Awal Ketidak-bhineka-an
Ketika saat dimana satu teman
mengabarkan untuk bersiaga karena akan ada unjuk rasa besar-besaran, ada teman
yang lain yang mengirimkan kata-kata ini. Simpel, menyentuh dan bahkan sangat
dalam maknanya.
Kata-kata ini barangkali lebih panas untuk sekarang, tapi
nyatanya memang mengeneralkan kondisi Indonesia dari mulai awal kemerdekaan
sampai sekarang. Dari jaman bobot nenek moyang mungkin sudah terjadi.
Pembunuhan masal para pengikut PKI menjadi salah satu momen bersejarah
bagaimana politik telah menghancurkan persatuan Indonesia. Belum lagi agama
yang membedakan kita, sampai ras yang telah membelah rasa kebhinekaan negeri
ini. Dan masih banyak lagi. Tak akan cukup tulisan setebal buku ensiklopedia
untuk merangkum semua sejarahnya.
Kata-kata yang indah, yang menggambarkan kurang lebih dari
keadaan sekarang. Ketika satu isu membelah pecah kebhinekaan negara ini, ketika
hal sensitif dipolitisasi, dan ketika logika dikesampingkan ketimbang emosi
yang digembor-gemborkan. Apa yang sebenarnya terjadi, akan terjadi, yang telah
terjadi?
Seram sekali rasanya melihat semua urat tegang, emosi
meluap-luap, provokasi dimana-mana menggerakan yang memilih natural, berpawai
ria dengan kata-kata yang sangat sarkas. Ditambah speaker dari mobil Jeep terbaru,
toa dari mobil yang tak murah, dibaluti teriakan-teriakan nama besar akan
Tuhannya.
Apakah kemanusiaan yang adil dan beradab sudah susah lagi
diterapkan di negeri ini? Apakah sila ketiga tentang persatuan Indonesia
menjadi tulisan hampa belaka saat ini?
Saya menulis ini barangkali untuk saya di masa depan agar
melihat dan mengingat kembali bahwa (katanya) akan ada unjuk rasa besar yang
ingin menuntut satu kepala daerah yang menyinggung satu kutipan ayat suci
Al-Quran. Secara teori, patutnya saya juga tersinggung. Karena saya menganut
kepercayaan yang sama dengan para penuntut yang akan berdemo. Tapi saya memilih
berbeda.
Artikel ini menjadi salah satu alasan utama yang logis
menurut saya. Bila kalian males untuk membacanya, saya akan tekankan apa yang
saya dapat dan saya setuju dengan perkataannya. Intinya, Tuhan itu Maha Besar,
Maha Segalanya. Ngapain harus berjuang membela Tuhan, orang Tuhan sudah maha
Agung dan Maha Besar, yang ada kita yang berlindung kepada Tuhan kalo diserang
lebih, Tuhan pun pasti maha adil dan bijaksana dan tahu apa yang harus
dilakukan. Begitulah kira-kira yang ngena diperspektif saya.
Terlebih saya memaklumi, tidak semua berkecimplung dan
melakukan politik di negeri ini. Ada memang, tapi kebanyakan masih buta politik
dan malah bangga jadi pengikut satu orang yang dianggap viral atau berpengaruh.
Padahal orang itu ya berpolitik. Nah saya tak mau suudzon, tapi ingin
berpendapat saja, bahwasannya banyak yang berdemo disana adalah orang yang
sengaja cuman ingin ikut-ikutan tanpa mempelajari asal muasal masalah, dan
memanaskan suasana yang sedang panas. Lihat saja di Youtube tentang demo
kemaren, banyak kok yang teriak-teriak seperti orang yang tidak beragama malah.
Contohnya “Bakar Ahok” atau “Bunuh Ahok”. Ini maksudnya apa ya.
Kalo memang ingin menuntut kan sudah ada jalur hukum yang
terprosedur, kalo memang ingin berunjuk rasa kan sudah ada ketentuan untuk
berunjuk rasanya. Tidak memprovokasi yang mengarah kepada ketidak-manusiaan. Apalagi menodai agama yang saya yakini suci dan mengajarkan kebaikan. Andai semua mengerti politik, barangkali akan lebih berpikir secara
rasional dan menganalisa apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi berpolitik dengan
berpegang teguh ajaran agama yang dianut, akan semakin mantap negeri ini kelak.
Tak ada agama yang mengajarkan kejelekan, tak akan pernah ada.
Arrgh sudahlah, berskeptik dan memasang sikap tak acuh sepertinya lebih aman dan tentram daripada beremosi untuk memikirkan mereka yang membubarkan demokrasi dan pancasila. sudah, sampai jumpa.

0 komentar