A Morning Grateful Stories- 17 Juni 2019- Dapat Berkuliah
Ya Allah,
hari ini saya sudah memasuki masa kuliah kembali, terima kasih masih memberikan
saya kesempatan untuk dapat berkuliah, melanjutkan Pendidikan, sebagaimana
telah Engkau anjurkan untuk menuntut ilmu.
Cerita hari
ini adalah bagaimana saya harus selalu bersyukur karena selalu diberikan jalan
untuk terus menuntut ilmu dan membekali diri saya dengan kemampuan-kemampuan
baru agar nantinya dapat berkontribusi untuk memberikan yang terbaik bagi
kehidupan saya, maupun kehidupan keluarga.
Pada 2014,
saya bingung. Tahun itu, adalah tahun lulus SMA, dan banyak yang sudah
menentukan jalannya kemana dalam hal perguruan tinggi. Teman-teman saya sudah
mengetahui jalan apa yang harus ditempuh jika ingin diterima kampus A atau B,
dan mereka mempunyai resources untuk
itu.
Pas SNMPTN,
SBMPTN, SIMAK UI, UBTK, dsb saya ikut semuanya. Harapan dan impian saya masuk
ke jurusan HI atau komunikasi di kampus-kampus yang orang bilang ternama. Tapi
dari semua ujian masuk itu, tak ada satupun yang nyangkut. Dan waktu itu, hype
di angkatan saya lumayan tinggi, misalkan jika lulus, di screenshoot terus di
upload di social media masing-masing.
Yang paling
saya iri waktu itu adalah kepastian tujuan yang ingin dicapai bagi teman-teman
saya. Mereka sudah tahu mau kemana, meskipun itu bukan semata tentang kuliah,
tapi mereka begitu yakin untuk menuju ke langkah selanjtunya dengan mantap.
Namun saya waktu itu, tak tahu harus bagaimana, harus mengambil langkah apa,
karena saya sadar saya masih ragu dan bimbang.
Saya pun
pulang ke rumah, mencari peruntungan untuk belajar dan bertemu orang-orang baru
di ASGAR MUDA, sebuah organisasi pemuda Garut yang mempunyai misi untuk
memajukan daerah saya. Hal yang paling saya sesali adalah tidak sangat aktif
disana tapi sering mengikuti programnya sambil menunggu hasil ujian UBTK. Perlu
diketahui, UBTK adalah ujian yang kayaknya paling terakhir, dan kampus yang
masuk kedalam ujian itu bukan kampus yang orang bilang ternama. You can google it.
Dan, malam
sebelum pengumuman itu, saya tidak bisa tidur. Saya ingat betul bagaimana insecurity saya jika tidak lulus,
pikiran saya yang selalu memikirkan hal “whats
next” dan ketakutan-ketakutan lainnya.
Sampai
akhirnya saya putuskan untuk mengecek pengumuman dengan mamah saya, setidaknya
nanti dapat menenangkan apapun hasilnya.
Dan
hasilnya, saya tetap tidak lulus.
Dari situ
saya tak tahu kemana saya harus pergi melanjutkan kuliah. Di benak saya, kuliah
adalah satu impian dan keinginan waktu itu. Allah memberi jalan untuk
melanjutkan Pendidikan tinggi di kampus terusannya SMA yang berada dibawah
naungan yayasan yang sama. Bedanya, SMA saya berbeasiswa, kuliah saya mengambil
pinjaman Pendidikan ke yayasan tersebut. Artinya, ketika nanti saya lulus dari
kampus itu, saya harus mengembalikan uang yang telah saya habiskan untuk biaya
kuliah itu.
Saya pun
berangkat ke Jakarta, memulai hidup baru, berkuliah di kampus itu. Hari demi
hari saya lalui, saya sadar mengapa saya tidak diberikan jalan untuk masuk ke
kampus ternama. Selain karena mental saya, pun demikian dengan kondisi ekonomi
saya dan keluarga yang tak akan pernah bisa membantu dalam hal perkuliahan.
Bayangkan saja, untuk uang bulanan saja masih belum cukup, apalagi ditambah
beban kuliah. Meskipun saya akui, banyak jalan untuk beasiswa di kampus negeri,
namun kemampuan saya nampaknya masih belum bisa percaya diri untuk
mendapatkannya.
Menjalani
kuliah dengan pinjaman Pendidikan ternyata bukan hanya memberikan kehidupan
baru untuk saya, namun sekaligus dapat membantu orang tua saya dalam hal tertentu.
Saya jadi bisa memiliki rasa kemandirian, baik dalam hal menjalani kehidupan di
Jakarta, maupun mengelola keuangan dengan baik.
Pada
akhirnya, saya menyadari bahwa saya sepatutnya bersyukur karena diberikan jalan
ini, yang akhir-akhir ini saya sadari adalah memang jalan yang terbaik
diberikan olehNya. Bahkan dulu dengan sudah memiliki predikat mahasiswa, saya
sangat bersyukur mengingat di anggota keluarga saya belum ada yang mencapai Pendidikan
tinggi, bahkan banyak teman sebaya yang tak melanjutkan sekolah.
Terima kasih
ya Allah, atas jalan yang telah Engkau berikan, nikmat yang diberikan, untuk
saya dalam menjalani kehidupan ini dan menjadi pribadi yang bersyukur.
0 komentar