Ini anak yang dulu nyuri uang ibu, Ibu.
23:44, 22 Desember 2016. Hari ibu.
Sejak tadi jam 10 bangun, mengscroll timeline di
facebook dan instagram, semua berbahagia membagikan sebuah foto yang
menggambarkan mereka dan ibu mereka. Semua orang mengucapkan rasa syukur,
mengucapkan selamat, mengucapkan doa, haru, dan apapun itu untuk merayakan hari
ini. Hari ibu.
| http://cdn0-a.production.liputan6.static6.com/medias/1221166/big/087049300_1462168336-DOA_IBU.jpg |
Satu momen terpikir, sosok ibu. Seorang pribadi yang dari
senin sampe minggu tak terpikir untuk tidak pengajian. Sosok tiap pagi dari
shubuh sampai terbit matahari berdoa, berdzikir mendoakan anak-anaknya. Tak
jarang ketika dibangunkan sholat shubuh, ibu terbaring tertidur secara tak
sadar, tangan masih memainkan tasbih lewat jempol yang sedikit berkeriput.
Sudah menua.
Ah tidak!
Saya tak bisa merelakan umur membuat semua berkurang. Tak bisa
hati menerima kalo kita semakin dewasa, ibu semakin menua. Bapak juga. Pukul 9
malam lebih, tiba-tiba ibu menelpon. Dia memang suka menelpon akhir-akhir ini.
Alasannya mungkin tak bisa dibayangkan. Tebak apa? Karena dia sudah terlanjur
mempaketkan kartu providernya.
“Lumayan masih ada 180 menit” tegas ibu. Piippftttt.
Pernah punya teman yang apa-apa selalu bilang ibu? Yang kalo
ada ini langsung lapor, tiap keluh kesah langsung lapor, tiap ada cowok yang
ngedeketin langsung laporan ke ibunya? Punya pasti kan. Bukan kehendak ingin
bilang itu gimana gitu, tapi ingin mengungkapkan isi hati untuk berkeinginan
seperti mereka. Di telpon ibu dalam setiap kejadian. Bukan masalah ini anak
cewek atau cowok, tapi perhatian.
Pernah punya temen yang ibunya super modern? Yang modis, fancy, bahkan literasi tinggi tentang
teknologi, politik, ekonomi dan sosial? Enak gak sih punya ibu yang mengikuti
perkembangan zaman? Ngobrol bisa nyambung, terhadap semua isu yang ada. Pasti punya
kan temen yang ibunya gitu. Ibu saya mana mungkin gitu. Orang lapor apa-apa aja
selalu “Kamu yang tahu, kamu yang
menjalani, kamu tahu yang terbaik, ibu hanya bisa berdoa ke Allah Swt”.
Banyak memang bila saya bandingkan ibu dengan ibu-ibu yang
saya temui, saya dengar cerita nya dari teman atau langsung, atau sosok ibu
yang saya kagumi. Dian sastro contohnya. Wkwkwk. Tapi benar, tidak ada yang
bisa menggantikan sosok ibu asli dengan ibu yang lainnya. Semakin kita
membandingkan, semakin ingin membuat mereka bahagia sebahagia mungkin dari apa
yang saya hasilkan.
| Ekspresi mu, pak. |
Ditelpon tadi, dia bilang keponakan pada nunggu. Ibu menunggu
si anak yang dia elus-eluskan dan yakinkan sukses akan pulang membawa sesuatu. Membawa
kebahagiaan dalam bentuk uang. Memang, sedikit material. Tapi menjalani hidup
dalam kekurangan dalam waktu yang tidak sebentar membuat semuanya mudah
dimengerti mengapa demikian. Saya rasakan harapan, keinginan, dan rasa haru
mendengar ibu berbicara. Ingin rasanya mengucapkan, “Mah, selamat hari ibu”. Hati
sudah merasa menangis. Tak bisa berkata apa-apa.
Seolah saya sebagai anak ingin perhatian, pengakuan, dan
apapun itu, belum pernah memikirkan apa yang dia mau dari anaknya, apa yang dia
harapkan dari anaknya, apa yang membuat dia bahagia dari anaknya. Sudah puluhan
tahun hidup, masih adakah yang ingin dia rasakan dari hasil anak yang dia
besarkan dengan semua kekurangan itu?
Ibu waktu itu putus asa, bagaimana membuat saya luluh,
nurut, bersekolah disekolah islami tepatnya dipesantren. Ibu tahu dulu, anak
ini (saya) adalah perokok, pembohong, jarang sholat, suka merengek nangis
meminta jajan ketika dia sama sekali tak memegang sepeserpun. Bahkan
dipesantren pun tetap berkelakuan sama. Tapi, ketika satu pintu terbuka, saya
dinyatakan lulus mendapatkan beasiswa, saat pertama saya melihat dia menangis
haru karena apa yang saya kerjakan. Sampai dia menelpon balik ke orang yang memberikan
konfirmasi ke saya, hanya untuk memastikan benarkah anaknya menerima beasiswa
itu. Dia menangis, bapak menangis, malam itu jadi haru sampai terlelap tidur.
Sejak saat itu, harapan ibu ke saya sudah sedikit terang. Impian
dia untuk hidup lebih baik lebih yakin akan tercipta. Harapan dia ziarah ke
semua pemakaman wali songo dan tokoh islam di Indonesia diantar anaknya mungkin
terjadi. Harapan dia disiapkan semua administrasi untuk bersujud di rumah Allah
Swt. Harapan agar dia bisa membuat nasi bungkus setiap dia mengikuti pengajian,
memberi kepada yang belum mampu, menolong siapa yang membutuhkan, hidup tak
berkekurangan, dan tidak dipandang rendah oleh orang yang selama ini
melakukannya.
| Bapak, :) |
Hari ibu ini, saya hanya ingin mengingatkan untuk diri
sendiri, untuk mengingatkan harapan itu. Setiap anak yang lahir dari rahim
ibunya pasti mempunyai harapan yang sama. Selama ini saya sering lupa akan
harapan yang ditancapkan ke pundak dari sosok ibu. Lupa akan bagaimana dia
selalu bercerita haru tentang kisah hidupnya dan berharap ada yang bisa
mengubahnya. Semakin hari semakin menghilang. Saya harap tulisan ini, di hari
spesial ini, bisa menjadi pengingat dan penyemangat, bahwa keluarga menanti
saya untuk melakukan perubahan. Karena mereka percaya bahwa saya bisa merubah
masa lalu kelam keluarga dengan hari yang terisi dengan canda tawa tanpa beban
apapun.
Terima kasih ibu, Selamat hari ibu, dari anak yang dulu sering
nyuri uang.:)
0 komentar