GALAU TINGKAT RAYAPAN LINTAH
Gue sekarang duduk dikelas 12 semester satu yang akan liburan tanggal 20
ini. Seperti orang lain, masa-masa ini adalah masalah tersulit gue untuk
menentukan kelanjutan hidup pendidikan gue. Banyak kata-kata yang terus
membayangi pikiran gue. “Jangan sampe salah milih, nanti kedepan nya susah”.
Kata itu seakan membuat gue galau seperti lintah yang ingin pintas jalan yang
jalan nya super lelet. Artinya gue ga cepat untuk membiarkan kata-kata itu
berlalu.
Pikiran manusia seumuran gue yang ingin membahagiakan orang tua nya pasti
ingin mengurangi beban orang tua untuk kuliah. Lo tahu kan biaya kuliah itu
mungkin terlalu mahal untuk orang yang upah nya tidak pasti kayak gue. Beasiswa
pun menjadi incaran gue untuk bisa melanjutkan pendidikan gue. Niat memutuskan sekolah,
gue sama sekali ga ada niat. Memang benar kata orang, selama bermimpi itu
gratis, cantumkanlah, siapa tahu mimpi itu telah dibangunkan dan menjadi
kenyataan. Buktinya gue, pas SMP gue ga tahu mau melanjutkan kemana, ada
pikiran untuk masuk pesantren lagi karena SMP gue pesantren, lalu gue cantumkan
mimpi gue di tembok kamar kalo gue akan mendapat kan SMA yang terbaik. Saat
itu, gue mengetahui kondisi ekonomi keluarga gue sedang merosot banget sampe
anu nya keliatan (?).
Sebelum UN SMP tahun 2008, gue selalu memikirkan kemana gue selanjutnya.
Pagi, siang, malam gue memikirkan itu tapi tak lupa gue makan karena gue lapar.
Di mesjid gue berdoa, di kamar gue baca al-quran dan di lapangan futsal ya gue
maen bola. Memang benar, cara yang sangat efektif untuk mencari inspirasi
adalah di wc saat kita buang air. Kalo ga percaya, silahkan coba tapi jangan
lupa pake masker karena gue tahu dan gue ngerti gimana lo. Hari demi hari gue
lalui dan gue melihat ada orang-orang pinter yang terlihat sibuk. Oiya, gue adalah
salah satu murid biasa yang suka dan hobi maen bola, terobsesi makan mie ayam,
dan selalu mudah BAB kalo lagi dingin. Gue
melihat anak-anak pinter yang sibuk mau daftar beasiswa. Gue sempat
ngintip-ngintip gak jelas karena mungkin temen-temen deket gue akan ngomong
aneh kalo gue mutusin ikut nimbrung.
“Kamu mau daftar Cep? Oh sukses yah” kata-kata bagus tapi sedikit diiringi
nada sindiran dan senyum kecil ke gue. Gue merefleksikan diri gue akan hal itu.
Gue sempat mikir kenapa gue harus melihat orang lain yang memandang sebelah
gue. Mungkin mereka melihat kemalasan gue, tapi setidaknya gue mendapatkan
nilai yang tidak terlalu jelek. Gue memberanikan diri untuk mengisi formulir
yang lumayan banyak. Biasa menurut gue karena itu formulir beasiswa jadi harus
secara detil. Gue melihat temen-temen gue yang gue sadari lebih pintar sangat
sibuk mengurus ini itu untuk beasiswa itu. Gue masih inget omongan temen gue
waktu malam-malam.
“Cep? Kamu udah ngisi formulir kayak mereka?” sambil nunjuk ke orang sibuk.
Kebetulan temen gue ga daftar karena dia sadar lebih katanya kalo dia ga
bakalan masuk.
“Lagi dalam proses aku mah” jawab gue.
“Aku mah aneh sama kamu teh, katanya mau dapet beasiswa tapi kamu ga
sesibuk mereka. Yang ada kamu hanya tiduran, maen bola. Liat tuh kayak nya
mereka udah pada selesai orang tanggal pengumpulan nya dua hari lagi”.
Kata-kata itu telah membuat gue sadar kalo gue harus merubah kebiasaan hidup
gue dulu. Selama dua hari itu, gue hampir begadang terus dan kadang tidur sejam
untuk mengisi formulir itu. Hal yang paling berat saat itu adalah ketika harus
ada tanda tangan orang tua, komentar orang tua, yang dimana gue sedang berada
jauh dari orang tua. Gue hanya bisa melakukan satu hal yaitu kabur satu hari ga
pake bermalam hanya untuk melengkapi formulir itu. Jaraknya pun tidak dekat dan
membutuhkan waktu tiga jam untuk sampai rumah.
Gue mengisi formulir itu dengan seluruh anggota tubuh gue sampai gue
merasa udah dimimpi pas ngerjain esay nya.
Formulir sudah lengkap gue isi dengan sekuat tenaga gue, dengan seluruh
keringat dan begadang gue. Gue ingat selalu bagian pengasuhan Ust.M.Al-fatih
yang mengantarkan surat itu langsung ke jakarta. Formulir itu ga menerima cap
pos dan harus langsung. Gue tidak akan pernah lupa untuk beliau. Setelah UN selesai,
pengumuman kelulusan formulir udah di post
di laman resminya. Bersyukur nama gue terpampang di deretan nama yang lulus
formulir. Ada dua orang temen gue yang harus tereliminasi dari kompetisi
beasiswa itu. Gue heran kenapa mereka ga masuk, padahal mereka itu lebih pintar
daripada gue. Mungkin itulah yang terbaik buat mereka.
UN pun telah gue lewati dengan hasil yang cukup memuaskan, kecuali nilai
bahasa Indonesia. Gue sempat berpikir dan bertanya-tanya “Gue itu sebenernya
orang Indonesia apa orang Inggris sih?” nilai inggris gue lumayan bagus, ekh
pas nilai Indonesia gue dipampang di SKHUN itu layaknya troublemaker dan perusak suasana bagi kelangsungan hidup SKHUN dan
keindahan nya. Ya itulah gue dan mungkin itu juga yang terbaik buat gue.
Setelah UN, gue melanjutkan kegiatan gue untuk mengikuti tes seleksi beasiswa
itu. Gue pergi saat itu ke Pondok Gede tepatnya di Asrama Haji. Gue juga masih
ingat kalo itu adalah kali pertama gue pergi ke ibukota. Debut perjalanan gue
ke daerah metropolitan itu. Meskipun itu pertama, tapi gue menjaga image gue untuk beradaptasi
dilingkungan. Kalo dikota ya gue jadi orang kota, dikampung ya gue jadi orang
kampung, diwese ya gue jadi orang yang berekspresi ke-wese-an. Tes itu gue
jalani tiga hari dua malam. Disana banyak anak-anak sebaya yang berasal dari
daerah lain. Sangat senang bagi gue, juga sangat takut karena dari muka-muka
nya udah lebih kotakan daripada gue. Hal itu tidak membuat semangat gue bludar,
gue tetap fokus dengan apa yang menjadi tujuan gue. Tes itu telah gue lewati
dengan perasaan lega karena gue merasa udah melakukan dengan semua kemampuan
gue. Tinggal tunggu hasilnya.
Sekitar dua bulan (kalo gak salah) gue menunggu, tapi belum ada kabar. Beberapa
temen gue udah mendapat informasi dari pihak sekolah kalo si doi masuk. Yah gue
masih inget kalo si doi ngasih tahu gue pas gue mau pulang kampung dari
sekolah. Keesokan harinya, temen baru gue yg ketemu ditempat tes juga
mengabarkan gue kalo si doi masuk. Satu persatu temen gue telah diinformasikan
lewat telpon kalo mereka telah diterima dan mendapatkan beasiswa itu. “Mungkin
itu sudah menjadi jalan yang terbaik buat mereka” kata-kata itu hendak mewarnai
hati dan pikiran gue. “Mungkin gue belom saatnya mendapatkan beasiswa itu”.
Kesadaran itu menyadarkan gue untuk tidak terlalu terfokus kepada hal yang
belum pasti. Gue harus mempunyai backup
buat sekolah SMA selain mengandalkan beasiswa itu. Orang tua gue pun seakan hunting sekolah yang terbaik buat gue.
Waktu itu ada dua sekolah yang akan gue pilih satu. Ada SMK dan juga SMA. Gue pun
memilih untuk mengisi formulir pendaftaran dari keduanya. Kadang hati kecil
merasa ketidakserasian untuk mengisi formulir itu, tapi gue harus memaksakan
diri gue itu. Formulir pun sudah siap dan rencananya besok akan gue kasih
kesekolah yang bersangkutan. Ada hati gelisah dan mungkin menunjukan gue untuk
terus berjuang mencari sekolah yang terbaik buat gue.
Malam pun tiba dan saat itu gue tengah asyiknya menonton TV padahal saat
itu gue sedang ngantuk. Tiba-tiba ada nomor tak dikenal telah menderingkan hape
gue.
“Halo? Ini benar dengan Acep Kholid Kusaeni?”
“Iyah benar, maaf ini dengan siapa yah?”
“Ohh, gimana ujian nasional nya kemarin?”
“Ya seperti itulah, semuanya bagus kecuali bahasa indonesia yang mungkin
harus lebih bersemangat lagi. Mohon maaf ini siapa yah?”. Konversasi itu seakan
menginterogasi gue tentang kemana gue akan melanjutkan sekolah, gimana kabar
keluarga, kondisi keluarga, semuanya tentang kehidupan gue yang akan datang.
Kecuali pertanyaan alay seperti ‘udah mam loems’ ‘udah mandi loems’ dan
sebagainya. Gak nyangka banget telpon itu adalah telpon pemberitahuan kalo gue
dapet beasiswa itu. Gue loncat-loncat, gue joget-joget, tapi sambil bergelinang
air mata. Seneng banget malam itu sampai kedua orang tua gue nangis bersama. Yang
paling gak bisa dilupakan adalah besoknya gue akan daftar sekolah negri tapi
malam nya ada pemberitahuan. Karena merasa belum percaya, mamah gue langsung
menelpon balik ke kantor pusat nya, dan nama gue memang sudah tercatat sebagai
penerima beasiswa. Bersyukur banget dan gue sujud syukur waktu itu.
Sampai akhirnya gue ditanya untuk pergi kewarnet malam-malam itu tapi gue
bertanya balik buat apa, karena jarak rumah sama warnet itu ga deket.
“Kamu ke warnet, kamu cek email kamu, terus print out kertas nya jangan lupa isi dulu dan kasih tandatangan
diatas materai 6000. Setelah itu kamu kirimkan kertas aslinya lewat pos, terus
sebelum itu kamu scan lagi dan kirim
balik ke email saya”
“Iyah, maaf di scan itu
digimanain yah?” tanya gue polos. Pertanyaan itu seakan menakutkan banget buat
gue karena gue takut ketidaktahuan gue akan membuat beasiswa itu hilang.
“Oh Acep ga tahu yah, yasudah nanti Acep tanya saja ke tukang warnet nya
suruh scan dan kirim balik ke email
pengirim nya yah” jawab mas Aji waktu itu. Namanya bakal menjadi fenomenal buat
hidup gue. Beasiswa itu mengantarkan gue kesekolah bertaraf internasional yang
menyediakan kurikulum luar dan dalam negeri. Sekolah itu membuat gue mengerti
dan belajar untuk menguasai bahasa Internasional yaitu English. Ini didukung
dengan buku paket yang hampir semua berbahasa inggris. Lingkungan nya pun
seperti guru-guru memakai bahasa inggris untuk menyampaikan materi nya.
Hasilnya gue pun bisa mengenal dunia global, berpikir kritis, dan mencoba untuk
mengubah hidup gue kearah yang lebih baik. Sekolah itu sekarang bernama Akademi
Siswa Bangsa Internasional (ASBI) yang bertempat di Bogor.
Saat ini gue udah menginjak semester terakhir dan kembali ke permasalahan
gue yang galau untuk menentukan kemana gue akan melanjutkan pendidikan gue.
Biaya yang terkenal tidak sedikit membuat sebagian orang menghentikan niat nya
untuk kuliah dan langsung bekerja. Gue pun bingung tapi gue akan berusaha untuk
mencari kuliah tanpa harus membebani orang tua gue. Gue juga yakin pendidikan
yang tinggi membuat orang bisa berkontribusi kepada negara nya sendiri dan tahu
mana yang baik dan yang lebih baik buat dirinya, bangsanya, dan hidupnya.
NB: bagi yang punya info beasiswa kuliah S-1, bisa dishare dibawah yahhh... Berbagi itu indah banget yahhh....
NB: bagi yang punya info beasiswa kuliah S-1, bisa dishare dibawah yahhh... Berbagi itu indah banget yahhh....
2 komentar
Hari gini masih galau? Nggak jaman lagi
BalasHapusMemilih itu gampang koq, tinggal ambil yg kamu suka dan nikmati. Dan apabila pilihan itu terasa tidak cocok tinggal kamu yg menyesuikan diri. Hidup itu tidak melulu apa maunya kita tapi ada tangan tangan lain yg terlibat, apa yg kamu rasa tidak suka bisa jadi itulah masa depanmu yg indah.
Soal biaya, banyak koq kerja sampingan agar tetap bisa sekolah. Bisa les privat, cuci mobil, kerja toko, jualan asongan dll.
Saya dulu melakukan seperti itu akhirnya selesai juga kuliah, dan itu akan mematangkan pola pikir realistis kita.
Selalu ada jalan buat orang sepinter Acep mah.
BalasHapus