• Berbeda- #Ep02

    by - 05.00


    “Bangun bangun bangun oy, subuh subuh subuh” kata-kata itu mulai jelas terdengar. Kata-kata aneh, yang belum pernah terdengar.

    “Shubuh subuh subuh” kembali terdengar.

    Perlahan-lahan, mata mulai terbuka. Melawan kantuk yang luar biasa. Menggeliat tubuh ini ketika kata-kata itu terdengar jelas dan ada orang yang dengan sengaja mengetuk kaki untuk membangunkan. 

    arrgghhh, menjengkelkan

    Salah satu hal yang paling menjengkelkan dan mudah membuat aing marah adalah orang yang mengganggu tidur. Musnahlah. 

    Ah tidak! Ini bukan dirumah lagi. Saat itu, kembali tersadar bahwa ini bukan rumah, ini pesantren dan aing adalah anak baru. Satu hari belum bisa menerima sepenuhnya bahwa ini adalah pesantren.

    Aing masih selalu membayangkan orang yang membangunkan masih tetap mamah yang pake mukena dan gedor-gedor pintu kamar, atau bapak dengan jas dan sarungnya yang baru balik dari mesjid. Aing masih ingin seperti itu, masih belum bisa menerima yang membangunkan adalah orang tak dikenal, jam 3 pagi, dan dikelilingi oleh orang baru.

    Terdiam, termenung.

    “Cepet siap-siap, usahakan semua solat tahajud. Cepat heh!” Orang itu seperti menyentak anak baru yang terlihat masih nyaman untuk tutup mata. Dipikir-pikir lucu, ada yang bengong dulu, ada yang nangis dulu, ada yang langsung siap-siap.

    “Dalam 5 menit kamar ini harus kosong. Jangan ada lagi yang masih disini. Ayo CEPAT SEMUA CEPAT” sambal mukulin pintu dengan gagang sapu yang biasa untuk patroli.
    Disitulah, semua anak baru merasa tergesa-gesa, ada yang lebih lucu, orangnya endut, karena saking gentar nya dengan bentakan itu, dia keluar, keluar masih berpakaian baju tidur. 
    Pas di tempat wudhu dia baru sadar, dia masih berpakaian piyama.

    Jalan sedikit demi sedikit, datang ke masjid lebih bermacam-macam lagi. Ada yang langsung berwudhu, ada yang masih selimutan sarung, ada yang garuk-garuk, ada yang bergeliat menelusuri kelas-kelas untuk kembali tidur. Sepertinya orang akan berjuang apapun agar bisa kembali tidur. Bisa kembali tidak diganggu.

    Aing tidak. Yang namanya anak baru pasti patuh. Meskipun sempat hati ini nangis karena bukan mamah yang ngeliatin terus untuk menyuruh shalat, tapi orang lain.

    Semua terasa berbeda, terasa tak biasa, dan aing hanya berharap bahwa ini adalah hari lain di sebuah mimpi dalam satu malam yang panjang. Ia, aing pengen ini hanya mimpi, tapi bukan.

    ........

    "Ya Allah, kenapa aing teh disini? harus apa atuh aing teh? tiba-tiba dipesantren, tiba-tiba nangis, dan tiba-tiba doa". Doa pertama setelah shalat shubuh. Shubuh pertama yang membuat aing nangis, dan bersedih.

    Bersedih karena sadar, bahwa sekesel apapun aing kalo di rumah pas dibangunin mamah bapak, pas saat gak ada pasti bener-bener kuat rasa penyesalan dan ingin selalu bersama mereka. 

    Shubuh itu, diakhiri dengan nangis. tanpa apapun, hanya satu keinginan, untuk kembali pulang. 

    ........
    Sekilas tentang pesantren aing. Tempat ini adalah pesantren, dimana orang yang belajar disini pasti disebut santri. bukan cuman disini aja, tapi disemua sekolah islam dan pesantren islam, semua muridnya pasti dibilang santri. Jadi, belum ada yang aneh. 

    Disamping manggil santri dan santriwati, di lingkungan pesantren ini selalu memanggil "Ikhwan" untuk santri laki-laki dan sejenisnya, dan "Akhwat" untuk santriwati atau perempuan dan sejenisnya. 

    Jadi ikhwan dan akhwat, begitulah kami dipanggil disana. 

    Pesantren ini menyatu, jadi bukan hanya pembelajaran agama, tapi juga pembelajaran sekolah-sekolah wajib. SMP dan SMA. Aing waktu itu masuk mulai dari SMP, dan banyak juga yang dimulai dari SMA. Anehnya dan enaknya, hanya SMA yang bisa menduduki OSIS atau sejenisnya, anak SMP hanya patuh dan menjadi mangsa pelampiasan. 

    Gedungnya pun unik, dan minimalis. ada beberapa gedung untuk melakukan kegiatan belajar mengajar. Ada masjid tentunya, ada Aula, ada kelas, ada kamar, ada dapur, ada tempat makan, ada wc, ada kelas kamar, ada dapur kamar kelas, ada kantin, ada kantin yang berada diperbatasan wc dan dapur, dan seterusnya. 

    Bawah kelas, lantai dua menjadi kamar. Kamar tidur untuk para santri terbilang besar, karena satu kamar pun bukan seperti kamar. Melainkan asrama didalam kamar, yang bisa menampung lebih dari 30 santri. Jarak antara aula dan kamar ikhwan berdekatan, dan kadang jika aula dipakai untuk acara atau kelas akhwat, maka disitulah letak surga bagi para ikhwan. 

    ada juga diperbatasan Aula dan asrama akhwat, terdapat lapangan serbaguna. Lapangan yang kalo pagi dijadikan tempat apel, sore tempat main bola, malam dijadikan punishment field dan kalo hujan dijadikan tempat menampung air hujan. itulah esensi lapangan serbaguna, tak ada batasan tak ada rintangan. Sama seperti ketika bumi dikenalkan dengan internet. Tak ada batasan, tapi kalo gangguan membuat edan kamu adam.



    You May Also Like

    0 komentar