Tetap hidup
Ada
satu film series yang secara tidak langsung membenarkan hipotesis abal-abal
yang berbunyi “kadang yang membuat kita hidup itu tak semata-mata cinta, tapi
juga benci”. Di series Itaewon Class ini, di episode terakhir dia bilang dengan
jelas, bahwa yang membuat dia bisa melanjutkan hidup adalah kebenciannya kepada
orang yang melukainya di babak awal film ini.
Motivasi
utama adalah kebenciannya, dan rasa balas dendam yang terus mengembara
menjadikannya bensin untuk terus menggerakan mesin tubuhnya. Tapi di series itu
juga diperlihatkan bagaimana melanjutkan hidup dimotori kebencian tidak pernah
ditemani dengan rasa bahagia. Park Sae Royi, sang pemeran utama diperlihatkan
tak pernah bisa tidur tenang, bahkan tak pernah terhampiri olehnya secuil
pikiran bahagia dalam menjalani kehidupannya. Seolah, yang menyakiti dia telah
mengambil segalanya dan hanya menyisakan dendam yang tak bisa terbendung lagi.
Positifnya
adalah, dia menjadi seseorang yang determined.
Dari benci itu ada tujuan yang tercipta, ada sebuah tempat akhir yang terlahir
dari benci, yaitu menjadi kaya. Impiannya hanya satu, yaitu menjadi kaya,
dimana dalam penjelasan implisit yang mendetil, matanya seolah mencurahkan
bahwa ketika dia mencapai titik kaya, dia akan melepaskan bencinya dan
menuntaskan dendamnya. Perkiraannya adalah setelah itu akan ada kehidupan baru.
Ini
hanya cerita fiktif yang kebetulan digambarkan seolah mendekati realita dan
bisa berlaku untuk semua orang yang dulunya pernah dilukai. Orang-orang yang
sama terlukanya, yang bisa merasakan aliran bahan bakar hanya untuk bertahan
dan melanjutkan hidup. Series ini memberikan roaller-coaster dimulai dari dendam sampai pada saat pembalasannya.
Karena itu semua seperti dekat dan membuat penonton yang berada diposisi sama
memberikan respon “YASH!”.
Berapa
banyak orang yang patah hati, orang yang kecewa, yang akhirnya melanjutkan
sesuatu tanpa perasaan senang melainkan hanya benci yang terus memenuhi pikiran
dan hatinya. Banyak orang kehilangan pikiran jernihnya hanya untuk mengasihani
kebencian itu. Sungguh, memberikan luka lebih hebat pengaruhnya daripada
memberikan bahagia. Mengafirmasi bahwa segunung kebaikan seseorang akan lebih
mudah dilupakan daripada seupil keburukannya.
Hampir
setahun yang lalu, aing pernah ada diposisi itu. Bukan yang tersakiti, cuman
ada beberapa yang meninggalkan luka yang teramat dalam. Tak hanya sekali, tapi
beberapa kali. Anehnya, lisan yang berbicara dan tangan yang mengetik, selalu
saja memberikan jawaban bahwa semuanya sudah diikhlaskan, tapi hati dan pikiran
sama-sama tak bisa dikompromikan hanya karena lisan dan tulisan memberikan
keihklasan. Tapi bersyukurnya, hidup dimotori dengan sakit hati lebih terasa
hidupnya, walau kadang yang terasa menyedihkan bahwa sekuat apapun memaksakan
bahagia, tak pernah ada hasilnya. Selalu disetiap sepi, ada sepi. Disetiap
ramai dan canda, selalu saja ada sepi dan amarah. Entah kenapa.
Gak
ada manfaatnya sama sekali untuk hidup seperti ini, tapi intisarinya adalah
menjadi tetap hidup. Menjadi determined,
menjadi lebih tahu tujuan, dan mengurangi pikiran yang tak ada gunanya. Hidup
dalam kondisi apapun masih harus disyukuri karena garis bawahnya adalah tetap
hidup.
Dan suatu saat, di satu waktu, aing akan berada di episode terakhir kebencian ini, sama halnya dalam series itu. Sama dalam series ketika Park Sae Royi berkata ke Oh Soo A "Apapun yang kamu lakukan, lakukanlah, aku akan tetap baik-baik saja", karena sejatinya, semua orang akan mencapai episode terakhir dan memulai episode baru dalam kehidupannya.
0 komentar