• Pengalaman Kabur Ke Warnet- Ep03

    by - 01.00




    “Jadi ntar?” Tanya Angga.
    “Jadi lah, jam biasa biar aman”. Jawab aing.
    “yang lain ngikut kan Cep?”
    “Pasti lah”.
    Percakapan sore itu membicarakan rencana besar untuk bersama-sama menjemput kebebasan ke Warnet Chloe. Warnet itu tetap menjadi tempat terbaik untuk mengganti waktu tidur, dan selalu aman. Meskipun, banyak kabar burung yang diterima para pengurus pondok bahwa banyak santri yang kesana.

    Facebook sedang trending banget waktu itu, semua bisa berkomunikasi, menemukan teman baru dari manapun, saling tambah teman, dan bahkan menjadi satu cara baru untuk berkenalan dengan akhwat. Warnet jadi penuh, dengan santri santri, dan menyebabkan menjadi pelanggaran jika pergi ke warnet. Tau lah, kalo pelanggaran ya minimal ditabok gagang sapu kalo ketauan.
    Sore menjelang maghrib, seperti biasa, pergi ke Handap untuk mandi regular sore hari. Kala itu, tidak berkeringat karena lapangan udah bukan giliran ikhwan. Jadinya sore setelah ngaji dihabiskan untuk maen-maen gak jelas, liat-liat jemuran, liat-liat jalan, dan kebanyak ngintip Akhwat dari jalan raya yang langsung terlihat gedung kelas akhwat lantai 3.
    Biasanya, secara naluri aing tahu itu akhwat kelas berapa. Beberapa teman juga sama, tahu kalo itu sepertinya siapa dan siapa.
    “Dadah cep, anjir, liat tuh akhwat ada yang noong (ngintip)”. seru Dawi sambil membalikan pandangan ke arah mobil yang seliweran.
    “Ogah, eh heeh Daw ey, ada”. Kata aing sambil ngintip ngintip malu karena terlihat beberapa akhwat sedang melakukan hal yang sama, melihat jalanan yang penuh mobil dan motor berlalu lalang.
    Tiba-tiba Dawi langsung memalingkan wajah menatap akhwat yang tidak tahu siapa tapi kami pastikan itu akhwat, eh tapi gak tahu deng, terus mendadahkan tangan dan kabur sambil tertawa. Rasanya lepas banget dan banget, merasakan tawa karena memang seperti menjaili seseorang. Sama tawanya ketika menjawab orang yang sedang ngelantur saat tidur.
    “mmmhhhh, iyah sayang, panas oh sayang kok bau kayu putih” kata orang yang ngelantur. Di waktu yang sama kita yang masih bangun olesin kayu putih ke kumisnya biar panas.

    “Goblog si dawi, ngagetin anjir” Si dindin dengan raut muka yang kesel tapi bego setelah hanya ikut-ikutan lari padahal tak tahu ada apa dan kenapa kami berlari.
    “rame anjing Din hahahaha” kata dawi sambil ngos-ngosan karena tepat setelah ketawa langsung kabur.

    “Udah hayu Daw, ka handap, paling banyak barudak disana”. Ajak aing ke dia yang masih berpikir untuk mencoba kembali ke titik tepi jalan dimana lantai 3 gedung akhwat itu terlihat. Dan melakukan hal yang sama.
    Akhirnya kami pergi bertiga ke handap, lokasi yang strategis untuk mandi dan merokok seperti biasa.
    “Malem ntar, geng si Hedi mau ke Chloe, paket gadang biasa” Sekedar info ke si dawi dan dindin.
    “iya, gimana ntar aja. Din ada rokok gak?” Tanya dawi.
    “Eweuh (gak ada)”.
    “Beli lah itu di warung, awas banyak OSIS”.

    Dawi memang menjadi juru kunci, dia punya naluri untuk menyuruh, dan dindin punya naluri untuk menggugu. Aing mah kadang nyuruh kadang menggugu. Intermediate. Dindin pun termasuk santri yang berada. Bapaknya guru, ibunya tukang daging ayam di pasar. Berbeda dengan Dawi, santri yang sampe saat ini tidak jelas gimana, yang jelas dia tinggal dengan neneknya, dan kakaknya, dia bilang juga dia sering ke Rumah bapaknya tapi sampe sekarang dan tiap kami ke tempat dia belum pernah menemuinya.
    Aing pernah waktu itu ke Rumah si dindin, sepi, terus ke pasar liat mamahnya yang masih bacok ayam daging menjadi serpihan bagian-bagian yang terlihat lezat kalo sudah dibumbui resep sop.

    “Mah minta duit” dengan muka melas yang aing liatin.
    “Ih eta budak, kemaren kan si bapak baru kesana, masa udah abis. Jajan naon Dindin, anaku.” Wajah ibunya yang kesel tapi sadar bagaimanapun dindin adalah anaknya.
    Kami sama, tak bisa mengungkapkan uang pemberian kami habiskan untuk apa. Karena rokok, bagi kaum tua adalah hal yang sangat haram dibeli untuk kaum muda. Dan kamilah kaum muda. Makanya untuk mempersingkat dan mempertahankan kedamaian, kami habiskan 1% untuk beng-beng, sisanya untuk rokok dan mie instan pake lontong.

    Bapak si Dindin, seorang guru yang berbakti. Pendiam, dan kadang bertanya-tanya dia dikelas gimana ngajarnya. Karena wajahnya kalem seperti tak banyak bicara. Tapi setujulah bahwa dia adalah guru.

    Malam pun tiba. Seperti biasa, dari maghrib sampe isya kami berkegiatan di Masjid. Sang OSIS keamanan yang selalu mondar mandir dihalaman depan masjid berjaga-jaga. Sementara didalam, bagian pengajaran selalu memimpin pengajian setelah shalat sampai waktu makan malam tiba.

    “Jangan lupa diabsen ini, jangan sampe ada yang gak ketulis siapa yang gak shalat dan gak hadir di masjid”. Perbincangan serius antara ketua osis dengan bagian keamanannya.

    Suasana malam dengan lantunan ayat suci, drama bagian keamanan dengan santri yang terlambat atau ketauan tidak shalat berjamaah, selalu menghiasi malam di pondok ini.

    Hal yang ditunggu-tunggu tiba. MAKAN MALAM.
    “Duduk sesuai kelompoknya masing-masing” nah kalo yang ngomong ini OSIS bagian makanan dan dapur. Divisi paling santai kalo lagi ngelanggar, tapi murka ketika tahu ada yang ngambil daging dua saat makan. Divisi paling sedikit menampar santri dibawahnya bahkan hamper tidak pernah, tapi murka ketika talamnya ada yang rusak dan patah. Divisi yang selalu dinanti-nati ketika ingin piket karena bisa mengantarkan makanan ke Akhwat. Siapa tahu jodoh ada disana.

    “Udah disini aja” aing mengajak kelompok yang memang sudah ditakdirkan bersama.
    “UNTUK NAMA-NAMA YG DISEBUTKAN SILAHKAN BERDIRI. ENGKUS, HARI, ZAINAL, VIRGI, DUDI, KOSWARA”
    Sebuah budaya dipondok sebelum makan, bahwa ada santri yang tidak mengikuti berjamaah maghrib dan isya tapi kembali ke pondok karena sudah waktunya makan. Disatu sisi jika tidak ketauan itu sangat cerdik, disisi lain, OSIS keamanan sangat lebih detil untuk menyusuri wajah-wajah baru yang dimesjid ada tapi pas makan kok nongol.

    Sebandel-bandelnya santri apapun, kalo laper ya makan. Kalo laper banget, ya lupa kalo dia abis melanggar dan sadar bahwa dia telah dimata-matai sedari masuk ke ruang makan oleh pihak yang berwajib. Ada cerdik tapi goblog.
    “Kemana tadi? Maghrib sama Isya kemana? Kok gak ada dimesjid?”
    “Ada kok, orang dipojokan sama si Bani” jawab si Engkus.
    “Tong bohong sia (Jangan boong kamu)!!”
    “Tanya aja si Bani”
    “Bener Bani? Mana si Bani, Nantung (berdiri!)”.
    “Iyaa” dari kejauhan Bani menanggapi.
    Plak plak plak. Semua terdiam mendengar suara tamparan itu. Terdiam bukan berarti terkejut, tapi memang itu sudah normal. Orang melanggar ya harus dihukum, tapi barangkali memang sudah ada dari dulu, menghukum paling puas dan biasa adalah ditampar.
    “Kalo besok masih ada yang kaya gini, lebih keras dan lebih banyak” OSIS itu menatap kami yang menonton pertunjukan penamparan itu.
    “DUDUK KALIAN, CARI KELOMPOKNYA”
    Para terdakwa tidak shalat berjamaah duduk, dan semua kembali normal. Ketika semua sudah siap, akan ada satu santri yang teriak menyuarakan doa sebelum makan dan diikuti oleh santri lainnya yang ada diruangan itu.

    Agenda makan tidak lama setelah makan, dan selalu diakhiri oleh orang yang sama yang sebelumnya memimpin doa sebelum makan. Bedanya dia sekarang bacain doa sesudah makan.
    “Setelah ini, seperti biasa kalian belajar, dan jam setengah 10 semua kembali berkumpul di Masjid”
    Iyap, setengah sepuluh malam adalah penutupan sesi belajar malam. Yang belajar dikelas, ke masjid, yang belajar dikamar kemasjid, yang tidak belajar tapi merokok pun jam setengah sepuluh kemasjid. Semua santri yang beraktivitas di jam belajar malam akan selalu kembali ke masjid jam setengah sepuluh untuk absen. Jika tidak, ya minimal ditunda tidurnya dengan percikan-percikan penggaris besi di tangan.

    Disinilah semua dimulai. Di saat absen sudah dipastikan kita ada, setelah itu satu persatu meninggalkan masjid dengan bisu. Kewajibannya untuk langsung tidur, tapi kenyataannya adalah belok ke jalan kecil untuk pergi ke Chloe.

    “lu duluan sama si bogel. Ntar ketemu ditempat biasa. Berdua-berdua. Jangan barengan biar gak curiga”.
    Tempat biasa itu adalah sebuah warung dipinggir jalan dekat dengan Handap, dan warung itu kebetulan mempunyai lorong gelap dimana kami biasa jadikan sebagai meeting point. Aing duluan untuk pergi dengan bogel, seorang bocah tengik tapi lebih maju wawasan facebooknya dari aing.

    “Hayu Gel”.
    “Heeh hayu. Lu duluan”. Satu persatu lari terbirit-birit menuju warung itu. Disana, nampaknya geng si Hedi udah kumpul. Banyak, ada sekiranya 6 orang yang sudah siap dengan tas gendong kecil tempat hape dan celana diselundupkan.

    “Mana yang lain?” Tanya Angga.
    “Dijalan”
    “Si Dawi ngikut?”
    “Ngikut”.
    “Siapa aja jadinya?”
    “Loba (Banyak)”.
    “Sip atuh”.

    Malam itu dingin seperti biasa. Satu persatu kendaraan yang lewat seperti memberikan angin tambahan bagaimana dinginnya malam itu. Satu persatu teman aing pun berdatangan dan rame.

    “Udah semua ini?” Tanya Dawi.”Si Dindin mana euuy?”
    “Hadir Daw, didie (disini)”. Sontak dindin menggigil kedinginan.


    You May Also Like

    0 komentar