Perbedaan media pertemanan
Hipotesisnya begini, semakin banyak referensi semakin banyak yang dimuat kedalam pikiran kita. Semakin banyak teman, semakin banyak juga tipe pertemanan kita. Dalam memecahkan suatu masalah, banyak referensi juga belum tentu bagus karena saat menghadapi situasi yang riil pasti lebih membingungkan memilih yang mana. Berlaku juga dengan banyak teman, semakin banyak juga malah semakin membuat bingung.
Bagi saya, ada tiga kategori pertemanan, pertemanan Instagram, facebook dan twitter. Waktu zaman sering kabur ke warnet hanya untuk facebook, menambahkan pertemanan sampai ribuan itu merupakan sesuatu yang patut dibanggakan. Nyatanya, sampai sekarang, sudah ribuan teman yang ada dalam daftar pertemanan itu. Instagram dan Twitter populer setelah beberapa tahun sejak kedatangan facebook, jadi yang lebih senior adalah facebook.
Tapi bukan itu intinya. Seiring dengan bertambahnya umur, inget ya umur, bukan kedewasaan, tiga media pertemanan itu malah menunjukan fungsi dan statusnya bagi saya. Dan tak jarang malah membawa saya menuju pemikiran-pemikiran yang tak ada habisnya. Pernah sampai pada pertanyaan, "aing nyari apa sebenarnya ini?".
Di Facebook, banyak teman yang datang dari zaman SD, SMP, sampai kerja sekarang. Semua ada, bahkan orang-orang yang dulu hanya terpintas sesaat, kaya semacam "oh tau tuh, si A ini dulu temennya si B" padahal belum pernah ketemu langsung apalagi ngobrol. Banyak juga di FB ini teman-teman yang dulu dari SD sudah kenal dan tahu kisah hidupnya, tapi terkejut setelah melihat isi statusnya.
Di IG, teman-temannya masih fresh karena aktif IG waktu itu belum lama, yang jelas gak selama Facebook. Banyak banget role model, lingkaran pertemanan hebat karena ya tahu lah ya di IG itu jarang sekali ada orang yang mengupdate hidup susah, atau foto jelek. Tak hanya itu, bukan hanya halu yang ditampilin tapi emang prestasi dan apa yang dikerjakan sama mereka. Seringkali saya menemukan inspirasi dan ide untuk terus bertahan hidup.
Di Twitter, yang paling jujur dan tulus adalah temen-temen twitter memang. Kata-katanya memang tulus, ada yang mengumbat, menghasut, marah-marah, ngasih inspirasi, ngritik dan semua ada. Bukan mau bilang di FB atau IG gak ada, tapi rasanya twitter mempunyai ruang untuk membuat seseorang lebih terbuka daripada FB dan IG.
Perbedaan itu kadang saya jadikan sebagai pembelajaran tipe teman dalam melihat satu kejadian. Salah satunya adalah sudut pandang. Satu topik yang mencolok adalah dalam menjalankan kehidupan. Dalam hidup, tingkatan selanjutnya dari status anak adalah menikah. Menikah ini hmmm sakral sekali.
Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap pembaca yang tak tahu ada yang baca atau enggak, nikah itu adalah pilihan hidup. Saya melihat nikah itu impian dan tujuan, yang benar-benar harus dipersiapkan dan diperjuangkan. Di FB, banyak banget orang-orang yang saya kenal sudah menikah, beranak, dan berkembang biak. Hahaha
Maksudnya adalah nikah itu gampang banget ya buat mereka, atau memang saya saja yang memandang susah?
Saya belum tahu arah tulisan ini kemana, tapi ini hanya sebuah ekspresi saya setelah melihat ucapan selamat lebaran dari orang-orang yang saya kira masih belum menikah tapi ternyata sudah punya anak dua. Memang, tak bisa dibandingkan keadaan kita dengan orang lain apalagi menyamakannya, tapi dalam menjalani rumah tangga setiap orang seharusnya mempunyai landasan sama adalah serius dan tak memandang sepele.
Di IG, banyak sekali teman saya yang memperlihatkan perjuangannya untuk terus tumbuh sehingga menjadi sebuah inspirasi seperti yang saya bilang. Di FB, banyak juga teman saya yang mengingatkan bahwa kuncinya ya satu, "jalani aja". Mau kondisi seperti apapun, ya dijalani. Di twitter itu posisinya ditengah. Harus berjuang, dan yaudah jalanin aja.
catatan malem selasa setelah lebaran sendirian.
0 komentar