• Ceritanya ingin Resensi karya Pandji Pragiwaksono

    by - 18.30


    (kapan ya aing mulai mengenal Pandji Pragiwaksono?)
    …..      …..      …..
    Oh ya! Aing inget, pas SMA! Aye.

    Waktu itu, masih zaman lagi berjuang-berjuangnya buat survive di SMA. Bayangkan, selama SMP, belajar gk pernah bener, kabur sana-sini, tidur sana-sini, sampe ada guru yang memaklumi muridnya tidur, dan pernah sampe satu kelas itu cuman satu yang ngedengerin, sisanya nunduk ngelipet tangan dimeja terus tidur. Itu juga yang satu, adalah orang yang paling gak enakan, dalam hatinya sama-sama ngantuk pengen tidur.

    Alhasil, pas SMA masuk ke lingkungan yang dikelilingi oleh orang-orang pinter. Dan karena beasiswa juga (sampai saat ini masih gak percaya kenapa bisa masuk), maka mau gak mau, harus bisa mengurangi remedial tiap selesai ujian.

    Dari berapa ya? Dari 11 atau berapa pelajaran gitu, cuman olahraga doing yang gak remedial. Sisanya langganan remed semua. Yang satu itu adalah olahraga, makanya lulus. Orang maennya fisik, bukan batin.

    Iya, saat masa survival, aing sering ke perpus. Bukan hanya untuk melanjutkan proses pedekate dengan si dia, tapi untuk benar-benar belajar buat mikir gimana caranya untuk bisa mengurangi jumlah pelajaran yang di remedial.

    Di tengah-tengah intensifnya belajar, tiba-tiba jenuh. Lalu aing mulai meraba-raba gerangan disetiap lemari buku yang telah dipampang itu. Tidak banyak yang menyita perhatian, tapi gak rugi untuk tetap mencari pelampiasan.

    Akhirnya ada buku merah, judulnya Nasional.is.me.

    Tidak pernah mengenal penulis ini sebelumnya, tapi aing coba dive deep kepada bukunya yang somehow menarik karena ada logo lembaga penyedia bantuan sekolah buat aing.

    Lembar demi lembar silih berganti, ternyata bukunya adalah seluruh cerita asli pengalaman Pandji tatkala mengelilingi Indonesia, menggambarkan keindahan Indonesia yang belum banyak orang menyadarinya.

    Cerita yang paling dia ingat adalah tentang temannya yang berjuang untuk minjem duit ke Pandji untuk pindah ke luar negeri.

    Respon dia cuman “apa yang salah dengan Indonesia?”

    Buku ini, membuat saya lebih mencintai tulisan agar leluasa berimajinasi dan membuat saya betah untuk membaca, sampai kapanpun. Pandji bercerita banyak tentang pengalaman di daerah timur, dan daerah-daerah lainnya yang menurut aing pribadi membuka cakrawala dan rasa cinta yang baru untuk Indonesia.

    Dia menulis untuk mengubah persepsi dari pesimis terhadap negara, menjadi optimis dengan dimulai dari diri kita sendiri.

    “Hanya ada 2 jenis anak muda di dunia;
    Mereka yang menuntut perubahan
    Mereka yang menciptakan perubahan
    Silahkan Pilih Perjuangannmu.”

    Dia mengatakan, kalo orang-orang tahu apa yang dia tahu tentang Indonesia, maka orang-orang itu juga akan optimis terhadap negara ini.

    Itulah kesan pertama, berkenalan dengan salah satu karya nya yang epic rampage menurut aing.

    Karena tahu aing kemana-mana selama SMA bawa buku Pandji, ada seorang teman bilang, saat itu inget banget hari jumat, ada event di sekolah, dan si temen ini bilang

    “Cep, ada Pandji loh di Balai Sidang” kata dia.
    “Ah masa?”
    “Ih beneran, ayo deh. Cepet-cepet kesana biar bisa dapet foto bareng”.

    Dan tadaaa, benar, setelah ditunggu-tunggu, karena event itu lama dari pagi, dan harus ngeliatin orang main game sendiri didepan, akhirnya si MC ngebacain dan menyambut bintang tamu,

    And yessss, that was Pandji Pragiwaksono. Kesan pertama, emang gede berisi ini orang. Dan dia diminta untuk berbicara tentang Indonesia, tentang nasionalisme, dan saat itu, pertama kali aing merasakan ketawanya dari materi stand up comedy yang dia bawakan.
    Aing semakin menunggu karya-karya dia yang lain, karya yang sangat bisa memuaskan. Terlepas dari apa yang dia bicarakan, style nya itu membuat orang menjadi nyaman untuk melihat, membaca, dan mendengar suara dia. What a star.

    Akhirnya, sampai sekarang, hampir dan tak ingin melewatkan seluruh karyanya. Ada karyanya yang belum ngena didalam kesenangan aing yaitu rapper dan lagu-lagunya dia. Meskipun bertema sama tentang persatuan, social, dan cinta, tapi dalam bentuk lagu belum bisa aing nikmatin dengan enak seperti halnya buku dan stand up comedy nya.

    Dan tiba kepada tujuan tulisan ini, adalah untuk meresensi salah satu karya dia yang baru saya baca.
    “Menemukan Indonesia”

    Buku yang diluncurkan pada tahun 2016, yang aing beli di salah satu Mall, dan coba menghabiskan secepat mungkin.

    Kembali lagi, gaya dia yang nasionalis membuat buku ini menjadi enjoy untuk dibaca. Buku ini sepertinya cocok jika dibilang adalah lanjutan Nasional.is.me, karena semua kontennya menceritakan tentang Perbandingan Indonesia dengan negara-negara yang dia kunjungi saat tur stand up comedy world tour pertama yang dilakukan oleh orang Indonesia.

    Bukan hanya tentang optimisme yang ditumbuhkan dan kecintaan terhadap Indonesia, tapi buku ini membuat aing tergerak untuk mengikuti jejak dia berkarya.

    Cerita dia tentang bagaimana teman dari Ayah Pandji Pragiwaksono yang berkebangsaan jerman heran tentang perilaku orang Indonesia.

    kenapa orang Indonesia kalo ngukir itu detil sekali, dan bagus. Tapi kalo orang Indonesia bikin tangga itu selalu tidak konsisten, jarak dari tangga satu ke tangga yang lain tidak sama,”
    “yang ngukir itu berkarya, yang bikin tangga itu bekerja” (sisipan dari buku Indiepreneur).
    Kira-kira seperti itu dialognya.

    Sejak baca itu, aing langsung identifikasi seluruh tangga yang ditemui. Ternyata benar. Gak sama dude.

    Pencapaian dia, sebagai salah satu pelopor untuk mempelopori Stand Up Comedy di Indonesia, dan membawa materi itu berkeliling dunia. Itu sangat-sangat fantastis. Dan cara dia menjelaskan suasana negara yang dikunjungin menjadi semakin membuat pembaca tidak hanya penasaran, tapi ingin coba meneruskan dan mengikuti karyanya.
    Itulah yang aing rasakan saat membaca buku ini.

    Dan itu sebenernya makna dari resensi, bukan menjelaskan alur atau apapun tentang teori, tapi mengutarakan apa yang dirasakan ketika membaca buku ini. Buku Pandji tidak hanya memberikan cerita, tapi lebih mengetahui apa yang pembaca nya bisa lakukan daripada sekedar diam. Dia bisa mengubah persepsi, lewat karya-karyanya, persepsi yang optimis dan menyatukan.

    Baik, seperti itulah resensi kali ini.

    Terima kasih, sudah mampir. 

    You May Also Like

    0 komentar