singaparna.

    “Bismillahirahmanirrahim” teriak satu orang dari sudut sana. Ini adalah pembacaan doa sebelum makan. Akan selalu ada satu orang yang memimpin untuk berdoa dan diikuti oleh yang lainnya. Sebelum itu, kita dilarang memakan bahkan menyentuh makanan sekalipun. Ada satu atau dua pengurus yang matanya tajem banget. Liat sini liat sana. Kalo ketahuan makan duluan, ditegur, bahkan bisa diteriakin atau disuruh push up.

    Dipesantren, kita dianjurkan untuk makan dengan tiga jari saja. Karena ada hadist bahwa Nabi Muhammad dulunya selalu makan pakai 3 jari. Awalnya belum terbiasa, ada nasi yang jatuh, dan akhirnya kebeberan. Malu juga diketawain gara-gara belum bisa makan pake tiga jari. Mekanisme yang benar adalah, jangan pake jari manis dan kelingking. Dua jari itu ditekuk dan diharamkan menyentuh makanan.

    Pada akhirnya, sambil melirik satu sama lain, ketawa-ketiwi kecil, habislah makanan itu. Tak ada satu sisa nasi sebutir pun. Biasanya, dijendela antara ruang makan dan dapur disediakan nasi tambahan bila memang kurang. Bahkan bisa dengan lauknya. Tapi aing rasa harus dicukupkan karena kalo lapar, ada makanan bawaan dari kampung untuk disantap bila memang harus makan lagi tengah malam.

    “Ahhhhhhh” tenang sudah setelah semuanya akan kembali tidur. Ada perasaan berbeda. Biasanya sebelum tidur nonton sinetron, biasanya sebelum tidur bisa melihat mamah masih di mushola, biasanya sebelum tidur ditanya udah makan belum sama mamah, biasanya sebelum tidur ada bapak yang duduk melamun di ruang tamu sembari merokok, biasanya sebelum tidur ada adik yang rewel, biasanya sebelum tidur ada kasur dan dua bantal, biasanya sebelum tidur ada filem bioskop trans tv, biasanya ada kebiasaan sebelum tidur, dan sekarang tak ada.

    Sekarang, lihat kanan ada yang sedang mengurai karpet baru untuk tidur, ada yang sedang memasukan bantal ke sarungnya, ada yang masih membereskan lemari, ada yang nyempetin kenalan. Liat kiri udah ada yang tidur dibalut selimut, udah ada yang tiduran tapi masih ngobrol, lihat sekeliling orang baru. Orang baru yang kedepannya akan jadi teman seperjuangan. Orang baru yang nantinya akan bahu membahu menjalani hari demi hari di pesantren ini.

    Ya meskipun ada yang postur kecil, masih kekanak-kananakan, masih ada yang nangis, macam-macam.

    Hari pertama itu menjadi satu hari bersejarah, memulai kehidupan baru, 20 kilo perjalanan dari tempat orang tua, uang jajan bulanan yang harus dicukup-cukupkan, dan semua orang baru ini. Ahhhhhhhhh.









    You May Also Like

    0 komentar