Refleksi Agama nih
Teman-teman, pernah dengar surah Ar-rahman? Mungkin itu
salah satu surah Al-Quran. Iya jelas itu bukan surah cinta. Aku sering
mendengar surah itu dengan banyak ayat yang kembar. Perlu aku teliti apa yang
dimaksud dengan pengulangan surah itu. “Lalu nikmat manakah yang kamu
dustakan?” kira-kira seperti itu. Nah ini yang seharusnya menjadi bahan
refleksi dibandingkan hal lain. Kenapa Allah Swt mengulang ayat itu
berkali-kali.
Tak dapat kita pungkiri bahwasannya kita berada dizaman
post-modernisme. Zaman semua menjadi serba santai dan mudah. Teknologi pun
sedang naik daun sekarang, bahkan telah mencapai julukan ‘naik pohon’ karena
revolusinya yang sangat signifikan. Ilmu pengetahuan pun tidak kalah dengan
teknologi nya. Banyak penelitian-penelitian terbaru yang membuat kita
tercengang. Salah satunya adalah dengan teknologi yang semakin canggih itu.
Pada umumnya teknologi maju karena ilmu pengetahuan yang menuntun teknologi
menjadi seperti ini. Masalah yang muncul pun sekarang agak berbeda. Masih iman
kah mereka kepada Allah Swt, Muhammad Saw, Al-qur’an serta hadist? Atau mereka
memiliki keyakinan lain yaitu gadgetisme dan internetisme?
Perkembangan IPTEK ini seakan membuat manusia seakan lupa
pasangan hidup sendiri. Pasangan pertama, kedua, sampai kelima (maksudnya Allah
swt, Rasulnya, Alqur’an dan istri/suami tercinta). Mereka malah berselingkuh
dengan alat teknologi mutakhir (tidak mutakhir juga). Mereka para autis
teknologi seakan bergelut dengan hape daripada memanjakan istri/suami apalagi
memanjakan Allah. Ini yang telah diterangkan oleh nabi kita nabi Muhammad Saw
bahwasannya,
“ kelak akan datang suatu masa diman kalian akan menjadi
seperti makanan diatas piring yang dihadapi oleh orang-orang yang kelaparan.
Maka para sahabatnya bertanya,”Apakah karena jumlah kita sedikit, ya
Rasulullah? Jawab Nabi SAW,”bahkan jumlah kalian sangat banyak. Tetapi kalian
terkena penyakit “wahn”! Tanya para sahabat,” Apa itu “wahn” ya Rasulullah?
Jawab Nabi SAW,” kalian cinta dunia dan takut mati”.
Hadist ini mungkin akan membuat kita tahu akan seperti
apakah dunia ini dalam teknologi dan ilmu pengetahuan. Mungkin benar terjadi
ada keyakinan lain yang dimana mendewakan internet dan gadget canggih.
Singkat, aku mempunyai guru dulu yang tentunya mengajar
dan memberikan ilmu. Awalnya sebelum beliau membeli hape baru, gaya mengajarnya
sangat bagus bahkan terus memperhatikan anak didiknya sedetil mungkin. Kadang,
beliau kesal ketika kita tidak bisa menjawab pertanyaan nya. Berbeda halnya
ketika dia dikabarkan telah membeli hape baru yang kebetulan sedang ngetrend
kala itu. Tak perlu disebut apa mereknya, yang jelas sering dipanggil “BeBe”.
Sejak saat itu, gaya mengajarnya lebih memberi tugas, sementara beliau
ketawa-ketawa sendiri melihat layar dihape kecil itu. Karena aku ingin menjadi
anak baik, aku kerjakan apa yang diperintahkan beliau. Ngerjain tugas, ya aku
ngerjain tugas, baca referensi dari buku ya aku baca, ke toilet ya aku ketoilet
tapi ga disuruh juga tapi itu kemauan sendiri (gak nyambung). Ada yang
bertanya, jawabannya adalah “coba cari dulu nak di buku itu”, ya kita cari
terus kita belum mendapatkan hasil yang kita butuhkan, kita tanya lagidan dia
menjelaskan dengan ketidakrelaan untuk melepas bebe itu dari tangan dan
jarinya.
Bebe itu seakan membuat beliau lupa daratan dunia. Ketika
saatnya saya diberi penelitian kecil tentang teknologi, saya memberikan
beberapa pertanyaan kepada beliau seputar bebe itu. Salah satunya adalah “apa
dampak dari menggunakan bebe itu sendiri?” dan jawaban beliau masih membuat
saya bingung sampai sekarang. Jawaban nya adalah “Membuat orang Autis”. Hal
yang saya bingungkan adalah beliau memakai bebe, terus beliau menjawab membuat
orang autis dari dampak memakai bebe, bisa dapat disimpulkan bahwa beliau
adalah ***** (tidak disebutkan karena itu tidak sopan atau istilah keren nya
adalah kewalat).
IPTEK ini sebenarnya adalah salah satu perintah yang
dilaksanakan baik oleh hamba-hambanya. Karena dalam Islam itu anti-statis tapi
pro-dinamis. Islam menganjurkan perkembangan seperti yang banyak dijelaskan
didalam Al-Quran salah satunya adalah 53:33. Bahkan Rasulullah sekalipun tidak
segan-segan untuk mewajibkan pengikutnya untuk menimba ilmu walaupun jarak
sejauh mungkin. Itu artinya, sudah seharusnya IPTEK ini menjadi salah satu
kepatuhan kita sebagai umat muslim untuk terus berkembang dan mengembangkan
dalam hal IPTEK ini sendiri. Terlepas dari itu, ada perbedaan dimana yang
mengembangkan adalah orang berimana ataupun tidak karena dalam surah 10:101
Allah memperingatkan kepada orang-orang yang tidak beriman. Masalah yang sedang
on fire adalah tidak semua yang
mengembangkan atau merevolusikan IPTEK adalah orang yang beriman. Memang sudah
dijelaskan dalam surah 10: 40 bahwasannya ada yang beriman ada juga yang tidak.
Dapat dimaklumi namun acap kali dapat dicegah dan diubah.
Pada akhirnya, aku berasumsi bahwasannya dunia ini
khususnya di era post-modern ini masih
terjadi peperangan ideologi tentang IPTEK ini. Orang islam yang taat malah acap
kali berkata teknologi canggih adalah siasat orang kafir untuk mengkafirkan
orang islam sebab sebagian besar yang merevolusikan teknologi adalah orang yang
tidak beriman bahkan yang tidak punya Tuhan sekalipun ataupun Ateisme. Aku juga
sebenernya ingin merfleksikan tubuhku ini bahwasannya itu tidak benar. Allah
Swt juga memerintah kita sebagai umatnya harus dinamis. Arti dinamis ini adalah
berkembang mengikuti zaman. Namun bedanya adalah kita sebagai orang Muslim
adalah orang yang dibilang mu’min (orang yang beriman) dan berpedoman
Al-qur’an, namun mereka orang yang tidak mu’min. Pada intinya, Allah swt, juga
memperingatkan di Al-qur’an untuk bersyukur, dan banyak lagi ayat yang
menerangkan tentang semua hal dimuka bumi ini. Bila kita hanya berperang
ideologi dengan orang kafir, itu berarti menentang Allah, karena dalam alqur’an
sendiri itu ada ayat yang menerangkan tentang bertoleransi walaupun kepada
orang non-muslim.
Singkat kata, IPTEK ini adalah sebuah pencapaian umat
manusia atas apa yang diperintahkan Allah Swt. Semua tergantung bagaimana kita
menyikapinya dan menyerap apa yang diperingatkan oleh Allah Swt. Dia (Allah
Swt) sudah menyiapkan semuanya untuk kita (manusia), namun kita acap kali belum
bersyukur dan menyadari sepenuhnya.
“Maka nikmat manakah yang kamu dustakan?!”
Sekian..
1 komentar
benar-benar memberi pencerahan :) nice post..
BalasHapus