• Ini anak yang dulu nyuri uang ibu, Ibu.

    by - 00.32

    23:44, 22 Desember 2016. Hari ibu.

    Sejak tadi jam 10 bangun, mengscroll timeline di facebook dan instagram, semua berbahagia membagikan sebuah foto yang menggambarkan mereka dan ibu mereka. Semua orang mengucapkan rasa syukur, mengucapkan selamat, mengucapkan doa, haru, dan apapun itu untuk merayakan hari ini. Hari ibu.

    http://cdn0-a.production.liputan6.static6.com/medias/1221166/big/087049300_1462168336-DOA_IBU.jpg

    Satu momen terpikir, sosok ibu. Seorang pribadi yang dari senin sampe minggu tak terpikir untuk tidak pengajian. Sosok tiap pagi dari shubuh sampai terbit matahari berdoa, berdzikir mendoakan anak-anaknya. Tak jarang ketika dibangunkan sholat shubuh, ibu terbaring tertidur secara tak sadar, tangan masih memainkan tasbih lewat jempol yang sedikit berkeriput. Sudah menua.

    Ah tidak!
    Saya tak bisa merelakan umur membuat semua berkurang. Tak bisa hati menerima kalo kita semakin dewasa, ibu semakin menua. Bapak juga. Pukul 9 malam lebih, tiba-tiba ibu menelpon. Dia memang suka menelpon akhir-akhir ini. Alasannya mungkin tak bisa dibayangkan. Tebak apa? Karena dia sudah terlanjur mempaketkan kartu providernya.
    “Lumayan masih ada 180 menit” tegas ibu. Piippftttt.

    Pernah punya teman yang apa-apa selalu bilang ibu? Yang kalo ada ini langsung lapor, tiap keluh kesah langsung lapor, tiap ada cowok yang ngedeketin langsung laporan ke ibunya? Punya pasti kan. Bukan kehendak ingin bilang itu gimana gitu, tapi ingin mengungkapkan isi hati untuk berkeinginan seperti mereka. Di telpon ibu dalam setiap kejadian. Bukan masalah ini anak cewek atau cowok, tapi perhatian.

    Pernah punya temen yang ibunya super modern? Yang modis, fancy, bahkan literasi tinggi tentang teknologi, politik, ekonomi dan sosial? Enak gak sih punya ibu yang mengikuti perkembangan zaman? Ngobrol bisa nyambung, terhadap semua isu yang ada. Pasti punya kan temen yang ibunya gitu. Ibu saya mana mungkin gitu. Orang lapor apa-apa aja selalu “Kamu yang tahu, kamu yang menjalani, kamu tahu yang terbaik, ibu hanya bisa berdoa ke Allah Swt”.

    Banyak memang bila saya bandingkan ibu dengan ibu-ibu yang saya temui, saya dengar cerita nya dari teman atau langsung, atau sosok ibu yang saya kagumi. Dian sastro contohnya. Wkwkwk. Tapi benar, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu asli dengan ibu yang lainnya. Semakin kita membandingkan, semakin ingin membuat mereka bahagia sebahagia mungkin dari apa yang saya hasilkan.
    Ekspresi mu, pak.


    Ditelpon tadi, dia bilang keponakan pada nunggu. Ibu menunggu si anak yang dia elus-eluskan dan yakinkan sukses akan pulang membawa sesuatu. Membawa kebahagiaan dalam bentuk uang. Memang, sedikit material. Tapi menjalani hidup dalam kekurangan dalam waktu yang tidak sebentar membuat semuanya mudah dimengerti mengapa demikian. Saya rasakan harapan, keinginan, dan rasa haru mendengar ibu berbicara. Ingin rasanya mengucapkan, “Mah, selamat hari ibu”. Hati sudah merasa menangis. Tak bisa berkata apa-apa.

    Seolah saya sebagai anak ingin perhatian, pengakuan, dan apapun itu, belum pernah memikirkan apa yang dia mau dari anaknya, apa yang dia harapkan dari anaknya, apa yang membuat dia bahagia dari anaknya. Sudah puluhan tahun hidup, masih adakah yang ingin dia rasakan dari hasil anak yang dia besarkan dengan semua kekurangan itu?

    Ibu waktu itu putus asa, bagaimana membuat saya luluh, nurut, bersekolah disekolah islami tepatnya dipesantren. Ibu tahu dulu, anak ini (saya) adalah perokok, pembohong, jarang sholat, suka merengek nangis meminta jajan ketika dia sama sekali tak memegang sepeserpun. Bahkan dipesantren pun tetap berkelakuan sama. Tapi, ketika satu pintu terbuka, saya dinyatakan lulus mendapatkan beasiswa, saat pertama saya melihat dia menangis haru karena apa yang saya kerjakan. Sampai dia menelpon balik ke orang yang memberikan konfirmasi ke saya, hanya untuk memastikan benarkah anaknya menerima beasiswa itu. Dia menangis, bapak menangis, malam itu jadi haru sampai terlelap tidur.

    Sejak saat itu, harapan ibu ke saya sudah sedikit terang. Impian dia untuk hidup lebih baik lebih yakin akan tercipta. Harapan dia ziarah ke semua pemakaman wali songo dan tokoh islam di Indonesia diantar anaknya mungkin terjadi. Harapan dia disiapkan semua administrasi untuk bersujud di rumah Allah Swt. Harapan agar dia bisa membuat nasi bungkus setiap dia mengikuti pengajian, memberi kepada yang belum mampu, menolong siapa yang membutuhkan, hidup tak berkekurangan, dan tidak dipandang rendah oleh orang yang selama ini melakukannya.

    Bapak, :)

    Hari ibu ini, saya hanya ingin mengingatkan untuk diri sendiri, untuk mengingatkan harapan itu. Setiap anak yang lahir dari rahim ibunya pasti mempunyai harapan yang sama. Selama ini saya sering lupa akan harapan yang ditancapkan ke pundak dari sosok ibu. Lupa akan bagaimana dia selalu bercerita haru tentang kisah hidupnya dan berharap ada yang bisa mengubahnya. Semakin hari semakin menghilang. Saya harap tulisan ini, di hari spesial ini, bisa menjadi pengingat dan penyemangat, bahwa keluarga menanti saya untuk melakukan perubahan. Karena mereka percaya bahwa saya bisa merubah masa lalu kelam keluarga dengan hari yang terisi dengan canda tawa tanpa beban apapun.

    Terima kasih ibu, Selamat hari ibu, dari anak yang dulu sering nyuri uang.:)





    You May Also Like

    0 komentar