#Rangkuman2016: Mulai memilih dari hati
Ketika negara lain berkompetisi memperbanyak skills,
mengikuti perkembangan zaman, Indonesia tergerak untuk melahirkan kembali
konservatisme kuat untuk kembali mundur zaman. Itu lah yang saya lihat dengan
mata kepala sendiri di salah satu fenomena yang terjadi di 2016.
Ya mungkin tak baru bagi kebanyakan orang, berteriak-teriak
untuk memenjarakan seseorang yang diduga menista kitab suci. Banyak versi
ceritanya, banyak sudut pandangnya, tapi yang jelas fenomena ini membuat saya
tak melulu mengikuti pendapat orang, tapi mulai belajar untuk menilai kejadian
dengan mata kepala saya sendiri. Dan meyakini apa yang saya rasa benar.
28 Oktober, 4 November, dan 2 Desember, fenomena yang diberi
nama Aksi Bela Islam Jilid 1, 2 , dan 3, dengan tagline Gerakan Nasional
Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI). Tidak ada yang salah di semuanya, namun
konteksnya menurut saya tak bisa dimengerti. Banyak tokoh ulama yang dulu saya
kagumi seperti Aa Gym, Ust. Arifin Ilham, Felix Siaw, dan banyak lagi ikut
andil dalam gerakan ini. Saya pelajari tanggapan Aa di media sosialnya, di
acara tv yang mengundangnya, dan pemikiran-pemikiran beliau. Saya mengerti
pendapat mereka, keadilan. Hukum tak boleh pandang bulu, harus tetap ditegakan.
Dan saya tetap mengagumi mereka, sampai saat ini. Berbeda pendapat bukan berarti membenci yang memberi pendapat berbeda. Kan pandangannya yang berbeda, bukan manusianya. Semua sama di mata Allah Swt.
Tapi......
Masih ada yang mengganjal. Ahok sang terduga penista memang
sedikit kontroversial dalam bertutur kata. Toh saya pelajari, perkataannya
memang datang dari kisahnya sendiri. Dia tak main-main dengan koruptor,
pejabat-pejabat yang melenceng dari tugasnya, bahkan sampai tidak melaksanakan
tugasnya. Nah kejadian perkara yang notabene menista agama menjadi satu
momentum untuk Ahok merasakan akibat dari lidahnya.
Saya baca pendapat-pendapat orang, tak jarang memaki beliau,
mempertanyakan, bahkan sesekali memuji dia. Tapi, setelah melihat videonya
secara langsung, tak sedikitpun hati saya merasa ternista atau terhina. Atau
langsung mengarahkan pasukan untuk berdemo, berteriak-teriak atas agama
memenjarakan dia. Padahal kata maaf sudah diungkapkan, kata tidak ada niat
untuk menista sudah lantang dikemukakan, tapi aksi tetaplah menjadi aksi yang terbagi menjadi 3 bagian. Bahkan mungkin akan lebih lagi. Mungkin ya.
Setelah baca-baca berita, ternyata memang dari awal sudah
mencari-cari momentum untuk bisa menumbangkan beliau. Saya cermati banyak tokoh
yang menggerakan aksi berasal dari politisi, ‘lawan main’ Ahok di pemerintahan,
bahkan musuh bebuyutan mungkin. Terbukti, sudah ada demo larangan pada saat
dulu Ahok dilantik sebagai gubernur menjadikan Jokowi yang menjadi Presiden Indonesia.
| http://www.detikperistiwa.com/wp-content/uploads/2016/12/abi-OK-1.jpg |
Kejadian ini membuat saya tergerak untuk ikut meramaikan,
karena memang greget ga karuan. Saya tulis satu status sosial media bagaimana
pandangan saya, berada dimana posisi saya. Saya senang, karena dengan kejadian
ini, saya setidaknya belajar menemukan jati diri untuk tidak selalu terbawa
arus, memiliki independensi, yang saya dapat dari dalam diri saya. Biarpun
berbeda dari kebanyakan, tak sedikit pun membuat saya bergetar, karena saya
meyakini apa yang saya lihat dan pikir. Walaupun pada akhirnya, ada yang
berpikiran liberal lah, sekuler lah, aqidah nya gini lah, selama apa yang saya
yakini benar, saya akan perjuangkan.
Lama kelamaan, intoleransi dari kejadian ini semakin
menjadi-jadi. Banyak yang mempermasalahkan bukan hanya Ahok, tapi menyangkut
etnis nya dan perbedaannya. Yang paling lucu adalah, waktu kemarin peluncuran
uang baru, selalu dikaitkan ada kemiripan dengan uang China lah, PKI lah dan
semuanya. Kurang piknik mungkin.Jadi merambat jauh fenomenanya. Kebanyakan cocokologi.
Sampai detik saya menulis rangkuman kisah ini, saya cermati
banyak yang paranoid tentang invasi Cina ke Indonesia. Takut dijajah Cina. Lah,
dari dulu bukannya kita udah dijajah Cina. 90% ekonomi kita yang begitu luasnya
dikuasai China kok. Lah kenapa mesti takut? Perlu gitu membahas lebih intensif
lagi mikirin China. Ya makin tertinggal dan terjajah dong kita. Orang cina
makin kerja keras mengalahkan Indonesia, orang Indonesia malah sibuk protes
pemerintah dan hidup dalam ketakutan akan invasi cina.
Pemerintah pun gak bisa apa-apa lah. Ya masuk akal memang
kalo demo, kritik pemerintah agar mengusir China, membatasi outsourcing dari
Cina ke Indonesia. Tapi kenyataanya, Indonesia belum bisa melepas antek-antek
cina yang kaya itu, yang bisa menyumbang pajak gede itu, yang bisa meningkatkan
investasi itu, belom. Apalagi, masyarakat nya sekarang kebanyakan memperjuangkan
asas konservatisme, kembali ke masa awal, tidak mau menerima kekalahan dari
persaingan global, perkembangan zaman.
Nah mungkin kembali lagi ke fenomena aksi itu. Mungkin yang
ramai-ramai, ribuan orang berpakaian putih, menjadikan perkataan Ahok sebagai
satu kompor yang dinyalakan untuk menggoreng semua sayuran yang sudah lama
disimpan di refrigerator. Kalo Ahok jadi Gubernur lagi, kan punya kekuasaan.
Antek-antek Habib ini tidak mau dikuasai oleh Cina, yang tidak pro-muslim,
pro-rakyat, dan semua ketakutannya. Padahal selama ini, Ahok lah yang sudah
dirasakan perubahannya, dirasakan manfaatnya, dan semua program-programnya diapresiasi
masyarakat dan negara.
| http://www.trentekno.com/wp-content/uploads/2016/11/Nonton-Siaran-Langsung-Demo-Aksi-Bela-Islam-4-November-Unjuk-Rasa-Tangkap-Ahok-TV-Online-Live-Streaming-TV-One-di-Kompas-TV-dan-Metro-TV.jpg |
Terakhir, rangkuman ini hanya ingin mengingatkan jati diri
saya. Bahwa saya sudah mulai mencari jati diri. Meyakini hal yang sepatutnya
benar, mengkaji sesuatu karena saya merasakan keganjilan, saya merasa ada yang
aneh dari satu peristiwa. Meskipun dikelilingi oleh yang berbeda pandangan,
tapi dari fenomena ini saya merasakan kegembiraan, bahwa saya tak melulu
mengikuti mayoritas tanpa mengkaji sendiri apa yang terjadi. Biarlah dipandang
liberal, sekuler, toh kalo menjadi konservatif menjadi pribadi yang susah
menerima perbedaan, susah menerima persaingan global, dan menemukan jati diri
dalam hati nurani saya.
Terima kasih para penggerak aksi.
0 komentar