"Perfect Quote" sebuah hiburan
Masa karantina ini memang menjadi ajang untuk mencari cara apapun untuk setidaknya "stay sane" atau tetap menjadi waras. Apapun yang berlebihan pasti tidak selalu berakhir baik, begitupun dengan karantina dan mengurung diri dikamar hampir tiga bulan dan masih berlanjut sampai sekarang. Sehingga, opsi hiburan dari Netflix, Viu, dan Youtube adalah teman sehari-hari tanpa mengenyampingkan tugas dan tanggung jawab pada saat bekerja dan belajar dari rumah atau WFH dan LFH.
Ada beberapa acara dan series yang sampai saat ini masih terngiang-ngiang dan sangat berkaitan sekali dengan kehidupan dalam sudut pandang diri aing.
Dari drama serial Reply 1988 tahun 2015, drama yang paling heartfelt dan membahagiakan dari cast sampai alur ceritanya. Tapi ada kata-kata yang sangat nyambung dan ngena banget dengan apa yang sering aing rasakan dan sering lakukan dan juga sering jadi pikiran, terpampang dan tersampaikan di drama ini.
“In life, sometimes you become indebted to others or you inconvenience others. It happens. Everyone lives like that. Don’t suffer too much on your own.”
Dalam prosesnya menuju seseorang, banyak banget orang baik, orang yang tiba-tiba datang, orang yang perhatian sampai memberi perhatian terhadap hal kecil, orang yang benar-benar berniat menolong dan mencoba memberikan opsi solusi, orang yang benar-benar ada di saat yang lain entah gak tau dimana, dan orang yang sering direpotkan. Sebuah perasaan yang gak enak adalah ketika dihadapkan dengan orang-orang seperti itu, dan kadang kala, itu membuat aing merasa terbebani dan entah harus ngapain sama orang-orang seperti itu.
Wow, pas cerita drama saat alur seperti itu, dan diakhir ada quotenya, sedikitnya memberi jawaban yang ngena dan membuat sadar. Kita hidup bersosial, dan seringkali akan melibatkan orang lain dalam bertahan hidup. Tak terelakan lagi, kita akan merasa berutang budi, memberikan ketidaknyamanan kepada orang lain, bahkan perasaan "sangat merepotkan" akan pasti ada disela-sela kehidupan kita. Dan semua orang mengalaminya, dan harus sama-sama mengingatkan kepada semua orang bahwa itu normal. Don't suffer too much on your own.
Selanjutnya tentang kebahagiaan. Ada reality show Korea judulnya Knowing Bros/ Man of Missions. Disana ada segmen perkenalan diri, dimana bintang tamu itu mengisi formulir yang disediakan host nya, lalu host nya bertanya-tanya dari jawaban form yang ditulis bintang tamu.
Waktu itu, sedikit lupa episode yang mana, yang jelas bintang tamunya itu adalah sebuah grup idol cewek yang terkenal di Korea. Karena memang tujuan awal hiburan dengan menonton reality show mereka adalah girlband yang cantik dan bening-bening, jadi hiburannya kerasa. don't get me wrong ya, ini kan hiburan, sesuatu yang membuat kita ketawa-ketawa dan bahagia gitu, bukan genderisme atau apapun. Genderisme ini apaan dah aing.
Nah, karena nama orang korea itu mirip-mirip, jadi langsung lupa. Tapi kurang lebih percakapannya seperti ini.
👨 : Jadi Seo Youn (anggap aja nama artisnya itu ya), kamu tulis cita-cita mu "ingin bahagia?"
👩 : Iyah, aku ingin bahagia.
👨 : Emang bahagia kamu bahagia yang seperti apa?
👩 : Punya uang, rumah sendiri, karir bagus, ya seperti itu lah.
👨 : Uang itu bukan segalanya, dan gak akan selalu bisa bikin bahagia, Seo Youn.
Nah jawaban si artis setelah omongan diatas ini yang ngena dan bikin penanya atau host nya itu diam sesaat.
👩 : Memang, aku tahu. Tapi setidaknya aku ingin merasakannya. (Yes, I do. But I want to experience it)
Mengalaminya secara langsung. Orang-orang yang menasihati bahwa uang bukan segalanya adalah orang-orang yang sudah melewati fase itu. Dan tetep gak akan masuk kalo bilang kaya gitu ke orang-orang yang dari kecilnya belum melewati fasenya. Orang yang udah punya rumah bagus, dan menasihati orang yang berjuang untuk ngumpulin DP KPR ya akan masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Orang yang "matre" belum tentu peduli ia begitu, karena itu yang menjadi tujuannya. Jadi terkadang, banyak orang yang melihat sesuatu secara subjektif diberitahukan kepada semua orang yang tentunya beda banget pemikirannya dengan dia.
Orang yang dari awal pake iphone 5, pada saat tren lagi berubah ke Pro 11, dan Iphone 5 nya dikasih ke orang yang dari awal pake Nokia daun, ya pasti seneng dan bahagia. Karena dimatanya, yang pake iphone 5 itu pasti seneng. Padahal, dalam hati orang yang udah pake 11 Pro, ya pasti keheranan lihat 5 bisa buat bahagia yang punya Nokia daun.
Sama halnya dengan aing, yang selalu ngerasa kebahagiaan itu ada takarannya. Dan tanpa mengenyampingkan apapun dan tak ingin menyinggung siapapun, di mata aing orang yang financially stable itu most likely happy. Udah tahu dan ngerti dong alasannya kenapa? ya karena aing belum pernah merasakannya. :))). Itu intinya.
I want to experience it in person.
Ada lagi quote atau kurang lebih ungkapan dalam drama Hospital Playlist yang baru udahan minggu ini. Ada satu scene di episode terakhir menunjukan Jung Wan yang lagi galau karena abis operasi panjang jadi tidak sempat ngabarin pacarnya yang mau ninggalin dan LDR ke luar negeri selama 3 tahun. Karena galau, si Dr Jung Wan ini ngajak nyari udara ke asisten dokternya Soek-Min yang udah lama nemenin si Jung Wan ini, semacam bawahannya langsung. (ini namanya hafal karena sambil liat AsianWiki, jadi tau wkwk).
Nah kata-katanya si Soekmin ini yang masih nempel dikepala. Dialog aslinya lupa gimana, tapi poin besarnya nempel terus dikepala.
Dia bilang "Aku sudah melakukan test medis ini dua kali, bro. Aku siapin dan pelajarin semua materinya supaya bisa lulus dan yakin bahwa karir aku disini akan cerah. Tapi, karena banyak belajar, ilmu ku semakin banyak, dan referensi juga banyak banget bro. Tapi, aku selalu berusaha keras buat mikir ketika saatnya aku harus membuat keputusan. Indecisiveness is my weakness. Aku banyak banget ilmu tapi gak tahu kapan dan gimana aku gunainnya."
Gitu kira-kira, dia manggil bro itu mah aing aja yang lebay-in, karena memang momennya pas lagi curhat-curhat an jadi honorific nya ditunda dulu di dialog itu.
Intinya, dan benarnya, itu juga terjadi dan sangat berkaitan banget dengan apa yang aing suka rasakan. Banyak wawasan dan ilmu pengetahuan itu sekilas mengkilat dan bagus banget, tapi lemahnya adalah ilmu dan wawasan itu belom tau tepatnya dipake buat apaan.
Ketika dihadapkan dengan sesuatu yang benar-benar harus mengiris otak, knowledge dan wawasan itu kayak gak ada gunanya. Dan, dialog itu ngena banget.
Dari kuliah, aing selalu bertekad untuk mempelajari apa yang seharusnya dipelajari untuk menambah skill, tapi terkadang, tempat tujuannya selalu gak tepat. I was being told I was useless, being told that I academically hundreds but practically zero, I was being told that I couldn't even do the single little job that young boy who never attend college see it very easy.
Dialog itu malah mengingatkan kembali kritik itu yang harusnya sebenarnya bisa menjadi evaluasi sendiri. Dan, yang lebih penting, adalah dialog respon dari Jung Wan ke Soekminnya, dia bilang
"Tanya gue, kehed. Kalo lagi gitu, ya tanya gue sia teh. Gue kalo lagi gak sibuk pasti bantu". Korea berasa di RSUD Garut. wkwk
Jadi, sebenernya karena aing selalu gampang down dan memilih untuk menghibur diri sebelum bangun lagi, jadinya keadaannya akan sama aja. Harusnya ya nyari orang yang sama sikapnya kaya si Jung Wan. Karena kita terlalu self-centric, kita lupa orang-orang yang kita tahu akan terus nemenin dan ngasih uluran tangan buat ngajak ngobrol, cerita, sampai akhirnya meningkatkan kembali kepercayaan diri. Sendirian itu lebih banyak bikin kita lemah dan kekontrol sama emosi.
Jadi, itulah unek-unek dan quote-quote yang ngena setelah kena convenience-syndrom barbie-barbie gemes personil Twice dan Red Velvet. Cheers.
1 komentar
Knowing Bros favorit banget, apalagi kalau om-om itu yg nyeletuknya suka bikin sakit hati haha. Itu episode AOA ya kalau ga salah, tapi lupa lagi sih.
BalasHapus