#Rangkuman2016: Berhentinya Sejenak Kasih Sayang Host Parent
What have I been doing
for the last 12 months? What did I
do? What have I accomplished?
Satu tahun. 12 bulan, 365 hari. Sedih, kecewa, bangga,
menyesal, bahkan semuanya campur aduk di 2016 ini. Saya tak ingin melupakan
tahun ini rupanya, banyak hal yang tidak terduga terjadi, pembelajaran yang
dipetik sedikit demi sedikit, proses pendewasaan diri, dan semuanya.
Hmm dimulai dari mana ya? Secara kronologikal atau dari yang
paling mengubah hidup saya saja. Dingdong. Oke saya akan memulai dari hal yang
berpengaruh ke hidup saya, dari yg biasa sampai mengubah saya banget. Sejak
tahun 2015 saya bertemu orang Amerika.
Ada kisah menarik yang saya dapatkan di tahun ini.
Sebenarnya sejak tahun 2015 kami bertemu. Kurang lebih ketika bulan september
awal, atau agustus akhir mungkin pada tahun 2015. Saya, dan ketiga teman saya
berencana untuk berenang. Itu kayak hal yang tidak biasa buat saya, kembali
berenang di Jakarta setelah sekian lama tidak berenang. Mungkin ketiga teman
saya sudah melakukan sebelumnya, jadi bisa saja ini bukan hal yang pertama buat
mereka. Buat saya, seperti merantau lama dan baru pulang sekarang rasanya.
Hari itu, kolam renang Gor Sumantri, tepatnya dibelakang
pasar Festival Kuningan, belum masuk jam operasi. Kami datang pagi, kira-kira
jam 10 an. Iya masih pagi bagi kami, karena kalo masa liburan, bangun paling
pagi bisa jadi jam 12 an, jam 10 terasa masih shubuh. Stop, no complain. Jam
operasional hari itu dimulai dari jam setengah satu, eh satu, eh pokoknya
intervalnya segitu kira-kira. Kami nunggu lumayan, ngobrol-ngobrol, jalan-jalan
ke pasar Festival, dan menyempatkan untuk makan di McDonald.
| traktir bakmi GM sebelum tanding futsal. maen sampe final, berapa kali ya tuh. |
Akhirnya jam operasional dimulai. Logikanya, kita pendatang
pertama karena kita menunggu, belum banyak pengunjung yang datang. Masih sepi.
Kami berempat berenang dikedalaman yang wajar bagi kami, kedalaman untuk pemuda
beranjak dewasa. Satu meter lah. Ya ga cetek-cetek amat lah ya. Di sisi ujung,
kami menyadari ada turis asing sedang berenang. Sedikit gendut, White American,
dan berenang gaya terlentang gitu. Berenang yang kayak tiduran dimana pusar
dari perut buncitnya menghadap sang awan yang terik.
Alih-alih bersekolah di International School, bukan hal baru
bagi kami berempat untuk berdialog dengan native speaker secara langsung.
Lantas kami tak berpikir panjang, beliau kami dekati dan coba ajak mengobrol
basa-basi khas orang Indonesia. Biasa, nanya nama, dari mana, ngapain di
Indonesia, berapa lama udah tinggal disini, ya pertanyaan mainstream basa-basi.
Satu hal apresiasi dia ke kami adalah:
“Your English is very good”. Kita dengan dingin nya
menanggapi “ Yes, sure. We go to International School”. Dari sana kita tahu,
dia belum menemukan orang yang bisa berbahasa inggris. Lah emang iya, dia nyari
temen ke SPG waktu dia mau beli hape.
*note: tidak ada niatan menistakan SPG manapun, jadi mohon
tak berdemo*
Basa-basi makin advance adalah ketika, “Where do you live now?”
we asked.
“I live in Kasablanka Mansion” dimana tidak jauh dari Gor
Sumantri, dari Kokas, bahkan tidak terlalu jauh dari kampus kami di Pancoran.
Dari basa-basi inilah semua akan dimulai, petualangan yang tak kalah jauh
menarik kedepannya.
| pertama kali merasakan masakan korea. 1,2 jt harga makanan siang kami. itu satu bulan uang makan sama kosan gila. |
“So close. Maybe we can hang out together sometimes”.
Njrengggg. Dia menanggapi dengan serius, dan langsung minta bertukar nomor
Whatsapp, dan ngajak nonton film terbarunya siapa ya lupa, Judulnya Mission
Impossible: Rogue Nation. Itu film baru release dan kita diajak nonton langsung
tepat setelah berenang.
Mari berlogika lagi. Kan pasti kita berempat udah pernah
sekolah, orang Indonesia, pasti ada perasaan kecil tentang khawatir, takut
diculik, atau di cuci otak, kan siapa yang tahu. Jadi ketakutan kita sempat
merasakan hal itu. Tapi kita pikir berada dibangku kuliah perlu belajar untuk
tidak takut. Akhirnya kita setujukan ajakan dia untuk nonton film Mission
Impossible. Lagi, kita mikir hal yang paling buruk, adalah kita harus bayar
sendiri-sendiri. Disisi lain itu bagus karena kita tidak mengharapkan sesuatu
dari dia. Takutnya ada pamrih gitu.
Sampailah di Kokas, langsung menuju XXI. Alih-alih
membayangkan nonton biasa, dia langsung berjalan menuju kasir The Premiere.
Norak iya, memang. Bayangkan, terutama saya, belum pernah sama sekali merasakan
The Premiere, bahkan mendengarnya pun jarang. Kalo nonton, ya manusiawi yang
berasaskan kemahasiswaan yang ngekos, artinya nyari peluang untuk merasakan
manfaat yang sama dengan harga semurah-murahnya. Ini tiba-tiba jalan ke The
Premiere, beli 5 tiket, dan you know what, G.R.A.T.I.S. Kan “merepotkan”gitu
ya. Repot-repot mengenakan gitu.
Kita masih punya waktu 2 jam sebelum film nya diputar. Dia
ngajak kami untuk menyantap makanan dulu. Tebak kita kemana? Iya pecel lele
lagi, nasi uduk lagi. Ya Gak Lah. Dia membawa kami ke Pizza Express. FYI
direstoran itu juga saya pertama kali merasakan Teh Manis dengan GULA CAIR. Iya
norak, memang. Tapi patut diumumkan. Kita boleh nambah, mesen lagi kalo memang
masih lapar, tapi terima kasih ciri khas Indonesia yang pemalu. Kita setuju
untuk tidak berniat menambah lagi terlalu banyak, merogoh kocek terlalu dalam
untuk dia. Ada lah kami punya perasaan tahu diri, malu gitu.
Setelah makan, masih banyak waktu menuju perputaran filmnya.
Akhirnya kami diajak ke apartemen dia. Makin was-was mungkin kita, tiba-tiba
ngajak ke apartemen. Pasti adalah pikiran saya, “takut diapa-apain”. Tapi ya
berpikir positif, akhirnya melanconglah kami ke apartement kasablanka. Dia
orangnya transparan. Dia menceritakan apa yang dia kerjakan sehari-hari, tentang
bisnisnya, tentang klien dan apa yang dia pikir kita harus tau. Satu langkah
untuk membuat kita percaya bahwa dia bukan orang jahat. Gitu sih intinya.
Sampailah pada waktu film diputar. 4 kursi tengah baris ketiga, studio premier
dengan selimut yang wangi molto nya minta ampun, menekan tombol samping untuk
bisa selonjoran dengan bebas, tiduran, selimutan, dan tak lupa paket nonton dia
satukan dengan coke dan popcornnya.
What a day. Sejak hari itu, kami sering mengobrol via chat
WA, nonton bareng hampir tiap minggu, makan direstoran-restoran yang tentunya
belum pernah (apalagi saya) kunjungi sebelumnya, jalan-jalan, dan melakukan
aktifitas lainnya yang menyenangkan dengan gratis. Dia selalu ramah menyambut
kami yang datang mengunjungi ke apartemennya, mencoba menyediakan makanan yang
dia tahu kesukaan kita apa, dan selalu ada makanan untuk kita habiskan.
| 2 minggu sejak basa-basi, langsung diajak ke Jogja. total 0 rupiah dikeluarkan dengan semua penjelajahan di kota keraton |
Sejak hari itu, sampai saat dimana bulan Agustus 2016, dia
kembali ke Amerika, tempat asal dia. Meninggalkan kami, membuat kami sedih.
Dulu waktu SMA sempat iri dengan kemampuan teman seangkatan yang bisa
pertukaran pelajar dan mendapatkan orang tua baru. Nampaknya Tuhan telah
mengirimkan dia untuk kami yang belum merasakan host parents secara langsung. Karena dia telah menjalankan peran
itu selama 25 tahun masa hidupnya, menampung pelajar yang sedang melakukan
pertukaran pelajar di Amerika. Kami sering mendengar cerita dia tentang
pelajar-pelajar yang datang ke rumahnya.
| Kalimantan Barat 2015. berkesempatan ke luar jawa karena dia untuk pertama kalinya |
Karena Agustus 2016 itu, saya harus mengakhiri ‘sejenak’
kasih sayang dari host parent yang
Tuhan tunjuk untuk kami (terutama saya ya). Agak norak sih, tapi memang syurga
banget punya orang tua angkat baru yang tentunya berbeda dengan kita. Kadang
kebutuhan kita bisa dibantu dia, dicukupkan dia, dan ditolong dia. Makanya, ditengah
2016, kehadirannya harus diputus, dan membuat kami bekerja keras dan berdoa
supaya suatu saat bisa bertemu kembali secepatnya.
| Pantai Sepanjang, Yogyakarta. Semua ceria, semua senang, semua disayang. |
0 komentar