Setengah raga
Alay itu
memuaskan. Menggila itu sangat menyenangkan, apalagi bersama seseorang yang
sejalan. Baik pikiran, hati, kesukaan, bahkan menerima semua kekurangan. Makanya,
menemukan separuh hati yang hilang tidak mudah dan gampang, proses itu melalui
semua rantaian berantem, bete, marah, kesel, nangis, sampai depresi.
Kami sudah
melalui itu semua selama ini. Saya sudah melalui itu, mendengarkan semua momen
itu dari dia. Dipertemukan disebuah sekolah, dan diawali dari sebuah angan-angan
dan sebuah kaguman, saya kenal dia. Orang selalu menonton pasangan yang perfek,
setidaknya pantes dari segi postur dan penampilan.
Namun, waktu itu
sangatlah tidak pantas, bahkan tak etis.
Saya kecil,
kurus, terpandang masih terlihat transformasi dari alay menjadi kurang alay. Tapi
dia, sudah memancarkan pesona seorang wanita, bukan cewek lagi. Mengagumi tidaklah
salah, saya yakinkan itu. Dan saya melakukannya.
Dan Tuhan
menyayangi hambanya dalam bentuk yang tidak pernah manusia duga. Tinggi badan
saya mulai naik, bahkan melebihi sahabat yang menganggap saya pendek ketika
alay. Mungkin itu sinyal dari Tuhan membukakan jalan.
Dan, sampailah pada
titik saya pantas dan etis, meskipun baru dalam segi postur dan ketinggian, ya
mungkin ditambah dengan sedikit penampilan yang agak pas. Saya mulai bersama
dia, dan saya mulai melalui proses ini. Menjadi dewasa dan menemukan separuh
hati saya yang dituliskan dalam nadi kemanusiaan, bahwa semua orang
berpasangan.
5 tahun, waktu gross
untuk menghitung berapa lama kami bersama. Ya kalo di net-in kebersamaan
mungkin 3 setengah sampai 4. Jangan tanya berapa kali kami berantem, jangan
tanya berapa kali dia cemburu sampe bikin risih orang, jangan tanya seberapa
sering kami mengalami makna lagu Melly Goeslaw- putus nyambung.
Jangan pula tanya
seberapa sering dia marah, berapa ember dia melucurkan air mata, dan berapa banyak
rambut yang rontok efek dari overloaded-mind.
Oh jangan tanya juga berapa banyak orang yang saya dekati dan orang yang
mendekati dia selama kami dinyanyikan Melly Goeslaw.
Kami, saya dan
dia sudah melalui itu, dan akan terus melalui itu sampai kami bosan kenapa kami
harus berargumen pada hal kecil, menangisi kesalahpahaman, dan menumpukan
pikira-pikiran tak penting dan mengganggu aktivitas hidup normal kami. Karena pada
akhirnya, separuh hati kami akan tetap bersedih ketika tidak memikirkan satu
sama lain, kecewa karena telah berantem yang tidak jelas, hanya karena kami
berada pada jarak yang jauh satu sama lain.
Tidak semua kesedihan
dan kesengsaraan memenuhi semua proses itu. Sesekali merayakan kesedihan kami
dengan mengalay-alay ria. Kami menggila berdua, ditepian pasir, berjalan
bergandengan di tepi jalan, bahkan berkeliling Mall hanya untuk melihat-lihat
saja. Kami benar-benar niatkan ke Mall hanya untuk lihat-lihat dan berakhir
minum kopi, bercerita dan sesekali mengkhayal mobil impian.
Dari semua porsi
perjalanan kami, seringnya kami berjauhan. Kami hubungan jarak jauh. Hubungan lewat
videocall, lewat chat. Kami tau dan sadar ego masing-masing, dan itu mengarahkan
kami untuk kerap berseteru tanpa henti. Namun pada akhirnya, kami tau kami
saling mencintai, satu sama lain. Untuk itulah kami selalu kembali, menjaga
satu sama lain.
Saya mencintai
dia.
Kepalan tangan
yang kurang lebih sama dari ukuran, seperti tak ingin saya lepaskan. Saya anggap
tangan itu merupakan jembatan bagaimana cinta saya berjalan menuju pikiran dan
hatinya. Hanya cinta. Tak tahu lagi harus dianalogikan seperti apa, tapi saat
bersamanya, saya cinta. Saya ingin mencurahkan semua perasaan untuk dia yang
sangat tidak sempurna, sering nangis, sering marah-marah sendiri, sering bikin
stress, sering cemburuan gak jelas, sering ribut sana-sini, sering ngeluh gak
jelas, unmotivated tapi saya cinta.
Selamat malam,
setengah raga.
1 komentar
I love you so much honey..
BalasHapus