Setidaknya, aku punya selera sekarang
Pengalaman ini setidaknya membuatku
memiliki selera, rasa, dan pilihan hati. Gara-gara ini, aku tahu kota apa saja
yang aku benci dan tak ingin lagi aku datangi. Gara-gara ini, aku tahu hal apa
yang dulu aku suka lalu aku enggan melakukannya lagi, mobil yang paling aku
benci, tempat makan yang aku bisa tiba-tiba merasa mual, jalanan, lagu, barang,
bahkan sampai dengan pandangan hidup yang aku rasa aku tidak punya kecocokan
disana.
Sebelum aku patah hati, aku merasa hidup
aku sudah keras dan aku bisa melewatinya, tanpa harus memilih apa aku suka atau
tidak suka. Kali ini beda. Contoh kecil, dahulu Bali adalah tujuan masa depanku
nanti, aku ingin bisa berlama-lama menikmati Bali, dengan nuansa romantisnya,
budayanya dan manusianya. Aku ingin menjadikan Bali sebagai kota saksi aku
membina masa depan dengan pujaan hati. Saat ini, patah hati ini membelokan tujuan
aku lebih dari 360 derajat, dimana aku tak ingin melihat Bali menjadi kota yang
akan aku datangi lagi selama hidupku. Selain karena ada luka yang membekas, ada
kenangan yang kembali ada, ada juga rasa sakit yang nyata secara fisik. Ku kira
orang yang mengombarkan sedang patah hati itu hanya melebih-lebihkan saja, pas
aku mengalaminya sendiri, benar saja aku seperti kehilangan jiwa untuk kembali
hidup.
Ternyata benar, memberitahu apa
yang salah lebih mudah dari pada membenarkannya. Menasihati orang lain lebih lapang
daripada menjalani nasihat sendiri.
Aku menemukan alasan untuk memilih
selera dalam menjalani hidup ini, meskipun itu datang dari rasa sakit yang aku
terima dan rasakan dari patah hati ini. Rasa telah dibohongi, ditinggal, bahkan
dijadikan hanya sebagai sebuah lampiasan sesaat yang hanya mengumbar harapan
palsu dan jijik. Jarang sekali loh aku benar-benar merasa jijik terhadap
sesuatu.
Luka ini membawa ku untuk terus
berucap kata-kata kotor, tertawa sendiri, takut terhadap sepi dan sendiri,
bahkan sampai membuatku tersesak yang orang bilang dengan sebutan depresi. Aku
tak bisa kembali untuk bekerja seperti biasa, berpikir, bahkan hanya untuk
berinteraksi "hai" dengan teman lawan jenis pun seperti beku.
Tapi aku berjuang untuk hidup
melewati semua ini. Aku percaya kok, titik terang akan menemukan tempatnya,
rasa ikhlas akan kembali memenuhi hati dan pikiran, Bahkan semangat maju akan
kembali membakar anganku dan mulai lagi dari awal. lebih lagi, karma bisa
datang tanpa kita sadari. Aku percaya Tuhan memberikan perasaan ini untuk
melatihku menjadi pribadi yang bisa berubah. Pribadi yang bisa bangkit dan tak
lagi mengumbar perasaan yang sangat personal dan pribadi yang bisa belajar
untuk memperbaiki masa depan.
Mungkin kata Tuhan "Hey Bro! masih muda, santai ae. Jadiin
pelajaran aja, tenang, indah dari hal yang biasa aja tak akan pernah indah,
tapi indah dari hasil proses melalui berbagai perjuangan adalah indah sebenarnya.
Santai ae broo, skripsi, magang, sama piknik aja pikirinnya bro".
Tapi jujur..
Kepercayaan diriku hilang, sikap
yang dulu orang-orang lihat selama kenal denganku. Rasa pede terhadap hidup lambat
laun terkuras hanya diisi dengan sebuah kekhawatiran yang tak ada habisnya,
terisi dengan dendam yang sampai menjalar ke setiap inci bagian tubuh, dan perasaan
untuk melawan perasaan sendiri.
Aku cuman ingin mengakhiri tulisan
ini untuk berdoa supaya aku dapat melewatinya dengan optimis, dengan ikhlas,
dan terpenting dengan perasaan menerima jika hidup kadang tak sesuai dengan apa
yang kita ingin, hidup akan selaras dengan apa yang kita butuh.
Aku cuman berdoa, kasih tunjuk aku
Tuhan kalo aku butuh perasaan patah hati ini untuk hidup aku.
Sekian.
Jakarta, 27 Oktober 2019
0 komentar