• Awal Ketidak-bhineka-an

    by - 13.29

       Ketika saat dimana satu teman mengabarkan untuk bersiaga karena akan ada unjuk rasa besar-besaran, ada teman yang lain yang mengirimkan kata-kata ini. Simpel, menyentuh dan bahkan sangat dalam maknanya.

       Kata-kata ini barangkali lebih panas untuk sekarang, tapi nyatanya memang mengeneralkan kondisi Indonesia dari mulai awal kemerdekaan sampai sekarang. Dari jaman bobot nenek moyang mungkin sudah terjadi. Pembunuhan masal para pengikut PKI menjadi salah satu momen bersejarah bagaimana politik telah menghancurkan persatuan Indonesia. Belum lagi agama yang membedakan kita, sampai ras yang telah membelah rasa kebhinekaan negeri ini. Dan masih banyak lagi. Tak akan cukup tulisan setebal buku ensiklopedia untuk merangkum semua sejarahnya.

       Kata-kata yang indah, yang menggambarkan kurang lebih dari keadaan sekarang. Ketika satu isu membelah pecah kebhinekaan negara ini, ketika hal sensitif dipolitisasi, dan ketika logika dikesampingkan ketimbang emosi yang digembor-gemborkan. Apa yang sebenarnya terjadi, akan terjadi, yang telah terjadi? 

       Seram sekali rasanya melihat semua urat tegang, emosi meluap-luap, provokasi dimana-mana menggerakan yang memilih natural, berpawai ria dengan kata-kata yang sangat sarkas. Ditambah speaker dari mobil Jeep terbaru, toa dari mobil yang tak murah, dibaluti teriakan-teriakan nama besar akan Tuhannya. 

       Apakah kemanusiaan yang adil dan beradab sudah susah lagi diterapkan di negeri ini? Apakah sila ketiga tentang persatuan Indonesia menjadi tulisan hampa belaka saat ini?
     


       Saya menulis ini barangkali untuk saya di masa depan agar melihat dan mengingat kembali bahwa (katanya) akan ada unjuk rasa besar yang ingin menuntut satu kepala daerah yang menyinggung satu kutipan ayat suci Al-Quran. Secara teori, patutnya saya juga tersinggung. Karena saya menganut kepercayaan yang sama dengan para penuntut yang akan berdemo. Tapi saya memilih berbeda.

       Artikel ini menjadi salah satu alasan utama yang logis menurut saya. Bila kalian males untuk membacanya, saya akan tekankan apa yang saya dapat dan saya setuju dengan perkataannya. Intinya, Tuhan itu Maha Besar, Maha Segalanya. Ngapain harus berjuang membela Tuhan, orang Tuhan sudah maha Agung dan Maha Besar, yang ada kita yang berlindung kepada Tuhan kalo diserang lebih, Tuhan pun pasti maha adil dan bijaksana dan tahu apa yang harus dilakukan. Begitulah kira-kira yang ngena diperspektif saya.

       Terlebih saya memaklumi, tidak semua berkecimplung dan melakukan politik di negeri ini. Ada memang, tapi kebanyakan masih buta politik dan malah bangga jadi pengikut satu orang yang dianggap viral atau berpengaruh. Padahal orang itu ya berpolitik. Nah saya tak mau suudzon, tapi ingin berpendapat saja, bahwasannya banyak yang berdemo disana adalah orang yang sengaja cuman ingin ikut-ikutan tanpa mempelajari asal muasal masalah, dan memanaskan suasana yang sedang panas. Lihat saja di Youtube tentang demo kemaren, banyak kok yang teriak-teriak seperti orang yang tidak beragama malah. Contohnya “Bakar Ahok” atau “Bunuh Ahok”. Ini maksudnya apa ya.

       Kalo memang ingin menuntut kan sudah ada jalur hukum yang terprosedur, kalo memang ingin berunjuk rasa kan sudah ada ketentuan untuk berunjuk rasanya. Tidak memprovokasi yang mengarah kepada ketidak-manusiaan. Apalagi menodai agama yang saya yakini suci dan mengajarkan kebaikan. Andai semua mengerti politik, barangkali akan lebih berpikir secara rasional dan menganalisa apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi berpolitik dengan berpegang teguh ajaran agama yang dianut, akan semakin mantap negeri ini kelak. Tak ada agama yang mengajarkan kejelekan, tak akan pernah ada.  

       Arrgh sudahlah, berskeptik dan memasang sikap tak acuh sepertinya lebih aman dan tentram daripada beremosi untuk memikirkan mereka yang membubarkan demokrasi dan pancasila. sudah, sampai jumpa.

    You May Also Like

    0 komentar