Rutinitas pagi untuk bersyukur 14 Juni 2019
Perut lapar, bergejolak untuk mencari sumber makanan pagi ini, ibadah kesiangan karena malam sebelumnya hanya larut dalam pikiran tentangnya yang saat ini sedang bersama yang lain.
Tapi benar, banyak sekali hal yang perlu disyukuri pagi ini. Siapa sangka saya masih bisa menghirup udara pagi, menikmati lega dan memuaskannya air putih pagi hari, menyempatkan untuk berolahraga sedikit, dan yang paling penting diberikan rasa bangga saat telah merapihkan tempat tidur.
Terima kasih ya Allah untuk hal ini, untuk hidup ini yang sangat indah dan patut untuk terus disyukuri.
Sepertinya akan saya sisipkan cerita saya untuk mengingatkan bahwa bersyukur adalah hal yang paling indah dan memuaskan yang sepatutnya semua manusia melakukannya.
Pada waktu kelas 3 SMP, sekitar tahun 2011 an, saya hilang asa dalam melanjutkan sekolah ke jenjang SMA. Saya hanya menginginkan untuk cepat kerja, karena dorongan ekonomi yang saya tidak suka. Lebih tepatnya saya tidak suka terus-terus an minta sesuatu ke kakak saya yang tak bisa dipastikan akan dipenuhi atau tidak. Seringkali hanya berakhir menunggu.
Tapi waktu itu, Mamah bersikeras untuk melanjutkan pendidikan sambil mondok kembali di pesantren yang berbeda. Hingga akhirnya saya diberikan brosur SMA-SMA bahkan MAN yg patutnya cocok dengan mamah untuk saya.
Saat itu saya masih di pondok, walaupun tak ada hasrat dalam akademik, tepat setelah shalat shubuh, ada kakak kelas yang ingin memberi pengumuman kepada kami anak kelas 3 yang ingin melanjutkan kuliah.
Perlu saya infokan, di pesantren saya, itu SMP dan SMA menyatu, jadi dari kelas 7 sampai 12. Uniknya, hanya kelas 11 yang menjadi OSIS untuk semua siswa.
Nah kakak kelas ini, adalah kelas 12. Dia juga sedang bergundah barangkali karena mencari kemana dia akan melanjutkan pendidikan tingginya.
"Ini ada info beasiswa SMA untuk teman-teman semua yang ingin melanjutkan. Siapa tahu ini adalah rejekinya" kata dia.
Sontak, orang-orang yang notabene terpandang berakal dan pinter menyiapkan seluruh berkas-berkas yang diminta. Umumnya aplikasi beasiswa bahwa membutuhkan banyak sekali dokumen-dokumen, dan persyaratan yang diminta. Termasuk esay dan sebagainya. Ada sepertinya 20 lembar formulir itu yang harus kami download. Waktu itu, bahkan saya tak tahu caranya download dan sama sekali tak bisa mengoperasikan email.
Tapi karena lumayan banyak yg daftar, saya coba mengikuti jejak mereka dalam hal yang perlu disiapkan, tetapi saya tak bisa mengejar mereka dalam hal apa saja yang perlu dikerjakan. Saya hanya bisa leyeh-leyeh dan merokok saat itu. Bayangkan sebandel apa saya dulu.
Teman saya pernah bilang ditengah leyeh-leyeh itu, "Maneh teh niat te si Cep neang beasiswa sakola, tingali da nu lain mah asa sibuk kaditu kadie, ngurusken iyeu itu, tapi maneh mah siganamah te mikirken teuing"
"Kamu itu niat gak sih Cep buat nyari beasiswa sekolahnya, lihat yang lain sibuk kesana kemari, ngurusin ini itu, tapi kamu kok santai gak mikirin banget" sebuah percakapan saat sedang leyeh-leyeh didepan lemari asrama.
Disaat yang lain yang mendaftar sudah hampir selesai seluruh aplikasinya, saya masih harus mengerjakannya dan saya lihat lagi, saya belum sama sekali.
Bahkan, ketika diminta untuk membuat essay dalam bahasa Inggris, saya hanya menulis sesuatu yang saya kira sangat konyol dalam bahasa Indonesia dan saya terjemahkan memakai Google Translate tanpa memeriksa hasil setelahnya. Kan kalo dulu Google Translatenya banyak yang ngaco, kadang di tengah kalimat masih ada kata bahasa indonesia dan sebagainya.
Itu saya langsung plok, memasukannya kedalam formulir aplikasi itu.
Nah selang beberapa minggu, pengumuman kelulusan seleksi administrasi keluar, dan Alhamdulilah saya masuk. ada 2 atau 3 teman saya yang keren-keren tidak masuk. Kami ber 8 waktu itu yang berhasil masuk ke tahap tes tulis dan wawancara.
Saya perlu sampaikan, tes tulis adalah tes matematika dan bahasa inggris, dan tak ada satu soal pun yang saya yakini benar. Itu selama berjam-jam tes, keringet dingin dari awal sampai akhir. Oh bahkan saya masih ingat, saya tidak bawa pensil dan saya harus meminjam ke pengawas. Betapa tidak siapnya saya.
Namun pas di sesi wawancara, saya bisa setidaknya berbicara, diskusi di Focus Group Discussion, sejatinya tidak terlalu mengecewakan.
Setelah melewati itu, saya kembali gundah, galau, karena yang saya sadari setelah tes itu adalah hal yang sangat mustahil jika saya bisa lolos.
Hari demi hari saya lalui, beberapa teman yang saya ajak kenalan pada waktu tes saya tanya kabar dan mereka mengabarkan lolos. Teman dari pesantren saya juga satu-satu lolos.
"Acep, iyeu brosur MAN di Garut, sok we enjing daftar, sareng sakalian daftar pasantrenna"
"Acep, nih brosur MAN di Garut, besok daftar ya, sekalian daftar pesantren buat mondoknya" kata mamah waktu itu setelah survey sekolah untuk saya.
Siapa sangka, menjelang daftar itu, malamnya saya gundah dan sedih, saya ditelpon oleh pihak pemberi beasiswa, ditanya-tanya, dan pada akhirnya dinyatakan lulus dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan SMA.
Sontak saya waktu itu ke mamah, bapak. Bahkan Mamah saya ngotot untuk menelpon kembali si orang yang telpon untuk memastikan.
"Assalamualaikum, ibu. Benar anak saya teh masuk sekolah beasiswanya?" tanya mamah.
"Waalaikumsalam. Maaf atas nama siapa ya ibu?"
"Atas nama Acep Kholid dari Nurul Amanah"
"Benar ibu, anaknya dinyatakan lulus. Selamat ya ibu". Akhir dari percakapan itu, kami; saya, mamah, dan bapak, nangis haru, tak bisa mengungkapkan apa-apa.
Saya tak pernah menyadari bahwa ini adalah jalan yang diberikan Allah Swt untuk saya, dan seringkali saya lupa bersyukur. Banyak anak-anak lain, bahkan teman seperjuangan saya sendiri tidak bisa melanjutkan ke jenjang SMA bahkan ada yang bayar sangat mahal sekali. Beberapa teman saya yang pintar bahkan ada yang tidak lolos.
Saya, alhamdulilah diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri, untuk mengingatkan bahwa bersyukur itu sangat indah. Terima kasih ya Allah.
0 komentar