• Apa ya talent gw

    by - 22.21

    Sebenernya agak terdengar gak nyambung sih memakai kata subjek "GW" karena emang agak kurang pas aja untuk menyebut diri aku itu "GW". tapi di satu sisi terbalik, ketika mendengar kata "AKU" itu rasanya seperti berbicara kepada khalayak banyak yang semuanya itu adalah kekasih tercinta atau pacar.

    Jadi, I'll stick with "SAYA".

    Pernah gak sih mikirin keras banget apa itu keahlian dan bakat kita? atau ngeliat temen, tetangga, ponakan, dan semuanya. Ada yang bisa nyanyi, ada yang kritis, ada yang suka komedi, ada yang jago ngelukis, ada yang bisa nyanyi sambil ngritik, ada juga yang berkomedi dengan lukisan. Kombinasi yang berbakat.

    Terus kita hanya bisa mendengung, mereka punya potensi untuk bisa dibayar mahal, mereka punya kualitas untuk sukses. Terus gw apa? terus aku gimana? ini saya mau jadi apa nanti?

    Mungkin itu terlalu jauh untuk di-iri-kan. Ada mereka yang belum tahu bakatnya apa, tapi punya hobi yang cintanya melebihi apapun. Punya kesukaan terhadap sesuatu sama halnya mencintai diri sendiri. Terus mereka bisa ngembangin itu menjadi sesuatu yang sangat menjual, mereka bertemu teman sejiwanya, mereka berkolaborasi, mereka berjalan dimimpi mereka.

    Ada juga orang yang unik, yang menyukai sesuatu disaat orang lain itu jarang bisa seperti dia. Karena tak mudah minder, tetep pede kalo itu dia, akhirnya menemukan jati diri dan melaju menemukan tujuannya masing-masing.

    Dari SMA saya punya temen, dia cowok, keker, tapi agak pendek. Ya saya lebih tinggi. Dari ke-keker-an itu, dia cowok yang tak mau malu untuk mengakui bahwa dia suka drama korea, suka kpop, suka artis korea dan semuanya yang identik dengan korea. Well, banyak yang dibelakang ketawa, tapi banyak juga yang kagum.

    Secara akademis, rata-rata. secara public speaking atau apapun olahraga itu dia rata-rata semuanya. Kecuali pas disuruh dance sama aerobic dance. Semua nya melipir kedia. Itu aerobic dance waktu itu, setengah jam tangan gak kebawah. Kerasa otot bisep trisep nya itu ngempas-ngempis saking pegelnya. gak cewek gak cowok kalah sama dia. Intinya disaat masyarakat mengakui sesorang itu luar biasa dari kacamata yang general, misal paling pinter, pinter nyanyi, pinter ngomong, belum banyak yang bisa mengapresiasi sesuatu yang kecil tapi terdapat bakat yang sama berat dan ukurannya.

    Teman saya itu mempunya suatu pelarian yang bisa menenangkan, bisa membuat kemenangan, atau hanya melipir beristirahat dari gelamnya kehidupan. kalo galau tinggal nonton k-drama, kalo suntuk ada k-pop, kalo semangat tapi gak ada temennya, ya ngedance sendiri. Dia punya rasa "bodo amat kata orang" disaat melakukan sesuatu yang berpotensi diliat orang itu tidak biasa, itu aneh.

    Nah saya semuanya gak punya. Saya suka bola, tapi gak tuh sampai harus kesana kesini memperjuangkannya. yang ada males. Suka nulis, nargetin ini itu, tapi yang ada udah nguap duluan kalo mau mulai. Suka becanda, tapi pas dihadepin dengan orang banyak harus becanda malah pengen jadi diri orang lain. gak pede terhadap diri sendiri. Suka ngomong didepan, tapi kalo udah ngomong gak jelas, muter kesini kesana sampai poinnya itu gak ngerti dimana. Suka drama, tapi ya gimana ya.

    Drama itu adalah hal yang menyenangkan, tapi dengan ukuran dan postur tubuh yang seharusnya berada di tenda untuk menerima bantuan karena terlihat kurang gizi, ada lagi minder. Ada kesempatan pun malah kepikiran minder nya gimana dulu.

    Secara akademis, biasa-biasa aja. Gak ada yang menonjol sama sekali. Biasa gitu, bahkan suka lama banget ngerti nya satu materi dibanding orang lain.

    Jadi apa ya sebenernya talent gw? apa sebenarnya kesukaan aku? apa sebenernya tujuang yang saya cari dalam hidup ini dan mau jadi apa?


    You May Also Like

    0 komentar