Cerita Sedih Mamah
Salah satu hal yang bisa membuat bahagia, adalah bercerita.
Terkadang cerita membuat hati merasa nyaman, tentram, dan asik aja gitu. Tapi
tak semua hal dapat diceritakan dengan seharusnya. Ada yang tersimpat sakit
dicerita itu, ada yang teringat luka, bahkan ada yang menderita ketika kembali
teringat kisahnya.
Waktu diruang makan, ada satu cerita mamah, dimana selalu
teringat, selalu kerasa sakit hatinya, selalu sedih kalo mengingatnya, tapi
selalu jadi tamparan keras untuk terus berjuang untuknya.
Jadi waktu itu, keluarga kami sangat miskin. Miskin disini
aing definisikan ya memang miskin secara ekonomi. Waktu itu aing masih belum
lahir, dan mamah sudah mengurus delapan anak. Pindah ke Garut otomatis jauh
dari keluarga besar Mamah namun dekat dengan saudara-saudara Bapak. Jadi kalo
ada apa-apa ya selalu minta tolong sama saudara bapak. Alkisah yang notabene
sebenarnya, sodara bapak ini pelit dan sepertinya memang pelit, pas ngeliat
juga emang udah muka pelit.
Alkisah waktu itu, kaka perempuan sedang sakit, lupa sakit
apanya yang jelas butuh berobat cepet ke dokter. Tak ada uang sama sekali,
bapak gak ada waktu itu masih merantau, tak ada sumber penghasilan apapun. Yang
jelas, kaka harus ketemu dokter untuk berobat.
Mamah pun ikhtiar,
artinya berusaha mencari pinjeman. Karena saudara, secara naluri pasti akan ke
tempat saudara-saudara bapak. Jarak dari rumah ke tempat sodara-sodara itu
lumayan jauh. Dan karena tak punya ongkos, apalagi kendaraan, ya harus jalan
kaki. Melewati sawah yang terbentang luas, jalan kaki, dan membawa harapan
mendapat pinjaman dari sodara untuk berobat si kaka.
Bisa bayangkan bagaimana raut wajah, perasaan, dan asa
seorang ibu yang cuman ingin anaknya diperiksa biar gak sakit?
Dia berjalan kaki, kalo sekarang diukur kira-kira ada 5 k.m
dari rumah ke tempat yang dituju. Sesampainya disana, mamah dipersilahkan
masuk, ngobrol-ngobrol biasa, dan mamah langsung to the point mengutarakan
maksudnya.
Entah apapun yang terjadi disana, tapi mamah dikesampingkan.
Ada hal yang lebih penting dilakukan si sodara itu, ketimbang memperhatikan
urgensi mamah kenapa tiba-tiba datang.
Ini yang selalu bikin sedih kalo diceritain. Jadi mamah
nunggu, tanpa kepastian, mau nanyain langsung tapi gak enak kata si mamah, jadi
yaudah mau gak mau diem aja nunggu si sodara ini ngerti.
Dari siang sampe maghrib, pokoknya sampe gelap,
dikesampingkan, diacuhkan, tapi diakhir si sodara bilang, “gak ada, gak bisa
bantu, karena uangnya dipake tadi”. Perhatikan kata “tadi”. Jadi tadi itu,
mamah dikesampingkan karena ada hal lain, lalu memerlukan uang, yang tadinya
uangnya ada secara teori yang bisa dipinjemin mamah, tapi gak ada pas maghrib
karena udah kepake.
Dari sana, mamah gak bisa ngapa-ngapain, mau gak mau harus
pulang. Dia pulang, jalan kaki, saat cuaca udah gelap karena udah lewat
maghrib, sambil nangis kata mamah, sambil bilang “ini perlakuan gak akan pernah
bisa dilupakan”.
Sampai dia cerita ini, mamah masih harus nangis saat
diceritakan, dan membuat nangis anak-anak yang dengernya, termasuk aing. Perjuangan
seorang ibu untuk anaknya ditengah-tengah hambatan ekonomi dan tanggung jawab
seorang ibu.
Cerita ini akan selalu sedih, sakit untuk diingat apalagi
diceritakan kembali. Meskipun mamah selalu bilang, “mamah percaya nasib mamah
bakal berubah karena anak-anak. Biarkan ini jadi perjuangan mamah”.
Cerita itu membulatkan tekad aing untuk seenggaknya bisa
memastikan mamah, bapak, tidak merasakan hal itu lagi. Direndahkan karena
secara ekonomi tidak terpandang.
Suatu saat, dari dulu saat cerita ini diceritakan mamah, aing
sudah bertekad untuk membalas itu kelak nanti. Sudah bertahun-tahun lamanya,
tapi lukanya seakan tak bisa hilang. Bukan ambisi dalam keburukan, tapi ingin
membuktikan bahwa menolong itu tak pandang bulu. Apalagi sesama saudara.
Demikian cerita sedihnya di malam minggu, semoga sadar kalo
cerita ini gak penting untuk Anda, hanya penting untuk Aing.
0 komentar