• Jakarta, 16 Oktober 2019

    by - 03.50


    Jakarta, 16 Oktober 2019 03:12

    "Dude, I suffer some shit like depression :(" .

    Iya, aku tiba-tiba mengirimkan sebuah pesan singkat kepada salah seorang teman yang aku pikir adalah teman baik. Orang lain tahu, temanku banyak. Tapi semakin bertambahnya umur, aku hanya mempercayakan dia bahwa memang aku sedang tidak sehat, lebih tepatnya tidak sehat secara mental.

    "wew, thats too heavy of words you'r saying, man. Chill out"

    "I dont know, but I really mean it"

    "why? does something really bother you lately? or is it because you still can't get over with your ex. Come on don't be so carried away with shit like romance, what do you really want with her? you want her coming back or what?. You are strong enough to let go, and to begin the new one. She doesn't even deserve you a bit. " jawabnya.

    "but I love her all my heart and I am in the phase of having a transition from love to hate".

    Ketika membaca respon dia, aku berpikir. Yang membuat pikiranku seakan tak karuan, perasaan yang sakit ketika menyendiri dikamar, dan semua pikiran-pikiran tentang dia yang ilusional, dan semua kenangan-kenangan yang menyakitkan yang dia tinggalkan, aku berkesimpulan bahwa memang kekasihku dulu yang membuat aku seperti ini.

    Setiap kali ingatan itu datang, aku tak bisa bertingkah normal. Pekerjaanku terbengkalai bahkan sampai menjadi pusat perhatian teman sekantor. Mereka tak menyangka orang yang dipandang sebagai "badut penghibur kantor" tiba-tiba terdiam baku didepan layar komputernya sepanjang hari, sepanjang minggu, bahkan sepanjang bulan. Hanya karena ditinggalkan, diputuskan, dan dikhianati hanya karena dalih orang tua dan berakhir memilih yang lain dan disaat bersamaan merenggut jiwa yang sudah lama menetap bahkan ketika mentari dulu tak ingin berdekatan dengannya.

    Berlebihan? memang. Tapi mau gimana lagi, itulah yang terjadi, sebuah patah hati yang sangat dalam, melebihi sebuah palung ditengah birunya air samudera.

    Tapi dia kan bagus nurut ke orang tua, gimana sih?

    Aku tak akan menyangkal apapun, tapi dia tidak pernah berkata jujur dengan apa yang ia rasakan. Contoh kecil, semenantang apapun dia harus nurut, dia pasti akan bilang bahwa "aku pasti milih kamu". Pada kenyataannya, dia membuka pintu kepada orang lain, langsung menyambutnya hangat, dan memberikan dia celah untuk serius dengannya. Padahal saat itu masih ada aku yang ada disini.

    Lebih lanjut dengan percakapan teman, aku berpikir, kalo memang dia penyebabnya, apakah aku memang akan sembuh jika ia kembali?.

    Dendam adalah rasa yang sampai saat ini memenuhi alam bawah sadar aku. Bagaimana tidak, setiap hal yang ia katakan akhir-akhir ini adalah hal yang hanya buaian belaka. Padahal, dulu ia tak seperti ini, berbohong pun kami utarakan sebelumnya.

    Perasaan sakit dan dendam ini seakan tak menentu arahnya kemana. Aku egois karena ingin dia merasakan apa yang aku rasakan selama ini, sendiri dan meratapi perasaan tak karuan yang orang bilang "depresi".

    Aku benar-benar ingin dia merasakan sakitnya dibohongi, sakitnya ditinggal, bahkan sampai sujud saat ibadah pun, kepala terasa berat karena aliran darah yang tinggi sekali. Aku benar-benar ingin dia merasakan itu.

    Aku benar-benar ingin dia merasakan sepi yang amat, merasakan ingin meluapkan kesedihan dan hanya bercerita namun tak ada orang yang dianggap tepat, dan akhirnya menelan sendiri semua perasaan itu.

    Aku benar ingin dia merasakan sepi ditengah keramaian, kenyang ditengah kelaparan, dan dingin ditengah terik panasnya ibukota. Aku ingin dia tenggelam terserang kebingungan tiba-tiba, sakit kepala tiba-tiba, dan kenangan pahit terus membayangi saat apapun yang sedang ia kerjakan.

    Aku benar-benar ingin dia merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan dengan jahat, dikhianati dengan pedih, dan yang tersisa hanya meminta kepadaNya tentang cara agar bisa bertahan hanya untuk melewati hari ini.

    kalo memang dia penyebabnya, apakah aku memang akan sembuh jika ia kembali?

    Sudah kupastikan, tak akan pernah aku menginginkannya kembali. Pikiranku sudah terprogram akan menayangkan semua kenangan buruk yang ia perbuat, bahkan melebihi kenangan indah selama 7 tahun kami berhubungan. Jika ia merengek meminta pun kelak, aku tak bisa melupakan perasaan yang aku alami saat ini.

    "Don't ever think about coming back. better not", percakapan akhir daringku yang kukirim untuk menegaskan betapa sakitnya aku hingga saat ini.

    Aku hanya ingin membuat sebuah nota kecil kehidupan depresiku saat dilanda patah hati ini. Hingga suatu saat, orang itu akan mengerti sendiri kenapa aku tak bisa menyambut dia kembali. Dia dulu pernah aku tancapkan diatas hamparan sajadah dan doa nya agar kelak dapat hidup bersama, tapi sekarang hanya kata-kata yang tak pantas yang bisa aku kaitkan dengan dia, dan jujur itu membuatku lega sementara.

    Aku tahu dan yakin bahwa ini tidak akan selamanya. Perasaan ini tak menjadi teman hidupku, tapi kenangannya akan terus tertulis dalam setiap ingatanku. Aku hanya ingin melewati fase ini dan berdamai dengan hidupku sendiri. Tapi susah sekali rasanya.






    You May Also Like

    0 komentar