• Refleksi Agama nih

    by - 17.24



    Teman-teman, pernah dengar surah Ar-rahman? Mungkin itu salah satu surah Al-Quran. Iya jelas itu bukan surah cinta. Aku sering mendengar surah itu dengan banyak ayat yang kembar. Perlu aku teliti apa yang dimaksud dengan pengulangan surah itu. “Lalu nikmat manakah yang kamu dustakan?” kira-kira seperti itu. Nah ini yang seharusnya menjadi bahan refleksi dibandingkan hal lain. Kenapa Allah Swt mengulang ayat itu berkali-kali.

    Tak dapat kita pungkiri bahwasannya kita berada dizaman post-modernisme. Zaman semua menjadi serba santai dan mudah. Teknologi pun sedang naik daun sekarang, bahkan telah mencapai julukan ‘naik pohon’ karena revolusinya yang sangat signifikan. Ilmu pengetahuan pun tidak kalah dengan teknologi nya. Banyak penelitian-penelitian terbaru yang membuat kita tercengang. Salah satunya adalah dengan teknologi yang semakin canggih itu. Pada umumnya teknologi maju karena ilmu pengetahuan yang menuntun teknologi menjadi seperti ini. Masalah yang muncul pun sekarang agak berbeda. Masih iman kah mereka kepada Allah Swt, Muhammad Saw, Al-qur’an serta hadist? Atau mereka memiliki keyakinan lain yaitu gadgetisme dan internetisme?


    Perkembangan IPTEK ini seakan membuat manusia seakan lupa pasangan hidup sendiri. Pasangan pertama, kedua, sampai kelima (maksudnya Allah swt, Rasulnya, Alqur’an dan istri/suami tercinta). Mereka malah berselingkuh dengan alat teknologi mutakhir (tidak mutakhir juga). Mereka para autis teknologi seakan bergelut dengan hape daripada memanjakan istri/suami apalagi memanjakan Allah. Ini yang telah diterangkan oleh nabi kita nabi Muhammad Saw bahwasannya,
    “ kelak akan datang suatu masa diman kalian akan menjadi seperti makanan diatas piring yang dihadapi oleh orang-orang yang kelaparan. Maka para sahabatnya bertanya,”Apakah karena jumlah kita sedikit, ya Rasulullah? Jawab Nabi SAW,”bahkan jumlah kalian sangat banyak. Tetapi kalian terkena penyakit “wahn”! Tanya para sahabat,” Apa itu “wahn” ya Rasulullah? Jawab Nabi SAW,” kalian cinta dunia dan takut mati”.
    Hadist ini mungkin akan membuat kita tahu akan seperti apakah dunia ini dalam teknologi dan ilmu pengetahuan. Mungkin benar terjadi ada keyakinan lain yang dimana mendewakan internet dan gadget canggih.

    Singkat, aku mempunyai guru dulu yang tentunya mengajar dan memberikan ilmu. Awalnya sebelum beliau membeli hape baru, gaya mengajarnya sangat bagus bahkan terus memperhatikan anak didiknya sedetil mungkin. Kadang, beliau kesal ketika kita tidak bisa menjawab pertanyaan nya. Berbeda halnya ketika dia dikabarkan telah membeli hape baru yang kebetulan sedang ngetrend kala itu. Tak perlu disebut apa mereknya, yang jelas sering dipanggil “BeBe”. Sejak saat itu, gaya mengajarnya lebih memberi tugas, sementara beliau ketawa-ketawa sendiri melihat layar dihape kecil itu. Karena aku ingin menjadi anak baik, aku kerjakan apa yang diperintahkan beliau. Ngerjain tugas, ya aku ngerjain tugas, baca referensi dari buku ya aku baca, ke toilet ya aku ketoilet tapi ga disuruh juga tapi itu kemauan sendiri (gak nyambung). Ada yang bertanya, jawabannya adalah “coba cari dulu nak di buku itu”, ya kita cari terus kita belum mendapatkan hasil yang kita butuhkan, kita tanya lagidan dia menjelaskan dengan ketidakrelaan untuk melepas bebe itu dari tangan dan jarinya.

    Bebe itu seakan membuat beliau lupa daratan dunia. Ketika saatnya saya diberi penelitian kecil tentang teknologi, saya memberikan beberapa pertanyaan kepada beliau seputar bebe itu. Salah satunya adalah “apa dampak dari menggunakan bebe itu sendiri?” dan jawaban beliau masih membuat saya bingung sampai sekarang. Jawaban nya adalah “Membuat orang Autis”. Hal yang saya bingungkan adalah beliau memakai bebe, terus beliau menjawab membuat orang autis dari dampak memakai bebe, bisa dapat disimpulkan bahwa beliau adalah ***** (tidak disebutkan karena itu tidak sopan atau istilah keren nya adalah kewalat).

    IPTEK ini sebenarnya adalah salah satu perintah yang dilaksanakan baik oleh hamba-hambanya. Karena dalam Islam itu anti-statis tapi pro-dinamis. Islam menganjurkan perkembangan seperti yang banyak dijelaskan didalam Al-Quran salah satunya adalah 53:33. Bahkan Rasulullah sekalipun tidak segan-segan untuk mewajibkan pengikutnya untuk menimba ilmu walaupun jarak sejauh mungkin. Itu artinya, sudah seharusnya IPTEK ini menjadi salah satu kepatuhan kita sebagai umat muslim untuk terus berkembang dan mengembangkan dalam hal IPTEK ini sendiri. Terlepas dari itu, ada perbedaan dimana yang mengembangkan adalah orang berimana ataupun tidak karena dalam surah 10:101 Allah memperingatkan kepada orang-orang yang tidak beriman. Masalah yang sedang on fire adalah tidak semua yang mengembangkan atau merevolusikan IPTEK adalah orang yang beriman. Memang sudah dijelaskan dalam surah 10: 40 bahwasannya ada yang beriman ada juga yang tidak. Dapat dimaklumi namun acap kali dapat dicegah dan diubah.

    Pada akhirnya, aku berasumsi bahwasannya dunia ini khususnya di era post-modern ini  masih terjadi peperangan ideologi tentang IPTEK ini. Orang islam yang taat malah acap kali berkata teknologi canggih adalah siasat orang kafir untuk mengkafirkan orang islam sebab sebagian besar yang merevolusikan teknologi adalah orang yang tidak beriman bahkan yang tidak punya Tuhan sekalipun ataupun Ateisme. Aku juga sebenernya ingin merfleksikan tubuhku ini bahwasannya itu tidak benar. Allah Swt juga memerintah kita sebagai umatnya harus dinamis. Arti dinamis ini adalah berkembang mengikuti zaman. Namun bedanya adalah kita sebagai orang Muslim adalah orang yang dibilang mu’min (orang yang beriman) dan berpedoman Al-qur’an, namun mereka orang yang tidak mu’min. Pada intinya, Allah swt, juga memperingatkan di Al-qur’an untuk bersyukur, dan banyak lagi ayat yang menerangkan tentang semua hal dimuka bumi ini. Bila kita hanya berperang ideologi dengan orang kafir, itu berarti menentang Allah, karena dalam alqur’an sendiri itu ada ayat yang menerangkan tentang bertoleransi walaupun kepada orang non-muslim.

    Singkat kata, IPTEK ini adalah sebuah pencapaian umat manusia atas apa yang diperintahkan Allah Swt. Semua tergantung bagaimana kita menyikapinya dan menyerap apa yang diperingatkan oleh Allah Swt. Dia (Allah Swt) sudah menyiapkan semuanya untuk kita (manusia), namun kita acap kali belum bersyukur dan menyadari sepenuhnya.
    “Maka nikmat manakah yang kamu dustakan?!”

    Sekian..





    You May Also Like

    1 komentar