• Setengah raga

    by - 22.45

    Alay itu memuaskan. Menggila itu sangat menyenangkan, apalagi bersama seseorang yang sejalan. Baik pikiran, hati, kesukaan, bahkan menerima semua kekurangan. Makanya, menemukan separuh hati yang hilang tidak mudah dan gampang, proses itu melalui semua rantaian berantem, bete, marah, kesel, nangis, sampai depresi.
    Kami sudah melalui itu semua selama ini. Saya sudah melalui itu, mendengarkan semua momen itu dari dia. Dipertemukan disebuah sekolah, dan diawali dari sebuah angan-angan dan sebuah kaguman, saya kenal dia. Orang selalu menonton pasangan yang perfek, setidaknya pantes dari segi postur dan penampilan.
    Namun, waktu itu sangatlah tidak pantas, bahkan tak etis.
    Saya kecil, kurus, terpandang masih terlihat transformasi dari alay menjadi kurang alay. Tapi dia, sudah memancarkan pesona seorang wanita, bukan cewek lagi. Mengagumi tidaklah salah, saya yakinkan itu. Dan saya melakukannya.
    Dan Tuhan menyayangi hambanya dalam bentuk yang tidak pernah manusia duga. Tinggi badan saya mulai naik, bahkan melebihi sahabat yang menganggap saya pendek ketika alay. Mungkin itu sinyal dari Tuhan membukakan jalan.
    Dan, sampailah pada titik saya pantas dan etis, meskipun baru dalam segi postur dan ketinggian, ya mungkin ditambah dengan sedikit penampilan yang agak pas. Saya mulai bersama dia, dan saya mulai melalui proses ini. Menjadi dewasa dan menemukan separuh hati saya yang dituliskan dalam nadi kemanusiaan, bahwa semua orang berpasangan.
    5 tahun, waktu gross untuk menghitung berapa lama kami bersama. Ya kalo di net-in kebersamaan mungkin 3 setengah sampai 4. Jangan tanya berapa kali kami berantem, jangan tanya berapa kali dia cemburu sampe bikin risih orang, jangan tanya seberapa sering kami mengalami makna lagu Melly Goeslaw- putus nyambung.
    Jangan pula tanya seberapa sering dia marah, berapa ember dia melucurkan air mata, dan berapa banyak rambut yang rontok efek dari overloaded-mind. Oh jangan tanya juga berapa banyak orang yang saya dekati dan orang yang mendekati dia selama kami dinyanyikan Melly Goeslaw.
    Kami, saya dan dia sudah melalui itu, dan akan terus melalui itu sampai kami bosan kenapa kami harus berargumen pada hal kecil, menangisi kesalahpahaman, dan menumpukan pikira-pikiran tak penting dan mengganggu aktivitas hidup normal kami. Karena pada akhirnya, separuh hati kami akan tetap bersedih ketika tidak memikirkan satu sama lain, kecewa karena telah berantem yang tidak jelas, hanya karena kami berada pada jarak yang jauh satu sama lain.
    Tidak semua kesedihan dan kesengsaraan memenuhi semua proses itu. Sesekali merayakan kesedihan kami dengan mengalay-alay ria. Kami menggila berdua, ditepian pasir, berjalan bergandengan di tepi jalan, bahkan berkeliling Mall hanya untuk melihat-lihat saja. Kami benar-benar niatkan ke Mall hanya untuk lihat-lihat dan berakhir minum kopi, bercerita dan sesekali mengkhayal mobil impian.
    Dari semua porsi perjalanan kami, seringnya kami berjauhan. Kami hubungan jarak jauh. Hubungan lewat videocall, lewat chat. Kami tau dan sadar ego masing-masing, dan itu mengarahkan kami untuk kerap berseteru tanpa henti. Namun pada akhirnya, kami tau kami saling mencintai, satu sama lain. Untuk itulah kami selalu kembali, menjaga satu sama lain.
    Saya mencintai dia.
    Kepalan tangan yang kurang lebih sama dari ukuran, seperti tak ingin saya lepaskan. Saya anggap tangan itu merupakan jembatan bagaimana cinta saya berjalan menuju pikiran dan hatinya. Hanya cinta. Tak tahu lagi harus dianalogikan seperti apa, tapi saat bersamanya, saya cinta. Saya ingin mencurahkan semua perasaan untuk dia yang sangat tidak sempurna, sering nangis, sering marah-marah sendiri, sering bikin stress, sering cemburuan gak jelas, sering ribut sana-sini, sering ngeluh gak jelas, unmotivated tapi saya cinta.

    Selamat malam, setengah raga.


    You May Also Like

    1 komentar