• Cerita Sedih Mamah

    by - 01.13

    Salah satu hal yang bisa membuat bahagia, adalah bercerita. Terkadang cerita membuat hati merasa nyaman, tentram, dan asik aja gitu. Tapi tak semua hal dapat diceritakan dengan seharusnya. Ada yang tersimpat sakit dicerita itu, ada yang teringat luka, bahkan ada yang menderita ketika kembali teringat kisahnya.

    Waktu diruang makan, ada satu cerita mamah, dimana selalu teringat, selalu kerasa sakit hatinya, selalu sedih kalo mengingatnya, tapi selalu jadi tamparan keras untuk terus berjuang untuknya.

    Jadi waktu itu, keluarga kami sangat miskin. Miskin disini aing definisikan ya memang miskin secara ekonomi. Waktu itu aing masih belum lahir, dan mamah sudah mengurus delapan anak. Pindah ke Garut otomatis jauh dari keluarga besar Mamah namun dekat dengan saudara-saudara Bapak. Jadi kalo ada apa-apa ya selalu minta tolong sama saudara bapak. Alkisah yang notabene sebenarnya, sodara bapak ini pelit dan sepertinya memang pelit, pas ngeliat juga emang udah muka pelit.

    Alkisah waktu itu, kaka perempuan sedang sakit, lupa sakit apanya yang jelas butuh berobat cepet ke dokter. Tak ada uang sama sekali, bapak gak ada waktu itu masih merantau, tak ada sumber penghasilan apapun. Yang jelas, kaka harus ketemu dokter untuk berobat.

    Mamah pun ikhtiar, artinya berusaha mencari pinjeman. Karena saudara, secara naluri pasti akan ke tempat saudara-saudara bapak. Jarak dari rumah ke tempat sodara-sodara itu lumayan jauh. Dan karena tak punya ongkos, apalagi kendaraan, ya harus jalan kaki. Melewati sawah yang terbentang luas, jalan kaki, dan membawa harapan mendapat pinjaman dari sodara untuk berobat si kaka.

    Bisa bayangkan bagaimana raut wajah, perasaan, dan asa seorang ibu yang cuman ingin anaknya diperiksa biar gak sakit?

    Dia berjalan kaki, kalo sekarang diukur kira-kira ada 5 k.m dari rumah ke tempat yang dituju. Sesampainya disana, mamah dipersilahkan masuk, ngobrol-ngobrol biasa, dan mamah langsung to the point mengutarakan maksudnya.

    Entah apapun yang terjadi disana, tapi mamah dikesampingkan. Ada hal yang lebih penting dilakukan si sodara itu, ketimbang memperhatikan urgensi mamah kenapa tiba-tiba datang.

    Ini yang selalu bikin sedih kalo diceritain. Jadi mamah nunggu, tanpa kepastian, mau nanyain langsung tapi gak enak kata si mamah, jadi yaudah mau gak mau diem aja nunggu si sodara ini ngerti.

    Dari siang sampe maghrib, pokoknya sampe gelap, dikesampingkan, diacuhkan, tapi diakhir si sodara bilang, “gak ada, gak bisa bantu, karena uangnya dipake tadi”. Perhatikan kata “tadi”. Jadi tadi itu, mamah dikesampingkan karena ada hal lain, lalu memerlukan uang, yang tadinya uangnya ada secara teori yang bisa dipinjemin mamah, tapi gak ada pas maghrib karena udah kepake.

    Dari sana, mamah gak bisa ngapa-ngapain, mau gak mau harus pulang. Dia pulang, jalan kaki, saat cuaca udah gelap karena udah lewat maghrib, sambil nangis kata mamah, sambil bilang “ini perlakuan gak akan pernah bisa dilupakan”.

    Sampai dia cerita ini, mamah masih harus nangis saat diceritakan, dan membuat nangis anak-anak yang dengernya, termasuk aing. Perjuangan seorang ibu untuk anaknya ditengah-tengah hambatan ekonomi dan tanggung jawab seorang ibu.

    Cerita ini akan selalu sedih, sakit untuk diingat apalagi diceritakan kembali. Meskipun mamah selalu bilang, “mamah percaya nasib mamah bakal berubah karena anak-anak. Biarkan ini jadi perjuangan mamah”.

    Cerita itu membulatkan tekad aing untuk seenggaknya bisa memastikan mamah, bapak, tidak merasakan hal itu lagi. Direndahkan karena secara ekonomi tidak terpandang.

    Suatu saat, dari dulu saat cerita ini diceritakan mamah, aing sudah bertekad untuk membalas itu kelak nanti. Sudah bertahun-tahun lamanya, tapi lukanya seakan tak bisa hilang. Bukan ambisi dalam keburukan, tapi ingin membuktikan bahwa menolong itu tak pandang bulu. Apalagi sesama saudara.


    Demikian cerita sedihnya di malam minggu, semoga sadar kalo cerita ini gak penting untuk Anda, hanya penting untuk Aing.

    You May Also Like

    0 komentar