Slapful Epilogs- Pragiwaksono Show
Entah harus mulai darimana, tapi Pandji Pragiwaksono
memang bisa dijadikan panutan. Apa yang dia utarakan seakan semuanya relatable
sama aing. Meskipun umur aing beda sekitar 18 tahun sama dia, ketika dia lagi
SBMPTN, aing masih dibuat dikamar.
Pada kemarin sabtu, sangat bersyukur bisa menonton
acara dia secara langsung, menjadi saksi pertunjukan komedi tunggal terbesar di
Indonesia yang ditorehkan dia. Dari sekian lama pertunjukan, hampir 4 jam secara
keseluruhan, banyak hal yang mulai aing pertimbangkan dan pikirkan untuk terus
bahagia.
Yang pertama, bukan hanya bokep, lewat komedi, bangsa
bisa bersatu. Ada komika pembuka yang bahas tentang hukum mengucapkan selamat
natal bagi muslim. Itu kan sensitif, tiap desember akhir, banyak muslim saling
lempar batu peringatan satu sama lain, ada yang sangat anti terhadap
mengucapkan natal, ada juga yang selow-selow aja. Rere, kayaknya itu nama
komikanya, dia bilang, meskipun mengucapkan selamat natal bakal masuk neraka, masuk
ke nerakanya juga dosanya remeh banget. Orang neraka memperlakukan manusia
berdosa karena mengucapkan natal sama kaya orang ngaku bohong ke orang tuanya
terus menyerahkan diri ke polisi. Polisi juga bingung, salah sih salah, tapi
belum ada pasalnya. Bingung polisinya, alhasil si orangnya disuruh nunggu.
Komedi mempersatukan, karena aing yakin, diantara 5000
orang yang nonton pasti ada yang mempunyai prinsip bahwa haram mengucapkan
natal bagi muslim. Tapi ya karena lucu, enteng, dan asik, ketawa mah ketawa
aja.
Kalo ngomongin standup shownya Pandji, udah gak harus
dibahas lagi lah ya, jauh banget dari kata mengecewakan. Tapi yang paling ngena
itu adalah epilog dia, diakhir acara. Apapun itu, epilog dia ngena banget. Relatable
banget. Like I can relate all those things spoken out of Pandji’s head in his
epilogs.
Jadi epilognya simpel, jangan sia-siakan kesempatan
yang ada. Tanpa memikirkan background apa, kesukaan apa, atau mungkin bertentangan
dengan pandangan orang tua. Itu sangat true sekali, se-true-true nya true, itu
sangat lah true.
Dulu, aing tidak mungkin bisa pertama kali pas kuliah,
dibayarin, diajak jalan-jalan ke Jogja gratis untuk pertama kalinya, ke Kalimantan
gratis untuk pertama kalinya, bahkan tiap minggu bisa nonton the Premier gratis
film-film baru selama berbulan-bulan, tiap minggu bisa makan enak, bahkan sampe
nyobain makan steak premium yang sekali makan mencapai 1,2jt kalo-kalo waktu
renang di Gor Sumantri, aing dan teman-teman tidak ngajak ngobrol bule yang
lagi sendirian.
Iya sesimpel bilang hai, karena ngerasa bisa bahasa
inggris, terus ngobrol sama Bule, dibukalah pintu yang sangat amat tak terduga.
Kalo aing mengikuti rasa malas untuk tampil drama dengan
orang-orang baru, yang belum terlihat prospek kedepannya seperti apa, aing
tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk bisa berkenalan dengan orang-orang
penting, orang-orang hebat di kementrian, dan mendekatkan aing pada hal yang
aing sendiri tidak sangka.
Kalo aing hanya mikirin takut besok gimana dan mengenyampingkan
apa yang hari ini terjadi, aing hanya tenggelam dalam lautan ketidakpastian dan
stress terus. Pada akhirnya banyak kesempatan yang terlewat.
Tadi, pas lagi kerja, sempetin nonton TED, judulnya, “Don’t
find your passion”. Orang selalu mencari satu passion, entah dari suka, hobi,
atau apapun, dan banyak yang percaya setiap orang punya satu passion yang harus
ditemukan dalam hidup.
Satu pencerahan lagi kata dia, bahwa passion bukan
sesuatu yang harus ditunggu kedatangannya, dan memilih-milih, mana sekiranya
passion kita. Passion itu adalah pikiran, hati, dan fisik untuk memaksimalkan
apa yang ada didepan kita, hari ini, tanpa menunggu apapun. Sebagai contoh, orang
akan merasakan passion terhadap sales, karena itu yang sedang dia kerjakan, dan
dia maksimalkan disaat itu juga. Ketika orang itu pindah kerja menjadi akuntan,
jika dia mengerjakannya dengan maksimal, seluruh raga terfokus disana, maka
disana dia akan menemukan passion.
Passion
is feeling, it might change.
Sama halnya dengan epilognya Pandji di spesialnya, seakan
sama-sama menampar bahwa apa yang kita kerjakan saat ini, kita tidak pernah
tahu akan menuntun kita kemana. Kadang aing merasa sekarang kerja menjadi
Akuntan abal-abal di Start Up hanya sebagai belokan aja buat bertahan hidup. Tapi,
ternyata dari Start Up itu, ada sesuatu yang lain yang aing dapat, salah
satunya adalah mengerti desain, meskipun secara basic, yang belum tentu
temen-temen aing seangkatan misalnya mempunya kemampuan yang sama.
Aing selalu milih-milih dulu, untuk ikut kegiatan ini,
untuk tidak ikut kegiatan itu, untuk sesuatu yang aing pikir tidak ada faedahnya
untuk dilakukan. Tapi pas masuk kuliah baru, aing mengerjakan sesuatu yang aing
tidak pernah lakukan sebelumnya. Contoh nyata, menulis paper.
Aing selalu bilang dulu, dikampus lama, “Malesin banget
nulis paper, kepanjangan”. Pas kemaren, nulis paper, mengantarkan aing diundang
Istana Presiden untuk menghadiri upacara pembukaan, dan secara dekat bisa tatap
muka dengan beliau. Untuk pertama kalinya.
Its absolutely true, what Pandji said, and what The
TED speaker said.
Dan mudah-mudahan, ini jadi awal aing untuk selalu
memaksimalkan sesuatu yang benar ada didepan, daripada bersusah ria, berkhawatir
raya, menstreskan diri, hanya memikirkan sesuatu yang belum pasti. Karena kita
gak tahu, apa yang kita kerjakan saat ini akan menuntun kita kemana.
Terima kasih, untuk Epilognya bang Pandji, dan
Talksnya untuk mbak-mbak yang ngomong di TED Talks.
0 komentar