• Tentang Wapres dan sekilas mikir tentangnya

    by - 22.40

    Pas waktu ada gadang-gadang bahwa ada ulama, pendakwah, kyai yang dihormati akan menjadi Cawapres salah satu kandidat superior yang sudah dinobatkan oleh para punggawa-punggawanya, digotong bagaikan seorang superstar yang kalo lagi konser menjatuhkan diri terus di tangkep fansnya lalu digiring-giring, dari satu fans ke fans lain serasa superstar itu melayang.
    Kebayang gak? enggak ya, yaudah.

    Intinya pas Pak Prabowo diisukan akan meminang ulama untuk jadi cawapres dia di Pilpres, oleh karena usulan Ulama Gathering atau Ijtima' Ulama, itu aing mikir. Enggak keras banget tapi mikir biasa.

    Sebagai seorang alumni santri, meskipun santri bandel, dan sebagai seorang anak kampung yang tinggal di perkampungan pesantren, aing tahu bagaimana rasanya hidup berdampingan dengan seorang yang umat hormati, seorang kyai atau ulama. Beliau-beliau adalah orang yang dihormati, sebagai panutan karena mengajarkan daulah-daulah kehidupan Rasul kepada umatnya. Mereka kami anggap berilmu, suci dan dapat memberikan kami umatnya petunjuk untuk dekat dengan Allah Swt. Bahkan, banyak politisi yang selalu melobi ulama untuk mendapatkan simpati para voter yang ada di Dapil nya.

    Nah, ketika ada ulama yang digadang akan atau potentially duduk di posisi signifikan gitu, asa gimana gitu. Bukan berarti gak ada ulama atau ustadz yang tidak masuk politik, banyak banget kenyataanya yang terjun ke politik. Salah satu jadi rahasia umum, orang dipesantren, atau di Jawa Barat aja mungkin yak, kader PKS itu kebanyakan ustadz, ulama, pokoknya yang latar belakangnya agama.

    Tapi ulama semacam Ustadz Abdul Somad, itu way too much, atau yang bergelar Habib. Kenapa, karena dikhawatirkan itu bisa mencoreng nama baik ulama dan esensi ulama. Bahkan konyol juga Pak Prabowonya nanti. yang pada akhirnya gak milih ulama. Jadi setop ngomongin pak Prabowo.

    Nah ini pak Jokowi, cawapresnya Ulama, senior lagi. Masih inget sih dulu, ketika lembaga yg dibawahi oleh cawapres ini mengeluarkan fatwa, taulah tentang penistaan itu, bagaimana orang yang tadinya menjunjung dia sebagai Rais mengalami penurunan orang yang rispek sama beliau.

    Bahkan yak, pak Jokowi pun akan segan ketika wapresnya melakukan kesalahan. Takutnya malah dipendem terus, karena aing yakin pak Jokowi menghormati ulama, bukan hanya beliau, banyak dan hampir semuanya.

    suatu ketika, jika terpilih.
    Pak Jokowi: "Ajudan, siapa ini yang memerintahkan untuk membuat ini?"
    Ajudan:        "Punten, pak Presiden, Pak Wakil yang memerintahkan."
                        "Kok "punten", saya wong Jowo"
                         "Oh enggeh, romo"
    terus pak Jokowi langsung mengakhiri, "kok Romo sih, ajudan seperti apa kamu", "Mister!" itu panggilannya.

    Terus abis itu, pak Jokowi mundar-mandir hanya untuk mengkritik atau memberi tahu itu salah. Bukan hal yang gampang, karena bisa jadi ada hadist atau ayat suci yang dijadikan acuan yang membuat seorang pak Jokowi diam.


    "Pak Wapres, keputusan ini seharusnya bisa kita diskusikan di Istana" kata Pak Jokowi.
    "Enggak, Pak Presiden. sudah ada hadistnya seperti ini". BOOM!

    Udah mah senior, ulama, bawa hadist, Double Rampage ini mah.

    Karena, ulama pun manusia, dan orang Indonesia. Ketika dihadapkan dengan uang, maka bisa jadi, orang tersebut menghapus gelar ulamanya. Wong orang baik aja belum tentu bisa bersih dalam birokrasi, apalagi ulama.

    kata Prof. Amien Rais yang anaknya penulis yang aing kagumi, "Ulama sama Umara itu tidak boleh disatukan". ya jelas.



    Jadi, bukan tidak setuju jika ulama mengisi posisi signifikan, ulama itu menasihati, mendukung, dan membenarkan apa yang sekiranya sudah menjadi apa yang dia pelajari untuk kehidupan umat yang lebih baik. Ulama itu memberi masukan, nasihat, dan wejangan-wejangannya, karena esensinya pun memang seperti itu.

    Negara demokrasi itu ya pemimpinnya harus bisa demokrat. Masyarakat harus yakin dan bisa mengevaluasi pemimpin untuk dapat menjalankan negara demokrasi dengan sebaik-baiknya. Kalo ulama yang dihormati jadi pemimpin, nanti masyarakatnya malah bilang "gak enak euy mau kritik beliau, di skakmat pake ayat dan hadist".

    segitu dulu juragan,


                   

    You May Also Like

    0 komentar