Melamun
Ada dua lamunan yang dipikirkan cowok dikala sendiri.
Satu, tentang wanita, dan yang satunya tentang masa depan.
Dulu baca pernyataan ini lupa entah dari mana, tapi makna
dan kata-katanya tak pernah bisa dilupakan. Maklum sering ngelamun.
Bahkan pernyataan ini adalah salah satu lamunan saya disuatu
malam yang dingin. Bagaimana tidak, masyarakat sudah menganggap usia 20 tahun
sudah terbilang mampu untuk memilih produktif dan independen. Karena itulah,
sudah harus dimulai era serius.
*oke, mulai kencangkan ikat kepala*.
Serius aja mungkin sedikit keruh dan terdengar menstreskan.
Satu pertanyaan saja bikin stress dan menciptakan lamunan-lamunan lagi.
“Ntar saya jadi apa ya?”
Di usia 20 sudah memasuki era dimana teman seangkatan
menyebarkan selebaran undangan, dengan foto prewed mereka yang uh sungguh
membuat iri. Mereka memilih untuk secara langsung menata kehidupan yang serius
sejak usia 20.
Menghadiri undangan sini dan sana, mengunjungi rumah si ini
dan si itu, melihat kehidupan dia dan mereka, secara tak sadar menumbuhkan
egoisme sendiri.
“saya harus bisa lebih dari mereka. Pernikahan saya harus
lebih wah dari mereka. Rumah saya harus punya ini melebihi mereka. Saya tak mau
seperti mereka, langsung nikah. punya mobil dulu, punya rumah dulu, punya karir
yang bagus, ngehajiin orang tua dulu, baru nikah.”
Tapi permasalahannya usaha masih sama. Tidak melebihi
mereka. Itu lah permasalahan saya.
Terkadang, manusia tak sadar iri satu sama lain. Terkadang
tak ada yang ingin mencari tahu cerita dibalik semua. Contohnya, banyak teman
SD saya (yang sering chat sama saya) iri pada saya karena bisa melanjutkan
pendidikan tinggi. Disisi lain, saya iri dengan mereka, sudah bisa menghidupi
keluarga nya dengan umur dan pengalaman hidup mereka. Mereka bekerja keras,
menyongsong hidup diperantauan untuk membahagiakan saudara dirumah kampung
mereka.
Saya punya cerita sendiri, mereka pun begitu.
Hukum ekonomi. Semakin besar pendapatan yang kita terima,
propensity to consume akan lebih tinggi juga. Uang bulanan jutaan akan selalu
kurang ketika keinginan untuk berkonsumsi semakin tinggi. Kita masih ingin
lebih. Saya rasakan itu. Lamunan selanjutnya.
“Mengapa sangat susah untuk tidak ingin sesuatu melebihi
yang kita punya?”
“Mengapa selalu kurang ketika banyak orang disana berfikir
lebih dari cukup dengan jumlah yang sama?”
“Mengapa selalu lupa untuk bersyukur?”
“Mengapa selalu merasa kekurangan?”
Ah lamunan-lamunan itu. Satu lamunan selalu mengefek domino.
Merambat kemana-mana.
Susah yah menyadari diri sendiri. Susah yah mengakui
kelemahan sendiri. Kata dosen saya itu memang ciri khas orang Indo kebanyakan.
“They don’t know theirselves. If they do, they won’t accept
that”. Kata Dosen saya.
Kenapa ya.
Lamunan itu, tetap tidak akan berakhir di satu titik. Selamat
berlamun ria, kawan. :)
0 komentar