• Tetap hidup

    by - 21.36


    Ada satu film series yang secara tidak langsung membenarkan hipotesis abal-abal yang berbunyi “kadang yang membuat kita hidup itu tak semata-mata cinta, tapi juga benci”. Di series Itaewon Class ini, di episode terakhir dia bilang dengan jelas, bahwa yang membuat dia bisa melanjutkan hidup adalah kebenciannya kepada orang yang melukainya di babak awal film ini.

    Motivasi utama adalah kebenciannya, dan rasa balas dendam yang terus mengembara menjadikannya bensin untuk terus menggerakan mesin tubuhnya. Tapi di series itu juga diperlihatkan bagaimana melanjutkan hidup dimotori kebencian tidak pernah ditemani dengan rasa bahagia. Park Sae Royi, sang pemeran utama diperlihatkan tak pernah bisa tidur tenang, bahkan tak pernah terhampiri olehnya secuil pikiran bahagia dalam menjalani kehidupannya. Seolah, yang menyakiti dia telah mengambil segalanya dan hanya menyisakan dendam yang tak bisa terbendung lagi.

    Positifnya adalah, dia menjadi seseorang yang determined. Dari benci itu ada tujuan yang tercipta, ada sebuah tempat akhir yang terlahir dari benci, yaitu menjadi kaya. Impiannya hanya satu, yaitu menjadi kaya, dimana dalam penjelasan implisit yang mendetil, matanya seolah mencurahkan bahwa ketika dia mencapai titik kaya, dia akan melepaskan bencinya dan menuntaskan dendamnya. Perkiraannya adalah setelah itu akan ada kehidupan baru.

    Ini hanya cerita fiktif yang kebetulan digambarkan seolah mendekati realita dan bisa berlaku untuk semua orang yang dulunya pernah dilukai. Orang-orang yang sama terlukanya, yang bisa merasakan aliran bahan bakar hanya untuk bertahan dan melanjutkan hidup. Series ini memberikan roaller-coaster dimulai dari dendam sampai pada saat pembalasannya. Karena itu semua seperti dekat dan membuat penonton yang berada diposisi sama memberikan respon “YASH!”.

    Berapa banyak orang yang patah hati, orang yang kecewa, yang akhirnya melanjutkan sesuatu tanpa perasaan senang melainkan hanya benci yang terus memenuhi pikiran dan hatinya. Banyak orang kehilangan pikiran jernihnya hanya untuk mengasihani kebencian itu. Sungguh, memberikan luka lebih hebat pengaruhnya daripada memberikan bahagia. Mengafirmasi bahwa segunung kebaikan seseorang akan lebih mudah dilupakan daripada seupil keburukannya.

    Hampir setahun yang lalu, aing pernah ada diposisi itu. Bukan yang tersakiti, cuman ada beberapa yang meninggalkan luka yang teramat dalam. Tak hanya sekali, tapi beberapa kali. Anehnya, lisan yang berbicara dan tangan yang mengetik, selalu saja memberikan jawaban bahwa semuanya sudah diikhlaskan, tapi hati dan pikiran sama-sama tak bisa dikompromikan hanya karena lisan dan tulisan memberikan keihklasan. Tapi bersyukurnya, hidup dimotori dengan sakit hati lebih terasa hidupnya, walau kadang yang terasa menyedihkan bahwa sekuat apapun memaksakan bahagia, tak pernah ada hasilnya. Selalu disetiap sepi, ada sepi. Disetiap ramai dan canda, selalu saja ada sepi dan amarah. Entah kenapa.

    Gak ada manfaatnya sama sekali untuk hidup seperti ini, tapi intisarinya adalah menjadi tetap hidup. Menjadi determined, menjadi lebih tahu tujuan, dan mengurangi pikiran yang tak ada gunanya. Hidup dalam kondisi apapun masih harus disyukuri karena garis bawahnya adalah tetap hidup. 

    Dan suatu saat, di satu waktu, aing akan berada di episode terakhir kebencian ini, sama halnya dalam series itu. Sama dalam series ketika Park Sae Royi berkata ke Oh Soo A "Apapun yang kamu lakukan, lakukanlah, aku akan tetap baik-baik saja", karena sejatinya, semua orang akan mencapai episode terakhir dan memulai episode baru dalam kehidupannya.  



    You May Also Like

    0 komentar